Orang mengatakan bahwa cinta pertama tak akan terlupakan. Namun, bagi Vian jelas. Bahwa ciuman pertama tak akan terlupakan. Sentuhan pertama tak akan terlupakan.
Berat untuk mengakui, bahkan untuk tahun-tahun yang telah terlalui, ada satu ingatan yang tak akan mampu ia lewati. Mengenai satu sentuhan yang tak pernah Vian duga sebelumnya. Sentuhan yang terus mengikuti langkah kakinya. Tidak melepaskannya. Tidak peduli seberapa kuat usaha yang telah ia upayakan.
Itu adalah kecelakaan. Tapi, itu juga kenangan. Yang lantas berbenturan dengan kenyataan. Bahwa itu pastilah satu-satunya hal yang bisa Vian dapatkan. Mengingat ada jurang dalam yang memisahkan kedua anak manusia tersebut.
Ada kasta. Ada level. Ada banyak hal yang tidak sepadan di antara mereka berdua. Dan Vian tau itu. Lebih tau lagi bahwa tak akan ada gunanya untuk berharap pada satu hal yang mustahil terjadi. Dunianya berbeda dengan dunia orang kebanyakan. Banyak hal yang harus ia lakukan dan itu bukan hanya mengenai kepentingan pribadi ia sendiri. Ada nama besar keluarga yang mengikutinya. Yang harus ia emban. Pun termasuk dengan pernikahannya.
Itu lumrah sekali. Pernikahan di kalangan orang seperti Vian, tidak akan pernah menjadi pernikahan yang sederhana. Selalu ada kepentingan bisnis, politik, dan ekonomi di dalamnya. Cinta? Oh, itu bukan hal yang penting. Hanya sekadar bonus yang mungkin bisa didapatkan bila mendapatkan pasangan yang sesuai dengan harapan.
Namun, satu hal yang nyaris Vian lupakan adalah memang seperti itulah harapan. Tempat kita bergantung pada hal-hal yang mustahil untuk terjadi. Hingga kemudian, alam pun bekerja dengan teramat anehnya. Mengantarkan dirinya pada tragedi berdarah. Juga mengantarkan dirinya dalam ... pelukan Malven.
Kalau pernikahan ini demi melindungiku ....
Kalau pernikahan ini tidak akan selamanya ....
Bukankah hal yang paling tepat adalah memanfaatkannya?
Menikmatinya?
Selama aku bisa menyentuhnya?
Mungkin itu adalah beberapa pendapat yang berputar-putar di benak Vian. Karena ia ingat betul maksud Andreas meminta mereka menikah. Dan bila nantinya sang kakak meminta mereka berpisah setelah tragedi itu usai, apakah ia harus menjadi janda yang penuh dengan penyesalan?
Tidak. Vian memutuskan tidak. Alih-alih berlumur dengan penyesalan, mengapa tidak dengan penuh kenangan?
Maka dari itu, ketika ia mendapati lumatan lembut itu membuai kedua belah bibirnya, Vian tidak menemukan hal lain yang lebih tepat lagi. Selain ... balas melumat. Dengan tak kalah lembutnya. Seiring dengan kedua tangannya yang naik. Merengkuh leher pria itu. Dan memberikan perintah untuk semakin turun mendekat padanya, melalui tarikan samar yang tak akan mungkin ditolak oleh Malven.
Rasanya asing. Ketika bobot tubuh Malven yang berat itu mendarat di tubuhnya. Namun, Vian menyukainya.
Memejamkan matanya, Vian hanyut dalam ciuman yang ia terima dan yang ia berikan. Hingga ia membuka mulutnya. Membiarkan Malven yang dengan penuh irama memanggut bibir atasnya. Berulang kali. Lalu berpindah pada bibir bawahnya, memberikan lumatannya. Untuk sesekali, ada kecupan-kecupan kecil yang ia sisipi.
Dan tubuh Vian bergetar. Ketika ia merasakan belaian hangat yang mendarat di sepanjang bibirnya. Berasal dari ujung lidah Malven. Yang tak mampu bertahan. Menginginkan hal yang lebih. Hingga pada akhirnya, pelan-pelan ia menyusup. Menyelip di antara kedua belah bibir Vian yang merekah. Untuk kemudian, ia pun masuk. Menjajah rongga mulut wanita itu. Memberikan godaannya di sana.
Ada geli. Dan karena itulah tanpa sadar Vian tersenyum di dalam ciumannya. Ketika ujung lidah Malven menggoda giginya, sedikit menyapa langit-langitnya, dan lalu merayu lidahnya. Kemudian ... Vian terhisap. Membuat ia terlonjak dari tidurnya. Dengan dadanya yang membusung dalam gerakan refleks. Tepat tatkala Malven melakukan apa yang ia inginkan. Yaitu, menghisap lidah Vian dan membawanya dalam permainan yang tak pernah dibayangkan oleh wanita itu sebelumnya.
Samar, tapi tak akan terlewatkan oleh Malven. Tekanan lembut payudará Vian di dadanya yang telanjang. Memercikkan api gelora yang membuat ia semakin terpacu untuk membuai lidah wanita itu.
Mengecupnya, Malven bisa merasakan kesan semalam yang tertinggal di sana. Rasa mentol yang berasal dari pasta gigi. Sudah memudar. Namun, masih terasa segar.
Melumatnya, Malven bisa merasakan kesan lembut dan hangat di sana. Kesan yang semakin menggairahkan ketika ia mendapati ada balasan godaan di dalam sana.
Menggigitinya, Malven bisa merasakan kekenyalan ternikmat di sana. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan selama ini, yang pada akhirnya justru menjadi kenyataan.
Tangan Vian bergerak. Merasakan bagaimana rayuan yang Malven berikan di dalam mulutnya, membuat tubuhnya merasa tidak tenang. Hingga kesepuluh jari tangannya berpindah. Mendarat di pundak Malven yang polos. Meremasnya. Seiring dengan buaian Malven yang semakin mengganas.
Ketika kemudian Malven melepaskan lidahnya, Vian seperti seorang tawanan yang dilepaskan kembali. Hingga tubuhnya terbanting lagi ke kasur, mendarat. Dan matanya membuka dengan napas yang terengah-engah.
Malven menatap Vian tanpa kedip. Menghunjam langsung. Terasa menuju pada relung hati yang terdalam.
Vian meneguk ludah. Merasa canggung. Namun, semua menghilang. Tepat ketika Malven kembali menundukkan wajahnya. Kali ini, menyasar pada pipinya. Mencium di sana. Membiarkan Vian memejamkan mata saat merasakan gesekan samar dari rambut-rambut cambang sang pria.
Turun dari pipi yang lembut itu, ciuman Malven kemudian mendarat di leher Vian yang jenjang. Dan wanita itu, seakan paham, mengangkat tinggi-tinggi wajahnya. Memberikan jalan bagi Malven untuk bisa menjajah di sana. Menikmati kejenjangan cantik yang ia miliki.
Jemari Vian bergerak. Kali ini berpindah di antara helai-helai rambut Malven. Yang terasa dingin di sentuhannya. Respon kecil yang ia berikan ketika merasakan lembutnya bibir Malven jatuh di kulit lehernya. Melabuhkan kecupan-kecupan yang meninggalkan jejak basah nan hangat. Dan lalu ....
“Aaah ....”
Vian tak mampu menahan desahannya. Hingga suara sensual itu pun lolos dari tenggorokannya. Tepat ketika Malven dengan teramat menggodanya, mengisap kulit lembut leher itu. Beberapa kali. Hanya untuk menerbitkan warna merah yang sangat kontras di kulit yang putih bersih itu.
Menarik udara dalam-dalam, Malven berusaha untuk mengatur napasnya yang mulai menggebu. Tidak ingin mempermalukan diri sendiri padahal kala itu ia baru melakukan pembukaan. Baru ciuman. Tapi, sungguh! Rasanya benar-benar membuat ia seperti tak mampu bernapas lagi.
Kalau cumbuan leher saja sudah membuat ia kelimpungan, lantas bagaimana selanjutnya? Karena ketika Malven turun lagi, menatap pada garis leher gaun tidur yang Vian kenakan, maka pikiran nakal itu pun langsung membayang di benaknya.
Gaun tidur yang Vian kenakan tidak memiliki lengan. Yang longgar di tubuhnya. Yang tampak tak lagi bekerja sebagaimana mestinya tatkala Vian bergerak tak tentu arah sedari tadi.
Satu pundak gaun itu jatuh di lengan atasnya. Memberikan kesan menggoda yang langsung membuat Malven gelap mata. Hingga ia tak mampu menahan dirinya. Dengan satu tangannya, ia menarik turun bagian itu. Hanya untuk mendapati ada satu pakaian dalam berada di sana. Yang tidak benar-benar mampu menutupi pesona tersembunyi kedua payudará itu.
Malven menyipitkan matanya. Menggelikan, tapi ia merasa seperti silau. Itu adalah ketika retina matanya menangkap pemandangan menggoda gundukan intim tersebut.
Sedikit, Malven menarik diri. Demi bisa melayangkan tatapan matanya ke atas sana. Pada Vian yang tampak menggigit bibir bawahnya.
Malven menunggu, sejenak. Mencoba meraba apa ada isyarat penolakan yang akan diberikan oleh Vian. Namun, sorot yang memancar di manik yang bening itu bukanlah tanda keberatan. Alih-alih, tatapan ... mendamba.
Dan kalau memang Malven ingin meyakinkan lagi, maka tindakan yang ia lakukan selanjutnya bisa menjadi jawaban. Apakah Vian menolaknya atau sebaliknya?
Tanpa melepaskan tatapan matanya yang tajam dari Vian, satu tangan Malven bergerak. Menurunkan pundak gaun yang lainnya. Melewati lengan atasnya. Hingga mendarat nyaris di sikunya.
Tak ada larangan. Tak ada keberatan. Maka Malven pun bertindak lagi.
Dengan tangan yang sama, jemari Malven yang terkesan besar dan kasar itu menyusup. Ke belakang punggung Vian. Demi menemukan satu benda yang ia cari-cari.
Penolakan? Tidak ada. Yang ada justru Vian sedikit beringsut. Mengangkat samar tubuhnya. Memberikan kemudahan bagi pria itu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Butuh waktu beberapa detik, karena sepertinya Malven tidak memiliki bakat terhadap kait bra. Namun, pada akhirnya ... terlepas. Dan dua mangkuk bra itu melonggar di sekitaran payudará Vian. Memberikan si empunya kebebasan bernapas.
Malven segera mengenyahkan bra tersebut setelah terlebih dahulu mengonggokkan gaun tidur Vian di sekitaran perutnya. Memberikan tampilan polos yang membuat ia meneguk ludah. Menyadari satu hal yang miris. Bahwa di dalam mimpi terliar yang ia miliki, ia pun tak berani memimpikan Vian dalam keadaan seperti ini. Karena ada banyak kenyataan yang tidak akan merestui mereka. Namun, apa yang terjadi sekarang? Vian di bawah tubuhnya. Rambut hiam panjangnya yang bergelombang tampak berantakan. Dan wanita itu, pasrah saja saat ia melucuti pakaian dalamnya. Bahkan tak protes sedikit pun ketika ia membuat Vian setengah telanjang!
Ini canggung. Lebih dari canggung. Seumur hidup, Vian tidak pernah berada dalam posisi seperti ini. Bertelanjang dadá. Membiarkan seorang pria menatapnya dengan penuh damba. Tidak pernah. Namun, entah mengapa ia tidak menolak sedikit pun. Lebih dari itu, dengan jantung yang berdebar-debar, ia pun menyadari. Bahwa ia menunggu. Untuk hal selanjutnya yang mungkin saja akan Malven lakukan padanya.
Menarik napas dalam-dalam, demi tujuan menenangkan gejolaknya, Vian justru menghadirkan gerakan sensual yang terasa menggelitik mata Malven. Payudará itu, dengan gerakan yang samar nan lembut, naik turun. Seperti tengah memberikan lambaian pada Malven. Isyarat untuk segera memberikan sentuhan pertamanya.
Di mana?
Di putingnya?
Atau di gundukannya?
Oh, di mana saja. Yang penting selanjutnya adalah Malven tidak membuang-buang waktunya lagi. Langsung menunduk. Dengan mulut yang membuka, segera melahap putíng itu. Yang tampak sudah berdiri. Merekah. Lantaran godaan yang sedari tadi Vian terima.
“Aaah ....”
Desahan selanjutnya lolos lagi dari bibir Vian. Dengan mata yang memejam, wanita itu merasa terbuai dengan sentuhan yang mulut Malven berikan pada payudaranya.
Begitu pun dengan Malven. Ketika putíng itu menjajah indra pencecapnya, matanya sontak memejam. Seperti ingin meresapi kesan pertama yang ia dapatkan.
Pelan-pelan, mulut Malven kemudian bergerak. Menikmati putíng itu dengan godaan-godaan yang ia berikan. Melumatnya, demi merasakan remasan jemari Vian di rambutnya. Memanggutnya, demi mendengarkan erangan Vian di telinganya. Lalu mengulumnya, demi mendapati dorongan refleks payudará Vian padanya. Seakan ia yang ingin memberikan semua miliknya itu pada Malven.
Tak cukup puas dengan itu, Malven pun tidak akan membiarkan payudará yang satu lagi tanpa ia sentuh. Maka adalah jemarinya yang kemudian bermain di sana. Menggoda putingnya. Mengusapnya. Memutirnya. Dan bahkan memberikan cubitan kecil sesekali. Hingga desahan demi desahan tak lagi ditahan oleh Vian.
Memejamkan matanya dengan kuat, Vian tidak pernah mengira bahwa Malven bisa membuai dirinya seperti itu. Dengan mulut dan jari pria itu di payudaranya, Vian nyaris merasa sesak napas. Berganti-gantian rayuan yang ia terima, membuat ia bagai dimabuk kepayang. Rasanya amat sangat memabukkan.
Dan Malven akan bertindak layaknya pria sejati yang adil. Hingga memastikan bahwa setiap payudará Vian mendapatkan godaan yang sama besarnya. Masing-masing darinya mendapatkan cumbuan mulut dan jarinya dengan sama banyaknya. Hingga tak butuh waktu lama, putíng itu pun membengkak. Lalu ... kulitnya yang putih mulus, dipenuhi oleh warna kemerahan. Kenang-kenangan yang ditimbulkan dari isapan-isapan yang Malven tinggalkan.
Sementara Vian, ketika ia mendapati cumbuan yang bertubi-tubi membuai payudaranya, tentu saja merasa melayang. Tapi, juga gelisah. Hingga ia pun menggeliat di bawah tubuh Malven. Dengan gerakan sensual. Yang menyublim menjadi godaan untuk sang pria. Hingga tak aneh bila pada akhirnya, sekali dua kali, Vian justru merasakan ada sesuatu yang aneh di bawah sana. Yang membuat ia menahan napas. Membuat jantungnya berdebar-debar. Dengan satu imajinasi yang langsung membentang di benaknya.
Malven tidak lagi mampu bertahan. Hingga ia pun dengan sigap langsung meraih gaun tidur Vian, yang berada di sekeliling perutnya. Lalu menariknya lepas. Melenyapkan pakaian tersebut dari tubuh wanita itu. Menyisakan satu kain berbentuk segitiga yang tidak benar-benar bisa menutupi bagian intim di sana.
Sekuat tenaga, Vian berusaha agar tangannya tidak bergerak menutupi dirinya. Alih-alih, ia meremas seprai di bawahnya. Dalam diam, ia melihat bagaimana Malven yang memandanginya. Menyusuri tubuhnya. Hingga menghadirkan kecanggungan di benak Vian.
“Kau cantik, Vian.”
Suara Malven terdengar serak. Ia lontarkan kalimat itu tatkala mata mereka berdua bertemu. Dan seperti ingin meyakinkan Vian akan perkataannya, pria itu mengulurkan tangannya. Untuk memberikan belaian buku-buku jarinya di garis wajah Vian.
Bola mata Vian berputar. Lalu memejam. Menikmati sentuhan itu.
Tidak ingin terburu-buru, nyatanya Malven terpaksa menggeram ketika ia nyaris silap saat melepas celana yang ia kenakan. Demi membebaskan tuntutan gairahnya yang terasa sudah mendesak dari tadi. Bahkan sejak sebelum Vian membuka matanya.
Mata Vian membesar. Membola saat pemandangan asing itu masuk ke retina matanya. Menimbulkan keriuhan di dadanya yang tak lagi dapat ia uraikan dengan kata-kata
Malven menyeringai. Perlahan menghampiri Vian kembali. Dengan kedua tangannya yang langsung menyasar pada tepian celana dalam yang wanita itu kenakan.
Pelan-pelan, Malven menarik turun pakaian dalam itu. Dan mendapati bagaimana Vian yang lantas menarik keluar kedua kakinya dari benda itu, satu persatu. Tanpa ada penolakan sama sekali.
Pakaian terakhir itu lenyap dari tubuh Vian. Lalu melayang entah ke mana. Meninggalkan wanita itu dalam keadaan yang benar-benar polos sekarang. Sama halnya dengan Malven.
Mengambil posisi yang tepat, Malven pelan-pelan membuka kedua kaki Vian. Dengan memastikan bahwa tatapan matanya tidak melepas dari manik wanita itu. Di sana, sedikit menyusup sorot ketegangan. Yang menarik insting Malven untuk kembali melabuhkan ciumannya di bibir Vian.
Berlama-lama, seakan ingin mengulur waktu, ciuman itu pun lantas menjadi sentuhan intim yang terasa amat menggoda. Berbalas-balasan, Malven dan Vian tampak terbuai dengan godaan yang masing-masing mereka ciptakan. Kecupan, lumatan, dan pagutan, silih berganti mewarnai gerakan intim bibir itu.
Dan sementara keduanya terbuai dalam ciuman dalam itu, Malven tak mampu menahan tangannya untuk diam. Hingga jemari itu, bergerak. Menyusuri lekuk menggoda Vian. Berpindah-pindah. Dari menggoda garis lehernya. Kemudian mendarat di payudaranya, memberikan remasan yang membuat ciuman Vian semakin menggebu. Lalu turun ke bawah, menyusuri kerampingan pinggangnya. Hingga berpindah pada bokongnya, yang langsung mengingatkan Malven. Bahwa ada bagian yang nyaris ia lewatkan kala itu.
Gemas, tersulut gairah, Malven meremas bokοng Vian dengan begitu menggebu. Seraya mengangkat pinggang wanita itu. Demi mendaratkan tubuh bagian bawah Vian pada tubuhnya yang telah mendamba.
Vian menggeliat. Merasa aneh. Namun, instingnya mendorong ia untuk menyambut godaan itu. Dan lebih lagi, lantaran ada gairah yang menuntut dirinya untuk mendapatkan yang tak hanya sekadar rayuan.
Melepaskan bokοng Vian dari jemarinya, Malven lantas melanjutkan penjelajahannya. Kali ini pada satu lekuk yang membuat ia menahan napas. Yang mana ... menghadirkan kesan basah dan hangat. Hal yang seketika membuat ia menggertakkan rahang.
Menarik wajahnya sedikit, Malven melihat kembali pada mata Vian. Dan lagi-lagi, tidak ada penolakan yang tersirat di sana. Hingga ia pun tidak menunggu lebih lama lagi.
Memposisikan dirinya di antara kedua kaki Vian yang telah membuka, Malven bisa melihat Vian yang menahan napas. Seketika saja, tubuh ramping itu menegang. Hingga mendorong ia untuk mendesis.
“Ssst .... Lihat aku, Vian. Cium aku.”
Karena Malven butuh Vian menerima dirinya dengan santai. Dan tak ada cara lain yang terbersit di benaknya selain hal tersebut.
Kedua tangan Vian naik. Menangkup pipi Malven. Lantas mencium bibir pria itu. Melumatnya dan tak butuh waktu lama untuk ia terbuai. Hingga ia nyaris lupa, andaikan tidak ada sengatan yang mendadak hinggap menyentak indra perasanya.
“Ah!”
Ciuman Vian terlepas. Tergantikan oleh kesiapnya. Dengan mata yang membola, wajah itu menyiratkan berbagai ekspresi yang tidak pernah Malven lihat sebelumnya.
“Kau baik-baik saja?”
Suara Malven terdengar serak ketika bertanya. Seraya dengan satu tangannya yang membelai rambut Vian. Dan menatap pada matanya.
Menarik napas dalam-dalam, Vian mencoba meresapi sensasi penuh itu. Ketika kejantanan Malven mendobrak masuk. Menjajah kewanitaannya. Dan mengisi kekosongan di dalam sana.
Lalu ... Vian mengangguk. Merasa tak perlu membeberkan fakta bahwa saat itu ia sedikit merasa aneh. Karena pada kenyataannya, keanehan itu seketika menghilang. Tergantikan oleh sensasi lainnya. Tepat ketika Malven mulai bergerak. Menarik pinggangnya. Membawa kejantanannya untuk keluar. Menciptakan kekosongan yang membuat Vian merasa hampa. Hanya untuk kembali mendorong. Membuat Vian terhenyak. Terasa meluap dalam limpahan berbagai rasa.
“Oooh ....”
Vian terengah-engah. Hanya bisa pasrah ketika Malven bergerak di atasnya. Dengan begitu menggebu. Dan tak hanya itu, pada menit selanjutnya, tangan Malven bergerak. Meraih kedua tangan Vian. Untuk membawanya ke atas kepalanya. Menguncinya di sana.
Menjaga posisi Vian, Malven terus menggerakkan pinggangnya. Maju dna mundur secara bergantian. Dalam tempo yang teratur. Dengan gerakan yang padu. Menimbulkan gesekan-gesekan yang menciptakan sensasi tak terkirakan untuk mereka berdua.
“Aaah .... Aaah .... Aaah ....”
Vian menggigit bibir bawahnya. Pasrah saja saat hunjaman demi hunjaman yang Malven lakukan membuat tubuhnya terhenyak di kasur yang empuk itu. Hingga kemudian, tak butuh waktu lama, ia pun terbuai dalam pergerakan yang pria itu lakukan.
Mencari posisi yang tepat, Malven membawa kejantanannya untuk berulang kali menginvasi kewanitaan Vian. Menerobos masuk. Menarik keluar. Hanya untuk menghunjam lagi.
Malven menindih. Membiarkan bobot tubuhnya menguasai kerampingan Vian. Dan lalu menghunjam semakin dalam.
Mata Vian terpejam dengan erat. Merasa tak berdaya dalam hunjaman demi hunjaman yang kejantanan Malven berikan padanya. Namun, ia terlena. Ia menyukainya. Untuk setiap dorongan yang ia dapatkan, itu membuat ia mendesah panjang. Menikmatinya.
Hingga tak butuh waktu lama, keringat memercik di tubuh keduanya. Memberikan kesan basah. Dan juga liat. Yang membuat mereka semakin melekat dengan erat.
Mengangkat satu kaki Vian, Malven lalu mendesak dengan teramat dalam. Menimbulkan erangan tertahan yang membuat pria itu menggertakkan rahangnya. Kembali menghunjam. Lagi. Dan lagi. Yang disambut oleh erangan demi erangan Vian.
Hingga pada akhirnya, kedua tangan Vian berontak. Layaknya wanita itu yang tak lagi mampu bertahan. Dan ia merengkuh leher Malven. Menariknya dengan kuat. Membiarkan dadá bidang itu semakin menekan kelembutan payudaranya. Lantaran satu desakan yang tak mampu ia tahan.
Malven mendorong lagi. Menyentuh pada satu titik di dalam sana. Yang membuat Vian merengek. Tampak mengiba dalam lirihan-lirihan tanpa dayanya.
“Malven .... Oh, Malven ....”
Rengkuhan di leher Malven semakin menguat. Seiring dengan rengekannya yang makin tak tentu arah. Vian meracau. Tak pasti entah apa yang ia gumamkan. Namun, Malven tak peduli itu. Karena yang menjadi keinginannya adalah membuat wanita itu pecah. Dalam aneka warna yang akan menyambutnya.
Maka dari itu, Malven semakin membabi buta. Menghunjam. Mendesak. Bertubi-tubi. Hingga pada satu kesempatan, dorongan yang ia berikan memberikan dampak yang diinginkan oleh Vian.
Tubuh ramping itu bergetar. Dan Vian memekik. Lenyap dalam percikan sensasi yang membutakan matanya.
“Aaah!”
Ada basah, liat, dan hangat. Semua itulah yang menyelimuti kejantanan Malven di dalam sana. Sensasi yang membuai dirinya. Hingga menambah keleluasaan bagi pria itu untuk semakin menikmati.
Keluar masuk keluar masuk. Berulang kali. Malven mendapati Vian yang telah mendapati kenikmatannya, tampak pasrah saja. Tak berdaya ketika Malven semakin menggebu bergerak.
Mendorong dan menarik. Berkali-kali. Membiarkan kejantanannya menghunjam tanpa henti. Mendesak dengan sekuat yang bisa ia beri.
Malven menggeram. Lalu merengkuh erat-erat tubuh Vian di dalam pelukannya. Nyaris membuat wanita itu sesak napas. Merasa tulang belulangnya akan patah. Namun, Vian bukannya menarik diri. Alih-alih, ia justru balas merengkuh. Balas memeluk dengan sama eratnya.
Di telinga Malven, desahan dan erangan lembut Vian terdengar dengan begitu syahdu. Seperti tengah memberikan dorongan semangat untuk pria itu. Untuk bergerak semakin menggebu. Bergerak semakin padu. Dalam irama pergerakan tubuh mereka yang menjadi satu.
“Aaah .... Aaah .... Oh, Malven.”
Dan Malven tidak mampu bertahan lagi. Kewanitaan Vian yang mengerat lantaran o*****e yang wanita itu dapatkan, menjelma menjadi godaan yang tak mampu untuk ia tangkis.
Malven memejamkan mata. Menghunjam. Terbuai. Lalu terisap dalam sensasi yang menggelapkan mata. Ia ingin bertahan sebentar lagi. Masih ingin merasakan nikmatnya gesekan demi gesekan yang terjadi di dalam sana. Namun, pertahanannya goyah. Hingga pada akhirnya, kejantanannya semakin menegang. Kaku. Hanya untuk memuntahkan bukti kenikmatan yang menerpa dirinya.
Kemudian ... Malven pun ambruk tanpa daya.
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.