Renat merapatkan selimutnya ke badan, menutupi seluruh tubuh dari kaki hingga leher setelah menurunkan sandaran kursi. Abi di sebelahnya sudah hendak memejamkan mata, namun karena Renat belum kunjung terlelap, maka Abi menahan diri. Film di depannya terlihat semakin seru menunjukkan konflik, tapi Abi tidak begitu tertarik karena kantuk yang ia tahan sejak tadi. Renat diam-diam memperhatikan kegelisahan suaminya itu. Satu jam berlalu dihitung dari pesawat yang meninggalkan landasan Bandara Soetta, Abi terbilang lebih banyak diam. Bukan diam seperti sifat lahiriahnya, kali ini memang diam dengan cahaya mata sendu dan wajah kusut. "A," panggil Renat dengan suara pelan, takut mengganggu sekeliling karena mereka tidak memilih kursi kelas satu. Abi menoleh pada Renat dan memperlihatkan wajah l

