Merawat

1092 Words
POV VIONA Richard membuka pintu kamar itu lalu masuk ke dalam, pelan-pelan langkahku kuayunkan. Yang pertama kali kulihat sebuah gorden menutupi ranjang Queensha, kamarnya cukup besar dan luas melebihi kamarku. Aku melihat pigura foto pernikahan Richard dan Queensha di dinding, wanita itu tersenyum lebar di samping Richard yang tanpa ekspresi. Tangan Richard menggeser gorden ke samping sehingga menampakkan wanita yang terbaring di atas ranjang dengan alat ventilator, yaitu mesin memompa udara ke dalam paru-paru melalui tabung yang di letakkan pada batang di tenggorokan. Pasien koma mungkin mengalami kesulitan dalam bernapas sehingga membutuhkan alat itu. Bunyi alat ventilator begitu menyeramkankan untukku, detak jantung tercetak jelas di sana menandakan dia masih hidup walaupun tak dapat bergerak seperti orang hidup pada umumnya. Aku mendekat berdiri di samping Richard mengamati wajah Queensha, mataku terbelalak wanita ini sangat cantik bahkan dengan tubuh tidak ideal lagi. Ya, badannya tampak kurus tidak seperti di foto pernikahan mereka. Aku minder berada di dekatnya. Kecantikannya bukan sainganku, bentuk wajahnya imut dan kulitnya putih mulus bagai porselen dan saat di sentuh halusnya seperti p****t bayi. Apa benar ini ciptaan Allah yang begitu sempurna? Aku saja sebagai kaum hawa tidak percaya ada wanita secantik ini. Richard memang pria bodoh yang dulu menyia-nyiakan istri cantiknya. Air liurku nyaris saja jatuh memandanginya, apalagi Richard yang notabennya pria normal namun apakah mungkin nafsunya menolak melirik maduku. "Kenalkan, ini Queensha. Mulai dari sekarang kau akan merawatnya. Tugasmu tidak banyak perhatikan saja jadwal obat, makan, dan urinenya di kateter jika sudah penuh," jelas Richard memandangiku. Rasa iba muncul di dalam lubuk hatiku, apa Queensha sudah menderita selama lima tahun dengan keadaan ini. Nyawanya sekarang di ambang kematian, dan aku pernah dengar jika pasien koma semakin lama bangun maka kecil kemungkinan untuk bisa hidup. Air mataku jatuh, aku kasihan padanya. Jika aku berada di posisinya mungkin aku akan merasa kesakitan setiap hari. "Jangan menangisi istriku. Dia belum mati, aku peringatkan padamu untuk tidak berbuat macam-macam. Sudah banyak sekali orang yang ingin membunuhnya tapi Queensha wanita yang kuat, kau tahu itu," ejeknya tak menatap mataku hanya fokus melihat istrinya yang diam. "Tidak, Tuan. Aku tidak akan berani berbuat macam-macam." "Bagus," Richard mulai menjelaskan pasien koma makan dan minum melalui cairan infus yang di masukkan ke dalam pembuluh darah venanya. Cairan infus tersebut mengandung elektrolit, yang terdiri dari garam atau zat lainnya untuk mencegah Queensha dari kelaparan dan dehidrasi dan aku harus menyuntikkannya 2 kali sehari. Queensha makan dan minum dengan selang PEG atau Percutaneous Endoscopic Gastronomy. Itu selang makanan permanen yang dimasukkan dari kulit perut langsung. Pasti sangat menyakitkan. Lewat selang ini, makanan buatan akan di masukkan langsung ke dalam lambung untuk di cerna. Awal koma Queensha dia hanya menggunakan tabung nasogastrik yang di masukkan melalui hidung lalu ke tenggorokan dan berakhir di lambung tapi Queensha tak pernah sadar dan masih koma sehingga dokter mengganti selang PEG untuk makan dan minumnya. Tentu terasa berat untuk Richard melihat istrinya mengalami kondisi ini, menyaksikan secara langsung pasien yang koma pasti sakit sekali. Entah, apa yang ada di pikirannya tapi aku tahu pasti bahwa Richard sangat mencintai Queensha. Penjelasannya yang terakhir ia mengajariku membuang urine di kateternya jika sudah penuh, aku hanya harus menyediakan botol dan memutar tutup kateter dan membiarkan cairan urine itu tumpah keluar lalu membuangnya di tempat sampah. Setelah itu aku bisa beristirahat di sofa di samping Queensha memastikan kesehatannya. "Kau mengerti semua penjelasanku, Kan?" Tanyanya memastikan. Dia tak ingin aku membuat kesalahan yang bisa membahayakan nyawa istrinya. "Aku mengerti, Tuan." "Satu hal lagi, jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan ini kecuali aku, kau, Dave dan dokter. Sehingga saat terjadi sesuatu dengan Queen, aku pasti akan menggantung dirimu, Dave atau dokternya di bawah tanah." Bulu kudukku merinding mendengar ancamannya, Richard berbahaya sekali menyangkut Queensha. Pelayan itu benar, Richard sensitif terkait maduku dan tak ingin orang lain berbuat kesalahan. "Kau bisa memulai tugasmu sekarang. Aku ke kantor dulu." Richard pergi dan meninggalkan aku di sini berdua dengan Queensha. Mataku menatap maduku lagi, wajahnya putih pucat bagai patung yang diam di atas ranjang. Richard telah menghukumnya selama bertahun-tahun dengan sikap dinginnya. Sungguh hidupnya sangat menderita Dengan cobaan menanggung banyak kesakitan. Pria es itu terlalu susah di tebak, dia hanya merasa berputar di satu bumi yang mengelilinginya saja. Rasa sakit hati di masa lalu menjadikannya Richard yang di takuti semua orang. Seandainya alat pernapasan ini di lepas, Queensha pasti mati. Ingin rasanya aku menangis lagi, melihatnya cukup menderita bertarung di ambang kematian. Tapi egoku meninggi merasa bahwa harusnya posisiku sebagai nyonya besar di sini, aku lebih dulu bertemu Richard di banding Queensha. Itu sebabnya aku tak merasa menjadi pelakor di antara hubungan mereka karena aku adalah ratu yang di buang dari kerajaan. Aku memang naif dengan sikapku tertutup tak mau membuka hati pada orang lain selain Richard. Aku mencintainya dari lubuk hatiku yang terdalam, bahkan posisinya tak pernah berubah sedikitpun. Dia masih matahari yang selalu menyinariku, aku tak bisa berbohong apalagi berusaha lari dari kenyataan. Pada dasarnya aku datang ke sini karena sebuah tujuan agar lebih dekat dengan Richard. Aku hanya pura-pura marah tidak ingin menerima posisi istri keduanya, naif itulah julukanku. Dan menjadi istri Richard adalah mimpi semua orang dan aku yakin tak ada yang bisa menolak pesona pria itu. Semua wanita berhayal menjadi orang terdekatnya. Richard pria yang selalu hadir dalam tidurku bahkan setelah memasuki usia matang. Ia masih terlihat tampan dan menggairahkan. Abaikan kata orang lain jika menganggap aku salah menerima posisi ini, semua yang terjadi sulit di analisa. Tugas pertamaku hari ini adalah membuang air seni Queensha, kateternya sudah penuh. Aku mengambil botol ukuran sedang dan memasukkan lubang kecil kateter ke dalam mulut botol, memandangi air seni itu jatuh sampai habis kemudian memasang penutup kateter dan memutarnya. Sebelah tangan kiriku menutup hidung sambil membawa botol, buru-buru menekan pedal tempat sampah hingga terbuka sendiri dan membuangnya. Rasa mual menggerogoti lambungku memaksa untuk muntah. Bau obat di kamar ini membuatku terasa pening. Demi apapun, aku merasa menjadi seorang babysitter tapi merawat orang dewasa. Aku berjalan secepat kilat ke kamar mandi memuntahkan isi perutku di closet lalu memutar westafel mencuci mulutku yang terasa asam. Sejenak menyandarkan punggungku ke dinding menormalkan jantungku yang berpacu cepat karena memaksa makanan keluar untuk kumuntahkan. Napasku terengah setelah memaksa alat pencernaanku memuntahkan segala makanan yang sudah di urai di perutku. Kepala dan perutku sangat sakit, aku memijit pelipisku lalu memegangi perutku yang terasa melilit. Dadaku sakit sekali, aku berpikir keras. Aku pelukis terkenal dan harus melakukan pekerjaan ini setiap hari. Mungkin otakku sudah error menerima perjanjian kontrak tergila yang sudah kutanda tangani. Harga diriku terinjak-injak dengan melakukan tugas bodoh merawat istrinya dan aku hanya dapat kemalangan saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD