Pagi yang menyebalkan

1085 Words
POV VIONA Bunyi burung berkicau mengganggu tidurku yang nyenyak semalaman di atas ranjang. Aku menggosok-gosok mataku, menguap lebar-lebar, dan merentangkan tangan ke atas meluruskan otot yang meregang. Aku terduduk sebentar kemudian menyingkirkan selimut membalutku tadi malam. Kakiku mencari sendal karakter bulu dan turun dari ranjang membuka gorden jendela. Melihat pemandangan di luar melalui jendela aku terkejut, ternyata kamarku punya balkon, tak menunggu lama langkahku menuju kesana. Saat berada di balkon, kurasakan pertama kali angin pagi yang segar. Mataku menghadap ke atas memandang langit, masih gelap tapi cahaya di ufuk timur mulai muncul, kutengok jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 5.30 A.M Mataku menangkap sebuah taman saat memandang ke bawah di sisi kanan dan sebuah kolam renang yang airnya sangat jernih. Pantulan cahaya lampu di dasar kolam membuat siluet putih yang bersinar. Kota London sangat indah dengan gedung-gedung tinggi namun masih bisa merasakan udara segar. "Indah sekali, aku rindu kota ini yang punya banyak cerita masa lalu yang tak bisa kuulang lagi," gumanku dalam hati. Aku menggosok-gosok lenganku yang terasa dingin kemudian tangan kulipat ke dadaa menyembunyikannya. Sepuluh menit di luar membuatku kedinginan apalagi aku mengenakan celana jeans pendek sebatas paha. Aku menyerah dan kembali ke kamarku, hembusan nafasku tampak berembun. Buru-buru aku mengambil selimut menghangatkan tubuhku lagi, ini terlalu dini hari untuk bangun. Saatnya melanjutkan tidurku. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuatku terbangun, kupandangi jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Aku menggerutu kesal, siapa yang menggangguku di pagi ini. Ingin rasanya mengabaikan tapi ketukan itu terus saja mengganggu kupingku. Aku terpaksa bangun sambil mengenakan selimut, menyeret langkahku yang terkatung-katung membuka pintu. "Ada apa?" Tanyaku melongokkan kepala keluar di sela pintu, tanpa memperhatikan siapa yang berdiri di sekarang, kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul, mataku selalu saja ingin tidur. Sebuah tangan menyentil dahiku hingga aku meringis kesakitan, berani sekali Lilia menyentil dahiku. Kata makian nyaris keluar sebelum melihat pria dingin ini yang memberiku pelajaran. "Auuhh! Lilia ...." Kataku terhenti melihat Richard sudah rapi mengenakan baju kemeja putih di balut jas hitam serta dasi merah bertengger di lehernya. Tak lupa pula Richard mengenakan sepatu hitam mengkilap. Kedua tangannya di masukkan ke dalam kantong celana sambil mengetukkan kakinya ke lantai memandangi diriku yang melongo tidak percaya melihat Richard di depanku. Selimut yang kubalut di tubuhku melorot begitu saja, matilah aku kali ini. Aku pasti mendapatkan semprotan makian mulut pedasnya. "Aku membawamu ke sini bukan untuk bersantai. Pekerjaanmu di sini mengurus istriku. Sadarlah siapa dirimu sebenarnya, kau hanya Wanita tak tahu untung. Cepatlah mandi lalu sarapan di bawah. Aku tak punya waktu untuk menunggu orang pemalas sepertimu," hardik Richard. Kata-katanya menjatuhkan harga diriku, sakit sekali ejekannya hingga menembus jantung.Apa Richard tidak sadar kalau aku yang membantunya di sini? Mana mungkin Richard mengingatnya, dia hanya mementingkan egonya sendiri. "Tuan, Rich yang terhormat. Saya akan mandi sekarang. Anda tidak usah menungguku jika anda punya banyak pekerjaan." Singgungku padanya lalu menutup pintu kamar. Telingaku masih jelas mendengar u*****n Richard tapi aku tak mempedulikannya. Hatiku sangat sakit dengan perkataannya tadi. Tiba-tiba semangatku di pagi hari menghilang, aku memasuki kamar mandi pelan mengambil sabun beraroma bunga Rose menuangkannya di baththub lalu memutar keran air. Aku membuka semua pakaianku dan berendam di dalamnya, menikmati relaksasi keharuman. Pikiranku kalang kabut masih tidak percaya, aku menjadi seorang istri sekarang dan menikmati kenyamanan di rumah ini. Aku tersenyum mengingat masa kecil kami yang sangat menyenangkan. Richard pernah mengatakan kalau kami pasangan serasi di masa depan dan itu semua terbukti. Aku menjadi istrinya namun hanya istri kedua. Setelah dua puluh menit aku keluar dari kamar mandi menuju walk in closet mencari pakaianku. Pilihanku jatuh pada dress lengan pendek santai berbahan katun lalu memoles wajahku dengan make up ringan dan lip tint merah. Tak lupa juga aku menguncir rambutku ke belakang. Suara flat shoes ku terdengar nyaring di gundukan tangga yang melingkar di ruang utama, perlahan aku bisa mengingat semua tata letak rumah ini dengan petunjuk Lilia kemarin. Aku menuju ruang makan dan Richard yang menungguku di sana, duduk di kursi meja makan panjang yang hanya akan di duduki aku dan Richard. "Apa kau melanjutkan tidurmu di dalam kamar mandi? Aku menunggumu lama sekali," umpat Richard kesal. "Tidak, Tuan. Aku tadi berendam." "Besok jangan terlambat lagi. Pukul 7 besok kau sudah berada di meja makan ini." "Iya," sahutku singkat. "Setelah kita makan, aku akan membawamu ke kamar Queensha dan menunjukkan semua tugas-tugasmu setiap hari. Kau harus tetap di dalam kamar menjaganya sampai aku pulang bekerja " jelasnya lagi. Aku hanya mengangguk mengerti mengiyakan perkataan Richard, tak ingin membantahnya sedikitpun sebelum tanduk merah di kepalanya muncul. "Kau dengar penjelasanku, Kan?" ulangnya lagi. "Iya, Tuan." Hanya suara dentingan sendok yang saling beradu tanpa ada pembicaraan. Aku melihat Richard menyudahi makannya, dia meneguk segelas s**u dalam diam. Mataku berbinar, wajahnya tak berubah sedikitpun di makan usia memasuki umur kepala tiga. Richard masih tampan. Apa tubuhnya menolak tua hingga awet muda seperti ini? Kekagumanku tidak cukup mendeskripsikan ketampanannya di lahirkan begitu sempurna. Selamatkan jantungku yang meledak-ledak sekarang. Hentikan khayalan bodohmu Viona, dia hanya milik Queensha dan kau boneka yang di Peralatannya. Sabar, hanya kata itu yang cocok denganku. Aku melanjutkan makan dan menghabiskan waffle coklat yang di sediakan oleh para pelayan rumah ini. Setelah selesai aku melap bibirku dengan sarbet lalu mengangkat piringku untuk kubawa ke westafel, aku tahu diri bahwa aku bukan nyonya di rumah ini. Aku harus bisa mengurus diriku sendiri, saat melangkah ingin meninggalkan meja makan suara Richard menghentikanku. "Simpan piring itu kembali ke meja, biar Lilia yang membereskannya. Kita akan ke kamar Queensha, aku tidak ingin berlama-lama, aku sudah terlambat untuk ke kantor," tegur Richard. Aku mengangguk menuruti perintahnya mengikuti langkahnya yang sudah berjalan lebih dulu. Kami menyusuri sebuah perjalanan berkelok-kelok dan langkah Richard terhenti di depan sebuah pintu, aku menduga ini kamar Queensha. Jantungku bertalu-talu cepat, aku memegang dadaku sakit. Apa ini kamar maduku? Entah kenapa perasaan takut menyelusupiku, dia orang koma tidak mungkin menghajarku karena merebut suaminya tapi tak dapat di pungkiri diriku dilema berat, merasa bersalah pada wanita ini. Aku takut jika Queensha tiba-tiba bangun saat ini juga dan bertanya siapa aku yang sebenarnya. Habislah aku jika harus mendapatkan hukuman sementara diriku di suruh oleh Richard yang selalu saja mengancam jika tak menuruti perintahnya. Pikiran aneh tiba-tiba muncul, jika aku tak meninggalkan London mungkin sekarang aku yang menjadi istri Richard satu-satunya. Kami berteman sejak kecil dan dia sudah tahu segala sifatku dan aku mengenal baik dirinya. Cinta itu harusnya muncul dari awal, dan Richard menikah bukan karena keinginannya. Kusadarkan kembali bahwa nasi sudah jadi bubur, yang penting sekarang aku jadi istri Richard walaupun tak di anggap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD