12. Ungkapan

1774 Words
Berbeda dengan pria kebanyakan yang biasanya berseri-seri di malam lamarannya, Malven justru sebaliknya. Wajah pria itu tampak datar –kalau tidak ingin mengatakan lesu. Bahkan nyaris tak ada senyuman yang tersungging di wajahnya. Padahal kalau ingin dipikirkan dengan akal warasnya, seharusnya saat ini senyum dan Malven menjadi dua hal yang tak terpisahkan. Karena ... malam itu seolah takdir sedang memberikan satu langkah pertama pada Malven. Bahwa dalam waktu dekat, hubungannya dan Vian akan berubah status. Bukankah hal itu adalah impiannya sejak dulu? Ketika dari dulu dirinya selalu merespon setiap sinyal yang memancar dari diri Vian. Yang bahkan di saat mereka terpisahkan jarak, Malven bisa merasakan kehadiran gadis itu. Untuk kemudian ia membalikkan tubuh. Melayangkan pandangannya dan menemukan ada Vian yang tertawa bersama dengan temam-temannya. Malven tidak akan melupakan masa itu. Hari di mana ia pertama kali menyadari sesuatu telah terjadi padanya. Hingga tanpa sadar, bermenit-menit lamanya, waktu ia biarkan berlalu begitu saja. Hanya untuk menatap sang putri. Dan lantas, ia menyadari satu hal yang pasti. Ia benar-benar telah jauh hati. Namun, kala itu Malven sudah menabahkan hati. Bahwa Vian selamanya hanya akan menjadi asa yang tak mungkin akan menjadi nyata. Itu bagaikan dirinya yang adalah seekor pungguk. Sementara Vian adalah rembulan. Mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. Dan sekarang, ketika ada kamera para wartawan yang membelokkan fakta yang sebenarnya, apakah Malven harus berterima kasih? Karena jelas saja. Tanpa ada gosip itu, tak mungkin sekali ia dan Vian bisa bertemu malam ini. Dalam acara yang membuat ia nyaris tidak percaya. Benarkah? Karena kalau ingin dipikirkan dengan akal sehat, kemungkinan ia bisa mendapatkan Vian, sudah pasti adalah nol persen. Tidak ada peluang sama sekali. Hingga kemudian, ketika Malven masih gamang dengan semua yang terjadi pada hari itu. Yang terjadi dengan amat mengejutkan dan tiba-tiba, adalah suara seorang pria yang menyadarkan lamunannya. “Aku tidak punya pilihan lain.” Setelah acara lamaran itu berakhir, ketika calon pengantin berbaur dengan para undangan yang meliputi keluarga besar mereka berdua, Andreas berhasil mengambil waktu untuk ia dan Malven berbicara berdua saja. Sedikit menepi dari keramaian. “Kau tau hal tersebut tidak akan mudah diselesaikan. Dan selama itu, berarti nyawa Vian dalam bahaya.” Mata Malven menyipit. Cepat sekali bagi dirinya untuk menemukan kemungkinan itu. “Karena itu kau menginginkan aku menikahinya secepat mungkin?” Tak hanya dikejutkan oleh rencana pernikahan dirinya dan Vian, sekarang Malven menemukan fakta lainnya. Hal yang menjelaskan padanya mengapa Andreas sekarang justru mendesaknya untuk segera menikahi sang adik. “Sudah kukatakan,” desis Andreas. “Kau pikir kalau aku memiliki pilihan lain, aku akan rela membiarkanmu menikahi adikku?” Kala itu, mungkin Andreas tidak sempat memikirkan bagaimana perkataannya membuat Malven menggertakkan rahangnya. Hingga rasa panas seperti langsung membakar dadanya. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk diam. Karena jelas sekali, benak Andreas sekarang dipenuhi oleh keselamatan Vian. Dan pada akhirnya ia menyadari sesuatu. Bahwa ia tidak akan selamanya bisa menjaga adiknya itu. Terutama mengingat Vlora. Yang usia kandungannya semakin memasuki bulan penting. Stres, panik, dan semua hal negatif itu tidak akan ia biarkan menjamah istrinya. Ia tidak ingin melihat Vlora terluka lagi. Kehilangan lagi. Menarik napas dalam-dalam, Andreas berusaha untuk tidak terbawa perasaan. “Aku tau kau menyukai adikku,” kata Andreas. “Sudah sejak lama. Dari caramu menatapnya, aku tau itu dengan jelas.” Ia mengembuskan napas panjang. “Dan aku ucapkan terima kasih karena kau telah menahan dirimu selama ini.” Ironis. Itulah satu kata yang tepat untuk mewakili perasaan Malven saat ini. Merasa bahwa rasa patah hati yang ia derita selama ini justru menjadi keberkahan untuk orang lain. “Tapi ....” Perkataan Andreas menggantung di udara. Menyadari bahwa ada takdir yang tidak bisa dielak. Bagaimana bisa? Dari sekian banyak pria yang pantas untuk mendapatkan Vian, justru pria tanpa asal-usul yang menjadi pemenangnya? “Sekarang harapanku satu-satunya hanyalah kau.” Andreas berpaling. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari. Bahwa Malven tidak banyak berbicara malam itu. Tapi, bukankah Malven memang seperti itu? Ia cenderung pendiam. Tidak banyak berkata-kata. Mungkinkah karena ia merasa rendah ketika berkumpul dengan orang-orang kalangan atas itu? “Lindungi Vian,” ujar Andreas pada akhirnya. Menempatkan pengharapannya. “Apa pun yang terjadi, lindungi dia.” Dan lantas kalimat itu menggema di benak Malven. Layaknya kaset radio yang diputar berulang kali. Seperti ingin meyakinkan Malven bahwa ia akan tetap mengingat hal tersebut. Walau jelas, sudah beberapa saat berlalu dari perbincangannya dengan Andreas tadi. Namun, Malven masih seperti ini. Ia menarik diri. Walau jasadnya berkumpul dengan keluarga yang tengah berbahagia itu, rohnya seperti hilang dari sana. Entah pergi ke mana. Ehm ... mungkin pergi ke seberang sana. Pada seorang wanita dan pria yang tampak bercengkerama. Hanya untuk ... mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Itu adalah Vian. Yang menarik napas dalam-dalam seperti tubuh rampingnya sesak oleh balutan kebaya yang ia kenakan. Walau yang terjadi sebenarnya, bukan karena itu. Melainkan karena ada rasa bersalah yang menyusup di relung hatinya. “Maafkan aku, Calvin.” Calvin menengadahkan kepalanya. Tampak melihat pada langit-langit. Ia tersenyum. Walau Vian bisa melihat dengan jelas. Ada gurat luka di sana. “Harusnya aku marah, Vian.” Pada akhirnya, Calvin mengatakan itu. Hal yang sangat wajar sekali. Manusiawi untuk dirasakan oleh seorang pria yang seharusnya menjadi tokoh utama dalam acara itu. “Kupikir kita memang memiliki hubungan,” sambung Calvin lirih. “Dan kupikir, kita pun akan benar-benar bersama.” Rasa kesat mendadak hadir di tenggorokan Vian. Sekarang, rasa sesak itu benar-benar membuat ia kesulitan menarik udara yang ia butuhkan. Itu adalah pengakuan kekecewaan seorang pria. Yang di depan keluarganya tampak berhasil memasang topeng gagah perkasanya. Namun, pada akhirnya justru runtuh di hadapan sang putri. “Tapi, aku pun harus menyadari. Bahwa antara kita memang hanya ada tali perjodohan. Yang bahkan ... tali itu pun belum sempat mengikat.” Ekspresi, nada bicara, hingga suara yang bergetar itu, tak akan gagal untuk meyakinkan Vian. Bahwa ... Calvin terluka. “Maafkan aku, Calvin.” Kembali, Vian hanya bisa mengatakan itu. Ingin menjelaskan situasinya pun, ia tidak bisa. Dan semua gosip yang beredar sudah seperti ameba. Yang bisa memperbanyak diri dalam waktu singkat. Tentu saja, dengan berbagai pemanis tambahan di mana-mana. Calvin mengembuskan napas. Berpaling pada Vian. “Tidak perlu meminta maaf. Walau aku jelas merasa kecewa, tapi sedikit banyak aku tau posisi kalian berdua.” Mata Vian menatap mata Calvin. Manik bewarna coklat gelap itu  terlihat amat sendu. Dan di sana, ia menemukan pemakluman. “Tapi, Malven pria yang baik. Oh, sial!” geram Calvin. “Harusnya aku membencinya. Tapi, tidak bisa. Karena dia pun adalah saudara dan sahabat yang baik.” Lagi-lagi, Vian tak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya bisa menunduk. Seperti dirinya adalah tersangka yang tak termaafkan. “Aku tau. Karena asal-usul Malven yang membuat kau pada akhirnya bersedia untuk dijodohkan denganku. Karena ia yang tidak berasal dari dunia kita. Ironis sekali.” Karena semua orang memang pasti akan mengatakan itu. Lantaran masa lalu Malven yang membuat keduanya menyembunyikan hubungan mereka. Yang pada akhirnya terbongkar berkat bantuan kamera para wartawan. “Tapi, kau tentu tau bahwa Malven adalah pria yang baik,” lirih Calvin kemudian. Matanya kali ini tampak fokus, membalas tatapan Vian. Seperti ingin meyakinkan gadis itu. “Dan kupikir, tak akan ada pria lain yang pantas untukmu.” Calvin tersenyum. “Selain dia.” * Vian mencoba untuk menenangkan diri. Ketika lagi-lagi keluarganya berdebat mengenai dirinya. Yang menyangkut keputusan Andreas. Yang jelas membuat Ningsih tak habis pikir. “Bukankah kau pun tidak setuju Vian dan Malven menikah? Lantas mengapa sekarang kau justru mendesak agar mereka segera menikah?” Andreas memasang ekspresi gusar, pura-pura. Hal yang jelas diketahui oleh Vian. Bahwa Andreas tidak bersungguh-sungguh dengan perkataannya selanjutnya. “Kepalaku hampir pecah saat menjemput Vian dari unit Malven, Oma. Jadi, untuk apa  lagi kita mengulur waktu? Oma sendiri tau bagaimana saat ini aku harus fokus dengan Progun. Mengurusi Vian, menambah beban pikiranku.” Ashmita seketika melotot. “Reas, jaga ucapanmu.” Dan di saat percakapan itu akan meruncing, Vian pun mengambil perannya. Berkata dengan menguatkan hatinya. “Aku akan bertanggungjawab untuk semua perbuatanku, Ma. Seharusnya aku tidak membuat malu keluarga kita. Jadi ... aku tidak apa-apa. Aku dan Malven ...” Tangan Vian saling meremas. “... akan segera menikah.” Ketiga orang wanita keluarga Cakrawinata, menatap lurus pada Vian. Entahlah, tapi Vian menemukan beragam emosi di tiap mata itu. Kesal, kecewa, namun ada pula iba. Yang tentu saja, itu karena mereka sayang padanya. “Maafkan aku, Oma. Karena sudah mengecewakan Oma. Tidak bisa menjadi cucu yang seharusnya. Tapi, aku sayang Oma.” Ningsih yang beberapa hari belakangan ini selalu memasang ekspresi keras di wajahnya, tertegun seketika mendengar pengakuan itu. Hingga sisi kewanitaannya pun terusik. Akan satu pertanyaan. “Kau mencintai Malven?” Menunduk, Vian memejamkan mata. “Tapi, ia tidak sederajat dengan kita. Malven dan aku berada di dunia yang berbeda.” Apakah itu ada termasuk di dalam skenario yang Andreas dan Vian rencanakan tadi? Agar keluarga mereka segera memberikan restu untuk pernikahan dadakan yang akan terjadi dalam waktu dekat? Karena entah mengapa, sepertinya Andreas tidak ingat akan hal itu. Walau yang dikatakan Vian adalah satu kebenaran mutlak, tapi ada yang berbeda di suara Vian. “Aku menghindarinya, Oma. Berusaha menghindarinya. Tapi, tidak bisa,” lanjut Vian dengan teramat lirih. “Jadi, maafkan aku karena mengecewakan Oma.” Penuturan itu lebih dari cukup untuk membungkam semua mulut di sana. Bahkan lebih jauh lagi. Justru menghadirkan keheningan yang terasa menusuk-nusuk perasaan. Bahwa hingga saat ini, kebiasaan itu akan selalu tetap ada. Bagaimana orang tua selalu berusaha mencarikan jodoh yang sepadan untuk putrinya. Namun, apa sebenarnya arti dari sepadan? Karena bila kata sepadan dilihat dengan mata hati, maka bukankah itu berarti satu rasa? Jodoh yang juga memiliki perasaan seperti yang dirasakan oleh putrinya? Sekarang, Ningsih tak mampu berbuat apa-apa. Melainkan mengembuskan napas panjang. Berusaha mengenyahkan fakta bahwa cucu cantiknya itu, yang terpelajar, yang terdidik, dengan sukarela pulang ke unit seorang pria. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Maka kesimpulan itu pun langsung terbersit di benaknya. Bahwa Vian dan Malven memang saling mencintai. Pada akhirnya, Ningsih pun berkata. Entah pada siapa. “Kuharap Birawa masih punya malu untuk menikahkan putrinya.” * bersambung .... Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas,  karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD