6

1034 Words
Semuanya berjalan lancar dan baik- baik saja, setengah catur wulan selesai ki kecap hingga tuntas. Namun apa daya..., Menginjak catur wulan ke tiga, tubuh ku drop, hingga tak sanggup lakukan apapun. Bapak bilang, tubuh ringkih ku ketika itu begitu lemah seperti nyawa nyaris melayang dari tubuh ku. "Ohong... Ohong.. Ohong..." Aku terbangun di tengah sunyi, saat rasa dingin mencengkram tubuh ini. Batuk yang ku derita bukan lagi batuk ringan. Sudah lebih dari dua bulan ku derita. "Ayo sayang, minum dulu air hangat ya..." Bujuk bapak yang menyadari kondisi ku. Aku bangkit dari kasur lantai tipas, menuruti titah bapak. "Sini bapak oles kayu putih, biar hangat. Nanti kamu tidurnya miring ya..., biar ga sesak dan batuk terus.." Ujar bapak sembari membalur tubuhku dengan kayu putih. Aku pun mengangguk lemah. Ku baringkan tubuh miring ke sisi kanan. Begitupun bapak kembali merebahkan tubuhnya di belakang ku. Sementara ibu dan Sasa lelap di atas dipan sederhana. Berkali- kali ku terbangun, karena alasan yang sama. Dan begitulah setiap harinya, selama berbulan- bulan ini. Beberapa kali guru dan perwakilan sekolah datang menjenguk, menanyakan kondisi ku. Namun belum ada perkembangan ke arah baik. Rasa bosan mulai mewarnai setiap tiba jadwal minum obat. Saking lamanya rutinitas itu ku jalani. Belum lagi jenis obat yang beraneka warna dan bentuk. Sungguh itu sama sekali tak menarik minat ku sedikit pun. Bahkan.. Terkadang ku selip kan butir warna warni itu di balik kasur alas tidur ku. --- Hari ini hari senin, jadwal libur bapak. Bapak bukanlah seorang pegawai negeri. Beliau seorang hairdresser amatir di sebuah salon yang tak terlalu jauh dari kontrakan kami saat ini. Seusai sarapan, aku kembali rebahkan tubuh. "Teh.., jemur punggung yuk, sama bapak gendong ya..." Ajak bapak. Sementara ibu dan Sasa sudah keluar sedari tadi. Bapak membawa ku duduk di ujung teras, di mana ibu tengah berbincang dengan ibunya Aji. "Sebenarnya kamar itu bekas Bu haji, ibunya yang punya rumah, Beliau sakit TBC, sampe ninggalnya di kamar itu..." Bisik ibu Aji saat aku dan bapak mendapat posisi duduk yang nyaman. Ibu dan Bapak ku saling beradu tatap, raut kaget tergambar jelas. Tapi aku yang tak tahu apa pun arti setiap kalimat mereka, memilih abai. "Memang rasanya pengap juga kamarnya mbak.." Sahut ibu. "Tentu, satu- satunya lubang angin dari jendela pinggir jalan itu. Di tutup pengap, di buka debu jalanan pasti masuk.. Kasian anak- anaknya" Tutur ibu Aji lagi. Sementara aku masih asyik bersandar di d**a Bapak, menikmati hangat sinar mentari yang menerpa punggung ku. "Sebaiknya kita cari tempat lain Bu, apa lagi bentar lagi kamu juga lahiran.." Ujar bapak pada akhirnya. Di rasa cukup menghirup udara pagi, kami pun kembali ke kamar. Perubahan suhu yang kontras antara teras dan kamar, kembali menggelitik kerongkongan ku. "Ohong... Ohong..." berkali- kali, hingga tubuh ringkih ini kian berguncang. "Sudah..., sudah..., teteh yang tenang.. Atur nafas... Minum ini obatnya ya... Bapak siapin dulu baju ganti teteh.. Ni pegang, basah kringetan.." bujuk Bapak. Ibu nampak menghela napas dalam, lalu membuangnya kasar. Menatap ku dengan sorot jengah. Entahlah.. "Besok teteh harus ke dokter lagi Bu. Obatnya terakhir hari ini..." Ujar Bapak setelah menyiapkan baju ganti ku. "Sudahlah pak, batuk gitu gak kan sembuh kalo belum seratus hari..." Sahut ibu. "Bu! Apa- apaan kamu itu.." pekik bapak. "kenapa Pak?! Beneran kan?! Lagian dah lebih dua bulan dia sakit!" Ibu jengkel, gak mau kalah. Sementara aku, saksi bisu bernyawa, hanya menyaksikan perdebatan itu tanpa faham maknanya. "Sudahlah Bu! Apapun itu, gak pantas kamu ngomong gitu sama anak kita! Sebaiknya kamu do'ain Lisa cepet sembuh.." Bapak menurunkan intonasinya. "Ck.." Ibu berdecak kesal, membaringkan Sasa di dipan. Bapak geleng- geleng kepala, dengan tangannya sibuk meraih tubuh ku. Mengganti baju ku. *** Beberapa hari kemudian, kami benar- benar pindah dari rumah Nek Ela. Kini kontrakan kami punya dua ruangan. Karena kami hanya punya sepotong kasur lipat yang ku gunakan alas tidur, maka jadilah malam itu kami berjejer beralaskan kasur itu. Ya di tempat kali ini hanya ruangan kosong yang kami dapatkan. Tidak seperti di kontrakan Nek Eha dan Nek Ela. Sungguh bukan tidur nyaman yang kami lalui malam ini, karena lebar kasur itu hanya sanggup menampung sepotong tubuh ku. Lantas bagaimana dengan Bapak dan ibu. Jelas! Mereka pun sama tak nyamannya. Terlebih ibu dengan kondisi perut yang mulai membukit. Ke esokan harinya bapak membawa sepasang kasur kapuk, katanya hadiah dari temannya. Sedikit demi sedikit ruangan mulai di tata. Namun tubuh ku belum lagi mendapatkan tenaganya. Sehingga aku hanya sanggup berbaring menyaksikan Ibu dan Bapak sibuk berbenah. --- "Ga apa- apa anak mu ini Titah. Dia cuma terpengaruh dari bayi yang kamu kandung, habis kamu lahiran nanti, In Syaa Allah dia pun kembali sehat." Ujar Ma Ijot, dukun bayi yang baru saja memeriksa perut Ibu yang semakin membukit. Ma Ijot, mengurut badan lunglaiku, dengan minyak kelapa campur kayu putih, yang tadi di gunakannya mengurut ibu. Sembari mulutnya tak henti melapalkan do'a- do'a. Entah mengapa, selepas itu aku langsung merasakan lapar. Padahal selama ku sakit, makanan yang masuk ke dalam perut ku hanya sebagai formalitas saja. Tak pernah aku merasa lapar. Mendengar aku meminta makan karena lapar, binar bahagia terbit di raut ibu. Gegas ibu memberiku semangkuk bubur buatannya. "Alhamdulillah Ma. Mau makan juga akhirnya teteh.." Gumam ibu pada Ma Ijot. Sembari menyelipkan sebuah amplop ke tangannya. "Alhamdulillah... Ma ikut seneng.. Tenang aja. Ga papa anak mu.." Ujar Ma Ijot. Lalu pamit. Menjelang siang Bu Dewi, guru ku kembali menjenguk ku. Mengabarkan bahwa minggu depan sudah masuk waktu THB (Tes Hasil Belajar) catur wulan tiga di kelas 1. Beliau berharap aku bisa ikut. Meski itu cuma ujian saja. "In Syaa Allah Bu Lisa ikut.. Alhamdulillah hari ini Lisa dah mulai mau makan.." papar Ibu. "Alhamdulillah... Lekas sembuh ya sayang. Biar bisa belajar lagi sama Bu Guru dan teman- teman semua..." Ujar Bu Dewi. Mengusap puncak kepala ku. Lantas mohon diri. Aku pun mengangguk. --- Sejak pertemuan dengan Ma Ijot, setiap harinya aku berangsur membaik. Tubuh ku mulai bertenaga. Nafsu makan ku mulai meningkat. Wajah pucat ku berangsur hilang. Dan hari ini... Bapak mengantar ku kembali ke sekolah, di hari pertama THB. "Yang semangat ya Teteh. Kerjakan sesuai kemampuan. Bapak tunggu di depan mesjid ya.. Selesai anter teteh pulang nanti, baru bapak berangkat kerja". Tutur Bapak. Aku pamit masuk kelas, seraya mencium punggung tangan bapak. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD