Tugas pertama

1087 Words
POV VIONA Richard sudah menipuku melakukan hal ini. Apa aku wanita terbodoh di dunia mau menuruti permintaannya menerima tawaran kontrak demi cinta masa kecilku. Tak semua orang ingin berada di posisiku menjadi istri kedua dengan ujian sangat berat. Coba pikirkan saja, apa kalian mau merawat madu yang di cintai oleh suami kalian sendiri dan kau hanya mendapat kesakitan tanpa adil dalam cinta. Memikirkannya membuat semua orang takut apalagi menjalani posisiku, tiap hari aku hanya melihat adegan mesra suamiku dan aku jadi babu yang membersihkan kootoran istrinya. Terasa memuakkan tapi aku harus menjalaninya. Richard wajib membayarnya dengan mencintaiku juga sama seperti Queensha. Kami sama-sama istrinya yang butuh kasih sayang namun nasib baik belum memihakku. Lihatlah, sikap Richard yang sangat dingin bahkan terang-terangan tak menyukaiku padahal aku adalah sahabatnya. Sekali saja ia menatapku dengan tatapan mendamba. Mungkin aku tidak akan sesakit ini. Dia adalah pria paling egois yang pernah aku temui. Tapi aku tidak tahu hatiku ini, kenapa bisa mencintai pria yang sudah beristri dan bodohnya, aku mau saja menerimanya dengan perjanjian kontrak yang hanya menguntungkan Richard. Akan kubuat Richard jatuh cinta dengan caraku sendiri, aku akan berusaha menggantikan tempat Queensha walaupun tidak kumulai dari hatinya dulu. Aku akan berusaha menjalankan kewajibanku sebagai istri yang baik sekaligus merawat istri kesayangannya. Ada orang yang bilang bahwa kesenangan pria itu melalui ranjang dan mengisi perutnya dengan makan. Istri pintar memasak dan bermain di atas ranjang pasti menjadi idaman. Mereka pasti akan mencintai kita sepenuhnya apalagi aku istri cantik. Ini kesempatanku selama Queensha belum bangun dari koma. Aku berhak mendapatkan hakku dari Richard. Kita akan mencobanya mulai dari Minggu depan semoga aku beruntung. Setelah perasaanku membaik aku keluar dari kamar mandi melanjutkan tugasku selanjutnya menyuntikkan obat dan mengganti cairannya yang sudah habis. Semua kulakukan sukarela dan tak mengeluh lagi, aku harus tetap bertahan dan menjalani hidup dengan layak. Ketukan pintu terdengar nyaring di telingaku, aku buru-buru keluar membuka pintu kemudian melihat Lilia dan seorang dokter tua memakai jas putih kebesarannya. Aku menduga bahwa dia dokter pribadi Queensha. Tapi aku harus lebih berhati-hati dan bertanya lebih dulu. "Siapa anda?" tanyaku pada sesosok pria tua yang tersenyum manis. "Aku dokter Willson yang menangani Queensha. Aku juga dokter pribadi rumah ini sejak Tuan Nelson masih hidup," jawabnya memandangi diriku dengan tatapan aneh. "Dia berkata benar, Viona. Biarkan dia masuk!" Lilia ikut menjelaskan. Perlahan pria itu masuk. "Anda perawat baru Nona Queensha? Wajah anda tampak asing." Dokter Willson mengerutkan dahi mencetak keriputannya. Usianya mungkin sangat tua, seharusnya Richard tak membiarkannya bekerja lagi di usia yang sudah renta. Dokter Willson butuh istirahat di sisa umurnya, tapi lihatlah dirinya yang menampakkan senyuman padaku. Aku pun membalasnya dan kami saling berjabat tangan memperkenalkan diri. "Benar, Dok. Saya Viona perawat baru Nona," sahutku santai. Melepaskan jabat tangan kami. Aku mulai bersikap ramah setelah tahh dia bukan ancaman di rumah ini. Tak ada salahnya aku bertindak hati-hati. "Silahkan, anda masuk memeriksa Nona!" Tambahku lagi membuka pintu lebar-lebar lalu menutupnya membiarkan Lilia berdiri di luar. Aku hanya menjalankan tugasku tak membiarkan siapapun masuk ke dalam kamar Queensha. Dokter Willson berjalan tertatih melihat layar alat ventilator menampakkan garis tidak beraturan yang hanya naik turun. Ia juga menggunakan stetoskop mendengarkan denyut jantung Queensha lalu mengeluarkan medical light pen seperti senter pulpen. Dokter Willson membuka mata maduku dan menyinari menggunakan medical light pen. "Kondisinya stabil. Saya datang ke sini untuk memeriksanya dan membawa obat yang akan di suntikkan sore hari. Tolong, rawat Nona dengan baik. Bertahun-tahun saya berusaha mempertahankan nyawanya agar dia dapat hidup kembali. Nona Queensha sangat baik dia tidak pantas pergi dari dunia ini. Saya masih ingat dia meminjamkan saya uang tanpa sepengetahuan Tuan. Nona wanita paling baik yang pernah saya temui, bicaranya halus dan santun. Tak pernah marah sekalipun. Saya harap anda bukan orang jahat yang Mau menyakitinya." Dokter Willson memasang wajah sedih seolah menganggap Queensha adalah anaknya. Aku menatap iba, apa sempurna inikah istri Richard? Semua orang selalu memujinya karena perilaku terpuji yang di perbuat semasa ia hidup normal. Aku tidak menyangka banyak yang merindukan Queensha. "Nyawaku hanya satu, aku tidak berani menyakitinya. Tuan pasti akan membunuhku jika terjadi hal yang buruk pada Nona." Jawabanku itu membuat dokter Willson menarik napas. "Tentu saja Tuan memperingatimu karena berkali-kali orang lain mencoba membunuh Nona. Tuan Rich merasa bersalah atas Kecelakaan mereka. Itu sebabnya dia sangat sensitif jika ada yang mempermainkannya," jelasnya. Aku baru mengerti sekarang, sifat Richard tempramental karena istrinya juga. "Malang sekali nasib, Nona." Aku ikut sedih dengan kejadian sialnya. "Baiklah, aku pulang dulu. Kau sudah mengerti cara penggunaan obat ini?" tanyanya masih sulit mempercayaiku. "Tuan Rich sudah menjelaskannya padaku. Terima kasih." Percakapan kami berakhir. Sudah kuduga bahwa Queensha wanita yang baik. Tidak apa-apa semua akan berakhir semestinya, orang mengharapkan dia sadar kembali bangun dari mimpi indahnya. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, entah kenapa aku tak ingin dia sadar. Richard pasti akan menceraikanku tanpa pertimbangan lagi. Namun dia juga berjasa, keberadaanku di sini karena Queensha koma. Aku melanjutkan tugasku yang tertunda memastikan Queensha tidak bermasalah. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 2 siang perutku keroncongan dan sangat lapar. Entah kenapa perut ini tak bisa kompromi untuk menunggu sampai Richard pulang. Aku ingin keluar sebentar saja, sekedar untuk memanggil Lilia meminta makanan dan sebuah jus. Ternyata mengurus maduku juga melelahkan, tenagaku sudah habis terkuras terpaksa bekerja keras. Tak ingin lama menunggu aku membuka pintu ingin berteriak meminta sarapan apapun yang penting bisa mengganjal perutku. Saat membuka pintu aku terkejut dengan kehadiran Lilia yang masih berdiri di depan pintu membawa troli makanan "Ini makananmu, Viona. Aku tahu kau pasti lapar bekerja seharian. Tuan tidak ingin melihatmu mati kelaparan. Itu sebabnya aku membawa beberapa menu makanan," pungkas Lilia membuka kain penutup semua hidangan makanan. Air liurku hampir menetes melihat makanan lezat kesukaanku dan jus jeruk. Nikmat sekali sajiannya. "Terima kasih, Lilia. Semoga harimu menyenangkan." Suaraku kegirangan mengambil alih troli besi itu dan membawanya masuk pelan-pelan. Duduk di sofa dan mengambil piring, aku akan mencicipi semua makanan lezat ini sampai habis. Perutku berbunyi seperti tidak sabar menunggu lebih lama lagi untuk segera di isi. Sepuluh menit makan membuatku kewalahan dengan lauk pauk yang enak sekali. Aku bercita-cita ingin menghabiskannya tapi aku malah kekenyangan. Aku bersendawa kenyang menyandarkan punggungku di sofa. Sudahlah, makanan tak akan mungkin habis jika kumakan sendirian. Langkahku menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan membasuh muka. Aku duduk di sofa lagi dan istirahat. Mataku sangat mengantuk tapi mencoba melawannya dengan membuka mata lebar-lebar, beberapa menit kemudian semua tak bisa kutahan lagi hingga aku tertidur dan aku berdoa semoga Richard belum pulang dengan keadaanku seperti ini. Aku berjanji ini terakhir kaliku makan banyak lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD