14. Merah Hati dan Manis

2306 Words
“It's strange, isn't it? How your heart burns ... and burns ... and suddenly turns to ice.” • u n k n o w n • Nyaman. Satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan suasana kafe tengah kota yang Abi datangi. Awalnya, dia ingin kabur seorang diri kemari, namun karena hari libur, sang papa yang berada di rumah tiba-tiba mencegat langkah Abi dan berkata ingin ikut. Abi tidak banyak bersuara, selagi papanya tidak mengganggu acara relaksasi Abi, maka tidak masalah. Bagi Abi, menghirup aroma kopi memang merupakan cara untuk menghilangkan sesak di kepala. Sepertinya karena terbiasa mengonsumsi kopi ketika menetap di luar, membuat Abi sudah terbiasa dengan minuman pahit tersebut. Aroma kopi yang menyeruak di seluruh penjuru ruanganpun membuat Abi dapat merasakan damai. Sedang tatapannya sibuk dengan ponsel untuk membaca email dari Sean---pamannya. Mulai besok, Abi sudah akan mulai bekerja di perusahaan milik keluarga. Dia malas jika harus semakin lama membuang waktu di rumah. Lagipula, tujuan Abi disekolahkan jauh dari keluarga, memang agar dapat mempersiapkan bekal terbaik bagi kemajuan perusahaan. Abi mendongak, menatap papanya yang sudah datang membawa dua kopi pesanan mereka. Buru-buru dimatikannya ponsel dan menerima dalam diam kopi yang diulurkan oleh sang papa. Tanpa pikir, Abi menyesap cairan hangat tersebut. Membiarkan bulir-bulir kopi itu membuatnya kian tenang dan ia harap dapat berpikir lebih jernih setelah ini. "Nikah, A?" tembak papanya langsung tanpa basa-basi. Abi menghembuskan napas panjang lewat mulut, kemudian mengusap rambut dengan tangannya sekali. "Hm," angguk Abi sehingga papanya refleks terkekeh. Bagi Abi, Aldric bukanlah sosok ayah galak yang akan mengukungnya dengan banyak larangan atau dengan teganya memberi banyak perintah konyol. Seperti; harus memberi cucu di tahun ini. Benar! Waktu memang terus bergerak maju, lebih cepat bahkan dari sekedar kedipan mata. Abi yang dulu hanya dipusingkan oleh kisah-kisah aneh remaja, kini sudah memikirkan menikah dan hidup bersama perempuan. "Enak kok," kata Aldric dan Abi mengernyit. "Enak Papa beda nih sama Abi?" "Ya maksud Papa emang beneran enak. Pagi-pagi ada yang bangunin, makan ada yang masakin, pokoknya apa-apa ada yang nemenin." Abi terlihat mengangguk paham, "Papa dulu, kenapa bisa yakin ajakin mama nikah?" "Karna cinta," jawab papanya dan Abi refleks tertawa remeh. "Nggak usah ngomongin cinta gitulah, Pa. Abi juga awalnya mikir lamar Renat karna tau dia juga cinta Abi terus pasti nerima. Tapi ujungnya? Dua kali Abi ngelamar, dua kali juga ditolaknya." Aldric menatap Abi diam, sudah cukup rasanya menanggapi Abi dengan candaan. Sulungnya itu seperti benar-benar tertekan. "Nggak ada orang yang pernah punya nasib sama, A. Kalau dulu Papa emang diterima langsung sama Mama kamu, ya Papa coba liat lagi ke belakang. Apa yang udah Papa perjuangin ke Mama. Gimana susahnya hubungan Mama sama Papa. Sampai dulu Mama kamu tega mau batalin pernikahan, untung nggak jadi karna Papa akting sok cool biar Mama kamu keubah pikirannya." "Terus? Berubah?" "Iyalah!" jawab Aldric semangat. "Papa dipeluk terus nggak mau dilepas lagi sama Mama." Abi diam. Layaknya sang papa, Abi pikir dia juga tengah menjalani aksi diam terhadap Renat. Namun berbeda sebab Abi tidak dapat luluh semudah itu walaupun pikiran Renat sudah berubah. Abi masih enggan berbicara. "Tapi, A," ujar papanya lagi, "kamu jangan terus-terusan nahan ego kayak gitu. Perempuan itu pelengkap rusuk kamu, A. Rusuk itu nggak lurus, jadi kamu mesti nyikapin rusuknya baik-baik. Karna kalau kamu kasar, rusuknya bisa patah. Sukur kalau bisa dioperasi terus sembuh, kalau permanen rusak gimana? Kamu siap-siap aja diamukin sama papanya Renat. Papa ogah bantuin, mending belain Renat." Abi diam, mengelus badan cup kopi dengan telunjuknya seraya berpikir. Harus seperti apalagi dia menyikapi Renat? Padahal sejak dulu, selalu Abi yang mengalah dalam hubungan mereka. Tidak bisakah untuk sekali saja Abi meminta diperjuangkan? Apa hal tersebut terlalu berlebihan dan kekanakan? Atau memang hanya perempuanlah yang pantas ada di posisi tersebut? Abi memang penganut motto bahwa laki-lakilah yang mengejar, sedang perempuan tinggal menunggu sambil menonton serial kartun Disney. Tapi lama kelamaan Abi juga muak mengejar jika akhirnya mendapatkan penolakan, sebab sepertinya sang perempuan terlalu asik dengan kartunnya sehingga lupa bahwa pintu rumah tengah diketuk seseorang. "Abi nggak minta banyak, Pa. Bahkan Abi udah yakinin ke Renat kalau dia bakalan tetep bisa bolak-balik Korea. Ujungnya apa? Abi gagal juga, kan? Bukan karna ego Abi yang tinggi, tapi ego Renat yang tinggi. Yang bikin Abi kayak gini sekarang ya karna Abi punya alasannya. Lama-lama ternyata capek juga." "Kamu baru dua kali nyoba, A," ucap Aldric lebih tenang. "Jangan apa-apa langsung nyerah. Apalagi ini sangkut pautnya buat masa depan kamu. Ok kalau kamu kayak gini, Renat bisa aja berubah pikiran lagi terus hubungan kalian selesai. Pertanyaannya, kamu bisa nggak dapetin penggantinya Renat? Dapetin perempuan yang sabar sama sikap-sikap kamu, termasuk sikap aneh kamu. Perempuan yang beberapa tahun ini tahan buat nggak ngelirik laki-laki lain karna dia juga ngerasa yakin sama kamu, itu yang mau kamu lepasin?" Seketika, sekelabat bayangan tentang wajah lucu Renat muncul di kepalanya. Rasa bersalah pun ikut-ikutan menghantam Abi. Namun pria itu masih tahan untuk memegang egonya. Dia tidak ingin terlalu cepat mengambil keputusan sebab takut kembali dikecewakan. "Terus harus coba berapa kali dulu baru boleh nyerah?" "Coba sampai kamu diterima, biar nggak ada nyerah." Abi menghembuskan napas, papanya terus saja bersuara dengan logika. Seperti Abi dengan pikirannya tidak berguna sama sekali. "Pusing," ujar Abi tidak tahu lagi ingin mengatakan apa. "Jangan pusing, mendingan kamu sama papa jalan hari ini." "Jalan kemana?" tanya Abi karena melihat papanya sudah beres-beres "Pasar," jawab papanya santai. "Tadinya mama suruh Papa, tapi Papa malas kalau pergi sendiri. Makanya sengaja ajak kamu." Abi menahan diri untuk tidak menyemprot papanya, melainkan memilih memejamkan mata dan tersenyum. Aldric yang paham kekesalan sulungnya buru-buru bersuara lagi. "Jangan salahin papa. Salahin mama kamu kenapa hari ini pergi yoga." "Ya Papalah! Papa yang disuruh malah ajak-ajak yang lain." "Enak aja!" semprot Aldric balik karena tidak terima. "Pokoknya kamu ikut Papa. Bantu Papa pilih ikan, cabe, bawang, sama sayur." "Enggaklah," sambut Abi seraya berdiri. "Papa aja yang jalan keluar, Abi nanti nungguin di mobil." "Papa sunat ya kamu, A. Masa Papa kesiksa sendirian. Temenin Papa pokoknya. Papa cari ikan, kamu cari sisanya." Abi tidak menjawab, melainkan pergi lebih dulu meninggalkan sang papa dan keluar dari kafe. Cepat-cepat menuju mobil. Ah, tapi Abi bahagia dapat kembali berdebat bersama papanya. Mengingatkan pria itu pada masa lalu. ♦ r e t u r n ♦ Abi memarkirkan mobil milik sang papa di halaman rumah, bersebelahan dengan mobil mamanya---pertanda bahwa Nadine sudah berada di rumah. Setelah tadi kedua pria beda generasi tersebut menghabiskan waktu dengan berdebat hanya untuk memilih ikan. Kemudian Abi yang lebih pro terhadap tahu sementara Aldric pada tempe. Padahal, kedua anak dan ayah itu hanya tinggal membeli keduanya. Aldric masuk ke rumah dengan pelastik belanjaan, sementara Abi tidak ingin membawa apapun selain botol mineral yang kini tengah ia buka tutupnya. Meneguk cepat sembari menyusul masuk ke dalam rumah. "Apaansih orang aku suruh cuma ke pasar!" Abi mulai mendengar celotehan sebal mamanya. Kentara dari bagaimana cara mamanya bersuara. "Aku yoga juga cuma dua kali sebulan. Minta tolong kamu juga nggak sering biasanya aku yang ke pasar kalau selesai yoga. Tapi itu ikan yang mau dibeli biasanya emang habis cepet, makanya suruh kamu. Kalau aku, bisa-bisa ikannya udah nggak ada." Panjang sekali ceramah mamanya. Abi memutuskan melihat, ingin tahu nasib papanya. Lumayan untuk bahan tertawa. Namun baru saja memasuki dapur, seseorang keluar dari kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Tidak kaget seperti Abi, Renat malah tersenyum girang sembari melambaikan tangan. "Abi," panggil Renat namun Abi tetap diam. Pria itu berbalik, meninggalkan ketiga manusia yang berada di dapur dengan pandangan bingung. "Naik duluan." Abi berteriak kemudian menghilang di balik dinding menuju ruang keluarga. "Susul sana, Re," ujar Aldric memecah hening. "Apa, Om?" "Susulin aja. Pukul kepalanya biar egonya turun. Udah Om ceramahin tadi." Renat kebingungan. Merasa ragu harus menyusul naik atau tidak. Sebab wanita itu tahu bahwa Abi menuju kamar. Memang bukan pertama kali untuk Renat dan Abi berada dalam satu kamar, tapi jika situasi mereka tidak dalam perang dingin, maka Renat pasti akan lebih lega. "Naik aja, Re," suruh Nadine ikut-ikutan. "Tante masih mau balesin Om Aldric, enak aja mulut ikan diciumin ke mulut tante." Renat melotot, ingin tertawa namun kasihan. Sementara Aldric hanya menunjukkan ringisan sebab merasa bersalah dengan aksi konyolnya. Renat akhirnya memilih undur diri, meninggalkan dapur dan berjalan ke ruang keluarga untuk menuju tangga. Takut sebenarnya, tapi tidak punya pilihan lain. Setibanya di depan pintu kamar Abi, Renat mengetuknya tiga kali. "Abi." Renat memanggil, masih ragu. "Abi di dalem nggak?" Renat membuka pintu kamar yang nyatanya tidak terkunci. Tersihir oleh wangi lembut kamar Abi dan kerapian ruangan itu. Tempat tidur yang dibalut bed cover warna abu-abu, khas laki-laki. Belum lagi meja belajar milik Abi dulu, dan di sebelahnya terdapat lemari dimana koleksi pria itu ketika remaja tersusun rapi. Renat duduk di atas karpet dan menyilangkan kakinya, menatap macbook dan kertas-kertas pekerjaan milik Abi. Tangannya tidak tahan bila tidak bergerak. Tanpa ragu ia menyalakan macbook tersebut dan sukses tertegun melihat wallpaper Abi---foto Renat seorang diri tengah tertawa lepas dengan topi karakter groove. Renat ingat foto tersebut diambil Abi ketika mereka berada di Tokyo Disneyland. Kenangan yang menyenangkan dan Renat berharap mereka dapat kembali kesana. Renat menoleh ketika sebuah pintu terbuka dan Abi keluar dari sana dalam keadaan topless. Wanita itu buru-buru membuang muka dan pura-pura melihat dinding kamar Abi. "Aku cuma nggak pakai baju, kenapa harus semalu itu?" Bukannya malu karena Abi tidak berbaju, tapi malu jika nanti ketahuan bahwa Renat terlalu menikmati keindahan perut Abi. Alhasil, Renat tetap diam dan membiarkan Abi memakai bajunya terlebih dahulu. "Udah belum?" tanya Renat takut-takut. "Udah," jawab Abi dan Renat menoleh. Bukannya lega, Renat malah kian dibuat senewen sebab posisi Abi kian dekat dengannya, sama sekali tidak memakai baju yang padahal sudah Abi pegang. "Abi pakai baju kamu!" "Kenapa? Kan di kamar, nggak ada yang liat." "Karna nggak ada yang liat kita, makanya pakai." Abi menunjukkan seulas senyum, "Kenapa kamu jadi bilang nggak ada yang liat kita? Kan yang nggak pakai baju cuma aku." Renat tersedak, buru-buru beranjak agar menjauh dari Abi. Bisa-bisa Renat gila sendiri melihat penampilan pria itu. "Abi pakai bajunya." Renat menyuruh tidak bosan. Abi mau tidak mau menuruti keinginan Renat, daripada nanti perempuan itu jatuh sakit dan Abi yang dibuat repot. "Udah sana, pulang, aku mau tidur." Abi berjalan ke arah tempat tidur, menyusun bantal. "Atau kamu mau sekalian temenin aku tidur?" "Bi," panggil Renat dengan wajah lebih serius. Diambilnya tempat duduk di tepi tempat tidur, tersenyum penuh ketulusan pada Abi yang kini menatap Renat penuh tanya. "Kamu pernah nggak penasaran sama alasanku kenapa udah nolak lamaran kamu?" Abi diam, bahasan seperti ini sebetulnya membuat Abi enggan dan malas. "Yang kamu tau, aku selalu nggak siap. Tapi alasanku lebih dalem dari sekedar dua kata nggak siap, Bi. Ketakutan yang kita rasain jelas-jelas beda. Kalau kamu takut aku bakalan nolak kamu setelah dilamar, aku malah lebih takut kalau sempet ngeiyain ajakan kamu dan kita nikah." Renat berbicara dengan tenang, sedang Abi masih setia berdiri mendengarkan penjelasan Renat. "See?" ujar Renat lagi. "Bahkan kamu nggak kasih respon apa-apa. Seakan-akan kamu emang nggak pernah mau tau alasan pasti kenapa kamu selalu ditolak. Karna buat aku, nikah bukan cuma tentang pesta megah terus aku sama kamu jadi pusat perhatian semua tamu. Tapi tentang bisa apa enggak aku sama kamu pegang janji buat saling ngejaga satu sama lain. Sikap dingin kamu cuma bikin pikiranku makin buruk, Bi. Sekarang mungkin kamu masih enak ninggalin aku karna kita nggak diikat, tapi gimana kalau nanti kamu sebel sama aku terus tiba-tiba kamu ucapin kata yang seharusnya nggak kamu sebut. Kita nggak pernah taukan, Bi, apa yang bakalan kejadian di depan? Karna aku cuma takut bakal ngerasain hal yang sama kayak mama, Bi. Aku takut kamu ninggalin aku kayak apa yang udah kamu lakuin di Seoul waktu itu. Aku mendadak jadi gila bahkan nggak mau keluar kamar cuma karna bingung mikirin kamu sebenernya kemana. Kamu jahat tau nggak! Jahat udah ninggalin aku sendirian. Kamu akhirnya pergi juga, padahal dulu kamu pernah janji nggak bakalan ninggalin aku." Tangis Renat sudah pecah sejak tadi. Sedang Abi dengan cepat mendekati wanita itu dan duduk di sebelah Renat. Didekapnya erat tubuh perempuan itu sembari mengusap rambut Renat benar-benar penuh sayang. "Re," panggil Abi pelan, "Aku nggak bakalan ngelamar kamu sampai dua kali kalau aku nggak yakin sama kamu. Karna aku sayang sama kamu, Re, karna aku bener-bener mau jadiin kamu istri yang bisa aku jagain sampai umur aku selesai. Cuma tinggal jawab iya, terus serahin semuanya sama aku. Yakin kalau aku bisa bahagiain keluarga kecil kita." Renat masih terisak ketika Abi melepaskan dekapannya. Pria itu menatap wajah Renat penuh sayang, merasa bahwa sedikit bebannya telah terangkat. Kemudian tanpa peringatan terlebih dahulu, hanya atas persetujuan antara hati dan kepalanya, Abi mendekati wajah Renat. Dan berhasil mencuri ciuman singkat dari bibir manis Renat. "Hukuman karna kamu cengeng," ujar Abi menahan salah tingkahnya. "Kamu barusan ngapain?" Renat yang masih kaget pun refleks memberikan pertanyaan bodoh. Sedang Abi, jika tidak menahan diri, ia mungkin sudah kembali mencium Renat mengingat bahwa bibir wanita itu tampak lucu ketika bertanya. Namun untungnya, Abi cukup sadar diri. "Aku yang pertama, kan?" tanya Abi mengabaikan pertanyaan Renat. "ABI!" Renat mengamuk, persis singa betina yang siap menerkam karena marah anak-anaknya diganggu. "Kamu kenapa, sih?!" "Apanya yang kenapa?" balas Abi terlihat polos. "Akukan bilang hukuman." "Iya tapi aku nggak suka!" "Aku suka." "Yaudah kamu cium aja tembok," sengit Renat semakin kesal. "Dinding nggak manis, nggak kayak punya kamu." Lagi, Abi kembali mencuri cium dari sudut bibir Renat sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju lemari. Mencari jaket. Renat yang kesal hanya menatap bingung pada Abi. Bukannya tadi pria itu mengatakan bahwa ia mengantuk? "Mau kemana?" "Ayo jalan-jalan." Abi tersenyum, mengulurkan tangan pada Renat. "Pakai motor." Pada akhirnya, Renat kembali luluh akan pesona Abi. Ah, memang hanya Abi yang berhasil membuat Renat merasakan hal yang sulit untuk ia jelaskan dengan kata-kata. Setidaknya, Renat dan Abi sudah dalam proses berbaikan. ♦ r e t u r n ♦
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD