Keputusan terberat

1346 Words
POV RICHARD Butuh waktu lebih dari 7 jam untuk sampai di New York dengan jet pribadi, aku berangkat bersama Dave. Aku tak memikirkan apapun lagi selain targetku, seorang wanita sahabat masa kecilku karena perbuatan bodoh ayahnya mencuri saham salah satu perusahaanku. Mungkin saat itu ayahnya berfikir akan bisa mengalahkanku karena aku masih belum cukup berpengalaman tapi dia salah besar aku berhasil menjebloskannya ke penjara dengan satu kali sidang. Sebenarnya aku tidak akan jatuh miskin hanya karena pencurian yang dilakukan ayahnya hanya saja aku tidak suka penghianat. Setelah mendapatkan informasi mengenai keberadaannya, aku tidak membuang waktu untuk mendatanginya di New York. Kudengar dari informasi yang dikumpulkan Dave ia akan melakukan pameran lukisan pertamanya besok di Metropolitan Museum of Art, aku tidak akan menunda untuk membawanya kembali dan menjadikannya perawat untuk Queensha. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya, kurang lebih tujuh tahun semenjak ayahnya ku jebloskan kedalam penjara wanita itu juga pergi meninggalkan kota London. Padahal kami dulu adalah sahabat baik. Karena itu aku bersedia melakukan kerjasama dengan perusahaan ayahnya. Aku menginvestasikan uangku pada proyeknya tapi tua bangka itu malah berkhianat dan mencuri uangku lalu bermain busuk membuat harga saham salah satu anak cabang perusahaanku anjlok dan si bodoh itu menggunakan uang investasiku untuk membeli perusahaan tersebut. Bodoh sekali bukan? Aku sangat membenci yang namanya penghianatan dan kebohongan. Menurutku kedua hal itu adalah bom waktu yang akan meledak kapan saja saat faktanya terkuak. Karena penghianatan yang dibungkus dengan kebohongan pernikahan orang tuaku berantakan bahkan nyawa ibuku harus terenggut akibat dusta yang selalu saja ayahku berikan. Tak bisa kupungkiri, aku memang sangat mencintai uang, dulu kakek Nelson berkata jika aku kaya, mereka semua akan tunduk dan mencari muka kepadaku. Aku bisa melakukan dan mendapatkan segalanya dengan uang meskipun faktanya uang tidak bisa membeli nyawa ibuku waktu itu. Jika kamu memiliki uang maka kehormatan tertinggi akan menjadi milikmu. Dengan uang aku bisa melakukan segalanya termasuk membuat Queensha tetap hidup disisiku meskipun perlengkapan rumah sakit yang mahal. Aku kagum pada kakekku yang bisa menduduki puncak bisnis selama bertahun-tahun tanpa bantuan anak sialannya itu. Anak laki-lakinya hanya bisa menghamburkan uang dengan jalang di Club malam. Akhirnya, aku tiba di tempat tujuanku dan bertemu dengannya Viona Rosallin. Saat melihatnya berdiri dibalik podium pelelangan aku tidak percaya, dia terlihat jauh lebih mengagumkan sejak terakhir kali aku melihatnya. Wajah cantik dan kulit putih bersih dilengkapi dengan bentuk tubuh proposional dibalut gaun elegan berwarna biru frozen yang mengekspos bahu indahnya, cantik. Kurasa kata itu cocok untuknya namun tetap saja Queenku yang terbaik. Viona memang cantik tapi Queenku jauh lebih sempurna. Entahlah, kenapa sekarang aku mengaguminya. Segera ku singkirkan fikiran-fikiran tidak berguna untuk kembali fokus pada tujuanku. Aku ikut andil dalam pelelangan lukisannya, duduk di belakang dan memperhatikannya secara seksama. Saat lukisan terakhir, aku mengambil kesempatan untuk menawar lukisannya. Tampak seorang anak kecil sedang menunggangi seekor kuda, tapi ada yang aneh dengan lukisan itu aku seperti merasa yang ada dalam lukisan itu adalah diriku. Mungkinkah dia memang sengaja melukisku? Terserah aku tidak peduli. Kutawarkan harga tinggi agar tidak perlu melakukan tawar menawar dengan orang lain lagi, menurutku terlalu membuang waktu. "Satu juta dollar," teriakku menawarkan harga lukisan itu. Mendadak semua orang bungkam dan beralih menatapku. Aku cukup gila melakukan penawaran setinggi itu hanya untuk lukisan dari penulis yang biasa-biasa saja. Intinya aku hanya ingin pelelangan ini segera berakhir agar aku bisa berbicara dengan sang pelukis. Setelah berhasil memenangkan lukisan itu Mc lalu bertanya siapa namaku "Richard Nelson," jawabku lalu membuka kacamata hitam yang kukenakan. Kulihat Viona tampak terkejut mendengarnya, dia sama sekali tidak berani menatapku entah apa yang ada dalam pikiranya. Saat Dave menyelesaikan administrasi dengan pihak penyelenggara aku berjalan mendekati Viona yg masih menegang ditempatnya lalu aku mengatakan ingin bicara empat mata dengannya. Viona lalu menuntunku kesebuah ruangan di museum, kurasa itu ruangan yang disediakan untuknya. Setelah berada dalam ruangan aku menjelaskan tujuanku datang kemari untuk melamarnya. Bukan untuk menjadi istriku satu-satunya tapi istri kedua yang akan merawat istri pertamaku. Aku mengerti semua wanita baik-baik yang di minta jadi istri kedua pasti akan menolak. Tapi Viona harus bersedia menjadi istri keduaku, aku hanya bisa mempercayainya. Meskipun banyak yang bersedia menjadi istri keduaku diluar sana tapi aku tidak bisa mempercayai mereka. Emosi kembali menyelimutiku saat Viona menolak menjadi istri kedua, apakah dia tidak mengenalku? Aku tidak mungkin datang menemuinya dengan tangan kosong. Viona tampak kecewa saat mengetahui aku sudah menikah dan akan menjadikannya istri kedua. Terserah aku ingin menikahi siapapun apa haknya terlihat kecewa apa karna aku tidak mengundangnya kepernikahanku dengan Queen? Viona tidak perlu tahu jika aku menikah karena paksaan kakekku. Dan aku sudah jatuh cinta pada istriku. Itulah kenyataannya. Queensha istri cantik dan baik, belum tentu aku mendapatkan wanita seperti dirinya lagi yang sabar menghadapiku selama bertahun-tahun dalam hubungan yang tidak sehat. Salahku memang tak pernah menghargainya, aku hanya terus menyalahkan dirinya atas pernikahan konyol ini. Kakek Nelson benar, wanita baik jarang datang dua kali dalam hidup dan aku tidak mau menyia-nyiakannya lagi. Aku tidak ingin kehilangan Queensha. Jika aku kehilangannya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, tanpa Queensha hidupku akan hancur karena Queen telah memiliki hatiku seutuhnya. Aku tahu perasaan ini sudah cukup lama hadir dalam hatiku tapi aku terus berusaha menolaknya karena tidak ingin berakhir menyedihkan seperti ibuku yang mati ditangan orang dicintainya. Seandainya kakek masih hidup mungkin akan menghajarku karrna gagal menjaga istriku yang berharga. Queensha hanya punya diriku di dunia ini, dia cucu dari rekan bisnis kakek Nelson yang hilang sewaktu kecil dan hidup di panti asuhan bersama anak kecil lainnya yang kurang beruntung. Orang tuanya telah meninggal dalam kecelakaan pesawat setelah beberapa bulan Queensha di temukan saat berumur 17 tahun. Kakek Queensha juga sudah meninggal lima tahun lalu, kakeknya stres dan membuat kondisi kesehatannya menurun melihat cucu satu-satunya koma, kakek Queen tentu saja menyalahkanku atas kecelakaan yang terjadi. Aku harus bisa meyakinkan Viona untuk menerima tawaranku setidaknya dengan kehadiran Viona satu masalahku akan hilang yaitu keamanan Queen tidak akan terancam lagi. Aku memang jahat karena mengancamnya jika tak menuruti keinginanku, akan kubunuh ayahnya didalam kurungan besi itu. Aku terpaksa melakukannya agar Viona mau menuruti keinginanku menjadi istri kedua untuk merawat Queensha. Menurut orang lain hal semacam ini pasti tidak masuk akal, tapi aku tetap harus melakukannya Queen harus dijaga oleh orang terpercaya agar Sean tak lagi punya celah untuk mencelakai istri kesayanganku. Harus kupastikan Viona menerima tawaranku bagaimanapun caranya. Setelah menyelesaikan kesepakatan segera kuputuskan untuk langsung menikahi Viona hari ini juga. Aku tidak bisa meninggalkan rumah terlalu lama, aku tidak bisa menjamin Sean tidak akan menyerang Queen lagi saat aku tidak dirumah. Viona akan ikut denganku ke London dan tinggal di rumahku. Aku memerintahkan Dave menyiapkan jet pribadiku untuk pulang ke London malam ini juga. "Dave, segera atur jadwal kepulangan kita agar cepat tiba di rumah. Aku tak ingin berlama-lama meninggalkan Queen," ucapku pada asistenku. Rasa rindu sudah memuncak di hati dan ingin memeluk tubuhnya yang mulai kurus. "Bisakah aku kembali ke apartementku untuk mengambil pakaian? Aku juga ingin bertemu Diana orang yang telah membantuku selama tinggal di sini." Viona berkata dengan mimik muka memelas. "Tidak! Kau tidak perlu pulang ke apartemenmu, biar Dave yang mengurus semuanya. Dan telepon saja temanmu untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak mau buang-buang waktu untuk mengurus hal yang tidak penting," tegasku padanya. Semua yang diinginkan Viona tidak penting, Dave bisa mengurusnya dan aku sudah tidak sabar ingin segera pulang bertemu Queensha. "Tapi ...." wanita itu ingin membantah. Namun, aku memotong ucapannya. "Jika kau tak mau mendengarku, tunggu saja kabar kematian ayahmu." Ancaman itu berhasil, membuat Viona bungkam. Ia membuang muka padaku dan tak mau bicara lagi. Aku tersenyum puas saat yang kuinginkan tercapai, padahal mana mungkin aku membunuh tua bangka itu untuk hal sepele. Setelah 1 jam berlalu Dave telah menyiapkan semuanya, kami berangkat menggunakan jet pribadiku meninggalkan kota New York. Viona punya permintaan ingin punya ruangan untuk melukis, hobinya itu akan di salurkan ketika istirahat. Viona takkan menjaga Queensha 24 jam, aku yang akan menjaganya saat pulang bekerja dan tidur di samping istriku. Membelai wajahnya, dan mengucapkan selamat tidur setiap malam dan selamat pagi setiap aku terbangun. Mungkin semua orang menganggapku gila dengan sikapku tidak wajar tapi aku tidak peduli pada mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD