JADWAL PUBLISH BULAN SEPTEMBER:
1. [Masih] Kuliah Tapi Menikah setiap hari.
2. SEXY SCANDAL setiap hari kerja (alias Sabtu-Minggu libur).
3. Ehm ... Mamma Mia setiap hari kerja (alias Sabtu-Minggu libur, di w*****d).
4. RELOVE setiap hari (di Novel Life).
Semua cerita aku tayang pkl. 12.00 WIB. Kalau ceritanya ga muncul di jam segitu, coba cek story aku di i********: atau sss, bisa aja aku telat atau justru ga update.
********************************
Canggung adalah hal yang dirasakan oleh Vian. Tepat ketika pada akhirnya, ia menginjakkan kakinya di unit apartemen Malven. Walau sebenarnya, mengapa bisa? Toh, ia sudah pernah datang ke tempat itu sebelumnya.
Mungkin satu-satunya alasan mengapa rasa itu datang dan menghadirkan getar-getar di kedua lututnya adalah ... status mereka yang saat ini tak lagi sama. Dulu, ketika Vian datang ke tempat pria itu, mereka hanyalah dua anak manusia yang tidak memiliki hubungan apa pun. Sekarang? Ada ikatan yang telah menyatukan mereka berdua. Dan kalau pun mereka sampai menyangsikan hal tersebut, tentulah sepasang cincin yang melingkar di jari manis keduanya, bisa mengingatkan. Bahwa sekarang mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Yang katanya ... akan selalu mencintai dan melindungi. Bahkan setelah kematian mendatangi.
“K-k-kau tinggal sendirian di sini?”
Bermaksud mencoba untuk mencairkan suasana atau mungkin berharap agar satu dua percakapan bisa membuat ia merasa lebih santai, Vian melayangkan pertanyaan itu ketika ia dan Malven melintasi ruang tamu. Hal yang seketika membuat langkah kaki pria itu di hadapannya terhenti. Ia berbalik dan melihat pada Vian. Dan wanita itu, seketika saja turut menghentikan langkahnya. Dengan kedua tangan yang sontak naik ke depan dadá.
Mata Malven berkedip dengan penuh irama. “Dulu ... ya. Sekarang ... tidak.”
“Aaah ....”
Vian mengangguk seperti orang bodoh. Dan memang itulah yang ia rutukkan di dalam benaknya.
Dasar bodoh!
“Kau pasti masih lelah.”
Suara berat Malven menghentikan Vian merutuki dirinya sendiri. Membuat ia kembali melayangkan fokus retina matanya pada pria itu. Yang tampak acuh tak acuh menenteng jas hitamnya di satu tangan. Dengan penampilan dua kancing teratas dari kemeja yang ia kenakan membuka. Menampilkan kilasan rambut-rambut bewarna hitam yang menjadi penyebab geli di hidungnya pagi tadi.
Diam-diam, Vian menggigit mulut bagian dalamnya. Karena tak mampu ia kendalikan, ingatannya justru kembali menampilkan kejadian memalukan itu.
“Kalau kau ingin beristirahat,” lanjut Malven kemudian. “Silakan saja.”
Vian memang merasakan lelah. Pasca menjadi tokoh utama dalam pesta pernikahannya, itu pasti. Namun, ide beristirahat di saat hari baru menunjukkan jam sepuluh pagi, entah mengapa menjelma menjadi hal yang tidak tepat menurutnya.
Vian menggeleng. “Kurasa aku baik-baik saja.”
Malven mengangguk. “Atau mungkin kau ingin makan,” tawarnya. “Walau aku tak yakin bahwa ada makanan di sini.”
Bagaimana bisa ada tempat tinggal tanpa makanan? Itulah hal yang langsung terbersit di benak Vian. Namun, begitulah adanya. Ketika mereka ke dapur dan Malven membuka pintu kulkas, langsung saja itu membuat ia teringat akan kulkas yang menjadi pajangan di toko elektronik. Kosong. Benda itu kosong. Atau nyaris kosong. Lantaran hanya ada beberapa botol air mineral di dalam sana. Makanan atau buahan? Oh, jangan berharap.
Malven meremas gagang pintu kulkas. “Aku jarang makan di sini. Biasanya sebelum pulang ke unit, aku menyempatkan diri untuk makan di luar.”
Merasa perlu atau mungkin karena tak enak pada Vian, Malven menjelaskan. Bermaksud mengusir rasa tak enaknya lantaran tidak bisa menyajikan apa-apa pada wanita itu. Ia tau, saat ini yang paling dibutuhkan oleh tubuh mereka memang hanya dua hal itu. Tidur yang nyenyak dan makan yang enak. Yang mana, sepertinya Malven merasa gagal untuk bisa menyiapkan keduanya.
“Tak apa.”
Suara Vian terdengar di udara. Menarik perhatian Malven, terutama karena wanita itu tampak mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya. Ia tersenyum tipis. Namun, lebih dari cukup untuk mampu membuat darah berdesir.
“Kita bisa memesan makanan di luar,” sambung Vian kemudian. “Kau ingin makan apa?”
Seperti menu makanan masih menjadi prioritas Malven saja.
Malven menarik napas. “Aku percayakan padamu. Kuyakin kau tau makanan apa yang enak.”
Tentu saja. Vian terlahir dengan semua keberkahan di hidupnya. Mengetahui tempat-tempat yang menyediakan makanan berkualitas menjadi keahliannya. Termasuk dengan menunya.
Vian memesan satu paket makan siang untuk dua orang. Dan selagi menunggu pesanan itu tiba, mereka berdua duduk di kitchen island. Beruntung, setidaknya ada air mineral yang bisa menjadi objek keduanya kala itu. Hingga canggung tidak benar-benar menyelimuti atmosfer kala itu.
Membiarkan waktu beberapa saat untuk berlalu dalam keheningan, Vian kemudian memutuskan untuk menciptakan kembali percakapan di antara mereka. Karena ia yakin, Malven tidak akan memulai topik. Pria itu persis seperti penghuni kuburan.
Walau tentu saja, Vian tidak tau persis topik apa yang harus ia angkat kala itu. Hingga terbersit saja di benaknya. Untuk meminta maaf.
“Malven ....”
Suara Vian terdengar lembut. Namun, lebih dari ampuh untuk mampu menarik perhatian Malven yang sedari tadi justru mempermainkan botol air mineral di tangannya.
“Aku minta maaf.”
Ekspresi merasa bersalah, tercetak di wajah Vian. Karena bila Malven meragukan ketulusan ucapannya tadi, maka sekarang ia pasti yakin. Dengan sorot di mata bening itu, yang pasti sukses meyakinkannya.
“Aku tau seharusnya Kak Andreas tidak bertindak sejauh ini.”
Vian melirih seraya mengembuskan napasnya. Wajah cantik itu lantas menunduk, matanya berkedip berulang kali. Menampilkan pemandangan sepasang bulu mata lentik yang bergerak-gerak dengan lembut.
“Kuharap kau mengerti. Dia hanya ingin melindungiku. Memastikan keselamatanku. Bagaimana pun caranya.”
Tentu saja, tidak akan ada yang meragukan itu. Bahkan Malven sekali pun. Karena melihat pada keadaan dirinya, pastilah menjadi pilihan yang sulit untuk Andreas. Hal yang terpaksa pria itu ambil, lantaran ada keselamatan Vian yang menjadi pertaruhannya.
Malven mengangguk. “Tak apa. Aku bisa memaklumi keadaan Andreas. Dan juga ... kau.”
“Terima kasih.”
Bahkan Vian sontak mengernyitkan dahinya ketika mengucapkan hal itu pada Malven. Pria yang saat ini sudah berstatus menjadi suaminya. Walau dalam tujuan yang jauh berbeda dengan status pernikahan yang biasanya terjadi.
“Kurasa ...,” desah Vian seraya mengangkat kepalanya. Melayangkan pandangan yang tak fokus ke depan sana, dalam tujuan membiarkan pikirannya mengambang. “... semua tidak akan menjadi hal yang sulit seandainya aku bisa mengingat lebih banyak mengenai kejadian malam itu.” Vian meringis, tampak takut. “Atau bahkan ... bila aku sempat melihat wajah pelakunya.”
Namun, Malven tidak akan menyalahkan Vian. Bahkan untuk bisa tetap waras seperti Vian saat ini, setelah menjadi saksi pembunuhan tragis, tidak akan banyak orang mampu melakukannya. Walau memang, jujur saja, Malven berharap ada petunjuk lain yang bisa membuat mereka berdua keluar dari situasi itu.
“Apa kau yakin tidak melihat apa pun?”
Pertanyaan Malven membuat Vian berpaling. Wanita itu mengembuskan napas panjangnya, lagi. Menyiratkan ketidakberdayaan di sana.
Vian menggeleng. “Aku hanya ingat bahwa ia mengenakan jam tangan di tangan kanannya. Sangat ingat. Lantaran aku melihat dengan jelas bagaimana dengan tangan itulah ia menusuk perut Sonya.”
“Ehm ....”
Malven terdengar mendehem sejenak. Seraya membuang napasnya. Mungkin ia tengah berpikir. Atau mungkin tidak. Yang pasti Vian kembali melanjutkan perkataannya.
“Aku tidak bisa melihat wajahnya. Seperti terhalang.”
Ada nada keraguan di suara Vian. Karena ketika ia memaksa untuk mengingat lebih jauh lagi, ia sendiri tidak yakin. Hanya saja, untuk satu hal, ia yakin.
“Dan kau jelas bukan pelakunya, Ven,” kata Vian kemudian. “Kau mengenakan jam tanganmu di tangan kiri.”
Sontak, Malven melihat pada tangan kirinya. Di mana ada jam yang melingkar di sana. Mungkin bisa menjadi tambahan pembelaan dirinya. Bahwa ia tidak mungkin termasuk menjadi tersangka.
Beberapa saat kemudian, suara bel membuyarkan percakapan serius di antara pasangan pengantin baru itu. Hal yang membuat Vian meringis sebenarnya. Apakah ada penganti baru yang justru membicarakan soal tragedi pembunuhan di hari pertama mereka menjadi suami istri? Oh, Vian yakin bahwa hanya ada satu pasangan seperti itu di dunia ini. Ia dan Malven.
Vian menyajikan paket makanan itu di meja makan minimalis yang ia berani bertaruh, tidak pernah Malven gunakan. Dengan cekatan dan tepat. Lantas, keduanya menikmati makanan lezat itu dalam keheningan. Tanpa ada satu suara pun yang terdengar di udara.
Setelah makan siang itu berlalu, Malven dengan sigap menghentikan niatan Vian yang ingin meraih piring kotor di atas meja.
“Kuyakin kau butuh istirahat,” ujar Malven. “Beristirahatlah. Biar aku yang mengurusnya.”
Vian pun tak menolak. Hingga ia kemudian memutuskan untuk beranjak ke satu ruangan, di mana ada satu televisi layar datar yang tersedia.
Menatap pada piring-piring kotor di meja, Malven berkacak pinggang. Diam sejenak. Dan satu hal melintas di benaknya.
Orang mengatakan bahwa pernikahan akan membawa perbedaan.
Dan sepertinya itu ... benar.
Paling tidak, Malven mengawali perubahan kehidupannya dari mengurusi piring kotor. Yang mana ... jujur saja. Tadi itu refleks Malven lakukan. Lantaran merasa terpukul ketika harus melihat Vian yang tampak lelah berniat untuk merapikan bekas mereka makan. Sementara dirinya, sebagai seorang pria yang kuat dan masih bugar, hanya menjadi penonton.
Maka begitulah hari pertama Vian dan Malven sebagai pasangan suami istri baru, terlewati. Nyaris tidak ada interaksi yang berarti di antara mereka. Karena setelah makan siang, Vian memilih menonton hingga tanpa sadar tertidur di sofa yang empuk di sana. Dan Malven, langsung menuju ke ruang kerjanya. Memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang belakangan ini terganggu karena banyaknya kejutan yang terjadi.
Ketika malam menjelang, Vian yang keluar dari kamar mandi tampak telah mengganti pakaian santainya. Dengan satu gaun tidur berbahan satin yang jatuh lemas di tubuhnya. Mengitari kamar itu, untuk kemudian, ia menuju ke meja rias. Duduk dan menyisir rambut sepunggungnya yang berombak.
Jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Dan hingga saat itu, Vian tidak mendapati keberadaan Malven. Hal yang membuat ia mengembuskan napas lega. Dengan satu pemikiran di benaknya. Bahwa Malven tidur di kamar lain.
Bangkit dari duduknya, berencana untuk langsung membaringkan tubuh di tempat tidur, Vian justru nyaris terlonjak ketika mendengar suara pintu yang membuka. Membuat ia refleks berpaling. Demi mendapati kehadiran Malven. Yang melenggang masuk dengan santainya, hanya mengenakan sehelai celana panjang longgar tanpa baju di badannya.
Mata Vian membesar. Antara kaget dan juga jengah dengan pemandangan itu. Membiarkan satu pertanyaan menggema di kepalanya.
Apa Malven tidak pernah mengenakan baju saat tidur?
Tapi, tu-tu-tunggu dulu.
Vian mengerutkan dahi. Penasaran akan sesuatu. “Kau tidur di sini?”
Layaknya Vian adalah alien yang tersesat, Malven mengerutkan dahi. Menatap bingung pada wanita itu. Dan enteng saja menjawab.
“Aku hanya punya satu kamar di sini. Kalau bukan di kamar ini, lantas di mana lagi aku akan tidur?”
Dramatis, Vian memejamkan matanya. Mendapati bagaimana rasa kaku mulai menjalari kedua pipinya. Hingga ia kemudian membuka kembali matanya, merasa jengah.
Malven menatap Vian. Dengan mata yang sedikit menyipit.
“Apa malam ini ... kau ingin tidur denganku?”
Pertanyaan yang tentu saja membuat Vian membolakan matanya. Syok. Tapi, belum lagi ia memutuskan akan menjawab atau tidak, ia justru mendapati Malven yang melangkah ke arahnya. Dalam gerakan yang teratur dan pasti.
Mata Vian mengerjap. Memutuskan untuk melihat ke arah lain sementara kakinya dengan gemetar berusaha bergerak. Dalam langkah tersurut, pelan-pelan berjalan mundur.
“Atau ... kau tidak ingin tidur denganku?”
Vian meneguk ludahnya. Merasa gamang dengan satu kata itu. Terutama dengan fakta bagaimana perlahan Malven mengikis jarak di antara mereka. Berusaha menghindar pun sekarang tak bisa. Berkat keberadaan dinding dingin yang kemudian menahan kehendak Vian.
Kedua tangan Vian bergerak di bawah sana. Bertahan pada dinding dalam kekhawatiran bahwa kedua lututnya akan goyah sebentar lagi. Lantaran bagaimana tajamnya mata Malven yang menatap pada dirinya membuat ia gemetaran.
Tak ada lagi jarak yang tersisa, Malven menundukkan wajah. Berusaha menatap Vian walau wanita itu justru menghindarinya. Lalu, satu seringai pelan-pelan muncul di wajahnya. Bersamaan dengan naiknya tangan pria itu.
Vian menggigit bibir bawahnya. Menahan napas. Dan jantungnya berdetak tak karuan. Mengira-ngira, akan bermuara ke mana tangan besar pria itu. Hingga kemudian ... ‘klek’. Satu suara terdengar dan keadaan terang di kamar itu pun menghilang.
Vian seketika mengangkat wajahnya. Seperti butuh waktu untuk mengartikan keadaan kala itu. Dan Malven berbisik padanya.
“Kalau kau ingin tidur denganku, kau harus membiasakan untuk tidur dalam kegelapan.”
Vian sontak memejamkan mata. Membiarkan Malven yang berlalu dari hadapannya. Dengan pikiran yang langsung penuh dengan berbagai macam rutukan. Kembali, pada dirinya sendiri!
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.