11. Penyebab

1763 Words
Malven sudah merasakan firasat yang berbeda pagi itu. Tepat ketika kesadaran menyingkirkan kenyenyakan tidur yang ia nikmati dan lantas ia membuka mata, instingnya seperti memberikan sinyal padanya. Bahwa ia harus bersiap untuk menghadapi hari. Dan lalu, terbukti. Setidaknya ada tiga hal yang menyambut dirinya dengan kejutan yang tak terelakkan lagi. Pertama, surat pemanggilan dari kepolisian. Untuk yang satu ini, Malven sebenarnya tidak terlalu terkejut. Karena jelas sekali bahwa hal tersebut sudah ia duga ketika ia memutuskan untuk menolong Vian. Dirinya, mau tidak mau, akan terlibat. Kedua, adalah panggilan dari Herlambang. Pria paruh baya yang ia panggil dengan sebutan ayah, alih-alih papa layaknya Calvin memanggilnya. Dan topik yang diangkat sang ayah, membuat Malven mengerutkan dahi. Karena ia jelas akan selalu mengingat kalimat itu di benaknya. “Pulanglah sore nanti. Kita perlu bersiap untuk lamaranmu malam harinya. Secepatnya, kita harus menemui keluarga Cakrawinata.” Perlu jeda beberapa detik untuk Malven merenungi perkataan Herlambang. Tentu saja, dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di benaknya. Lamaranku? Keluarga Cakrawinata? Tunggu. Apa keluarga Cakrawinata memiliki putri selainVian? Walau sebenarnya, Herlambang memang sangat memerhatikan Malven, terutama mengenai pendampingnya, ia masih tidak mengerti. Mengapa harus ada nama Cakrawinata yang disenggol. Hingga wajar saja bila Malven bingung. “Maksud Ayah, kita akan melaksanakan lamaran Calvin malam ini juga?” Malven menanyakan itu. Hanya sekadar klarifikasi untuk kebingungannya. Namun, tak dinyana. Jawaban Herlambang justru membuat Malven semakin bingung lagi. “Bukan Calvin yang akan menikahi Vian. Tapi, kau.” Sekarang, kata bingung tidak lagi cukup untuk mewakili perasaan yang sedang Malven rasakan. Bahkan ketika pada akhirnya panggilan itu berakhir, Malven masih tidak mengerti. Ia sempat mengira bahwa Herlambang salah bicara atau mungkin .... Tidak. Itu tidak mungkin. Karena jelas, hal selanjutnya membuktikan pada Malven mengenai kebenaran itu. Ketiga, Andreas mengirimi pesan padanya. Tanpa basa-basi. Tanpa salam sopan. Tanpa apa pun. Langsung menuju ke intinya.   [ Sebelum kau melamar adikku, aku ingin kita bertemu siang ini. ]   Setidaknya, hingga sampai saat ini Malven menyadari satu kebenaran itu. Memang dirinya yang akan melamar Vian. Walau tentu, ia belum mengerti. Mengapa bisa? Hingga kemudian, Malven menemukan jawabannya. Dalam bentuk satu artikel berita di koran. Dengan fotonya yang sedang menggendong Vian sebagai pemanis. Dan kalaupun itu belum cukup, tentu saja foto-foto yang tersebar di media sosial, yang menampilkan Vian dengan pasrah mengikuti Malven ke apartemen pria itu, bisa menjawab semuanya. Bahwa publik mengira Vian dan Malven memiliki hubungan asmara. Hingga sang putri dengan gilanya bersedia meninggalkan pesta ulang tahun demi bisa berduaan dengan sang pangeran hatinya. Di unit pria itu. Dengan satu kesimpulan menarik yang tentu saja menghiasi pikiran semua orang. Yaitu, Vian dan Malven merayakan pesta ulang tahun dengan cara mereka sendiri. * Memenuhi panggilan kepolisian, Malven tidak tau bahwa dirinya sempat menyandang predikat tersangka. Itu adalah ketika Lutfi menemukan fakta mengenai siapa orang yang terakhir kali berhubungan dengan Sonya. Ada nama Malven di kotak pesan dan nama Axel di daftar panggilan masuk. Namun, menuding Malven atau pun Axel sebagai pelaku pembunuhan itu, jelas tidak bisa. Karena terpatahkan langsung oleh Vian. Saksi mata yang sekaligus memberikan alibi keduanya. Untuk Axel, Vian nyaris menghabiskan waktu setengah jam lebih bersamanya. Berbincang-bincang banyak hal tepat sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk ke toilet. Dan pada saat itu, tragedi pembunuhan telah berlangsung. Maka tentu saja, Axel mendapatkan alibinya. Untuk Malven, ketika Vian merasa hidupnya akan berakhir. Lantaran tragedi berdarah yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, ia justru mendapati pria itu yang menyelamatkan dirinya. Di saat ia bertemu dengan Malven, pada saat itu ia baru saja meninggalkan tempat di mana ia menyaksikan darah mengotori tangan sang pelaku. Hal yang tentu saja tidak memungkinkan untuk Malven berpura-pura sebagai penolong Vian dalam waktu yang amat singkat. Maka Malven pun selamat. Hanya saja, sebagai orang yang sudah menangani banyak kasus pembunuhan, Lutfi tidak akan terkecoh. Karena siapa yang bisa menjamin pengakuan Vian? Terkadang, rasa syok yang teramat dalam bisa menyamarkan ingatan. Bahkan untuk peristiwa yang baru terjadi semenit, mungkin saja ia kira justru sudah terjadi sejam lamanya. Selain itu, Lutfi pun tau satu fakta. Bahwa Sonya pernah beberapa kali ditemukan berhubungan dengan keduanya. Entah itu dalam pesta atau acara lainnya. Saling bertukar pesan dan menelepon adalah bukti bahwa hubungan mereka lumayan dekat. Lebih lama dari perkiraan Malven, ia keluar dari kawasan kepolisian ketika matahari nyaris menggelincir di atas sana. Hingga ia sempat menduga bahwa Andreas akan membatalkan pertemuan mereka. Tapi, ternyata tidak. Buktinya angka empat masih bisa dikatakan siang oleh pria itu. Di satu kafe, Malven dan Andreas bertemu. Dengan aura yang sama seperti yang Malven duga sebelumnya. Terutama dengan sorot mata Andreas. Kedua orang pria dewasa itu sama-sama diam. Seperti kompak membiarkan seorang pelayan untuk menyajikan dua cangkir kopi pada mereka berdua terlebih dahulu. Untuk kemudian, setelah ia berlalu, Andreas langsung berkata. “Kalau bisa dihindari, aku tentu tidak ingin melihat adikku menikah denganmu.” Karena Andreas tak mampu untuk membujuk Ningsih yang sudah mengeluarkan titahnya. Bagi dirinya yang masih menjalani masa kehidupan dengan penuh tata krama dan segala macam norma, keadaan zaman modern saat ini jelas memberikan satu dua hal yang membuat ia tidak bisa bersikap toleran. Rasa malu dan marah yang menjadi satu membuat keputusan wanita berusia senja itu tak bisa diganggu gugat lagi. Malven mengembuskan napas. “Kau jelas tau apa yang menjadi penyebab berita itu,” katanya kemudian. “Bukan ingin membela diri. Kau pikir aku akan melakukannya andai bukan Vian yang meminta?” Lagipula ada satu hal penting di sini. Yaitu Malven tau dengan jelas bagaimana ada rencana perjodohan antara Vian dan Calvin. Hal yang membuat ia mengeraskan rahangnya. “Aku bukan semacam pecundang yang bahkan rela melepaskan harga diri demi mengusik seorang gadis yang sedang dalam pendekatan dengan pria lain. Terlebih lagi itu adalah Calvin.” Adalah sangat mudah, bagi seorang pria seperti Malven untuk jatuh cinta pada Vian. Namun, fakta membuat ia sadar diri. Apalah dirinya dibandingkan dengan Calvin? Bukan bermaksud rendah diri. Tapi, ini tentang harga diri sebagai seorang pria. Menikung wanita yang akan menikah dengan pria lain? Sementara ia selama ini hidup dari keluarga mereka? Oh, Malven tidak serendah itu. Setelah kejadian malam itu, ketika Andreas memberikan peringatannya, Malven kembali memateri di benaknya. Untuk memadamkan api cintanya pada gadis itu. Karena bukankah akan menyakitkan bila ia tetap memendam rasa ketika nantinya ia melihat Vian bersanding dengan Calvin? Biarlah kenangan yang tak seberapa itu yang nantinya akan menjadi pelipur lara untuknya. Namun .... Andreas mengembuskan napas panjang. Walau jemarinya berada di telinga cangkir, sepertinya ia tidak akan menyesap minuman beraroma wangi itu. “Tapi, pada akhirnya kau tetap harus menikahi Vian,” lirih Andreas seolah tanpa daya. “Dan aku ingin, kau menjaganya. Setidaknya selama pernikahan kalian.” Mata Malven mengerjap. Apakah itu seperti Andreas yang memberikan peringatan padanya? Bahwa pernikahan antara ia dan Vian tidak akan selamanya? Menghirup udara dalam-dalam, Malven mengangkat cangkirnya. Menikmati satu sesapan pertama seadanya. Hanya untuk mencicipi rasa kopi tersebut. Dan ketika cangkir kembali mendarat di atas tatakan, Malven menatap Andreas tajam. Tanpa kedip. “Aku yakin aku tau apa yang harus aku lakukan dengan pernikahanku nantinya,” ujar Malven. “Salah satunya adalah menjaga istriku dan memastikan hanya maut yang akan mengakhirinya.” Andreas tercengang. Tentu dengan satu kesimpulan di benaknya. Tentu saja. Dia pasti tidak akan melepaskan Vian begitu telah mendapatkannya. * Pulang ke kediaman Antaridja, sebenarnya adalah hal yang sulit untuk Malven lakukan saat ini. Kepalanya seperti kosong tanpa otak ketika memikirkan harus bersikap seperti apa ia di hadapan keluarga itu nantinya. Ingin menjelaskan asal muasal berita itu pun tidak bisa ia lakukan. Karena tentu, Lutfi sudah meyakinkan dirinya. Bahwa keselamatan Vian terancam. Dan melihat gadis itu berakhir sama seperti Sonya karena kebocoran informasi, jelas adalah hal yang ingin Malven hindari. Maka pada akhirnya, Malven menarik napas dalam-dalam. Dengan satu cemoohan yang ia gemakan di benaknya. Untuk dirinya sendiri. Bersikaplah sebagai pria pecundang, Malven. Karena berada di posisi sekarang, Malven menyadari bahwa bukanlah hal yang aneh bila ia nantinya akan dipojokkan. Bayi tanpa asal usul, hidup menumpang, dan kemudian merebut calon istri putra dari keluarga yang sudah membesarkannya? Ehm ... itu manusiawi sekali. Maka adalah hal yang membuat Malven justru terpaksa menarik napas dalam-dalam ketika ia mendapati Calvin memeluk dirinya. Memukul punggungnya. Dan mengucapkan selamat untuknya. Sial! “Aku memang sudah mengira sebelumnya. Dari cara kalian berdua saling menatap, aku harusnya sudah tau bahwa ada sesuatu di antara kalian.” Kali ini, Malven benar-benar merasa seperti pria yang menyedihkan. Sungguh! Bahkan ketika Malven bertemu dengan Herlambang dan juga istrinya –Mardiana-, ia pun mendapatkan sambutan yang membuat dirinya justru merasa tak nyaman. Bagaimana bisa ada orang sebaik mereka? Duduk bersama, Mardiana berkata pada Malven. “Untuk semua hal yang dibutuhkan, sudah Ibu persiapkan. Nanti malam kita akan pergi ke rumah Cakrawinata.” Dan itu sungguh, membuat Malven tak habis pikir. Hingga wajar saja bila pada akhirnya, ia melayangkan rasa tak nyamannya dalam bentuk pertanyaan. “Apa kalian tidak ingin menghujatku?” tanya Malven. “Atau ....” Ia menarik napas dalam-dalam seraya melihat pada Calvin. “Seharusnya kau, Calvin. Bukan aku.” Calvin tersenyum. “Rencanaya, kami akan dijodohkan. Tapi, apalah artinya itu dibandingkan dengan perasaan yang ada di antara kalian?” Untuk yang satu itu, Malven jelas tak mampu menjawabnya. Lagi-lagi, ia tak mungkin membeberkan fakta bahwa yang terjadi di apartemennya bukan seperti yang diberitakan oleh wartawan di surat kabar. Sama sekali tidak. “Baik kau atau pun Calvin adalah anak kami, Malven. Jadi, entah itu kau atau Calvin, pernikahan dengan Vian akan tetap menjadi keberkahan untuk keluarga ini.” Maka Malven semakin tidak mampu mengangkat wajahnya di depan keluarga itu. Rasa malu membuat ia justru tak tampak seperti pria lain pada umumnya. Yang seharusnya bahagia ketika malam itu mendatangi rumah sang putri. Bertemu dengan keluarga besarnya. Dalam tujuan untuk melamar. Hingga kemudian, entah apa yang dipikirkan oleh Andreas, untuk kemudian ia membuat semua orang tercengang. Terutama Malven. Karena dengan amat jelas, Andreas meminta satu hal pada pria itu. Yang entah itu adalah anugerah atau justru sinyal tanda bahaya. Dalam bentuk satu kalimat. “Nikahi Vian secepat yang kau bisa.” * bersambung .... Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas,  karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD