1. Cerita ini setipe SR. Jadi buat yang ga sabar, mending baca pas tamat aja. Ritme ceritanya beda dengan SM.
2. Baca pelan-pelan dari awal ya. Karena aku sudah ngasih 1 petunjuk tentang ciri pembunuh Sonya.
3. Besok SS libur. Berdoa aja biar jadwal bulan Septembernya nambah.
********************************
Dunia gempar!
Tak cukup dengan berita mengejutkan saat para wartawan berhasil memergoki Vian dan Malven, sekarang jagad raya kembali dibuat heboh lantaran berita baru yang kembali mencuat ke permukaan. Bahwa ternyata kedua anak manusia itu sudah menjalin hubungan sejak lama, tercatat dimulai dari mereka masih sekolah. Dan bila publik dibuat bingung dengan kedekatan Vian dan Calvin, itu adalah lantaran sang pria yang merupakan sahabat dan saudara bagi Malven. Sangat masuk akal bila mata justru salah melihat. Terutama dengan konfirmasi yang dilakukan oleh Calvin sendiri. Meyakinkan publik bahwa sebenarnya adalah Malven yang dekat dengan gadis itu, bukan dirinya.
Demi menguatkan dugaan tersebut, lantas beredar di dunia maya beberapa foto yang menampilkan kedekatan Vian dan Malven. Hal yang tentu saja di luar dugaan mereka berdua. Bahwa untuk beberapa kesempatan, mereka berhasil diabadikan dalam satu petikan kamera yang sama.
Begitulah. Setidaknya berita baru tersebut mengenyahkan pandangan masyarakat bahwa Vian adalah tipe wanita yang suka datang ke unit apartemen setiap pria secara acak. Sekarang, publik justru meyakini kejadian tempo hari terjadi lantaran ada perasaan cinta di antara keduanya. Walau tentu saja, ada spekulasi-spekulasi yang menyertainya. Mengingat kala itu Vian dan Malven meninggalkan pesta sebelum pada waktunya. Dan ditambah oleh fakta bahwa semula ada rencana untuk mengumumkan perjodohan sang gadis.
Dugaan itu adalah hubungan Vian dan Malven mendapat tentangan. Hingga memaksa sang putri melakukan pemberontakan. Yang berujung pada skandal. Menjadi hal yang tak bisa dielak lagi oleh pihak keluarga. Dan pada akhirnya, pernikahan itu pun terjadi. Walau jelas, Andreas selaku kakak dengan tegas menjelaskan bahwa pernikahan bukan hal yang mendadak. Bahwa sebenarnya pernikahan sudah direncanakan dan berusaha untuk ditutupi. Lantaran menghormati gonjang-ganjing yang belakangan menerpa nama Cakrawinata. Tidak ingin menambah polemik yang ada.
Dan Andreas berusaha sekuat tenaga. Agar nama Vian tidak buruk di mata orang-orang. Walau itu harus dibuktikan dengan menyelenggarakan pesta pernikahan yang meriah. Sebagai bentuk nyata dari ‘perencanaan’ yang dimaksud.
Berselang hanya tiga minggu dari pesta ulang tahunnya, Vian kembali mengadakan acara perayaannya. Namun, kali ini ia bukanlah satu-satunya tokoh utama. Melainkan ada Malven yang berdiri tepat di sampingnya. Menjadi pendampingnya.
Semua yang terjadi, sangatlah cepat. Pun begitu mendadak. Hingga Vian sama sekali tidak bisa yakin. Entah kenyataan atau justru mimpi yang sedang ia alami saat itu. Ketika tubuhnya berbalut kebaya putih sementara Malven mengucapkan janji suci. Dan ada Birawa di tengah-tengah mereka.
Vian meragukan hal itu. Bahwa mimpinya ingin membawa Birawa masuk ke alam bawah sadarnya. Tentu saja, ia tidak membenci. Namun, ada rasa sakit hati ibunya yang turut menurun padanya.
Hingga kemudian, ketika kebaya tergantikan oleh gaun putih yang anggun, untuk kemudian satu persatu undangan yang terbatas itu memberikan selamat padanya, mau tak mau Vian sadar. Bahwa saat ini dirinya memang telah menikah. Pada seorang pria yang selama ini tidak pernah ia duga.
Malven.
Dan pria itu layaknya memiliki indra keenam, menoleh. Membawa sepasang matanya yang tampak dingin memaku manik lembut Vian. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap. Tidak mengucapkan apa-apa. Hingga ucapan selamat selanjutnya kembali menarik perhatian keduanya.
Menarik napas dalam-dalam, Vian berusaha untuk bersikap layaknya wanita yang berbahagia kala itu. Mengembangkan seulas senyum manis di wajahnya. Pun menerima dengan tulus setiap ucapan selamat dan doa yang mereka terima. Dan di dalam hati, Vian berharap Malven melakukan hal yang serupa.
Pernikahan yang mendadak dan disertai dengan penyebab yang tak masuk di akal, setidaknya adalah hal yang membuat Vian sempat berpikir. Bahwa pesta itu berlangsung dengan sangat lama. Hingga nyaris membuat ia tak mampu bertahan. Ingin segera rasanya beristirahat. Merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
Namun, ketika pemikiran itu melintas di benaknya, seketika saja kedua bola mata Vian membesar. Tanpa sadar ia berpaling. Mengangkat wajahnya. Melihat pada Malven dengan dugaan yang ... manusiawi sekali.
A-aku dan Malven ....
Mungkin Vian perlu mengingatkan dirinya sendiri bahwa mulai hari ini, setelah janji pernikahan diucapkan, maka ia dan Malven akan tinggal bersama. Lupakan sejenak mengenai perjalanan bulan madu –Andreas dan banyak pihak berusaha menjaga Vian dalam radius yang aman, yang pasti adalah bahwa kehidupan Vian berubah menjadi hal yang tidak bisa dielakkan. Termasuk dengan kenyataan bagaimaan ia akan pindah ke unit apartemen sang suami.
Ketika pesta telah usai, Vian dan Malven memanfaatkan paket pernikahan yang disediakan oleh pihak penyelenggara pernikahan mereka. Ada satu kamar yang siap menjadi tempat untuk mereka beristirahat. Dan ketika itu, Vian merasa dirinya gemetaran.
Malven melangkah. Melepas jas di tubuhnya dan membetot dasi di lehernya. Berpaling pada Vian, ia bertanya.
“Perlu bantuan?”
Mata Vian mengerjap. Entah sadar atau tidak, tapi ia tampak meremas gaun pengantinnya. Pada bagian roknya yang mengembang di bawah. Dan itu, tertangkap oleh retina mata Malven. Membuat ia meringis.
“Ba-ba-bantuan?” cicit Vian bertanya.
Fokus mata Malven berpindah. Pada rambut Vian yang ditata dengan begitu apik. Dan dipercantik oleh beberapa pernak-pernik di sana. Tangannya menunjuk.
“Jepit di rambutmu,” ujar Malven tak pasti. “Atau itu konde?”
Tangan Vian sontak naik. Mendarat di atas kepalanya. “Aaah ..,” lirihnya mengerti. Dan ia menggeleng. “Tidak perlu. Aku yakin bisa melepasnya sendiri.”
Tak mengatakan apa-apa lagi, Malven hanya memberikan satu anggukan tipis untuk jawaban Vian. Dan ia pun kemudian beranjak. Meninggalkan Vian seorang diri sementara ia menghilang di balik satu pintu.
Vian mengembuskan napas lega. Langsung terduduk di tepi tempat tidur. Berusaha menenangkan diri sementara Malven di kamar mandi. Setidaknya, ia memiliki waktu untuk bisa mengatur napasnya selagi pria itu membersihkan diri.
Selang sekitar lima belas menit kemudian, ketika Malven keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk di sekitaran pinggangnya, ia mendapati bagaimana Vian memang berhasil membebaskan rambutnya. Dari jebakan jepit dan tatanan yang membelenggu untuk beberapa jam. Dan sekarang, helaian rambutnya tampak beriak. Jatuh dalam gelombang bewarna hitam. Tampak begitu cantik dan alami.
Sejenak, Malven tertegun di tempatnya berdiri. Terpaku melihat pemandangan tersebut. Karena tak pernah. Tak pernah sekali pun juga ia pernah melihat Vian seperti itu.
Mendapati keberadaan Malven, Vian pun bangkit dari duduknya di depan meja rias. Ia yang tak menangkap bagaimana Malven menatapnya dengan lekat, beranjak. Menghindari mata Malven, Vian berjalan menuju ke kamar mandi. Tak tau bahwa kala itu Malven memejamkan matanya. Tepat ketika Vian melintasinya dan ada aroma wangi rambutnya yang terhirup bersama napas pria itu.
Praktis, tidak ada hal berarti yang terjadi malam itu. Tidak seperti yang biasanya terjadi ketika sepasang pengantin baru terjebak pada satu kamar yang sama, Vian dan Malven malah nyaris tidak benar-benar berinteraksi. Hanya ada satu dua kali percakapan yang tak berarti. Seperti haruskah lampu dipadamkan atau tidak. Karena setelahnya, ketika keremangan menghiasi ruangan itu, Vian dan Malven kompak memejamkan matanya.
*
“K-k-kau? K-kau menciumku?”
“Aku tidak bermaksud, Vian. Aku ....”
Entah mengapa, rasanya kala itu Vian seperti mendadak saja teringat oleh kenangan masa lalunya. Hal yang sebenarnya berusaha ia enyahkan selama bertahun-tahun lamanya. Tapi, bagaimana bisa? Sementara ada ciuman kedua yang lalu menyertainya. Dan sekarang ... Vian mendapati kenangan itu justru menyublim dalam bentuk kilasan mimpi di dalam tidurnya.
Vian membuka mata. Perlahan. Lantaran ada kesan geli yang mengusik hidungnya. Nyaris membuat ia bersin.
Namun, sekarang alih-alih bersin, Vian justru mengerutkan dahi ketika pemandangan ganjil itu masuk ke retina matanya. Mengenai penyebab geli yang membuat tidurnya terusik.
Bentuknya berupa helaian-helaian. Bewarna hitam. Dan memiliki jumlah yang tidak tergolong sedikit. Layaknya tanaman, itu tumbuh dengan subur dalam sebidang dadá. Atau ... dua bidang dadá?
Ya Tuhan.
Mata Vian membesar. Pandangannya perlahan bergerak. Hanya untuk menyadari apa sebenarnya helaian-helaian yang membuat hidungnya merasa geli dari tadi.
“Apa kau sudah bangun?”
Tentu saja. Tubuh Vian yang mendadak menegang ketika menyadari di mana dirinya tidur kala itu, memberikan sinyal tersendiri bagi Malven. Yang entah sejak kapan sudah berbaring dengan kaku.
Malven sudah bangun. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu. Namun, ia harus menahan dorongan alamiahnya untuk bangkit dari kasur empuk itu. Lantaran ada Vian yang entah bagaimana ceritanya, sudah berbaring di atas dadanya yang polos. Memeluknya.
Vian memejamkan matanya. Menggigit bibir bawahnya. Merutuk di dalam hati. Pada dirinya yang benar-benar tidak sadar ketika tidur. Hingga merutuki Malven yang tidur tanpa mengenakan baju. Setidaknya, kalau pria itu mengenakan baju, maka Vian tidak harus berhadapan dengan rambut-rambut maskulin yang memenuhi dadanya!
Sialan!
Rasanya, wajah Vian kaku. Tebal. Jelas, ia malu. Terutama karena di detik selanjutnya, Malven yang tidak mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya, kembali bersuara.
“Kurasa ini sudah waktunya untuk kita bersiap.”
Vian tidak memiliki pilihan lain. Hingga mengenyahkan rasa malunya, ia mengangguk. Mengatakan satu kata.
“Ya.”
Hanya itu. Untuk kemudian, Vian pelan-pelan beringsut. Turun dari dadá Malven. Dan ia langsung membalikkan tubuh. Membelakangi Malven. Pun seperti memberikan isyarat pada pria itu. Bahwa ia tidak ingin mendengarkan apa pun tentang kejadian tak terduga itu.
Memejamkan mata dengan teramat kuat, meremas selimut, dan menggigit bibir bawahnya, Vian berusaha untuk tidak benar-benar mengeluarkan rutukan untuk dirinya sendiri.
Bagaimana bisa, Vian?
Bagaimana bisa kau melakukan itu?
Tenggelam dalam rutukan yang ia ciptakan sendiri, pada akhirnya Vian bisa mengembuskan napas lega. Itu adalah ketika samar telingnya mendengar suara-suara samar. Ketika selimut tersibak. Memberikan bayangan Malven yang turun dari tempat tidur. Lalu disusul oleh suara pintu kamar mandi yang menutup. Dan di saat itu, barulah Vian menggeram malu.
“Argh!”
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.