12. Sindiran Telak

2040 Words
Abi menatap wajah damai Renat yang kini tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Setelah sejak tadi wanita itu hanya menangis dan berharap agar Abi tidak pergi lagi seperti kemarin. Abi sendiri, sebab tidak tahan dengan penampilan Renat yang semakin acak-acakan, akhirnya meminta wanita cantik tersebut untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Abi. Dalam tenteramnya wajah Renat, Abi sesekali membayangkan apa saja yang telah dilalui wanita itu sebelum datang kemari. Apa saja yang Renat lakukan setelah kepergian Abi beberapa hari lalu. Walau Abi tidak bisa menebak secara pasti, namun Renat sepertinya memang khawatir jika dilihat dengan panggilan dan pesan yang terus saja masuk ke ponsel Abi. Abi menggerakkan jemarinya untuk menyentuh anak-anak rambut Renat yang nakal. Ingin sekali diciumnya dahi Renat penuh sayang, tapi seperti ada sesuatu yang menahan Abi untuk melakukan itu. Ego pria itu tampaknya tumbuh dengan baik tepat setelah Renat menolaknya dengan tegas. Ucapan terakhir Renat pun sama sekali tidak mempengaruhi Abi. Pria itu sampai bingung hal apa yang tengah terjadi padanya sampai-sampai mampu untuk tidak memberikan tanggapan apapun pada kalimat Renat yang ingin menikah dengannya. Abi bangkit dari duduknya, sejenak menjauh menuju meja sofa dimana makanan yang ia beli tadi sudah dingin sebab belum juga disentuh. Abi menyandarkan tubuh pada punggung sofa, memijit pelipisnya berharap berat di kepala dapat pergi. Bukan perihal Abi tidak lagi mencintai Renat, hal tersebut tentu terdengar mustahil bila terjadi. Tetapi perihal keraguannya pada wanita itu. Akankah Renat bersungguh-sungguh atau Abi sedang terjebak dalam permainan Renat---bahkan ia mampu berpikir sejauh itu pada wanitanya. Abi menjangkau ponsel, membuka aplikasi chat untuk sekedar melihat pesan yang masuk. Balasan Victor diterima oleh Abi---seperti biasa, tentu saja terkejut pada fakta bahwa Renat kini berada di Jakarta dan sedang tertidur lelap di tempat tidur Abi. Abi membiarkan pesan Victor, lanjut melihat yang lain. Sesaat Abi sadar, bahwa ia masih belum memberi kabar kepada kedua orangtuanya perihal kepulangannya yang memang mendadak. Abi memilih membuka kotak makanannya walau rasa lapar itu sudah menguap entah kemana. Sesekali dilihatnya Renat yang masih terlelap, bahkan posisi perempuan itu tidak berubah barang sedikitpun. Efek kelelahan dengan penerbangan dan menghadapi Abi dibayar habis dengan tidur pulas. Abi penasaran, wanita itu sudah makan apa belum sebelum menuju kemari. Bisa-bisa Renat jatuh sakit hanya karena melalaikan makannya lagi. Baru akan menyuapkan nasi, bel kamar yang berbunyi disertai ketukan penuh desakan terdengar, menginterupsi kegiatan Abi. Pria itu menghela napas, siapa lagi yang hendak menemuinya di saat seperti sekarang. Sedikit tergesa, Abi berjalan menuju pintu dan dengan segera membukanya. Mata pria itu sukses melotot sebab terlampau kaget akan tamu terhormat yang secara tiba-tiba muncul di hadapannya. Bahkan untuk sekedar menghindar, Abi kesulitan. Alhasil, telinganya harus menjadi korban kekerasan. Jeweran itu benar-benar terasa menyakitkan. "Kamu bener-bener ya, A!" Ucapan yang dimulai dengan amarah tersebut semakin membuat telinga Abi kesakitan. "Kamu pulang dari kapan?! Jawab Mama! Pulang ke Jakarta bukannya nyamperin Mama, peluk, bilang kangen, bilang maaf udah pergi lama, malah di sini." "Ma, lepas dulu," mohon Abi sembari menahan tangan sang mama agar tidak semakin keras pada telinganya. "Apa yang dilepas?!" teriak Nadine penuh rasa kesal. Walau umur wanita itu bertambah, beruntung tenaga yang Nadine miliki tidak kalah dengan wanita-wanita muda lainnya. Lagipula jika Abi perhatikan, mamanya tampak tidak pernah menua. Pancaran cahaya wajahnya tetap saja seperti dulu; muda dan penuh semangat. "Kamu kalau kayak gini, seenggaknya kasih tau Mama! Mama udah curiga tau nggak. Nggak pernah ditelfon kamu, dikirimin chat juga nggak ada. Mama tanyain Teteh bilangnya kamu ada. Yaudah Mama tantangin supaya HPnya dikasih ke kamu, Mama mau denger suara kamu lima detik aja. Ternyata ya emang gitu, si Teteh jujur terus bilang kalau kamu pulang." "Ma, lepasin dulu telinga Abi sakit." Nadine sebab rasa iba mau tidak mau tetap melepaskan jewerannya. "Kamu kenapa sih, A? Ada masalah di London?" Abi menggeleng, "Enggak." "Terus kenapa pulang diem-diem nggak kasih tau Mama?" "Mau kasih kejutan," jawab Abi sembarangan. Dibawanya diri menuju sofa, duduk di sana dan kembali menghadap makanan yang sempat ia tunda lagi untuk dimakan. Sebelum nanti ada lagi yang menginterupsinya, Abi buru-buru menjalankan sendok masuk mulut. "Iya ini kejutan kamu sukses banget bikin Mama kaget---" "Tante Nadine?" Suara serak khas bangun tidur terdengar, membuat Nadine yang sejak tadi marah bak banteng kelaparan jadi menatap bingung ke arah Renat dan makin menjadi-jadi pada Abi. "Astaghfirullah, Aa! Kalian ternyata di sini berdua?!" "Ma, nggak gitu---" "Tante, bukan gitu." Renat yang nyawanya masih terkumpul setengah berjalan mendekati Nadine. Mencoba menyalami wanita tersebut dan memeluk Nadine erat. "Re, kenapa bisa sampai di sini? Abi ngapa-ngapain kamu, ya?" Renat menggeleng dalam pelukannya, "Enggak kok, Tante." "Kalian, ya! Dari tadi ditanyain jawabannya enggak-enggak terus. Kamu juga Re, pengen Tante cubitin rasanya." "Ma, udahlah." Abi masih berusaha, berharap sang mama menyudahi segala pikiran konyol dalam kepalanya. "Abi anterin Mama pulang, ya? Atau anterin ke kantor papa?" "Kamu ngusir Mama?" "Bukan ngusir, Ma." Abi bersuara pelan, begitu berbeda dengan Nadine yang suka sekali berteriak. "Abi janji bakalan pulang abis ini. Abi mau ngomong dulu sama Renat. Kalau Mama mau marahin Abi, di rumah aja nanti." "Aa sama Re nggak apa-apa, kan?" Abi diam, tidak mengangguk maupun menggeleng. Dengan senyum penuh paksaan, ia memandang sang mama dengan mata tanpa ekspresi. "Kita baik, Ma. Pulang, ya? Abi anterin. Mama bawa mobilkan kesini?" "Sekalian aja kamu check out dari sini. Kalau mau ngobrol bareng Renat nanti di tempat lain aja. Mama ragu kalau tempatnya udah sampai ke hotel kayak gini." Abi mengela napas, sedang Renat sejak tadi terus saja memasang wajah tidak enak. Merasa bersalah pada Nadine pun dengan Abi. Wanita itu benar-benar ingin menghilang berharap segala kejadian ini tidak terjadi. Dia bahkan tidak sadar bahwa sudah tertidur pulas, jika bukan karena Nadine, entah kapan Renat akan bangun. "Kamu laper?" Abi bertanya ketika Renat hendak berjalan mencari tasnya. Wanita itu berbalik dan menatap makanan Abi dari tempat ia berdiri. Sebetulnya Renat lapar, tapi jika harus mengganggu makan Abi seperti ini, dia juga tidak enak. "Aku bisa makan nanti kok. Kamu makan aja dulu." "Berdua sini," ajak Abi walau kalimatnya tetap datar seperti biasa. Tidak ada lagi ajakan penuh semangat yang dulunya sering Abi perlihatkan. "Enggaklah," ujar Renat sambil mengecek ponsel. "Kamu aja habisin." "Berdua aja, Re." Nadine yang duduk menatap pasangan tersebut pun seperti bisa melihat tulisan lapar di dahi Renat. "Nanti sakit loh nggak makan. Ayo, duduk di sini biar disuapin sama Aa." Renat merona, dia malu dengan keberadaan Nadine. "Nggak apa-apa biar Re pesen makanan di bawah aja juga bisa, Tante. Abi jugakan baru makan." "Makan yang ini aja dulu buat ganjel perut kamu." Abi menatap Renat sehingga wanita itu langsung tersentak dan mau tidak mau hanya mengangguk. Sebab tatapan Abi terkesan dingin dan harus dipatuhi. "Nanti abis anterin mama pulang kita cari tempat makan." Renat duduk di dekat Abi, dalam balutan kemeja hitam milik pria itu, Renat sungguh terlihat lebih dewasa. Abi sendiripun tadi sengaja menggulug lengan kemeja yang dipakai Renat sehingga kulit putih perempuan itu terlihat lebih bersinar. Renat tersentak ketika Abi mengulurkan sendok berisi nasi, tidak mengatakan apapun pada Renat walau maksud pria itu ingin Renat membuka mulut. Renat membuka mulut, mukanya sedikit berubah merah efek malu terhadap Nadine yang sejak tadi duduk di seberang mereka. "Ma," panggil Abi pelan pada Nadine. "Kenapa, A?" Nadine yang tengah asik membolak-balikkan majalah mendongak menatap Abi. Abi terlihat diam, tidak menatap Renat maupun Nadine. Ia sibuk menatap nasi di depannya sembari terus berpikir. Takut apa yang ia lakukan salah. Namun Abi pikir, mamanya perlu menjadi orang pertama yang tahu setelah dulu apapun yang Abi perbuat selalu sang papa yang ia beritahu lebih dulu. Tapi sebenarnya, semenjak Abi menetap di London, pria itu lebih kerap mengadu kepada sang mama. "Abi sama Re, kita berdua mau nikah, Ma." Ucapan Abi seketika membuat senyum Nadine merekah sempurna. Setelah sekian lama ia mengharapkan kabar baik seperti ini, ternyata anak lelakinya sudah lebih awal dan cukup berani mengajak Renat untuk menikah. Sedang Renat di sebelahnya tidak dapat menahan mata yang memanas. Ia pikir Abi akan menolaknya sebab pria itu tidak memberikan jawaban apapun tadi. Bahkan Renat sendiri sudah putus asa. "Ayo pulang!" ajak Nadine semangat. "Mama mau kabarin papa sama adik-adik kamu. Terus Tante Gita sekalian." "Mama juga lagi di Jakarta kok, Tante." Beritahu Renat dan setelahnya menerima suapan Abi. "Oh jadi pulang kesini bareng mama ya, Re?" Renat mengangguk sebab mulutnya penuh. "Yaudah, mending malam ini kita dinner keluarga." "Ma, kenapa buru-buru semua?" Abi menginterupsi. "Masih ada hari besok, Ma. Abi mau pergi sama Renat abis ini. Kalau mau Mama sama Tante Gita aja yang dinner. Kita nggak ikutan." "Boleh juga," ujar Nadine sambil mengangguk. Ditatapnya Renat dan Abi dengan senyum terukir penuh makna, lalu memaksa sepasang manusia tersebut untuk segera menghabiskan makan. Nadine tidak sabar ingin pulang dan mengabarkan kabar bahagia tersebut. ♦ r e t u r n ♦ "Abi pergi dulu ya, Ma." Nadine yang duduk di kursi belakang mengangguk, membiarkan Abi dan Renat pergi entah untuk membicarakan apa. Setelah kedua mereka menyalami Nadine, calon mertua Renat itu langsung saja keluar dari mobil. "Kita mau kemana?" tanya Renat masih dalam balutan kemeja Abi. Pria itu menyuruh Renat untuk terus memakainya. "Makan," jawab Abi seadanya. Entah bagaimana maksudnya, Renat sendiripun tidak mengerti dengan cara Abi memperlakukannya. Berbeda jika tengah bersama mamanya dan bila hanya mereka tinggal berdua. Abi terasa dingin dan tidak terjangkau kala hanya ada Renat di sebelahnya. "Abi," panggil Renat layaknya anak-anak, membuat Abi menoleh dan menatap Renat bertanya. "Masih marah, ya?" Abi menggeleng, tapi entah mengapa mudah saja bagi Renat untuk menebak bahwa Abi memang masih marah terhadapnya. "Aku minta maaf, Bi." Renat gatal untuk berbicara. Menunggu mereka untuk sampai terlebih dahulu di tempat makan dan baru berbicara hanya membuat perut Renat kian mulas. "Aku juga udah berhenti dari kerjaanku." Harapan Renat agar Abi menunjukkan reaksi kaget hanya tinggal harapan. Bukannya menoleh, Abi tetap saja fokus pada jalanan di depan. "Aku seneng karna kamu tetep mau nerima aku lagi, Bi. Aku pikir tadinya kamu bakalan nolak aku. Aku beneran takut waktu perempuan yang tadi deketin kamu. Semua pikiran negatif itu muncul gitu aja. Gimana kalau emang secepet itu kamu ketemu sama orang lain karna waktu di Seoul, kamu terang-terangan ngajakin kita buat udahan. Dibanding perempuan yang tadi, kayaknya aku nggak ada apa-apanya deh." Renat tidak lagi menatap Abi. Suara yang ia gunakan kala berbicara pun semakin menuju akhir, semakin mengecil sebab keputus asaan. Abi menoleh, melihat Renat sibuk dengan jendela di sebelahnya. "Perempuan tadi sama sekali nggak ada hubungannya sama kita. Udahlah, Re. Kemauan kamu juga udah aku turutin, kan? Kita bakal nikah. Kayak yang kamu minta." "Aku?" tanya Renat kaku. "Jadi, cuma aku?" Abi diam, tidak memberikan respon apa-apa lagi. Amarah pria itu entah kenapa tetap saja belum padam. "Bi, bukannya kamu juga mau? Bukannya ini yang kamu mau dari dulu?" Air mata Renat menumpuk di pelupuk mata, hanya siap-siap untuk diluruhkan dan melebur bersama rasa sakit. "Bi, aku ninggalin Seoul, aku tinggalin kerjaanku, temen-temen, buat kamu. Tapi sekarang kenapa kamu bilang cuma aku?" "Aku nggak minta kamu buat tinggalin itu semua." "Kamu jelas-jelas minta, Bi!" Suara Renat terdengar lebih tinggi. "Kamu berulang kali minta supaya aku ikut sama kamu terus tinggalin Seoul." "Itu dulu, Re. Sekarang aku nggak minta lagi." "Bi," panggil Renat bergetar. "Jangan bikin aku nyesel karna udah lakuin ini." "Kenapa?" tanya Abi tenang. "Berapa kali dulu aku minta kamu buat ikut aku? Berapa kali aku minta kamu buat jadi istriku, Re? Pernah aku bilang kalau aku nyesel udah ngelakuin itu? Terakhir kali aku minta buat kamu terima aku, lagi-lagi aku harus puas sama tolakan kamu. Dari situ, aku harusnya tau kalau aku selesai sama kamu." Tangis Renat kian sulit untuk dikontrol. Salahnyakah selama ini? Berdosakah ia atas penolakan yang selama ini Abi telan? Tapi Renat sudah berusaha untuk membayar, berjuang bagi pria itu agar mereka mendapati kebahagiaan yang selama ini mereka cari. "Sekarang kamu dateng, gantian minta aku supaya jadi suami kamu. Aku masih sanggup buat nerima permintaan kamu. Kamu tau kenapa?" Renat diam, menatap Abi takut. "Karna aku masih sayang kamu, Re. Nggak mudah buat aku nolak kamu gitu aja. Bayangin kamu jauh-jauh terbang kesini buat aku, aku usaha buat hargain itu. Karna aku ngerti gimana sakitnya ditolak." Renat menunduk, menghapus air mata yang terus saja meluncur. Sindiran Abi benar-benar telak. Membuat Renat kian dimakan oleh rasa bersalah dan malu. ♦ r e t u r n ♦  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD