Pernikahan memang akan selalu membawa perubahan. Hal yang sudah dicamkan Malven di benaknya dari beberapa hari yang lalu. Sekadar untuk mengingatkan dirinya sendiri. Bahwa ia harus terbiasa. Karena setelah janji suci itu diucapkan, maka semua tidak lagi sama. Dan hal itulah yang ia dapati belakangan ini.
Malven tau, sebagai putri bungsu dan menjadi sosok kesayangan, Vian tumbuh menjadi seorang wanita yang terkesan manja. Lebih dari itu, sepertinya ia pantas untuk menyandang predikat sebagai bentuk nyata dari tuan putri yang Malven temui di era modern saat ini. Namun, jujur saja. Vian adalah tuan putri yang sangat manis. Itu ... jelas sekali. Dan bentuk manis itulah yang membuat Malven sadar –kembali tersadar, bahwa kehidupannya memang telah berubah.
Dua kali tidur di tempat yang sama dan dua kali pula terbangun dengan hal yang sama, Malven tidak tau ia harus mensyukuri hal tersebut atau justru sebaliknya. Merutukinya? Lantaran membuat ia terpaksa harus menahan napas berulang kali.
Persis seperti pagi kemarin, di saat ia terbangun, ia mendapati tubuhnya tidak bisa bangkit dengan segera. Berkat satu beban aneh yang terasa menindih tubuhnya. Dan ketika ia menundukkan pandangannya, ia pun lantas tau hal apa itu.
Adalah Vian, yang kembali mendarat di atas tubuhnya. Membawa satu tangannya yang halus dan lembut itu untuk mendarat di atas perutnya. Kesan feminin sang putri, jelas berbeda sekali dengan kesan maskulin yang melekat pada Malven.
Mata Malven mengerjap dua kali. Lalu ia memutuskan untuk membawa fokus retina matanya ke langit-langit. Menarik napas dalam-dalam dan lalu merutuk di dalam hati, tatkala aroma wangi rambut Vian dengan begitu lancangnya masuk dan menyentuh indra penciumannya. Menyeruakkan keharuman itu di ruang paru-parunya yang terasa mendamba.
Tak pernah. Malven tidak pernah menghirup aroma sewangi itu. Yang penuh dengan kesan lembut. Hingga sempat muncul rasa penasaran di benaknya. Sampo merek apakah yang digunakan oleh Vian?
Hingga beberapa saat berlalu, Malven pun menyadari bahwa Vian tidak hanya sekadar berbaring padanya. Seperti ia adalah boneka, Malven mendapati dirinya yang kemudian direngkuh. Lalu tanpa daya membiarkan Vian menyurukkan wajahnya. Selayaknya ia yang sedang berusaha mendapatkan posisi yang nyaman untuk tetap melanjutkan tidurnya.
Tega sekali. Jelas, sang putri tidak menyadari bagaimana perbuatannya memberikan dampak yang tidak main-main pada Malven.
Oh, sungguh. Malven adalah pria yang normal. Yang ketika di pagi hari, mendapati ada wanita bergaun satin jatuh di tubuhnya, tentu saja bereaksi seketika.
Jantung pria itu berdebar. Darahnya berdesir. Dan ada sesuatu yang mendesak. Ini ... tentu adalah bentuk nyata dari siksaan.
Malven memutuskan bahwa kali ini ia tidak bisa bertahan. Karena pagi ini berbeda dengan kemarin, di saat tubuhnya lelah berkat serangkaian acara pernikahan. Sekarang pria itu bugar. Lantaran istirahat yang cukup ia dapatkan sepanjang hari.
“Vian ....”
Malven menyerah. Ia harus meninggalkan situasi itu secepat mungkin. Sebelum akal sehatnya tergadaikan oleh keinginan alamiahnya.
Yang benar saja.
Vian adalah istrinya.
Seharusnya urusan penyaluran keinginan alamiah adalah hal yang mudah untuk ia lakukan.
Namun, mengingat di benaknya, Malven tau. Bahwa pernikahan yang mereka jalani bukanlah seperti pernikahan pada umumnya. Dan untuk menyentuh Vian, itu masih menjadi keraguan di benaknya.
Tangan Malven naik. Mendarat di lengan atas Vian. Bermaksud untuk menggugah wanita itu, namun justru mendapati bagaimana kulit yang tidak tertutupi itu menghantarkan beragam sensasi bagi saraf perasanya. Ehm ... Malven tidak pernah merasakan kulit sehalus dan selembut itu sebelumnya. Jelas berbeda dengan kulitnya yang terkesan kasar.
“Vian ....”
Kedua kalinya Malven mencoba membangunkan Vian, ia mendapati lenguhan samar. Disusul oleh geliat yang sontak membuat pria itu memejamkan matanya. Antara ingin mengendalikan diri atau justu menikmati. Lantaran ada halus satin yang menggesek dadá polosnya. Juga ada samar sentuhan lembut nan kenyal yang membuat pikiran nakalnya menyala seketika.
“Vian, kau sudah bangun?”
Malven kembali bersuara. Dan sepertinya kali ini usahanya membuahkan hasil. Itu dibuktikan oleh dengan cepat bobon tubuh Vian menghilang. Wanita itu langsung bangkit, terkesiap.
“Oh, Tuhan. Ma-Ma-Malven, maaf.”
Vian tidak tau untuk apa permintaan maaf itu ia ucapkan. Atau ... sebenarnya ia tidak berniat untuk meminta maaf? Melainkan itu adalah bentuk untuk menyelamatkan mukanya yang terasa panas dari rasa malu?
Bertahan pada satu tangan, Vian tanpa sadar membawa sepasang matanya menuju ada mata Malven. Yang tajam seperti biasa dan tampak begitu terang. Cukup menjadi tanda bahwa pria itu sudah bangun dalam waktu yang cukup lama.
Vian mengerjap. Hanya untuk menyadari bagaimana satu tangannya yang lain masih berada di atas dadá Malven. Tampak seperti ingin bersembunyi di dalam riak helai-helai rambut maskulin di sana. Yang seolah tumbuh menyambung susunan cambangnya, menipis di sepanjang lehernya, untuk kemudian kembali menebal tatkala sudah melewati garis tulang selangka sang pria. Nyaris benar-benar memenuhi dadanya yang bidang itu.
Jari tangan Vian bergerak kaku. Salah tingkah ketika merasa bahwa tak seharusnya ia kembali terlepas seperti itu. Namun, siapa yang bisa menyalahkan orang tidur?
Tenggorokan Vian naik turun, sekali. Menahan napas dan menguatkan diri untuk menarik tangannya dari sana. Namun, ketika matanya melihat dan jemarinya menyentuh, maka ia nyaris menghabiskan dua detik waktunya hanya untuk tertegun.
Tersadar, tangan Vian lantas bergerak. Hanya untuk mendapati bagaimana selanjutnya justru tangan Malven bergerak lebih cepat darinya. Menyambar tangannya dalam satu genggaman yang membuat ia terkesiap dengan mata yang membesar. Terutama dengan fakta, bahwa ada tangan Malven lainnya yang langsung mendarat di atas lekuk bokongnya. Menahan di sana. Mengenyahkan kemungkinan andai Vian ingin menarik dirinya.
Lantas dua mata beradu. Diam untuk sejenak. Bahkan deru napas pun tak terdengar. Hingga kemudian, Vian menggeliat. Berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Malven.
Malven tidak membiarkannya. Alih-alih, ia justru menarik tangan lembut itu. Hingga pemiliknya tak berdaya. Terjatuh dengan kesan pasrah. Untuk kembali mendarat di dadanya.
“Kau mencintaiku.”
Lagi-lagi, bola mata Vian membesar. Entah mengapa, ia merasa familiar. Hingga ia menyadari, bahwa Malven bukan kali pertama ini mengejutkannya dengan perkataannya. Yang terkesan selalu penuh percaya diri. Dulu, sewaktu pesta ulang tahunnya, pria itu pun dengan penuh keyakinan mengatakan satu kalimat itu padanya. Yaitu, Vian memikirkannya.
Dan sekarang?
Dahi Vian mengerut. Bibirnya membuka. Namun, tak ada suara yang terlontar dari sana. Hal yang kemudian membuat Malven bertindak. Teramat cepat dan tanpa cela, ia mendorong tubuh ramping itu. Hingga menarik pekik kaget Vian ketika mendapati dirinya dalam hitungan detik yang begitu singkat, telah berbaring menelentang di atas kasur empuk itu. Dengan Malven yang mengurungnya.
Tak hanya itu, Malven kemudian menunduk. Langsung menempatkan kedua belah bibirnya di antara kedua belah bibir Vian membuka. Diam sejenak, lalu mengecupnya dengan penuh irama. Hingga menimbulkan gelombang liukan tubuh Vian di bawahnya. Seakan sentuhan bibir yang ia berikan mampu menarik roh sang putri untuk keluar dari tubuhnya.
Malven menarik ciuman singkat itu. Lalu melihat bagaimana Vian yang semula memejam, pelan-pelan membuka matanya. Dengan embusan napas yang membelai dari bibirnya yang merekah.
Mata berbola polos itu menatap pada Malven. Sejenak, membuat ia terpana. Untuk kemudian, ia segera tersadar. Hingga ia bertanya.
“Mengapa kau mencintaiku?”
Namun, Malven tau bahwa ia tidak akan mendapatkan jawabannya. Alih-alih, sebaliknya. Ia bisa melihat bagaimana keterkejutan lalu memancar di sorot mata Vian. Dan ia tau ke mana semuanya akan bermuara.
Karena ia tau, layaknya perkataannya di malam pesta ulang tahun Vian tempo hari itu ditampik, maka hal yang serupa pun akan terjadi. Maka dari itu, alih-alih membiarkan Vian benar-benar menjawab, Malven justru mengikis jarak lagi antara wajah mereka. Hanya untuk memejamkan mata. Merasakan embusan napas Vian dan memberikan hal yang serupa pada wanita itu. Menghirup dalam-dalam udara dan mengisi kebutuhannya akan oksigen beserta aroma wangi Vian.
Di atas bibir Vian, Malven lalu berkata.
“Kupikir aku tidak punya hati nurani. Tapi, aku ingin berterima kasih.”
Vian menatap Malven bingung. “Padaku?”
Malven tersenyum, namun menggeleng. “Pada siapa pun yang menjadi awal dari petaka ini. Karena ... tanpa ini semua, mustahil sekali aku dan kau bisa menikah.”
“Malven---”
Suara Vian meninggi. Jelas merasa keberatan dengan perkataan Malven. Karena itu memang terdengar seperti tidak manusiawi. Apa itu artinya ia akan berjabat tangan dengan sang pembunuh? Berterima kasih? Tunggu dulu. Apa Malven lupa bahwa saat ini nyawa Vian justru terancam? Karena berstatus sebagai saksi hidup satu-satunya?
Memutus ucapan Vian, adalah satu jari Malven yang bertindak. Dan ia mendesis. Memberikan isyarat agar sang putri tidak melanjutkan perkataannya.
“Karena dengan begitu ... setidaknya aku bisa memperlihatkan pada kakakmu,” lirih Malven. “Bahwa aku cukup pantas untuk adiknya.”
Kedipan di mata Vian menghilang. Ia tidak kaget kalau Andreas akan melakukan hal tersebut. Namun, mendapati Malven mengatakannya pada dirinya jelas membuat ia sedikit terkejut.
Di bawah jari telunjuk Malven, Vian berusaha menggerakkan bibirnya. Dalam tujuan menyebutkan nama pria itu.
“Malven ....”
Berbeda dengan tadi, kali ini suara Vian terdengar lembut. Walau anehnya, mampu menyentuh perasaan Malven hingga ke dasar yang paling dalam. Hingga ia nyaris merasa sesak karenanya.
Dan mungkin karena itulah, mengapa pada akhirnya jari Malven di atas bibir Vian, bergerak. Mengenyahkan semua kemungkinan yang ada untuk ia bicara. Karena sekarang, sepertinya Malven tidak butuh kata-kata. Melainkan sentuhanlah yang ia inginkan.
Menyusuri bibir lembut Vian yang bewarna merah muda dengan ujung jari tangannya, Malven pun merasa tak kuasa untuk tidak menatap bagian itu. Meyakini di benaknya. Bahwa entah itu dinikmati oleh matanya atau justru oleh bibirnya pula, bibir Vian akan selalu menjadi tempat penuh nikmat yang sesungguhnya.
“Aku tau apa yang ada di kepalamu, Vian,” bisik Malven kemudian. “Maka dari itu aku menahan diri. Sementara kau ....” Ia menatap lagi pada kedua mata Vian. “Apa kau tau apa yang ada di kepalaku?”
Vian termangu. Tak ubah seperti korban tak berdaya yang telah hanyut dalam mantera hipnotis sang penjahat. Hanya bisa menggeleng sebagai jawabannya.
“Aku ... ingin memanfaatkan pernikahan ini untuk benar-benar memilikimu.”
Saat itu, Vian merasakan bagaimana kata-kata yang Malven ucapkan, membuat tubuhnya seolah kehilangan tenaga. Beruntung, sekarang ia sedang berbaring. Dan Vian tidak mungkin mempermalukan dirinya sendiri dengan mendadak jatuh tak berdaya di atas lantai. Lantaran kedua lututnya yang terasa gemetar. Terutama karena di detik selanjutnya, Malven kembali berkata.
“Tidak akan pernah melepaskanmu.”
Entah ingin memberikan makna keseriusan di ucapannya atau hanya terdorong oleh keinginan primitifnya, yang pasti setelah ia mengatakan hal tersebut Malven kembali menundukkan wajahnya. Melahap bibir Vian layaknya itu adalah hidangan sarapan yang harus ia nikmati sebelum melewati beratnya hari yang sudah menunggu.
Dan ketika Malven ingin menarik sentuhannya, ia justru tertegun lantaran satu pergerakan yang ia terima. Berupa kalungan dua buah tangan di seputaran lehernya, yang memaksa ia untuk melepaskan pergelangan tangan Vian yang sedari tadi berada di genggamannya. Hingga kemudian, samar-samar, perlahan walau pasti, ada kecupan serupa yang ia terima.
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.