15. Mengunci Mimpi

1595 Words
Renat memeluk erat pinggang Abi seakan takut terjatuh, menyandarkan dagunya kepada punggung pria itu sembari asik melemparkan pandangan ke sekitar. Hari sudah beranjak sore, namun mereka belum berniat untuk pulang. Abi sendiri dengan pasti membawa motornya melintasi jalanan ibukota, setelah seharian mereka menghabiskan waktu di mal untuk menonton dua film, makan, dan Abi yang menemani Renat berbelanja pakaian tambahan. Renat memperhatikan jalanan yang sibuk sebab dipadati oleh orang-orang yang kebanyakan baru saja pulang bekerja. Seketika wanita itu membayangi kebiasaannya di Seoul kala jam bekerja sudah selesai. Bila tidak dengan bus, maka Tae Joon akan berbaik hati mengantarnya pulang. Renat penasaran, bagaimana kabar Tae Joon beberapa hari ini karena ia sendiripun tidak pernah menghubungi pria itu lagi. "Abi, mau kemana?" tanya Renat belum tahu, ia sengaja bertanya sebab merasa bersalah sudah memikirkan pria lain disaat tangannya dengan pasti memeluk Abi. "Kamu mau kemana lagi?" Abi balik bertanya setelah menaikkan kaca helm. "Pulang," jawab Renat langsung. "Besokkan kamu udah mulai kerja, kasian badannya nanti capek." "Perhatian," goda Abi dan Renat refleks memukul punggung pria itu. "Serius aja dong," semprot Renat. Abi diam, tidak menjawab ucapan Renat dan kembali fokus pada jalanan. Abi tersenyum di sela keseriusannya, kembali merasa seperti remaja apabila Renat memberikan perhatian kecil seperti itu. Ia juga memang akan mulai datang ke perusahaan besok, namun hanya untuk melihat suasana kantor. Lagipula, jabatan Abi masih sedang dalam pembahasan dewan komisaris perusahaan karena nanti pria itu tidak akan menduduki sembarangan jabatan. Sebenarnya, Abi mendapatkan dua pilihan. Melanjutkan kerja perusahaan atau menjadi pimpinan tertinggi yayasan sekolah. Abi lantas memilih perusahaan dengan sebuah alasan. Abi pikir, berada di lingkungan perusahaan akan membuatnya lebih mudah bersosialisasi sebab akan lebih banyak pemuda pemudi seumuran---walau pria itu tetap tidak yakin akan memiliki banyak interaksi dengan karyawan di sana. Selama perjalanan menuju rumah, Abi dan Renat terus saja mempertahankan hening. Abi yang sibuk memikirkan rencana ke depan sementara Renat masih memikirkan kemungkinan apakah ia dapat bekerja lagi. Rasanya iri mengingat Abi dapat bekerja dengan mudah setelah kembali sementara Renat malah dilanda kebingungan sendiri. Sedang meminta pertolongan Abi agar ia juga dapat pekerjaan, Renat tidak berani dan merasa tidak enak. Bagaimanapun, bagi Renat sendiri, tujuannya untuk belajar setinggi mungkin bukan hanya berakhir di dapur bersama bahan makanan. Bahkan Renat sendiri tidak begitu pandai dalam memasak---atau memang sama sekali tidak pandai dan tidak pernah ingin tahu perihal masak memasak. Wanita itu baru saja mulai menyusun karirnya dari bawah dan bertepatan dengan itu, Abi datang layaknya pangeran yang menawarkan Renat sebuah singgasana. "Abi," panggil Renat sembari mengeratkan pelukan. Dia ingin bersuara jujur, namun mengingat mereka masih di jalanan terlebih tengah menaiki motor, Renat mengurungkan niatnya. "Abi cepetan dong, aku ngantuk." Abi mendengar ucapan Renat yang samar, tetap diam digenggamnya tangan Renat. Sebenarnya juga salah Abi sebab terlalu lama mengajak Renat berjalan kesana kemari. Belum lagi dia membawa Renat dengan motor, tentu saja angin membuat mata wanita itu mengantuk. "Tunggu, ya," ujar Abi menenangkan. Renat mengangguk walau matanya tengah terpejam. Dia memang ingin segera pulang sebab rasanya sudah gerah. Terbiasa dengan dingin membuat Renat kembali kaget dengan cuaca Jakarta yang bahkan terasa panas di saat seperti sekarang. Renat merasa seperti pengecut yang banyak mau. Selang sepuluh menit, motor Abi berhenti tepat di depan rumah Renat. Pria itu mengernyit ketika melihat mobil yang tidak asing untuknya juga tengah terparkir. "Re," panggil Abi pelan pada Renat yang tampaknya tertidur. Wanita itu tersentak ketika panggilan Abi yang ketiga terdengar, buru-buru membuka mata dan kebingungan. Dalam kepalanya, Renat sempat bertanya ia tengah berada dimana. Dirinya masih membiasakan diri pada tempat tinggal baru. "Loh?" Renat bersuara ketika matanya menangkap objek yang sama. "Mama kamu di sini?" "Kayaknya," jawab Abi sambil menahan motor karena Renat hendak turun. "Hati-hati, Re." "Iya ini hati-hati loh, A!" Renat ngedumel, walau nyatanya ia memang tampak pusing karena baru saja bangun dari tidur singkat. "Masuk dulu, yuk." Abi dengan segera mengangguk, lantas turun dari motor setelah membuka helmnya. Disusulnya langkah Renat yang sudah lebih dulu membuka pagar, kemudian menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke pintu utama. Renat mengucapkan salam, membuat tiga orang yang tengah berbincang di ruang tamu jadi menoleh sembari membalas salam wanita itu. "Nih mereka!" ujar Gita semangat. "Malam, Tante." Abi menyapa Gita setelah mencium tangan wanita itu, kemudian menjauh untuk mengambil tempat di sebelah Aldric. "Ngapain, Pa?" Abi berbisik. "Ini loh, A, lagi bahasin tanggal." Nadine yang menjawab sembari lanjut menuliskan sesuatu di buku. "Hah?" Renat dan Abi merespon bersamaan, bahkan raut wajah bingung keduanya hampir terlihat sama. "Kok nggak bilang?" tanya Abi lebih dulu sadar. "Kamu tuh makanya kalau ngedate, hapenya aktifin juga. Bingung Mama kenapa ditelfon nomornya nggak aktif terus. Renat juga, Tante telfon nggak aktif." Abi meringis, "Maksudnya biar nggak ada yang ganggu, Ma." "Besok-besok aktifin," sempot Nadine dan Abi mengangguk samar. Renat yang hanya mendengarkan perdebatan di depannya sudah sibuk menahan diri untuk tidak menguap. "Hm, kalau Re naik duluan boleh nggak? Om, Tante? Gerah banget soalnya di luar panas." "Eh iya, naik aja, Re." Nadine menjawab, senyum keibuannya selalu saja muncul bila sudah berhadapan dengan Renat. "Coba pakai skincare yang mama kasih," ujar Gita ketika melihat Renat sudah berdiri. "Udah Mama letak di tempat tidur kamu, mudah-mudahan aja cocok." "Iya," jawab Renat terdengar tidak jelas. "Terus, Abi sama Renat udah ada bahasin buat acara nggak?" tanya Gita menatap Abi. Abi berdehem, "Belum sih, Tan, soalnya Abi pikir Renat juga masih capek. Jadi mungkin minggu depan baru mulai diurusin. Besok Abi juga udah mulai kerja hari pertama, Renat bilang juga mau urusin barang-barang pindahan." "Boleh juga." Nadine terlihat mengangguk, sementara Aldric lebih banyak diam dan mendengar. Hanya ketika ditanya maka pria satu itu bersuara. "Yaudah kalau gitu kita pamit sekarang ya, Git. Ikutin kata calon pengantin aja, kalau maunya minggu depan yaudah berarti minggu depan." Gita baru akan menjawab ketika Abi bersuara, "Mama Papa duluan aja." Abi berdiri, menghembuskan napas dan sedikit ragu bersuara pada Gita. "Kalau Abi ke kamarnya Renat, boleh, Tante?" Refleks, para orangtua itu saling melempar lirikan. Aldric yang hanya mampu terkekeh atas sikap sulungnya yang terlalu berani. "Asal jangan macem-macem aja, A." Aldric menggoda. "Satu macam doang kok, Pa," balas Abi tidak mau kalah. Gita tertawa, lantas memberitahukan Abi dimana kamar putrinya berada. "Tante kasih waktu lima menit aja ya, Bi." Abi mengangguk, lalu buru-buru melangkah mendekati anak tangga dan secepat kilat berjalan naik. Setelah menemukan pintu kamar Renat, Abi mengetuknya perlahan. Pria itu hampir saja memutuskan untuk masuk tanpa permisi bila Renat tidak kunjung membuka pintu. Beruntungnya, Renat juga cepat membuka. "Ngapain?" tanya Renat masih di depan pintu kamar. "Aku nggak boleh masuk?" tanya Abi terdengar polos namun begitu menyebalkan di telinga Renat. "Hah? Mau ngapain?" Renat mengulang pertanyaannya. "Sepuluh menit aja," ujar Abi berbeda dengan perintah Gita. "Abis itu aku pulang." "Mau ngapain sih, emangnya?" Renat kini bergerak keluar meninggalkan posisinya, menutup pintu dan menatap Abi sambil tersenyum manis. "Ngobrol di balkon aja, yuk?" Abi mengerjap, kemudian mengangguk. Dia baru saja sadar sebab sudah membuat banyak orang berpikiran aneh. Maksud Abi ingin menyusul Renat ke kamar karena ia masih ingin mengobrol santai bersama wanita tersebut. Untungnya, Renat juga cepat tanggap untuk tidak membiarkan Abi masuk ke kamarnya. Bukan apa-apa, hanya saja, sang mama tidak hanya meletakkan skincare di atas tempat tidur Renat melainkan juga dalaman yang tentu akan sangat memalukan bila Abi sampai melihatnya. Ah! Membayangkannya saja pipi Renat terasa panas. "Mama Papa kamu masih di sini?" "Udah pulang," jawab Abi sembari memperhatikan tangan Renat memutar anak kunci. Ketika pintu penghubung balkon di buka, angin langsung saja menyapu wajah sepasang manusia itu. "Wah, enak ternyata anginnya." Renat bersuara, fokus pada pemandangan rumah orang-orang. "Kamu besok kemana? Jadi ngurusin barang pindahan?" Abi bertanya sembari mendekati Renat yang berdiri menyandar pada pagar pembatas. "Jadi," angguk Renat menatap Abi. "Kamu kenapa nggak pulang? Besokkan udah mulai kerja." "Masih mau di sini liat kamu," jawab Abi jelas-jelas, tidak ada waktu untuk basa-basi apalagi berbohong. "Bi," panggil Renat menyingkirkan malu akan jawaban Abi. "Hm?" "Kalau kita udah resmi nikah, boleh nggak kalau honeymoonnya ke Korea aja?" Abi menatap Renat serius setelah pertanyaan itu. "Kamu mau honeymoon?" Pipi Renat panas lagi, "Bukannya orang-orang kalau abis nikah emang bakalan honeymoon?" Abi tertawa kecil, lucu menatap ekspresi Renat. "Nggak jugalah, Re. Tapi emangnya kenapa? Kok milih Korea? Kamu nggak mau kalau kita ke Maldives aja? Aku tadinya mikirin tempat kayak gitu. Biar beneran honeymoon. Kalau ke Korea sama aja, yang diliat juga orang-orang sama aktivitas mereka." Tatapan Renat berubah sendu tanpa ia sadari, membuat Abi paham bahwa tentu saja separuh hati wanita itu masih tertinggal di Korea. Namun fakta bahwa Renat tetap berusaha untuk kemari menemuinya, Abi pikir wanita ini benar-benar sedang serius. "Di Korea juga ada tempat-tempat kayak gitu kok, Bi." "Kamu sekangen itu sama Seoul?" tanya Abi langsung. Renat menoleh, menatap Abi dalam diam walau mulutnya sangat ingin mengatakan iya. Tapi Renat tidak sanggup. Dia takut menyakiti lagi perasaan Abi yang sudah susah payah ia perjuangkan. Padahal pertanyaan Renat tadi sebenarnya juga bermaksud memancing agar ia dapat mengeluarkan kalimat yang lain; Renat ingin kembali bekerja. "Enggak kok," geleng Renat dengan senyum penuh paksaan yang begitu jelas untuk Abi artikan secara sepihak. "Tadi kamu bilang kemana? Maldives, ya? Boleh juga. Ayo honeymoon ke sana!" Abi tertawa lagi, lantas mendekati Renat dan mencium pipi wanita itu sekilas. "Mandi, terus tidur. Aku pulang dulu." Renat tersenyum samar, menatap kepergian Abi yang kian menjauh meninggalkan titik dimana Renat berdiri. "Bi, kamu bakalan bolehin aku kerja nggak, ya?" Renat baru bersuara, setelah prianya menghilang di balik dinding dan tengah menuruni anak tangga. Seandainya kata-kata tersebut dapat terucap lebih mudah ketika di depan Abi, pasti akan sangat melegakan. ♦ r e t u r n ♦
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD