17. Work

2000 Words
Mr & Le, perusahaan yang sudah lama sekali bergerak dalam bidang industri alat-alat berat, khususnya alat-alat pertanian, pembajakan sawah, peternakan, perkebunan, dan agrikultural. Perusahaan yang dulunya dibangun oleh dua bersaudara---Marlonvi Righa dan Luhan Ebiguntur---dan terus dilanjutkan kepada anak cucunya sehingga usaha yang dibangun dengan keringat dan kerja keras tersebut tidak berhenti begitu saja. Dari dulu sudah begitu, setiap laki-laki yang menjadi keturunan keduanya memang harus siap siaga menerima tanggung jawab bahwa kewajiban besar sudah menunggu mereka di kemudian hari ketika mereka menginjak dewasa. Bukan mengekang para mereka untuk bermimpi, namun jika bukan pada mereka suatu hal diminta pertanggung jawabannya, lantas pada siapa lagi? Membiarkan sebuah sejarah panjang keluarga berhenti begitu saja juga bukanlah suatu hal yang benar. Begitupula dengan Abi, pria yang kini tengah diembani tanggung jawab sebagai penerus masa depan keluarga. Jika Abi sudah jahat dan tidak peduli, mungkin ia rela diusir dari keluarga karena lebih ingin mengejar impiannya menjadi arsitek besar melebihi sang papa. Keliling dunia dan melihat banyaknya arsitektur kuno yang kini begitu dihargai oleh semua makhluk bumi. Abi ingin, menjadi orang besar dengan caranya sendiri. Melakukan hal gila sendirian tanpa harus peduli pada apa yang orang lain lakukan asal dirinya dapat mencapai apa yang ia mau. Namun dalam sekali aksi, semua mimpi remaja Abi dapat berubah begitu saja. Abi yang dulu hanya peduli pada orangtua dan kedua adik perempuannya malah dipertemukan dengan seorang wanita usil yang entah datang dari mana. Renat, mampu mengubah gambaran masa depan Abi tanpa wanita itu sadari. Abi yang terbiasa menjalani kehidupan sesuai dengan arahnya sendiri mulai bimbang ketika Renat merebut sebagian dari dirinya. Kesukaan pria itu pada ketenangan tidak lagi berarti karena murai Renat nyatanya lebih menarik untuk ia dengar setiap saat. Abi sadar, bahwa kehadiran Renat begitu banyak memberikannya perubahan. Termasuk untuk berani mengambil tanggung jawab terhadap keluarga. Abi pikir, akan lebih baik memberikan Renat sebuah masa depan yang pasti. Menjadi seorang yang sibuk keliling dunia Abi pikir hanya lebih baik dilakukan bila ia hidup sendiri---benar-benar sendiri dan tidak perlu bertanggung jawab untuk siapapun selain dirinya. Kini, Abi sedang mencoba menikmati setiap prosesnya dan berharap hasil yang ia dapati akan setimpal. Tidak hanya kehidupan yang menjanjikan, namun juga, Renata. Dalam ruangan yang senyap, tatapan Abi fokus pada beberapa dokumen yang memang sengaja diperlihatkan Sean padanya. Abi masih duduk di sofa ruangan Sean karena belum sempat diajak ke ruangannya sendiri---mereka baru saja selesai dengan rapat bersama dewan-dewan petinggi perusahaan, pertanda bahwa posisi Abi sendiri juga sudah diperbincangkan selama rapat berlangsung tadi. Awalnya pria itu sempat ragu akan jabatannya sendiri, takut menghancurkan kepercayaan orang-orang, tidak hanya kepercayaan semua isi perusahaan tetapi juga keluarganya. Tapi Abi mencoba bersikap percaya diri---salah satu poin utama untuk menjadi seorang pemimpin---dan memberikan anggukan pasti ketika ia dilemparkan pertanyaan mengenai sanggup atau tidak menjalankan perusahaan. Pintu ruangan terbuka, membuat Abi langsung menoleh dan dilihatnya Sean kembali masuk. Dijauhkannya dokumen yang terbuka dari pandangan, menjangkau botol air mineral dan meneguknya dengan cepat. "Santai, A, kalau ada apa-apa kamu bisa tanya ke Om langsung." Sean tertawa, melepaskan jasnya dan duduk di single sofa dekat Abi. Ikut meraih dokumen yang sebelumnya dibaca Abi dengan tatapan tidak kalah fokus. "Berat nggak, Om?" tanya Abi, merelakskan posisi duduknya. "Kalau cuma dilihat, terus dipikirin, pasti berat. Tapi kalau dijalanin sekalian, nggak ada yang berat. Om dulu pertama kali mulai nggak jauh beda sama kamu sekarang." Sean mencoba memberikan Abi ketenangan, persis seperti orang yang sudah paham sekali. "Ya tapikan pengalaman Abi nggak kayak Om," ujar Abi sembari mengusap wajah, kemudian menatap Sean dan tersenyum ringan. "Emang pengalaman Om kayak gimana?" tantang Sean ingin tahu sebanyak apa Abi mengerti perihal kehidupannya dulu. "Gini, A, kita itu sebenernya sama. Abis kuliah bukannya langsung pulang malah keasikan kerja di perusahaan punya orang lain di sana. Dibanding Om, lebih lamaan kamu, kan? Om cuma tujuh tahun disana." Abi mau tidak mau mengangguk pada fakta yang satu itu. Dia memang menetap sangat lama di negara orang padahal sang mama sudah cerewet meminta Abi pulang. "Terus, yang buat Om males pulang apa? Karna perusahaan?" Sean mengedikkan bahu awalnya, lalu tertawa. "Om udah coba damai sama yang itu, A. Tapi bayangin aja, setiap di telfon, yang ditanya selalu kapan nikah, kapan kenalin calon ke keluarga. Ya Om mana mau, masih mau seneng-seneng apalagi temen Om banyak. Makanya Om jadi kerja, supaya ada alasan kalau selanjutnya disuruh pulang lagi." "Masalah keluarga kita kayaknya cuma itu-itu doang ya, Om?" geleng Abi dengan ekspresi tampak miris. "Lanjutin kerja perusahaan, kapan nikah, abis nikah kapan mau kasih cucu, abis itu masalah yang sama keulang lagi." "Udah jadi masalah hidup semua orang kayak gitu." Abi kembali menggeleng, kali ini terlihat tidak begitu setuju. "Papa nggak kayak gitu." "Kamu terlalu terkurung sama mimpi buat jadi sama kayak papa kamu, A." Sean memperbaiki duduknya, mencoba serius pada Abi. "Om tau, impian kamu buat jadi orang gila besar lewat jalan kamu sendiri. Om nggak masalah, tapi apa yang kamu liat lewat papa kamu, cuma sebagian kecil dari bahagia yang dia rasain. Masalah hidup papa kamu, kalau kamu ada di samping dia waktu zaman kuliah dulu, mungkin kamu nangis. Bohong kalau papa kamu bilang dia kuliah di New York lancar-lancar aja kayak buang air kecil. Coba tanyain, berapa kali papa kamu bilang kalau kuliah nggak guna, hidup nggak ada gunanya karna menurut papa kamu, dia udah nggak punya masa depan lagi. Hidup cuma terus liatin dia cobaan tanpa mau kasih apa yang dia minta. Bahkan dia pernah nggak kuliah karna udah keasikan kerja di bengkel, ketemu mobil-mobil mahal terus oke. Makanya mobil papa kamu nggak boleh ada yang pakai, kan? Liat tuh egois masa mudanya masih kebawa sampai sekarang. Balik lagi, pokoknya dapetin hidup yang bener-bener enak tanpa nangis, itu nggak akan pernah ada, A. Fine kalau impian kamu juga mau kayak gitu, berarti kamu harus siap sama konsekwensi di kedepan hari. Tapi satu yang harus kamu tau, kalau kamu udah lewatin masa berat kemarin nggak kayak papa kamu, itu yang harus kamu banggain. Jangan mau jadi sama kayak orangtua kalau nyatanya kamu bisa jadi lebih baik dari apa yang pernah dilakuin sama orangtua." Abi terdiam mendengar tuturan panjang pamannya itu. Seketika merasa bersalah pada ucapannya tadi. Jika selalu saja mengungkit masalah ini ketika lawan bicaranya adalah Sean, Abi pikir dia memang belum sepenuhnya ikhlas. Padahal tidak begitu, Abi sudah mulai menerima semuanya secara perlahan dan mencoba membuat topik yang sayangnya malah berakhir menyentuh titik sensitif pamannya. "Abi minta maaf, Om," aku Abi dengan wajah penuh sesal. Dihelanya napas mencoba mengukir senyum yang sayangnya gagal, Abi benar-benar menyesal. "Udah, Om cuma mau ingetin kamu kalau hidup nggak akan pernah lurus mulus kayak jalan tol." "Terus, Om," kata Abi tersendat, "papa kenapa bisa kayak gitu?" "Masalah pribadi," jawab Sean begitu saja. "Ya mungkin kamu udah tau kalau dulu orangtua kamu pernah punya ceritanya sendiri terus berujung nggak kontakan sama sekali. Papa kamu hidup sama rasa bersalahnya dan nggak tau harus nyikapin diri kayak gimana. Yang dulunya paling ribut di sekolah malah jadi paling diem di acara reuni, alasannya ya pasti karena mama kamu nggak ada di acara reuni itu. Tapi pelan-pelan untungnya papa kamu mulai sadar kalau hidup nggak terus-terusan buat dibawa ngutuk, tapi ada waktunya dia harus nikmatin apa hadiah yang udah Tuhan kasih nggak peduli mau itu besar atau kecil. Hidup perihal bersyukur, taukan?" Abi mengangguk, membenarkan tanya terakhir Sean. "Masalah perempuan emang selalu ribet ya, Om?" "Ya gitulah, A, kita laki mana ngerti. Apalagi kalau udah period, Om kayak mau digantung." Sean tertawa walau eskpresinya tampak lucu. Untung saja Kiyara---istri pria itu---sedang tidak berada di sampingnya atau Sean akan benar-benar digantung. "Oh ya, kamu gimana sama Renata? Om denger sebentar lagi resmi?" Abi tersenyum kecut, "Gitulah, Om. Cuma masih bingung." "Bingung apanya? Tinggal nikah doang bingung." "Iya, Om, iya, tinggal nikah," ulang Abi dengan nada sarkastik dan Sean malah semakin tertawa geli. "Enggak, tapi Om serius, apa yang buat kamu bingung?" Abi diam, lebih kepada berpikir karena bingung harus bagaimana. "Awalnya Abi yakin ngajakin Renat nikah. Tapi sekarang, nggak tau tiba-tiba jadi takut." "Udah Om bilang sama kamu, kalau cuma diliat terus dipikirin nggak pakai berhenti, makanya berat. Dijalanin, A, dibawa enjoy. Nikmatin semuanya. Nikah cuma sekali, ya kecuali kalau prinsip kita beda." "Gila, Om!" pelotot Abi langsung. "Terus Abi mau nikah berapa kali? Sebelas?" "Ya siapa tau," kekeh Sean dan Abi geleng kepala. "Intinya, A, kalau nanti udah resmi, pasti lega. Makanya dicepetin, urus dari sekarang. Ketemu dua keluarga jangan pakai undur-undur lagi. Makin diundur, makin nggak jelas takut kamu." Abi mengangguk, menerima nasehat Sean dengan baik sebelum akhirnya berdiri. "Makasih banyak ya, Om, udah mau jadi temen ngobrol serius kayak tadi. Kalau gitu, Abi bisa ke ruangan sekarang?" Sean berdiri sembari memasang kembali jasnya, mengangguk seraya mengajak Abi untuk mengikuti langkahnya. "Om anterin, khusus karena hari pertama kamu kerja." Abi menurut saja, lagipula akan lebih baik daripada ia hanya sendirian. Sean pasti akan bisa menjadi teman mengobrolnya. Mereka keluar dari ruangan Sean, dan tatatapan Abi langsung saja berubah ketika dilihatnya Moza tengah menunggunya di meja sekretaris Sean. Wanita itu tampak formal dengan blazer putih dan baju dalaman hitam, rok span hitam selutut dipadu heels putih. Wanita itu memang menyiapkan tampilan terbaiknya sebab tahu bahwa posisinya sendiri adalah sekretaris dari Managing Director. Ketika dilihatnya Abi, Moza menahan diri untuk bersikap baik. Dia tidak ingin semakin dipandang buruk oleh Sean selaku presiden direktur. "Saya mau anterin Bapak Abi dulu ke ruangannya, jadi kalau ada yang cari saya, kamu tau harus bilang apa, kan?" Sean berbicara dengan sekretarisnya. "Baik, Pak Sean," angguk sekretaris Sean dan pria itu kembali melanjutkan langkah. Abi mencoba menyamakan langkah Sean, meninggalkan Moza di belakang mereka. Sembari merapikan jas, Abi mulai menyalakan ponsel yang sedari tadi senyap. Diceknya sesaat benda pipih tersebut dan tidak menemukan notifikasi apapun. Abi menghela napas, disaat seperti ini dia merasa begitu merindukan Renat. Ketika masuk ke dalam lift, Abi mengambil tempat di belakang Sean, berdiri di sudut sementara Moza berada di bagian seberang sejajar dengan Sean. Paman pria itu tentu saja mengernyit, merasa ada yang aneh pada gelagat dua muda mudi di sekitarnya. "Ehem," dehem Sean dan Abi langsung saja mendongak dari ponsel. Sedang Moza langsung menoleh dengan pandangan penuh tanya. Sean baru akan bersuara ketika ponsel Abi bergetar. Abi refleks tersenyum dan Moza sukses menangkap pemandangan tersebut. 'Senyum kamu, Bi,' batin Moza penuh rindu. "Halo?" ujar Abi lebih dulu, menanti jawaban sang penelepon di ujung sana. "Mau pergi sekarang? Pulangnya biar aku yang jemput. Dah, hati-hati jangan loncat-loncat." "Loncat-loncat?" celetuk Sean dan Abi melemparkan tatapan bingung. "Monyet emangnya loncat-loncat." "Sembarangan, Pak," ucap Abi datar dan sengaja memanggil Sean lebih formal, karena jelas wanita di sebelahnya akan mendengar. "Oh iya, Bi, perusahaan ternyata bikin acara buat nyambut kamu. Saya denger kabarnya tadi. Minggu depan, ya sebenernya kejutan. Tapi kalau kamu taunya mendadak Saya tau kamu nggak suka. Makanya Saya kasih tau sekarang." "Hah?" respon Abi dengan wajah tidak berminat. Sean mengangguk, sembari mulai melangkah keluar lift diikuti keduanya. Berjalan menuju ruangan Abi. "Buat meja sekretaris, hak kamu mau letakin dimana. Saya cuma bisa anter kamu sampai disini karna masih banyak kerjaan yang harus diurus." Sean menatap Abi, tersenyum dengan uluran tangan. Abi menerima uluran tangan Sean, "Terimakasih, Pak." "Selamat datang di perusahaan, dan Saya harap kita dapat bekerja sama dengan baik." Abi mengangguk lagi, kemudian melepaskan tangan Sean dan membiarkan pria itu kembali berjalan menuju lift. Abi menghela napas panjang, merasa atmosfer di sekitarnya tidak baik. Tanpa berbicara sepatah katapun, Abi memutuskan meninggalkan Moza dan mejanya untuk berjalan menuju pintu ruangan kerja miliknya sendiri. Namun baru tiga langkah Abi bergerak, dia berhenti, lantas menoleh. "Meja kamu tetep di sini," ujar Abi dengan sorot mata dingin. "Temui Saya di ruangan sepuluh menit lagi, ada yang harus kita bahas." Setelahnya, Abi mulai memasukkan satu tangan ke dalam saku celana dan mulai berjalan menuju ruangan dengan pintu bertuliskan hitam managing director, kali ini tanpa menoleh sama sekali. Sedang Moza di tempatnya, hanya dapat menghela napas panjang. Abi bahkan tidak memberikan wanita itu kesempatan untuk berbicara. Moza tentu tetap diam, walau pikirannya bekerja banyak sejak tadi. ♦ r e t u r n ♦
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD