Jangan panggil Nona

1096 Words
POV VIONA Suara klakson mobil yang aku tumpangi menuju rumah Richard berbunyi keras. Sejak tadi aku memang tertidur di dalam mobil. Aku merasakan Dave me-rem mendadak saat di tiba di pekarangan rumah tuannya. "Turun!" Perintah Richard padaku. Pintu mobil bergeser ke samping dan mataku menangkap cahaya yang menyilaukan mata. Rumah ini tidak berubah penambahan cat warna emas saja di pintu utama, dan sisanya hanya warna putih untuk tembok bagian luarnya. Aku merindukan tempat ini, ingatanku kembali merekam saat kami masih kecil dulu Richard bermain kejar-kejaran denganku di dekat pilar. Jari manisku sudah tersemat cincin menandakan aku sudah menikah. Aku sudah menikah dengannya di New York dengan acara yang sederhana. Hanya Dave saksi pernikahan dan dokumen perjanjian kontrak kami. Air mataku meluncur saat prosesi akad nikah, malang sekali nasibku dengan memainkan pernikahan di atas kertas. Aku terpaksa melakukan semuanya demi ayahku, Richard berjanji akan melepaskan ayahku setelah enam bulan, dia butuh waktu untuk mengurus segalanya. Kepalaku terasa ingin pecah memikirkan nasibku ke depannya. Aku tak bisa terus seperti ini makan hati menghadapi sikap Richard yang terkenal dingin. "Hey, apa kau mendengar perkataanku? Aku memerintahkankanmu untuk turun dan kau malah berhayal di sini," gerutu Richard mengibaskan tangannya di depan wajahku. Aku baru tersadar, menyudahi lamunan masa kecil yang takkan terulang lagi. "Iya, iya ... Aku turun. Kenapa kau cerewet sekali sekarang?" Rasa kesal muncul saat aku menoleh ke samping Richard yang memandangku. "Kau mengataiku cerewet?" Ulangnya menampakkan wajah seram seakan siap memakanku. Aku bergidik ngeri, bodoh sekali mulutku ini tidak bisa kukendalikan, ucapan apapun keluar begitu saja. Bagai mengundang buaya yang sedang lapar siap untuk menerkam, Richard mengcengkeram kedua lenganku, ia semakin dekat hingga jarak kami tinggal lima centi, aku merasakan harum nafasnya yang memburu kesal. Richard pria tempramental. Ampuni aku Tuhan! Aku masih ingin hidup, tidak mau berurusan dengan pria ini lagi. Aku berjanji tidak akan bicara sembarangan padanya. "Tidak ... Tidak ... Richard. Aku tadi hanya bercanda saja," ucapku ketakutan berusaha melepaskan cengkeramannya. Aku melihat matanya melotot lagi. Wajahnya menjadi merah padam dalam seketika. Ah, bodoh sekali aku ini. Kesalahanku hanya satu yaitu memanggil namanya. "Berani sekali kau memanggil namaku seperti itu. Apa aku harus memperingatimu lagi agar tak memanggil kepanjangan namaku?" teriaknya kesal semakin menambah cengkeramannya membuatku meringis kesakitan. "Auhh! Lepaskan aku, ini sakit sekali. Maafkan aku tuan Rich," jawabku asal memegang kedua kupingku meminta maaf. Tak lupa juga memasang wajah memelas agar Richard tak marah lagi. Richard melepaskan cengkeramannya menandakan dia sudah tak marah lagi padaku. "Panggil namaku seperti itu. Masuklah! Aku akan menjelaskan semuanya di dalam. Dan jangan sekali-sekali berbuat ulah." Richard memperingatiku melangkahkan kakinya turun. Aku keluar dari mobil mengikuti kemana langkahnya berjalan. Seorang pelayan mengenakan pakaian seragam menyambut kami. Mereka menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. "Lilia antar Viona ke kamar atas. Dia perawat Queen yang baru, kau sudah mempersiapkan kamarnya, Kan?" Tanya Richard pada salah satu pelayan dengan pakaian seragamnya yang berbeda. Aku pikir dia mungkin kepala pelayan di sini. "Baik, Tuan. Kamarnya sudah saya siapkan. Mari, Nona! Ikut saya ke atas." Lilia mempersilahkanku ikut dengannya. "Jangan panggil Viona Nona, panggil saja namanya langsung. Hanya satu Nona di rumah ini yaitu Queensha," jawab Richard menaikkan nada suaranya. Jawaban itu menyakiti hatiku, seharusnya aku pantas mendapatkan panggilan Nona. Aku istri Richard juga sekarang, posisiku sama dengan Queensha. Kami sama-sama istrinya, hanya saja orang lain tak tahu statusku yang sebenarnya. Berulang kali aku menguatkan hatiku agar tak cengeng, aku sudah memilih jalan ini dan harus terima konsekuensinya. Pelupuk mata sudah berair bersiap untuk di lepaskan tapi aku berusaha menahannya. Aku tak ingin terlihat lemah dan menangis di depan Richard. Kedatanganku ke sini hanya membebaskan ayahku dari penjara dan mendapatkan uang kompensasi yang Richard sudah janjikan. "Baik, Tuan. Saya ke atas dulu bersama Viona," jelas Lilia. Ia membungkukkan badan dan kami meninggalkan Richard yang mengangguk. Rumah ini semakin bertambah luas atau mungkin aku yang keliru. Bertahun-tahun meninggalkan kediaman ini membuatku merasa asing dengan suasananya yang sedikit suram, terdapat luka di sini yang telah lama tenggelam. Rumah ini memang penuh luka, aku sangat mengerti bagaimana penderitaan Richard hidup sebatang kara dan sekarang Queensha ada di ambang kematian. Bahagia sekali bisa masuk ke dalam rumah ini setelah bertahun-tahun. Walaupun melalui jalan pintas menjadi istri kedua aku tidak perduli yang penting aku bisa hidup nyaman di sini bersama cinta pertamaku. "Lilia, sudah berapa lama kau bekerja di sini?" Suaraku tampak berbisik tepat di sampingnya. Kuganti topik pembahasan tentang rumah ini, aku tak mau otak dan hatiku saling bertengkar. Lalu mendekati Lilia, mengorek banyak hal, siapa tahu ada tragedi penting. "Apa itu penting bagimu?" wajahnya datar tak menunjukkan wajah bersahabat. Seisi rumah ini mungkin di tulari oleh watak Richard yang dingin sehingga mereka terlihat kaku. "Tentu saja penting, aku ingin tahu segalanya tentang rumah ini. Aku akan bekerja merawat Queensha." Suaraku terdengar santai. Kata-kataku itu malah mengundang kemarahan kepala pelayan Lilia. "Hati-hati jika kau bicara Viona. Jika ingin bertahan lama bekerja di sini jaga sikapmu! Panggil nama Queensha dengan sebutan Nona, kau tidak pernah melihat Tuan marah jika menyangkut Nona. Di sangat sensitif," sahut Lilia berusaha memarahiku. Aku terkejut apa semua orang di sini tidak pernah bahagia sehingga sikap mereka sangat tegang saat berinteraksi. "Iya, Maafkan aku Lilia. Jika aku butuh bantuan, maukah kau membantuku?" mendapat sebuah bentakan dari pelayan membuat hatiku mencelos. Aku tak terbiasa dengan sebuah atmosfir kemarahan karena ayahku tak pernah marah padaku. "Dengan senang hati," jawabnya singkat. "Apa kamarku masih jauh?" Kakiku terasa pegal sekali berputar-putar di sebuah lorong yang tidak aku mengerti. Mata "Sudah sampai. Kamar anda yang ini." Tunjuknya padaku. Aku menghela nafas lelah, syukurlah akhirnya tiba juga. Hampir saja stok nafasku habis berkeliling di sini. Aku kegirangan meminta kunci pada Lilia, dia memberikan sebuah cardlock dan meninggalkanku. Tanganku cekatan menempelkan cardlock di pintu lalu memutar handlenya, mataku berbinar saat melihat luasnya kamarku yang di hiasi ranjang king size dan walk in closet. Cat temboknya hijau tosca sesuai kesukaanku, di tambah lagi lampu kristal besar menggantung di langit-langit tepat di atas ranjang. Aku buru-buru membuka flat shoesku dan memasuki walk in closet mencari baju yang cocok. Baju kaos putih polos dan celana jeans pendek di atas lutut menjadi pilihanku, aku membuang diri tepat di atas ranjang yang empuk sekali, sudah lama aku tidak tidur di ranjang sebagus milik raja Salman. Aku pernah merasakan tidur nyenyak di atas kasur saat ayahku belum bangkrut, aku setuju menjadi orang kaya sangat enak. Semua berjalan semau kita, tinggal memililh apa yang kau inginkan dan semuanya menjadi nyata. Aku menguap lebar-lebar menatap langit-langit rumah, mataku sudah mulai di kuasai rasa kantuk dan aku terlelap dalam mimpi indah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD