Alex Bramasta, 1 tahun kemudian

1644 Words
Alex Bramasta alias Bram sedang memeriksa ulang barang² yang akan dibawa ke Surabaya. Mulai minggu depan dia mulai ditugaskan memjadi Branch Manager di B** cabang Surabaya,yang artinya bisa dibilang pulang kampung. Setelah menyelesaikan pendidikannya,Bram melanjutkan berkarier di tempatnya magang,sebelum kemudian pindah ke Jakarta. Bram merogoh kantong back packnya,dikeluarkannya sebuah kotak biru kecil,di dalamnya ada sebuah cincin emas putih bertatahkan 1 berlian yang cantik. Modelnya sederhana tapi elegan. Cincin ini dibelinya 2 tahun yang lalu,saat Bram menerima komisinya yang ke sekian dari magang di sebuah kantor perwakilan sebuah bank di Indonesia. Cincin itu mengingatkannya pada Ocha : simpel,unik dan elegan. Selama Bram.menuntut ilmu,memang mereka tidak pernah saling kontak.Bram tidak bermaksud untuk mengikat Ocha. Seandainya Ocha sudah menemukan tambatan hati, Bram akan merelakannya. Bram mengumpulkan kopernya,menatanya di trolly,lalu mulai mendorongnya menuju pintu keluar.Matanya mulai mencari² keluarganya diantara oara prnjemput yang bergerombol di sisi kiri dan depannya. "Mas Braaaam " seru seseorang di deoan sana. Bram melihat adik bungsunya melambai² sambil meloncat². Begitu Bram keluar dari garis batas,Amel langsung meloncat memeluk kakaknya itu. Bram tertawa sambil menopang kaki Amel yang meloncat minta digendong. "Diih,malu tuh dilihat orang" katanya tapi tidak menurunkan Amel. "Biar aja,mereka kan ga tau berapa lama aku ga ketemu abangku" jawab Amel cuek. Akhirnya Amel turun,mundur sedikit unuk mengamati kakaknya itu. Bram menaikkan alisnya bertanya. "Mas berubah banyak,apa Ocha masih kenal nanti?" tanya Amel serius. "Kalian masih saling kontak?" tanya Bram antusias. Amel mengangguk. Mereka beriringan mendorong trolly ke tempat parkir. "Aku ga tau apa alasan mas memutus kontak dengan Ocha. Sedang mas janji akan pulang untuk dia" Mereka mulai memindahkan barang² ke bagasi mobil,lalu Bram duduk di bangku depan di samping Amel yg memegang kemudi. "Aku tidak ingin mengekang Ocha,Mel. Maksudku,kalau seoanjang waktu ini dia sudah menemukan pendampingnya,aku tidak akan menghalangi" Amel menatao kakaknya itu sesaat dengat pandangan tidak suka.Alisnya mengernyit tajam,lalu dia menggeleng oelan dambil kembali fokus ke depan. "Lelaki dengan segala pemikirannya yang dikira selalu benar" "Di mana Ocha sekarang,Mel?"tanya Bram. Ocha menggeleng. "Mas cari tau sendiri. Mas yang memutuslan untuk tidak berkomunikasi dengan Ocha selama ini. Cuma satubyang mau aku kasih tau : Ocha masih menunggu mas pulang" Dalam hari Amel berkata,maafin aku ya Cha. Biar ini jadi pelajaran buat mas Bram. Kalau dia serius,pasti dia akan memcarimu. Tak lama merrka sampai di rumah. bram langsung masuk ke rumah diikuti Amel,sedangkan barang² diurus oleh pak Dadang dan bi Yati. "Assalamu'alaikum" ucap Bram saat memasuki pintu depan. "Wa alaikumsalam " terdengar jawaban dari beberapa suara. Ternyata tante Ndari dan Lita sedang ada di situ juga. Bram memeluk mamanya erat. "Sehat,ma?" tanyanya sambil memeluk mamanya. tante Maya mencium kedua pipi Bram lalu memeluknya lagi. "Oiya,ini kenalkan tante Ndari dan putrinya Lita. Rumahnya di cluster sebelah" Bram menyalami tante Ndari dan Lita yang mulai berbinar² "Ini anak nomor 3,mulai Senin nanti dinas di kantor cabang utama di sini" kata tante Maya. *Oo,berarti mas branch manager baru itu ya?Kita satu kantor nanti"celrtuk Lita. Bram tersenyum,lalu pamit ke dalam untuk bersih². Ketika Bram sudah ada di lantai 2,terlihat Amel sudah menunggu di depan kamarnya."Ada apa?" tanya Bram "Awas klo dekat² sama Lita. Hati² aja,tante Ndari terobsesi punya besan prjabat dan mantu yang tajir" ucap Amel mengingatkan. Ba.tersenyum sambil memgacak² rambut Amel. Seminggu berikutnya adalah hari² yang sibuk untuk Bram,karena dia harus keliling ke cabang² dan mempelajari pekerjaan yang harus diselesaikan. Selama seminggu ini,Bram selalu berangkat ke kantor nebeng mobil Amel karena kanyor mereka juga berdekatan. Amel yang menolak tawaran Lita untuk merangkat bareng dengan Bram. Alasannya sudah lama ga ngobrol dengan Bram.Hahaha Dan mulai bulan depan,Bram akan tinggal di apartemen di dekat kantornya. Hanya saat libur dia akan memginap di rumah mamanya. Setelah itu Bram.akan fokus demgan hubungannya dengan Ocha. *Sebulan kemudian* Bram dan mamanya keluar dari Bandara A Yani Semarang,kemudian menaiki taksi online menuju ke Salatiga,ke rumah Om Danu. Bram sudah menceritakan semuanya pada mamanya,yang tentu saja terkejut bahagia. Selama ini mamanya tidak tau sama sekali dengan cerita Bram dan Ocha. Lalu tante Maya menyarankan supaya Bram langsung ke Salatiga untuk meminta ijin pada Om Danu. Amel sudah mewanti² mamanya untuk tidak memberitahu Bram di mana Ocha. Kebetulan,selama Bram di rumah,Ocha tidak menginap di rumah tante Maya. Mereka sampai di rumah pak Danu sekitar pukul 11 siang,dan disambut gembira oleh tuan rumah. sebelumnya Tante Maya sudah memberukan kabar kalau mereka akan berkunjung. Setelah bebersih dan makan siang,Mereka pun ngobrol di teras belakang yang menghadap ke taman kecil yang asri. "Bagaimana,Bram?" tanya Om Danu "Iya,Om" jawab Bram,lalu menarik nafas panjang untuk memantabkan hatinya. "Saya minta ijin untuk serius dengan Ocha,om. Saya bermaksud melamar Ocha" "lho katanya mau ijin pendekatan dulua,Bram?" tanya tante Maya heran. "Bram pikir,pacaran setelah menikah akan lebih baik,Ma"jawab Bram. om Danu mengangguk² sementara tante Maya dan tante Dinar saling menatap bahagia. "Pada intinya,Om dan tante memberikan restu,Bram.Karena keluarga kita juga sudah saling mengenal sejak lama.Apapun pilihan Ocha,kami sebagia irang tua akan mendukung. Tapi.." "Tapi krnapa,Om?" "Sebaiknya nak Bram juga mibta ijin ke Soni,kakak sulung Ocha" Om danu berhenti sebentar untuk memgambil segelas air putih di depannya. "Om tidak tau apa yang terjadi,sepertinya Soni sangat protektif terhadap Ocha kalau menyangkut Bram" sambung om Danu. Bram terdiam sebentar. "Baik,Om. Kapan saya bisa menemui mas Soni? "Assalamu'alaikum" tiba2 terdengar salam dari depan "Wa alaikumsalam" jawab mereka serentak. Ternyata Soni yang datang dengan istri dan anak²nya. Mereka datang dari Jogjakarta,berangkat sekitar jam 10an siang tadi. Begitu memasuki rumah,Soni meminta istrinya untuk membawa anak² mereka ke taman di depan rumah dulu sementara Soni langsung berderap masuk ke dalam. "Mana si b******k itu" ucapnya garang sambil melangkah ke teras belakang. Spontan tante Dinar dan om Danu langsung berdiri untuk menenangkan Soni,tapi segera ditahan oleh Bram. "Sudah,tante..Saya pantas mendapatkannya" Lalu Bram berdiri agak menjauh dari para orang tua. Tanpa menunggu lagi,Soni langsung menuju ke arah Bram dan mendaratkan bogem mentah ke arah pipi Bram. Dibarengi pekikan dari kedua ibu mereka. Bram tidak mengelak,dia mundur beberapa langkah ke belakang. Tapi segera berdiri tegak lagi. "Ini untuk air mata Ocha" getam Soni Disusuk suara "Bukk!" lagi,kali ini di pipibkiri Bram "Ini bayaran untuk masa² remaja Ocha yang sempat hilang" Soni sudah hendak memukul lagi,tapi segera dipeluk tante Dinar. "Sudah,nak..Sudah..Bram kemari untuk melamar adikmu" idak tante Dinar sambil memeluk Soni,sementara tante Maya membantu membersihkan noda darah di ujung bibir Bram. Bram berlutut di depan Soni "Maafkan aku,mas. Aku salah,aku akan berusaha memperbaikinya. Aku mohon restu mas Soni" ucap Bram lirih. Soni menarik kasar kerah Bram,menariknya berdiri. "Setetes saja air mata Ocha jatuh,aku akan membunuhmu" ancam Soni. Bram mengangguk "Iya,mas. Aku janji " ucapnya mantap sambil menatap ke mata Soni. Tiba² Soni menarik Bram ke palukannya.Memeluknya erat,meneteskan air matanya. "Aku percaya padamu. Aku tau kamu bertanggung jawab,aku hanya sakit hati melihat Ocha menderita. Ocha sungguh mencintaimu" isaknya. Setelah adegan menegangkan dan mengharukan itu,mereka duduk dan mengobrol dengan santai. Bram shock saat mengetahui bahwa Ocha ternyata tinggal di Surabaya dan bekerja di bank swasta di Surabaya. 'Oiya,kamu jangan senang dulu,Bram.Masih 2 orang lagi yang harus kamu hadapi,atau bahkan 3" "Siapa lagi,nak Soni?" tanya tante Maya terkejut. "Anjar,Bobi dan Yusi,anaknya tante Susi dan mungkin Panji,pacarnya Amel" jawab Soni "Kok bisa?"Tanya tante Dinar "Karena mereka bertiga yang melihat langsung dan menjaga Ocha saat masa² gelap Ocha.Sedangkan Aku dan Bas hanya mendengar cerita mereka saja" terang Soni Semuanya menatap Soni tidak mengerti. "Semuanya belum tau ya?" tanya Soni. Keempat orang yang ada di depannya pun menggeleng. Soni berdeham "Di awal keberangkatan Bram,Ovha seperti patah hati. Seperti orang linglung,tidak lagi ceria. Memang aku yang melarang mereka untuk memberi tahu tante Maya,karena setelah itu tante pun pindah ke Jakarta. Jadi Ocha tinggal dengan tante Susi." "Anjar,Bobi dan Panji yang bergantian mengantar jemput Ocha sekolah dan selama kuliah. Bahkan pacar² Anjar dan Bobi pun dapat giliran menemani Ocha gantian sama Yusi dan tante Susi." lanjut Soni. "Tiap akhir pekan,selalu aku sempatkan ke Surabaya menjenguk Ocha. Bahkan Ocha pun sempat difitnah merebut Panji dari Amel,meskipun berita iu tidak berarti apapun buat mereka." "Jadi,kamu berhutang banyak sama mereka,Bram.Mereka saksi bagaimana olengnya Ocha saat itu. Ochapun hanya bisa terbuka pada Yusi,karena dia takut kalau Amel cerita ke mama,mama akan marah pada Ocha,karena Ocha merasa mama sudah sayang dengan Ocha seperti anaknya sendiri" "Ya Allah,Ocha..Mana mungkin tante marah,naak" isak tante Maya. Bram hanya menggeleng gelengkan kepalanya.Tidak menyangka ternyata sedemikian besar dampaknya bagi Ocha. Bram pikir,Ocha akan seperti dirinya. Tetap bisa melangkah ringan melanjutkan hidup. Soni benar,Bram berhutang banyak terutama pada Ocha. "Sebetulnya Ocha sering menginap di rumah,Bram.Gantian,kadang menginap di rumah tante Susi" kata mama Bram. "Hanya belakangan ini Ocha lebih sering menginap di rumah tante Susi,bantu² persiapan acara tunangan Yusi 2 minggu lagi" Bram menggeleng-gelengkan kepalanya,ternyata semuanya kompak "ngumpetin" Ocha. "Sebelum ketemi Ocha,kamu ke Tante Susi dulu ketemu Yusi dan abang-abangnya" kata Soni. "Ya sudah,ayo masuk..Sudah mau maghrib.Siap-siap ke masjid" kata papa Ocha sambil berdiri,diikuti mama Ocha dan yang lain. "Saya sholat di rumah saja,Om. Ga enak,bengep gini" kata Bram meringis ditimpali tawa Soni. "Makanya jangan ngeghosting anak orang" ledeknya sambil ngeloyor masuk. Setelah selesai makan malam,mereka kembali ngobrol di ruang keluarga. Yasmin,istri Soni meringis melihat pipi Bram yang biru-biru. Menawarkan untuk membuatkan Bram bubur kalau memang Bram ga bisa makan nasi karena pipinya bengkak. "Biarin aja,biar dia juga ngerasain Ocha yang ga nafsu makan berbulan-bulan" goda Soni Bram tersenyum kecut sambil berusaha keras mengunyah nasi. "Kira-kira,kalau Ocha menerima lamaran nak Bram,kapan rencana mau diresmikan?" tanya papa Ocha tiba-tiba. "Maunya ya secepatnya saja,Om. Tapi terserah Ocha saja" jawab Bram. "Jadi gimana,Jeng?Amel dulu atau Bram dulu nih?" tanya mama Ocha sambil tertawa geli. Mama Bram ikut tertawa geli "Dari bau-baunya sepertinya Bram dulu ini" jawabnya. "Yang penting kita sudah tahu arahnya ke mana dan kira-kira tidak lama lagi. Sekarang biar Bram.fokus dulu ketemu sama Yusi dan abang-abangnya" goda papa Ocha "Ngobati pipinya nanti saja,Bram. Nanti jiga biru-biru lagi" goda Soni. Bram auto meraba pipinya yang mulai berasa nyeri Agak ngeri juga ngebayangin kena bogem lagi nanti. Tapi sepadanlah dengan apa yang sudah terjadi. Memang Bram pantas menerima pelajaran dari orang-orang yang selama ini menjaga Ocha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD