"Cie, si ganteng udah mulai kerja."
Nadine menggoda tepat ketika Abi memasuki dapur. Tidak seperti biasanya karena kali ini pria itu sudah tampak rapi dengan kemeja hitam yang semalam dipilihkan Nadine untuknya karena ia sendiri masih bingung hendak memakai yang mana. Layaknya ketika Abi baru memulai sekolah dasar, dirinya yang kebingungan juga berakhir mengadu kepada Nadine sebab tidak tahu apa-apa.
Abi tersenyum pada sang mama, mencium singkat pipi wanita itu sebelum memilih duduk di meja makan dan menyibukkan diri dengan sarapan. Dia mulai ke kantor hari ini untuk berdiskusi bersama Sean sekaligus memperlihatkan diri pada jajaran direksi. Abi tidak gugup, hanya saja, ia berharap semuanya akan tetap berjalan lancar.
"Wih, keturunan Azka Aldric ganteng bener." Ucapan tersebut dilemparkan oleh sang papa, membuat Abi hanya mampu menatap papanya dengan berusaha agar tidak mendelik.
"Teuku Azka Aldric," ujar Nadine dengan senyuman kecil yang ditangkap oleh mata Abi. "Harusnya Aa juga, Teuku Abirayyan Radeva, Haidarnya nggak dipakai. Mama udah ngusulin, cuma Papa kamu bilang nggak usah. Nyebelin, ya?"
"Terus, kenapa nggak jadi?" Abi tiba-tiba saja jadi penasaran.
"Papa ternyata dulu sering sakit, katanya karna nggak kuat pakai nama Teuku, akhirnya dihilangin."
"Lah?" respon Abi dengan raut lucu. "Bisa gitu, Ma?"
Nadine hanya mengedikkan bahu, mau benar atau tidak, wanita itu tetap saja menyukai seseorang dengan awalan nama Teuku. Menurutnya, ada ketenangan tersendiri ketika mendengar nama orang dengan nama tersebut.
"Mama juga nggak tau. Tapi kayaknya oke deh, A, kalau anak Aa sama Teteh Renat dikasih Teuku kalau nanti laki-laki."
"Ma," protes Abi tiba-tiba, "belum juga nikah, udah mikirin nama anak."
"Ya nggak apa-apa dong! Gemes abisnya liat kalian."
Abi hanya mampu menghela napas panjang, terserah mamanya saja ingin berkata apa. Berikutnya, Abi mencoba memilih membahas pekerjaan bersama Aldric.
"Pa, kita keliling dunia berdua, gimana?" tawar Abi dan Aldric yang tengah mengunyah tiba-tiba saja terhenti. Menatap sulungnya dengan tatapan tidak percaya.
"Terus Mama kamu di rumah sendirian?" ujar Aldric kebingungan. "Kamu juga, ngapain pake ajak-ajakin Papa. Mending kamu pergi sama Renat, Papa nanti pergi sama mama."
"Takutnya dia nggak mau kalau Abi ajakin ke tempat selain Korea."
"Pasti maulah, A, masa diajak jalan bareng abis nikah sama suami nggak mau."
Abi hanya mampu mengedikkan bahu, tidak mengerti pada pola pikir Renat yang menurutnya terlalu membuat sulit semua hal yang harusnya mudah. Namun kembali lagi, Abi memang tidak bisa memaksakan kehendaknya bila Renat tidak mau. Dia tidak ingin wanita tersebut menjadi tidak nyaman dan beranggapan Abi adalah sosok pria tukang paksa.
Abi melahap lagi potongan roti bakarnya, membiarkan kedua orangtuanya melemparkan banyak pertanyaan yang tidak satupun dapat terjawab oleh Abi. Ia takut salah berbicara dan berujung terkena amukan Renat. Rasa-rasanya lebih baik diam dan berdiskusi terlebih dahulu.
"A, kok diem aja?" tanya Nadine kebingungan. "Maunya gimana? Biar Mama hubungin WO terus nanti Aa sama Renat bisa ketemuan, mulai bahas-bahas. Persiapan nikah nggak sebentar loh, A. Belum lagi keluarga kita banyak, pasti pengen sibuk semua. Makin cepet dikerjain kan makin enak, biar nanti nggak pusing kepalanya."
"Nantilah, Ma, Abi tanyain Re dulu." Abi tersenyum kecil, meneguk air putih lalu membersihkan mulut terlebih dahulu kemudian berdiri. Ia mendekati sang mama untuk mencium pipi wanita itu, kemudian menepuk bahu papanya pelan layaknya teman. "Abi duluan."
"Hati-hati, A," teriak Nadine yang masih didengar oleh Abi. Namun ia tidak menjawab, melainkan terus berjalan menuju pintu utama.
Keluar dari rumah, Abi mulai berjalan menuju mobil. Sebelum benar-benar berangkat, Abi terdiam sesaat memandangi rumahnya yang berdiri megah. Sejak kecil, Abi sudah tinggal di sini. Rumah yang menjadi saksi bagaimana Abi tumbuh hingga seperti sekarang. Belum lagi kamar yang memang menjadi tempat Abi bersama rahasia-rahasia masa remajanya. Abi sudah terbiasa dengan rumah ini, tempat ternyaman yang selalu Abi sebutkan ketika orang-orang sesekali bertanya. Dan tidak lama lagi, ia akan meninggalkan rumah ini untuk mencari tempat ternyaman miliknya sendiri.
Abi bukanlah sosok yang ingin satu rumah bersama orangtua maupun mertua. Sikap manisnya hanya kerap keluar di depan Renat dan menurutnya akan susah bila tetap bersikap seperti itu di depan orangtua. Abi ingin ruang sendiri. Jadilah, Abi memang sedang meminta bantuan seseorang agar mendapatkan apartment untuknya. Abi belum mampu untuk rumah, dan tidak ada salahnya jika memulai dari sebuah apartment sebagai tempat tinggalnya bersama Renat nanti.
Abi membunyikan klackson, tanda ia sudah mulai berjalan. Helaan napas pria itu terdengar panjang, tanda bahwa ia tengah mempersiapkan diri untuk menyambut suasana baru. Abi berharap sekali, bahwa pekerjaannya tidak malah menambah beban masalah dan dapat menjadi penenang Abi dikala tuntunan persiapan pernikahan semakin merajamnya.
Sebenarnya bukan masalah, namun di kala Abi mulai menatap wajah Renat, selalu ditemukannya keberatan yang entah apa. Abi pikir, wanita itu belum sepenuhnya ikhlas akan pilihan yang ia ambil.
Ponsel Abi berbunyi, baru saja dipikirkan, wanitanya langsung saja menelepon. Diterimanya panggilan tersebut dengan ringan, membiarkan sang penelepon menyapa duluan dengan semangat seperti biasa.
"Pagi, A!"
"Pagi," balas Abi dengan tatapan terus fokus menatap ke depan. "Baru bangun?"
"Enggak!" jawab Renat cepat-cepat. "Kan solat, mana mungkin baru bangun."
Abi terlihat mengangguk, memutar setir dengan satu tangan dan memilih fokus sesaat sebelum kembali bercakap bersama Renat. "Aku lagi jalan ke kantor. Kamu ada keluar hari ini?"
"Nggak tau, sih, tapi Zahwa bilang dia mau ditemenin ke mal. Juga lagi pengen jalan soalnya mumet di rumah nggak ngapa-ngapain."
"Kabarin aku kalau mau keluar," ujar Abi mengingatkan.
Renat di ujung sana hanya dapat tersenyum dengan kebiasaan Abi yang satu ini, selalu meminta dirinya untuk mengabarkan apapun jika ingin berpergian. Renat tidak masalah, namun memikirkan keprotektifan Abi seperti sekarang padahal mereka belum terikat dalam pernikahan membuat Renat sedikit terbayang, apakah ia masih bisa keluar rumah nanti setelah mereka menikah. Ah, akhir-akhir ini tampaknya Renat selalu saja berpikir buruk serta berlebihan pada Abi.
"Iya." Renat akhirnya memberi jawaban. "Kamu yang semangat ya kerjanya, jangan lupa makan siang."
"Oh iya, Re, tadi mama---" Abi yang baru ingin melanjutkan ucapan sebelum akhirnya terpotong oleh suara Renat.
"---Abi, nanti aku kabarin lagi, ya. Mama udah teriak-teriak manggil nih kayaknya ada yang mau ditolong. Dah, semangat kerja hari pertamanya!"
Pria itu sontak menghela napas berat, tampaknya tidak tepat melayangkan topik nama anak kepada Renat di saat sekarang. Abi mengangguk dalam kesendirian, tidak bersuara dan pada akhirnya ponsel pria itu menunjukkan sambungan telepon yang telah terputus. Lantas, dilemparnya ponsel ke jok sebelah dan sukses tergeletak cantik.
Sekitar tiga puluh menit, Abi akhirnya mencapai tujuannya. Dengan cepat masuk setelah menyapa seorang petugas keamanan dengan klacksonnya. Setidaknya, sebab pernah kemari ketika remaja membuat Abi menjadi tahu dimana seharusnya ia memarkirkan mobilnya---lebih tepatnya mobil sang mama karena Abi masih meminjam. Mamanya bisa saja mengamuk bila Abi tidak hati-hati pada mobil ini. Sementara papanya sendiri tidak akan mau mobilnya dipakai oleh siapapun. Mobil tersebut sudah seperti putra keempat di dalam keluarga mereka. Alhasil, Abi memang harus membeli mobil sendiri secepatnya atau dia akan memberatkan mamanya terus-terusan.
Abi keluar dari mobil setelah memastikan mobil sang mama terparkir rapi dan tidak akan ada masalah. Setelah merapikan kembali jas yang ia pakai, Abi memilih berjalan ke arah dimana pintu masuk terletak. Sesekali, ia mengalihkan tatapan pada pergelangan tangan kiri untuk melihat jam. Tepat ketika langkah Abi mulai memasuki gedung kantor, ia mulai merasakan tatapan banyak pasang mata padanya. Mungkin penasaran terhadap orang baru yang sebelumnya tidak pernah dilihat berkeliaran di sekitar kantor. Abi memilih mengabaikan, terus berjalan menuju lift agar ia bisa cepat-cepat menuju ruangan Sean---presiden direktur perusahaan sekalian paman pria itu.
Abi masuk, bergabung dengan beberapa karwayan lainnya, kemudian menekan tombol lantainya sendiri.
"Permisi, boleh sekalian tekanin tombol lantai 6, nggak?" Abi menoleh, melihat seorang wanita dengan lisptick merah menyala tengah tersenyum manis padanya. Abi tidak mengangguk, melainkan langsung menekankan tombol lantai untuk wanita itu.
Beberapa bisikan mulai Abi dengar dari dua wanita di sebelahnya. Ayolah, bahkan belum lima menit Abi berada di sini dan ia sudah dijadikan bahan gosipan oleh karyawan wanita yang tampaknya menjadikan tahun ini sebagai tahun terakhir mereka untuk memiliki status single. Abi menahan diri, terus memasang ekspresi datar seperti biasa. Ia tidak mungkin asal-asalan tersenyum, itu bukan dirinya. Apalagi tiba-tiba mengajak seseorang berbicara jika tidak ada hal penting. Sementara seorang pria yang sejak tadi berdiri diam di seberangnya hanya sibuk bermain dengan ponsel.
Abi geleng kepala, membiarkan ketiga karyawan tersebut keluar ketika pintu lift lantai enam terbuka. Kedua karyawan wanita tersebut melemparkan senyum pada Abi dan dibalas dengan tatapan datar oleh pria itu. Dasar wanita!
"Dah, karyawan baru," ujar wanita itu langsung-langsung saja, seperti tidak takut salah akan ucapannya.
Abi menghela napas ngeri setelah pintu lift tertutup. Lelaki itu mendongak, melihat urutan lantai yang pelan-pelan berubah menuju ke lantai yang lebih tinggi. Pria itu mempersiapkan diri, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya sebelum benar-benar keluar dari lift. Abi ingin agar gambarannya tidak dianggap main-main oleh siapapun. Semakin ia terlihat mengintimidasi, maka akan semakin baik. Abi malas berbasa-basi, maka dari itu ia harus memperlihatkan betapa bagus dirinya sehingga orang-orang dapat percaya. Setidaknya, Abi masih memiliki niat untuk membuat maju perusahaan, sebagaimana pemimpin sebelumnya telah lakukan.
Abi disambut oleh senyum hangat seorang wanita dengan make up yang terlihat jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Abi membalas senyum wanita tersebut tipis. Untungnya, wanita itu mengerti bahwa kedatangan Abi terlebih dahulu untuk menyapa Sean.
"Selamat datang Bapak Abirayyan, Bapak Sean sudah menunggu Anda di dalam. Mari saya antar." Wanita itu berjalan menuju pintu ruangan Sean yang terletak cukup berjauhan dari meja kerjanya sendiri. Sampai di depan pintu ruangan Sean, pintu Abi dibukakan dan pria itu sontak tersenyum ketika dilihatnya Sean tengah menunggunya tepat di depan pintu pula.
"Selamat datang, Calon Pemimpin Baru Perusahaan!" Sean bersuara semangat dengan tangan terkembang sempurna. Setelah memastikan dirinya benar-benar masuk dan pintu ruangan Sean sudah tertutup, Abi baru menerima pelukan Sean tidak kalah bahagianya.
"Nggak usah selebai itulah, Om," ujar Abi sambil melepaskan pelukan.
Sean tertawa, "Kenapa? Om udah lama nungguin kamu. Pokoknya, makan malam minggu depan, khusus buat nyambut kamu sama Naofal sebagai pemimpin baru."
Abi geleng kepala, menyusul duduk setelah dilihatnya Sean duduk. "Udahlah, Om," pinta Abi agar pamannya itu berhenti. "Nggak ada kopi, Om?"
"Kamu nggak minum kopi di rumah?" tanya Sean sembari mulai menghubungi sekretarisnya untuk membawakan dua cangkir kopi.
"Takut diamuk mama," jawab Abi simpel saja.
"Ya Allah, A," respon Sean merasa lucu. "Kamu itu udah gede, udah dewasa, bukan anak umur lima tahun, janganlah pakai alasan takut-takut diamuk sama mama. Apalagi cuma buat minum kopi."
"Mama nggak suka liat orang di rumah minum kopi," ujar Abi lagi, sementara Sean baru saja mengingat hal tersebut. "Om lupa kalau sampai sekarang si papa minumannya selalu yang sehat-sehat? Kita mah kalah."
"Makanya papa kamu awet muda. Hati-hati dikalahin gantengnya sama papa kamu, A."
"Nggaklah, gantengan Abi kemana-mana."
Sean tertawa lagi, rasanya benar-benar sudah lama tidak bertemu dengan Abi. Tidak lama setelah itupun, kopi yang diminta oleh kedua pria itu datang. Sean menatap sekretarisnya setelah mengucapkan terimakasih.
"Sekretaris yang saya minta kemarin udah kamu hubungi?"
"Sudah, Pak, dia juga sudah berada di sini sekarang. Saya baru saja ingin bertanya kepada bapak, dia dibawa masuk sekarang apa nanti saja, Pak?"
Sean tampak mengangguk sambil sesekali menatap Abi yang hanya diam mendengarkan setelah menyeruput kopinya---rasanya tenang dan hangat.
"Bawa dia masuk sekarang, saya mau langsung kenalin dia."
"Baik, Pak," jawab sekretaris Sean dengan sikap teratur. "Satu lagi, Pak, rapat bersama para dewan direksi akan dilaksanakan lima belas menit lagi."
"Baik," angguk Sean dan Abi lantas menoleh setelah kepergian sekretaris pamannya itu. "Oh iya, Bi, masalah sekretaris, kamu nggak usah khawatir, pekerjaannya baik, Om udah mastiin ke pihak HRD buat yang satu ini. Ya, kamu memang seharusnya dapetin sekretaris terbaik dari yang sekumpulan yang baik, kan?"
Abi diam, tidak menanggapi dan hanya menunjukkan senyuman tipis. Sebetulnya, Abi lebih ingin apabila sekretarisnya juga pria seperti dirinya. Jadi tidak akan sulit untuk Abi membuat dirinya beradaptasi. Setidaknya, bila nanti mereka berbuat kesalahan, Abi akan lebih senang mengamuk dengan melemparkan meja kepada mereka. Tapi bagaimanapun, Abi harus tetap berusaha agar dirinya terlihat adil di mata semua karyawan.
Pintu ruangan Sean kembali terbuka, membuat kedua pria di ruangan itu lantas menoleh dan berdiri. Tidak seperti Sean yang tersenyum ramah, pandangan Abi lagi-lagi berubah dingin akibat terkejut. Tampaknya dunia ini benar-benar kecil sehingga Abi kembali dipertemukan bersama wanita dengan blezer hitam di hadapannya. Wanita itu lantas tersenyum dengan binar terkejut di matanya, terlihat jelas bahwa ia bahagia akan takdir.
"Abi!" sapanya penuh semangat dengan lengkung sempurna di bibir.
Sedang Abi hanya diam, kembali mendengar suara wanita itu bukanlah suatu hal yang Abi suka. "Saya atasan kamu, tolong bersikap baik."
Wanita di hadapannya refleks diam dan buru-buru menjaga sikap. Ayolah, jadi ini sekretaris yang menurut pamannya terbaik? Abi menahan tawa remehnya, menatap wanita di depannya masih dengan aura dingin dan berharap agar ia enggan untuk mendekat kembali pada Abi.
"Saya pikir bukan kayak gitu cara menyapa atasan," ujar Sean dengan dahi penuh kerutan bingung.
"Ma---maaf, Pak."
"Saya rasa kamu cukup pintar untuk menyapa saya baik-baik dan memperkenalkan diri kamu secara baik-baik juga. Tapi kalau tidak sanggup, kamu bisa undur diri." Belum genap satu menit, dan Abi sudah mengeluarkan ultimatumnya.
Ya Tuhan, entah ini memang sebuah kebetulan, atau takdir yang sengaja melakukan ini. Satu hal yang Abi tahu di saat seperti ini, bahwa ia membenci ketika dipertemukan kembali bersama Moza. Layaknya beberapa hari lalu di hotel, Abi benar-benar ingin mengubur dirinya sendiri.
♦ r e t u r n ♦