"Judith cuma capek." Helaan napas berat mengikuti ucapan Judith dari sudut ruang restoran. Ekspresi mata Judith kini terbaca dengan jelas. Sudah sekuat tenaga ia menahan diri, tapi di akhir perjuangannya, perempuan cantik itu menyerah. Abi terdiam, tatapannya lurus menuju Judith yang belum menyentuh makanannya sejak tadi. Pria itu baru saja menyelesaikan urusannya dengan salah satu pihak yang bersangkutan dengan Bia. Berkat bantuan teman yang lain, pihak Bia akhirnya menyetujui kembali agar Bia ikut serta. Selesai dari situ, Abi buru-buru kembali ke hotel untuk menjemput Judith. Masih ada tujuh jam lagi sebelum penerbangan mereka kembali ke Toronto, sehingga Abi memutuskan untuk menghabiskan sedikit waktu bersama Judith terlebih dulu. "Judith pernah punya keputusan buat pulang?" tanya Ab

