bc

The Arena Of Battle

book_age18+
787
FOLLOW
5.6K
READ
kicking
mystery
scary
like
intro-logo
Blurb

Cerita aksi biasanya didominasi oleh cowok baik yang teraniaya. Kadang cowok ganteng yang agak dingin, atau bahkan orang kaya tujuh turunan. Ada lagi yang miskin dan clueless. Heru? Haha... Dia jauh dari itu. Pertama dia nggak manis, cantik apalagi. Dia cowok! Berbatang, berbiji dua. Boro-boro manis, buluk iya! Wajahnya kusam gara-gara sering panas-panasan. Dia hobi main bola, makanya dia ikut ekskul PMR. Lah?

Tingkahnya jauh dari kesan manja ala cowok kaum bawah. Tingkahnya lumayan hiper. Ah, nggak! Oke, sangat hiper. Bahkan Heru sering disuruh duduk di bangku guru ketika ulangan. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kerusuhan dan kekhidmatan prosesi ulangan. Iya, sebesar itulah pengaruh Heru di kelas! Serusuh itulah tingkahnya selama ini.

Yang terakhir, dia naksir seseorang. Nah, itulah yang membuktikan Heru sebagai kaum atas. Pokoknya dia adalah cowok yang bertugas menyerang. Striker!

Heru percaya diri dengan kemampuannya, tapi dia patah hati di akhir. Orang itu menolaknya demi sepupu macho ganteng yang agak kurang normal. Heru belum sempat meratapi nasibnya karena "pengganti" orang itu tiba-tiba mendeklarasikan diri secara paksa. Dalam bentuk cowok macho, mas-mas jurusan kedokteran yang terobsesi dengannya. Heru mikir lama soal ini.

Dulu dia pernah bertemu mas-mas macho itu. Waktu Gigih masuk rumah sakit. Ada sedikit kecelakaan yang mengharuskannya berurusan dengan Mas b***t. Kenapa? Namanya memang Bejo Jatmiko. Apalagi saat Mas b***t mengejar-ngejarnya tanpa ampun, seolah-olah meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi di rumah sakit waktu itu. Mas b***t mupeng sekali mengganggunya.

Sejak pagi, ke siang, tembus sore, malam Mas b***t punya hobi baru mengganggu Heru. SMS, BBM, bahkan telepon tengah malam karena Heru terlambat membalas pesannya.

chap-preview
Free preview
1st

            Pertama, Heru itu bukan homo. Catet! Dia cowok lurus. Tegak, vertikal. Pokoknya jelas. Bentuknya juga super simetris, nggak bengkok aneh-aneh ke kanan maupun ke kiri. Heru jelas mengatakan kalau dia lurus karena memang begitulah adanya. Heru suka nonton bokep lurus, suka lihat cewek cantik yang dadanya melambai mirip pohon kelapa. Dia itu selurus-lurusnya cowok, senormal-normalnya batangan. Bahkan batangan itu begitu jujur. Dia bisa tegak dan mengacung ketika ditanya, "Ada cewek cantik seksi, tuh! Siapa yang suka?". Dan batangan itu kembali mengacung lalu berkata, "Saya, saya!"

Kedua, dia bukan homo. Pokoknya untuk yang pertama, kedua, dan selanjutnya pun dia bukan homo. Dia lurus. Normal. Dia nggak tertarik untuk menyelami dunia pelangi, atau sekadar ingin tahu. Heru nggak mau jadi anggota komunitas peduli batangan itu.

Dan yang ketiga, dia...

Jatuh cinta pada Chiko.

Chiko. Meski namanya manis mirip cewek, namun Chiko yang ini juga berbatang sepertinya. Chiko yang ini memang manis, namun dia nggak punya buah melon di d**a. Chiko yang ini juga punya selera sarkas yang tinggi. Chiko yang ini memang homo, namun Heru nggak punya waktu untuk jatuh cinta pada homo. Lalu Chiko? Chiko memang nggak pernah mengaku kalau dia homo, tetapi Heru sudah tahu gelagat Chiko yang nggak biasa itu. Chiko homo yang nggak sadar.

Heru juga nggak berharap Chiko jadi homo. Dia hanya jatuh cinta pada Chiko. Sayang sekali. Dia ingin Chiko selalu di sampingnya. Ingin tertawa bersama Chiko. Sesederhana itu. Hanya saja...

Heru sudah ditolak.

Chiko menolaknya, padahal Heru hanya mengatakan rasa suka saja. Dia nggak mengajak Chiko jadian, tapi Chiko menolaknya tanpa ampun. Kalau sudah begitu, Heru jadi serba salah. Dia lurus, jones. Setelah dia homo karena Chiko, Chiko juga menolaknya. Dia jones lagi. Status jones ganda masih setia dia sandang hingga nanti!

"Kenapa alismu berkerut gitu?" Chiko muncul tiba-tiba, lalu memukul kepalanya. Heru sudah biasa dengan tingkah kasar Chiko yang seperti itu. Dia nggak boleh baper kalau masih ingin berteman dengan Chiko.

"Masa pembalut doang yang boleh berkerut?" Heru balas mencibir. Chiko tergelak geli dan menendang betisnya. Beberapa hari ini Chiko terlihat sangat aneh. Heru sudah hafal kelakuan Chiko selama sekian tahun, jadi dia nggak kaget lagi.

Chiko itu moody, bisa berubah mencurigakan dalam hitungan detik. Meski Chiko moody, namun Heru masih bisa bertahan untuk berteman dengannya. Tapi sayangnya akhir-akhir ini Heru ingin sekali menghujat Chiko, lantaran cowok itu sudah mulai bermain api dengannya. Secara nggak langsung, Chiko sudah mempermainkan takdirnya. Heru kenal seseorang gara-gara Chiko. Seseorang yang sangat Heru benci, hingga melihatnya saja dia ogah. Pokoknya orang yang paling Heru benci seumur hidupnya.

Dulu Heru sering mengolok orang lain, jangan benci terlalu dalam, bisa cinta, lho! Karena itulah dia nggak pernah membenci orang lain dengan sangat dalam. Dia ingat karma. Lalu... orang itu datang! Mengetuk pintu hati Heru yang sebentar lagi pasti akan dijeriti oleh karma.

Heru sebenarnya nggak suka bermasalah dengan orang lain, namun sekarang dia mulai punya masalah. Dia diseret dalam hubungan aneh. Chiko juga berperan penting dalam hal ini. Heru dipaksa ikut campur dalam hubungan terlarang dengan mas-mas macho depan rumah Chiko. Namanya Mas Bejo. Mas Bejo yang ini bukan tipe cowok melambai yang terlihat lebih senang ditusuk. Pokoknya Mas Bejo terlihat sangat "sehat", "waras", dan juga "normal".

Heru nggak ada masalah dengan mahasiswa jurusan kedokteran itu pada awalnya, namun sekarang dia punya masalah besar. Kecelakaan besar di rumah sakit waktu itu membuat Heru dan Bejo tersandung dalam drama yang sangat aneh. Hanya gara-gara tragedi tabrakan bibir waktu itu, Heru harus berurusan dengan Mas Bejo.

"Ru, wajahmu jadi merah. Ada apa?" Chiko menyenggol lengan Heru, menyadarkan cowok itu kembali ke alam nyata. Heru merinding. Dia merinding bukan karena senggolan Chiko, namun lebih dari itu.

Dia bisa merinding disko hanya gara-gara mengingat masa memalukan itu! Apalagi Chiko, sebagai saksi hidup waktu itu nggak membantunya terlepas dari penempelan dua bibir sama jenis itu! Chiko dan sepupunya yang tunagrahita itu malah terkikik dan bertepuk tangan bahagia. Mereka sangat senang seolah-olah sedang nonton film India. Nggak waras!

"Apanya, Ko?" Heru balik bertanya, mengerjap dengan wajah bingung. Wajahnya makin merah karena malu.

"Kamu lagi mikir m***m?" tanya Chiko lagi. Heru melotot nggak terima. Bisa-bisanya Chiko menganggapnya sedang mikir m***m hanya karena wajahnya merah begitu! Chiko sialan!

Walau memang begitu, sih!

Heru sedang mikir geli sekaligus malu hanya karena mengingat masa-masa itu. Padahal dia berjanji pada dirinya sendiri untuk nggak terlalu pusing dengan masa kelam itu. Pokoknya itu nggak sengaja. Tapi Heru bisa apa? Itu ciuman yang kesekian, tapi rasanya aneh! Itu ciuman pertamanya dengan cowok. Punya batangan sepertinya.

Entah, ya... Bejo dan Heru itu seperti terikat oleh nasib. Spontan begitu saja, meski nggak ada persiapan ataupun rencana seperti kisah cinta yang di film-film itu!

"Kagak, ah!"

"Ru, aku kenal kamu udah beberapa tahun, jadi aku paham. Kamu mana pernah pasang ekspresi itu selain pas mikir jorok!"

"Upil, ah!"

"Kali ini bukan sama cewek, ya?" Chiko menaikkan alisnya. Heru melongo, melotot galak. Sebelah tangannya spontan membekap mulut iseng Chiko. Heru, cowok sarkas yang isengnya setengah mampus itu sekarang kena batunya.

Chiko yang mulai berbalik membalasnya, mengoloknya tanpa ampun! Ini pasti gara-gara orang itu!

"Aku bukan homo kayak kamu!"

"Sembarangan kalau ngomong!"

"Kamu apaan? Kamu naksir Mas Gigih! Udah homo, incest, lagi!"

Sabar, Ko! Heru memang begitu! Cara bicaranya memang kasar dan juga agak menyebalkan! Tapi dia tulus ketika berteman, Ko! Dia nggak munafik. Meski dia sudah mengaku kalau jatuh cinta padamu, tapi dia sama sekali nggak menjauh. Malah kalian lebih gila dari sebelumnya. Dia juga nggak pernah memaksakan keinginannya. Dia nggak egois, Ko!

"Jadi, ceritanya ada apaan? Kenapa wajahmu jadi merah-merah menjijikkan gitu?" Chiko cari aman. Dia nggak ingin obrolan ngawurnya jadi makin rumit dan menyebalkan. Bagaimana, ya?

"Ko, kalau aku ditaksir sama orang lain gimana?" Heru mengerjap. Sebenarnya hari ini dia ingin bercerita pada Chiko. Masa kalah dengan cewek bangku belakang itu? Mereka selalu curhat-curhatan di kelas mulai pagi hingga pulang sekolah.

Heru kan mupeng juga ingin merasakan serunya curhat! Lagi pula Chiko juga sering cerita padanya. Sekarang Heru juga ingin bercerita. Wajahnya merah bukan hanya gara-gara ingatannya soal kejadian di rumah sakit bersama Mas Bejo, namun juga karena hal lain. Heru malu-malu karena dia ditaksir seseorang. Ditembak lewat SMS pula. Dari gaya bahasa SMS-nya, Heru menebak kalau yang mengiriminya SMS ini adalah cewek cantik yang asal acak nomor.

Yes! Akhirnya dia kembali normal! Akhirnya dia bersatu dengan alam, jadi cowok tulen yang naksir cewek! Tugasnya sebagai Chikolover telah selesai! Dia nggak akan pernah baper dan menganggap Chiko manis lagi! Terima kasih untuk cewek manis cantik yang sudah mengiriminya SMS hampir setiap hari!

"Pagi, Heru! Met beraktivitas, ya!" Begitu isi SMS-nya.

Ah, Chiko saja nggak akan semanis ini bersama Gigih! Heru ngikik senang. Dia lupa kalau Chiko sedang menatapnya, menunggu dia bercerita. Chiko menunggunya bercerita tentang alasannya kenapa wajahnya merah. Heru nyengir. Wajah bodohnya itu terkadang menyebalkan.

Ditunggu tapi ternyata nggak jadi cerita! Ada yang begitu?

Oh, ada! Heru itu memang terlahir buat jadi muka badak yang sering membuat orang lain kesal. Nggak ada orang yang bisa membuatnya kesal. Selain Mas Bejo tentunya. Itu kali pertama Chiko melihat wajah shock dan juga emosi ala Heru. Heru jadi seperti bukan dirinya. Heru jadi makhluk yang teraniaya. Padahal biasanya dia yang hobi menganiaya orang lain!

Haha... karma! Makan, tuh!

"Cowok mana yang berani naksir kamu?"

Heru melotot nggak terima. "Ngawur! Cewek, kali!"

"Tahu dari mana kalau dia cewek?"

"Dari gaya bahasanya juga kelihatan, kali! Dia manis banget, Ko! Tiap pagi selalu ngucapin selamat pagi, trus pas siang juga... bahkan pas aku mau tidur juga diucapin good night. Kurang sempurna apa lagi, coba, ini cewek?"

Chiko melongo. "Cewek kok agresif gitu?"

"Sekarang emansipasi, Ko! Di Jepang aja udah biasa cewek ngungkapin cinta lebih dulu. Ah, manis banget, ya!"

Chiko menggeleng geli. Heru terlihat sangat gila. Dia terlihat alay, bahkan Chiko melihat bayangan pelangi di atas kepala teman isengnya itu. Heru mungkin sudah terlalu lama jones, makanya dia jadi berlebihan begitu! Chiko mencoba maklum dengan kondisi Heru.

"Kamu masih SMS-an sama dia?"

Heru mengangguk.

"Pernah teleponan?"

Heru menggeleng.

"Nggak sempat, Ko! Aku juga nawarin diri buat telepon dia duluan, tapi masalahnya dia bilang belum siap. Duh, meski dia berani SMS manis, tapi dia nggak berani ngomong langsung. Unik banget, kan?" Heru mulai lagi. Chiko melongo. Ternyata benar apa yang orang katakan.

Ada dua keadaan seseorang bisa jadi gila.

Pertama, ketika jatuh cinta. Seperti Heru. Kedua, ketika merasa kehilangan. Dua kondisi itu normal dialami oleh siapa saja yang masih punya hati. Sekarang Heru mengalami alasan yang pertama. Dia gila karena jatuh cinta. HP Heru bergetar. Dia menatap HP-nya, lalu tersenyum lebar. Cowok iseng itu berdiri, lalu melangkah keluar kelas. Sepertinya dia sedang menerima telepon. Chiko nggak sempat mendengar apa yang Heru ucapkan bersama si Penelepon, namun ketika Heru kembali, wajah cowok itu terlihat sangat menakutkan.

"Ko..." bisiknya. Chiko mendongak dan menunggu. "Ko... kalau ternyata yang kamu omongin bener, gimana, Ko?"

Chiko mengerjap nggak paham.

"Yang mana? Omonganku yang mana?"

"Gimana kalau cewek yang selama ini SMS-an sama aku ternyata cowok?" tanya Heru balik. Chiko nggak menjawab, namun dalam beberapa detik... cowok itu terbahak kencang hingga sakit perut. Akhirnya!

Heru kena karma lagi!

Heru menjatuhkan kepalanya di atas bangku dan mulai menjerit gila. Ah, sekarang sepertinya harus ditambahi alasan orang jadi gila untuk yang ketiga. Ketiga, orang bisa bertingkah gila seandainya apa yang dia harapkan ternyata mengecewakan.

Hingga jam pulang, Heru masih saja baper dan terus mengeluh.

***

Sebenarnya tadi siang semua kejadian itu terungkap begitu saja. Heru awalnya juga nggak mengerti kenapa gebetannya menelepon. Apalagi ketika Heru sedang sekolah. Untung saja waktu istirahat. Heru keluar kelas dan mencoba bicara. Dia sudah memasang suara paling seksi dan macho sebisa mungkin, namun suara yang dia dengar bukan suara cewek. Padahal Heru berharap dia mendengar suara cewek manis.

Namun nyatanya...

"Tugas kemaren udah selesai? Ah, belum... ambilin! Babi, HP-ku kepencet!"

Heru nggak akan baper kalau suara cewek yang terdengar di sana. Namun kenyataan nggak seindah yang dia harapkan. Heru mendengar suara cowok yang sangat macho. Suara bass yang lebih seksi daripada miliknya. Suara cowok tulen. Sepertinya juga lebih tua darinya.

Heru trauma dan juga menangisi nasibnya. Dia nggak berani menengok HP-nya. Bahkan setelah itu ada undangan BBM dari nama yang mirip dengan nama gebetannya. Mika. Namanya cewek, kan? Manis begitu! Kalau ada cowok yang bernama Mika, maka orang tuanya terkadang menggunakan tulisan yang berbeda. Seperti Mischa Chandrawinata. Cowok. Artis.

Kalau ini namanya Mika. Ah, Heru! Bisa saja nama lengkapnya Mikail. Atau Mikajan. Bisa saja Mikaplastik. Pokoknya jangan lihat jenis kelamin seseorang dari nama. Tapi sekarang terlambat, ya, Ru? Kamu sudah nggak melihat Mika dari sisi cewek. Kamu nggak menganggapnya manis lagi. Yang ada malah illfeel, kan? Itulah, Ru! Kekuatan karma itu memang menakutkan!

Kamu, sih sering menertawakan Chiko! Kena juga, kan sekarang?

HP-nya bergetar lagi. Kali ini SMS masuk. Lagi. Bukan hanya SMS, namun juga telepon. Heru memilih diam daripada harus mendengarkan penjelasan cowok itu. Apalagi Heru juga sempat bermain gombal-gombal manja. Dia sering sekali menggoda Mika dengan gombalan receh.

Seperti...

"Mika, ayah kamu tukang jualan jus, ya?"

"Ih, kok Heru tahu?"

"Iya, soalnya gerobaknya ketinggalan di rumahku."

Ah, Heru itu bukan tipe cowok yang bisa romantis sebenarnya! Dia kelewat iseng dan juga jahil. Tapi Mika dengan sangat manis, tanpa tersinggung, malah menjawabnya dengan emoticon mumpuni. Seperti, "Heru, ih! Bisa aja..."

Nah, terlihat super cewek, kan?

Dari gaya bahasanya saja sudah bisa ditebak kalau Mika ini pasti cewek manis yang agak-agak manja dan juga ceria. Heru sudah melambung hingga menabrak langit, tapi sekarang dia kembali kecewa dan juga baper berkepanjangan.

Heru jadi parno dan juga trauma. Dia menghindari Mika sebisa mungkin. Bahkan Heru juga berniat mengganti nomor HP-nya dan menghubungi Chiko, menceritakan tentang gebetannya ini. Tapi, rencana itu buyar. Heru tetap setia dengan nomor HP yang ini. Chiko bukannya prihatin, namun dia malah tergelak tanpa henti. Dia ngakak hingga sakit perut.

Bahkan Chiko juga mengoloknya, sampai Heru kesal dan memutuskan untuk menghentikan acara telepon curhatnya. Dia merasa berantakan dan juga galau akut. Apa dia sejones itu sampai harus bertemu dengan cewek jadi-jadian? Bukan jadi-jadian, Ru! Dia masih cowok. Suaranya cowok tulen, nada bicaranya juga cowokable. Kenapa cowok itu melakukan perbuatan memalukan itu juga kamu belum tahu, kan?

Cobalah untuk positive thinking, Ru!

Siapa tahu itu kakak dari gebetanmu. HP-nya nggak sengaja dibawa, atau karena itu HP jamaah begitu. Satu untuk berdua. Ah, bisa saja gebetanmu itu ternyata selingkuh denganmu! Untuk alasan yang terakhir itu sepertinya memang menakutkan, ya?

Heru mengerjap beberapa kali.

Tenangkan pikiran, Ru! Cobalah berpikir waras! Sekarang ada cara untuk mengetahui siapa sebenarnya Mika. Pertama, balas SMS-nya!

"Ru, tadi siang temenku gak sengaja pegang HP-ku dan nelepon kamu."

Heru tersenyum miris. Teman? Tadi dia mengatakan HP-ku, bukan HP Mika. Kecurigaan Heru masih belum selesai sampai di situ. Dengan penuh tipudaya, dia kembali membalas SMS Mika gadungan itu.

"Ah, aku malah sempet angkat, tp aku gak bs denger. Kelasku rame."

Bagus, Ru! Kita lihat saja apa yang akan dibalas olehnya! Heru menunggu. Kalau memang kecurigaannya benar, maka Mika gadungan ini pasti akan bernapas lega dan akan kembali seperti sebelumnya.

"Syukur, deh! Soalnya HP-ku td pas balik tuh ada panggilan keluar ke km."

Kenapa harus bersyukur? Harusnya kalau Mika memang cewek sungguhan, dia akan mengatakan maaf karena nggak sengaja meneleponnya. Kok malah...

"Biasa aja, Mika. Aku juga td lg gk sempat dengerin suara km. Pdhl aku pengen denger bngt. Boleh aku telepon skrg?"

Balasan yang bagus, Heru!

Dan kalau memang Mika gadungan ini benar-benar cowok, maka jawaban yang muncul pasti...

"Duh, jangan, Heru! Aku malu banget! Lain kali aja, ya!"

Nah!

"Kok jd malu? Kan kita udah biasa ngobrol, Mika."

Terus, Ru!

"Aku gk biasa ngomong langsung sama cowok."

Dusta! Heru sudah tahu kalau Mika yang ini sudah mulai menunjukkan kebohongannya. Heru nggak akan pernah menyerah sekarang. Dia harus membuka kedok Mika gadungan ini. Apa pun yang terjadi, Heru harus tahu motif apa yang sedang Mikarung ini sembunyikan hingga harus bermain peran sebagai cewek.

Kalau untuk uang, mungkin nggak. Mika nggak pernah membahas soal uang. Bahkan Heru sempat shock karena tiba-tiba ada yang mengiriminya pulsa hingga ratusan ribu. Dia anak sekolah yang nggak terlalu butuh pulsa sebanyak itu. Paket data internet? Dia hanya pakai ketika di sekolah. Di rumahnya ada wifi. Jadi dia nggak pernah menggunakan banyak pulsa.

Untuk apa pulsa sebanyak ini kalau Mika saja nggak mau ditelepon?

Heru juga malu. Masa cowok disogok dengan pulsa ratusan ribu? Mending uangnya ditabung. Ketika Heru mengeluh soal ini, Mika mengatakan nggak apa-apa. Mika mengatakan kalau dia sedang banjir pulsa. Heru beranggapan kalau Mika ini dari keluarga berada, makanya dia bisa mengirimi Heru pulsa meski nggak diminta.

Heru nggak menyerah. Dia masih mencoba menghubungi Mika. Kalau perlu, dia ingin meneleponnya.

"Anggap aja ini ganti pulsa yang waktu itu, Mika. Boleh, ya? Masa, sih kita udah SMS-an agak lama, tp aku msh blm pernah denger suaramu."

Lagi, "Jangan, Heru! Oh, ya... km udah makan?"

Mika mulai mengganti topiknya. Heru memang sering curiga, namun lagi-lagi Mika berhasil mengalihkan pembicaraan. Sekarang pun begitu. Heru nggak tahan lagi. Dia paling benci dengan pembohong. Bahkan menurut Heru, lebih baik kejujuran yang menyakitkan daripada kebohongan yang manis. Karena itulah dia memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Chiko meski nggak meminta Chiko jadi pacarnya. Dia belum siap jadi pacar homo-homoan.

Heru nggak membalas SMS Mika. Dia nggak tahan lagi. Setelah dia sampai sejauh ini, ternyata dia dikhianati. Heru menelan ludah ogah. Mika kembali mengiriminya SMS tanpa henti. Bahkan undangan BBM-nya juga masih ada. Mungkin dulu Heru berpikir positif. Mika ini sangat perhatian karena SMS-nya jarang dibalas, karena itulah Mika membelikannya pulsa agar bisa membalas SMS-nya tepat waktu. Namun sekarang, nggak lagi. Dia sudah tahu siapa Mika sebenarnya.

Bahkan ketika Mika juga mengiriminya pesan lewat whatsapp, Heru masih belum mengubah pendiriannya untuk membalas SMS dari Mika gadungan itu.

"Heru... km sibuk, ya? Ini Mika."

Persetan sama namamu, Mas yang kembak-mbakan!

"Heru udah tidur, ya?"

Bodo amat! Mau dia tidur atau nggak, itu bukan urusanmu! Heru mengeluh dan berguling di atas lantai kamarnya. Dia ingin curhat pada Chiko, namun pasti Chiko akan menertawakannya lagi. Mika gadungan ini mulai mengiriminya SMS, missed call, bahkan whatsapp. Heru sudah nggak tahan lagi.

Semakin lama dia begini, dia bisa makin gila! SMS yang dulu Heru tunggu sekarang jadi memuakkan dan sangat mengganggu! Heru harus mencari tahu siapa manusia laknat ini secepat mungkin, sebelum hidupnya berantakan karena makhluk batangan lain!

TBC

Masih awalan... Kita tunggu aja nanti! Hahahhahaa... Heru, Mbak Gaachan loves you... mumumu...


editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Vanda dan Cintanya (Farmer Family #7)

read
103.9K
bc

f****d Marriage (Indonesia)

read
7.0M
bc

Ilker's Bride

read
73.8K
bc

Sepenggal Kisah Gama ( Indonesia )

read
4.9M
bc

Be Mine (INDONESIA)

read
50.4K
bc

Possesive Ghost (INDONESIA)

read
114.4K
bc

Beautiful Bodyguard (Adams Family #6)

read
215.6K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play