13. Obat Lelah

1300 Words
Renat mengusapkan pelembab ke seluruh permukaan wajah dengan merata, sembari menatap wajah sayunya lewat cermin besar. Helaan napas kasar keluar begitu saja, pertanda ia lelah dengan segala hal yang ia lalui hari ini. Bertemu Abi, menghadapi sikap dingin pria itu, belum lagi sosok wanita yang muncul di lorong hotel siang tadi. Semuanya bercampur menjadi satu dan harus Renat telan sehingga ia merasa benar-benar ingin muntah. Memperjuangkan kemudian mempertahankan keberadaan seseorang untuk terus berada di sampingnya, ternyata tidak semudah yang Renat kira. Bisa saja, jika Renat terlambat sehari saja untuk datang, Abi tidak akan didapatinya lagi. Renat menyudahi kegiatannya di kamar mandi, keluar dengan bathrobe dan segera menuju koper. Dia belum sempat menyusun barang-barangnya. Terlebih keberadaan rumah yang masih kosong sebab baru selesai dibangun. Mamanya memang memilih menjual rumah lama mereka dan memutuskan untuk membangun rumah baru di tempat baru. Alasannya sebab terlalu banyak kenangan menyakitkan yang mamanya simpan sendirian di rumah itu. Langkah terbaik memang dengan meninggalkan dan mencari suasana baru. Sementara sang papa, untuk rentang waktu selama ini, tidak pernah beranjak dari rumah dimana Renat tumbuh besar hingga remaja. Papanya tidak pernah memutuskan pindah sebab hanya hal tersebut yang ia punya untuk tetap dekat bersama Renat dan mantan istri. Renat memang tidak perlu menebak seperti apa penyesalan yang hingga kini mengukung papanya. Dan hal tersebutlah yang selalu Renat usahakan untuk ia ingat agar tidak pernah salah mengambil pilihan. Bahwa perceraian, tidak selalu menjadi hal baik untuk menyelesaikan sebuah masalah. Renat tersentak dari segala pikiran tentang kedua orangtuanya sebab bel rumah yang berbunyi. Ia buru-buru mengenakan kaus berbahan dingin dan mengambil jaket warna baby blue, dengan celana tidur warna hitam yang sembarangan Renat ambil. Dengan langkah tergesa keluar dari kamar. Di rumah yang cukup besar ini, Renat sebenarnya juga kerap merinding. Mamanya sudah tahu bahwa mereka hanya tinggal berdua, namun tetap saja meminta rumah berukuran cukup besar tingkat dua dengan alasan lambat laun akan semakin banyak ruang yang digunakan. Beruntungnya, rumah ini didesign senyaman mungkin dengan masih membawa nuansa Korea di beberapa titik rumah. Renat sendiri baru mengetahui bahwa papa Abi lah arsitek hebat yang membantu mamanya mewujudkan rumah impian seperti ini. Renat menuruni anak tangga, melewati ruang keluarga yang sunyi. Mamanya benar-benar pergi bersama Nadine dan entah akan pulang pukul berapa. "Sebentar," teriak Renat ketika mendekati pintu utama. Renat memutar kunci pintu, membuka pintu dan seketika melotot kaget pada seseorang di hadapannya. Walau tubuhnya terpaku beberapa detik, namun setelahnya tanpa ragu Renat melemparkan diri pada sosok yang begitu ia rindukan beberapa tahun belakangan ini. "Papa," ujar Renat sudah terisak. Rasanya, seperti terlempar jauh pada momen di masa lalu. Dimana selalu saja papa yang akan Renat panggil di setiap kondisinya mengingat bagaimana sibuknya sang mama dulu. Bila diingat kembali, Renat memang lebih dekat dengan sang papa ketika ia kecil hingga remaja. Dan semua kenangan itu, hanya membuat Renat kian merindukan masa kecilnya. "Sayang." Papanya membalas dengan suara serak. "Papa!" Renat merengek, sudah lama ia tidak mendengar langsung suara sang papa. "Papa, Re kangen Papa." Renat mengeratkan pelukannya, merasakan kecupan yang banyak sekali di puncak kepalanya. "Papa bahkan nggak percaya liat anak papa makin cantik kayak sekarang. Mirip banget sama mamanya." Papanya mencoba melepaskan pelukan, menatap dewasa Renat yang semakin cantik dengan rambut panjangnya. Dulu sekali, Jerry ingat dengan pasti bagaimana Renat memotong pendek rambutnya sebab tersiksa. "Rambut Re jangan dipotong lagi. Lebih cantik kalau panjang." "Papa," lirih Renat masih tidak sanggup mengucapkan sepatah kata. Melihat dengan jelas raut letih papanya membuat Renat sadar, bahwa papanya memang sendirian. Sementara ia dan mama, selalu saja menolak untuk kembali ke Jakarta. Belum lagi guratan pertanda bahwa umur sang papa juga bertambah. Renat kesakitan melihatnya. "Re sendiri? Mama kemana?" tanya papanya sembari masuk menyusul Renat yang sudah lebih dulu berjalan menyusuri ruang tamu menuju ruang keluarga. "Mama dinner bareng Tante Nadine, Pa," jawab Renat kemudian berjalan menuju dapur untuk melihat ada atau tidak makanan ringan yang dibeli oleh mamanya. Beruntungnya, Renat melihat beberapa botol air mineral dan segera mengambilnya, kemudian beberapa snack. Kembalinya Renat ke ruang keluarga, ia melihat papanya sudah duduk santai di sofa. "Re nggak ikut?" "Enggaklah, Pa." Renat memutar tutup botol, kemudian meletakkannya di hadapan sang papa. "Lagian udah capek banget sama Abi hari ini." "Emangnya sama Abi ngapain?" tanya Papanya dengan senyum penuh makna. "Ngobrol doang. Tapi ya gitulah, Pa." "Ada masalah sama dia?" tanya sang papa lalu meneguk air mineralnya. "Besok Papa temuin dia kalau gitu." "Ngapain?!" Renat jadi menyemprot. "Biarin dia aja yang nemuin Papa. Ngapain repot-repot datengin dia." Jerry tertawa ringan, sudah lama ia tidak menikmati wajah sebal Renat. "Masih aja berantem. Udah gede, Re. Udah waktunya serius. Emangnya Abi nggak pernah nyatain lagi?" Renat menatap sang papa dengan helaan napas panjang. "Tadinya Re beneran nggak mau bahas ginian. Tapi kok makin lama makin Re simpen semuanya sendiri, rasanya makin capek." "Kenapa?" tanya papanya lagi. Selanjutnya, curahan hati Renat mengalir bagai air. Pun air mata yang tidak pernah absen untuk muncul kala semua kondisinya ia coba beritahukan pada sang papa. Ia kesakitan untuk menampung segalanya sendirian, sementara Abi terlihat enggan untuk menampung keluh kesah Renat. "Re akhirnya gantian buat ngajakin Abi nikah. Dia awalnya diem, tapi nggak Re sangka dia ngomong ke Tante Nadine kalau kita bakalan lebih serius. Nggak ada lagi pacaran. Tapi tetep aja, Pa, Re balik lagi jadi nggak siap karna sikap dingin Abi yang kayak gitu." "Pernikahan nggak bisa kalau cuma dijalanin sama satu orang, Re." Sang papa mencoba memberikan nasehatnya. "Kamu bisa liat papa, lihat mama buat jadi contoh paling nyata. Kita sama-sama mau diawal, janji buat nggak saling nyakitin satu sama lain. Tapi liat akhirnya, salah satu dari kita ngingkarin janji yang padahal jelas-jelas didengar sama Pencipta. Tapi ujung dari semua yang papa sama mama lewatin, bukan buat dibahas negatifnya. Tapi buat diambil hikmahnya. Nggak mungkin ada kamu di sini kalau papa bukan sama mama. Papa usaha untuk lihat sisi positifnya." Mata Renat menghangat, tidak percaya pada ucapan yang dilontarkan oleh papanya dengan begitu berwibawa. Terlihat bijaksana. Seperti benar-benar menunjukkan dirinya sebagai ayah yang Renat idam-idamkan sejak dulu. "Pa," panggil Renat pelan sejenak lupa pada masalahnya. "Apa?" "Re bolehkan kalau sering-sering main ke rumah? Nginep di sana?" Jerry refleks menarik Renat dan mendekap putrinya itu penuh sayang. Meluapkan segala rasa rindu yang ia tahan bertahun-tahun lamanya. Jika dulu hanya badan mungil dengan aroma minyak telon, kini yang Jerry peluk merupakan perempuannya yang sebentar lagi akan diikat oleh pria di luar sana. Rasanya penuh dengan penyesalan sebab tidak ada di samping Renat selama pertumbuhannya menjadi wanita dewasa. "Papa sengaja bilang itu ke Re bukan karna pengen Re takut, tapi biar Re makin yakin kalau apapun nanti yang terjadi di depan, itu memang karena kehendak Tuhan. Semua yang terjadi pasti ada dasar alasan di belakangnya, Re. Kalau kamu yakin, kamu pasti bisa usaha buat bikin Abi percaya lagi sama kamu. Karna nggak ada orang yang bakalan terus tahan dikecewain berkali-kali, Re. Termasuk Abi." "Re nggak pernah nyangka kalau Abi bakalan sekecewa itu, Pa." Suara Renat terdengar lirih dan putus asa. "Ego laki-laki emang tinggi apa cuma Abi doang yang begitu sih, Pa?" "Semua laki-laki," jawab papanya santai seakan-akan ego pria bukanlah sebuah hal besar. "Nggak aneh kalau laki-laki egonya tinggi. Udah ditakdirin kayak gitu." "Nggak bisa gitu dong, Pa, enak aja!" Renat menyemprot tidak suka, rasanya masih saja sebal terhadap sikap dingin Abi yang bila dirasa-rasa memang berlebihan. Tapi Renat tidak tahu harus apa selain tetap diam sebab ia sadar memang kesalahannya. "Re udah coba ngomong baik-baik minta maaf. Tapi respon Abi tetep aja gitu. Maksud Re, ya iya silahkan kalau mau marah tapikan nggak logis kalau marah sampai segininya." "Dibujukin sekali lagi coba." Sang papa memberi solusi. "Dibujukin gimana?" Renat menatap sang papa yang kini tengah tersenyum penuh makna. Setelahnya, bermacam-macam ide normal hingga aneh dilontarkan oleh papanya, sampai Renat sendiripun kesusahan untuk memilihnya. ♦ r e t u r n ♦
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD