5

1181 Words
Alisha POV Waktu terus berlalu menguntai hari menjadi minggu, minggu tak pernah meragu berjalan kearah bulan. Merangkai kisah dengan beraneka warna, makna dan rasa. Membawa setiap jiwa menarik hikmahnya tersendiri. Kini kami sudah tak berada di kamar kontrakan Nek Eha. Entah mengapa bapak kembali membawa kami pindah ke tempat baru ini. Meski masih dengan ruang berukuran sama, dan pemiliknya pun Sama- sama sepasang sosok renta. Bedanya kali ini mereka lebih acuh terhadap ku dan adik ku, meski kamar kami ada di dalam rumah mereka. Ya... Hanya kami satu- satunya yang mengisi kamar kosong di pojokan rumah mereka. Nenek Ela dan kakek Ali. Begitulah kami mengenal mereka. Di sini aku punya teman bermain, Aji Purnomo namanya, kedua orang tuanya berasal dari Solo. Dan seperti halnya kami, mereka mengadu nasib di tempat ini. Aji, begitulah aku memanggilnya. Dia kerap menceritakan padaku keseruan di sekolahnya. Hingga aku katakan keinginanku untuk sekolah pada kedua orang tua ku. Dan di sinilah aku sekarang. Kompleks sekolah di bawah naungan Yayasan Nurul Falah. Sebuah mesjid besar nan megah menyambut kedatangan kami begitu tiba di lingkungan sekolah. Tepat di samping gerbang besar dengan teralis besi yang tinggi, yang kemudian jadi tujuan kami selanjutnya, aku dan ibu saat itu. Kesan pertama ku begitu melewati gerbang besar itu adalah, sungguh tempat ini begitu luas. Ku tebar netra ke sekeliling lokasi, meski kaki kecilku tetap mengikuti langkah ibu yang nenuntun sebelah tangan ku, menuju kantor tempat ku mendaftar nanti. Entah apa yang mereka bicarakan, saat ibu menemui sesosok wanita cantik berhijab panjang itu. Aku tak memahaminya. Karena hiruk pikuk sekitar, ternyata lebih menarik minat ku. Hingga... "Ok Teteh Lisa, karena hari ini pembelajaran kelas 1 sudah selesai, berarti besok baru bisa mulai sekolahnya ya..." Tutur seorang wanita berhijab panjang seusia ibu padaku. Seraya memindai angka jam di pergelangan tangannya. Aku pun mengangguk. "Pembelajaran di mulai jam 8 tepat ya Bu, tapi jam 7 anak diharapkan sudah ada di lingkungan sekolah. Untuk membaca dan mengaji, rutin setiap hari..." sambung wanita berjilbab. Menjelaskan pada ibu. "Nah.. Kebetulan nih... Bu Dewi..., besok ada siswa baru ni yang masuk..." Ujar Wanita berhijab lagi pada sosok yg baru saja masuk, ibu Dewi. "O ya Bu Nani...?" Sahut Bu Dewi. Menanggapi kalimat wanita berjilbab yang akhirnya ku tahu bernama Bu Nani. Bu Dewi pun menghampiri kami. Lantas duduk di kursi samping ku. "Assalamualaikum anak Soleha.., siapa namanya?" Sapa Bu Dewi pada ku. Dengan melambaikan tangan. "Lisa.." Jawab ku. Singkat. "Hai... Kakak Lisa..., nama ibu, Ibu Dewi, guru kelas 1, besok kita mulai belajar ya, Sama- sama ibu dan juga teman- teman yang lain ya..." Tutur lembut Bu Dewi yang ku angguki. "Tapi Bu, tak mengapa ya.. Lisa tertinggal setengah catur wulan dari yang lain? Mudah- mudahan bisa mengikuti dengan baik.." Papar Bu Dewi pada Ibuku. Setelah semua prosedur selesai. Kami, aku dan ibu pun undur diri. --- "Gimana Bu?" Tanya bapak yang tengah bermain dengan Sasa, begitu kami sampai di dalam kamar. "Alhamdulillah lancar Pa, besok dah mulai sekolah.. Tapi.. Seragamnya..." kalimat ibu terjeda. Nampak raut bingung di wajahnya. "Warna apa seragamnya Bu?" kejar bapak. Sembari bangkit dari rebahannya. Dengan Sasa duduk dalam pangkuannya. "Rok warna hijau dan... Kemeja putih..." jawab ibu. "Ok..." Sahut bapak, menurunkan Sasa dari pangkuannya dan bergegas bangkit, menyambar kain penutup jendela yang kebetulan berwarna hijau. Lalu mengambil selembar kain putih, mukena atasan ibu dari lemari pakaian sederhana di kamar kami. "Pa, terus nanti malem jendelanya gimana?" Tanya ku penasaran. "Tenang.. Masih bisa pake kain lain ko.." jawab bapak, santai. Lantas... Menggelar kain- kain itu di lantai, kemudian dengan beberapa lembar majalah bekas yg di sambung selotif, bapak menggambar beberapa bentuk. Semula aku tak mengerti untuk apa semua itu. Hingga semua proses selesai di depan mata kepala ku sendiri. Ternyata... Ya Rabbana... Bapak dan ibu menjahit baju seragam sekolah pertama ku dengan tangan mereka sendiri. Serta merta dengan respon polos, aku bersorak riang. Begitu teramat sangat bahagia. Akhirnya seperti Aji, aku pun punya seragam dan bisa sekolah. Sungguh saat itu aku hanya dapat menjadi saksi bisu bernyawa, akan kerasnya hidup yang kami alami, yang sama sekali belum aku fahami. Yang ku tahu saat itu hanyalah menjalani setiap harinya dengan berangkat sekolah. Berbekal beberapa buku, pensil dan penghapus serta beberapa keping uang jajan. Itu sudah cukup membuatku sangat bahagia. Di hari pertama ku sekolah, aku pulang dengan luka di sikut kanan ku. Karena seorang anak lelaki mendorongku kasar di depan gerbang sekolah, Wandi, namanya. Kata Aji yang ternyata teman sekelas ku. Namun itu tak menyurutkan semangat belajar ku. Aku masih antusias berangkat menuju sekolah setiap harinya. Satu, dua, tiga... Akhirnya aku punya teman baru. Sesama gadis kecil seusia ku. Fajar, Tuti dan Sarah. Itu nama teman baru ku. Kami duduk bersebelahan. Fajar semeja dengan Tuti. Aku dengan Sarah. Kami kerap menghabiskan waktu bersama, sebelum kelas di mulai, atau saat waktu senggang. Terlebih di dalam kelas. Aku pun bisa mengikuti pelajaran dengan baik, sesuai arahan Bu Dewi. Seperti biasa... Kelas pun di mulai. Kami di minta mewarnai gambar keluarga. Dengan semangat aku pun mengerjakannya. Dan... Akhirnya... Selesai... Aku menghela nafas lega, memindai ulang hasil karyaku. "Ini kakak Lisa, kalau sudah beres di tambah ya, sekarang menempel ya.. Untuk lengkapi pelajaran yang tertinggal. Dah bisa motong pake gunting sayang?" Tanya Bu Dewi menghampiri meja ku. Membawa beberapa lembar kertas, gunting dan lem di tangannya. Aku pun mengangguk. "... Ok. Kalo dah bisa. Hati- hati pakai guntingnya ya.. " Bu Dewi mengelus sayang kepala ku yang berbalut kerudung putih. Tak berapa lama kemudian, Kelas hari itu pun berakhir. Kami mengumpulkan apa yang telah di kerjakan hari itu. Dan membereskan perlengkapan masing- masing, untuk kemudian bersiap pulang. Aji senagai KM memberi instruksi agar duduk siap, membaca do'a setelah belajar dan mengucapkan salam. Satu persatu murid pamit mencium tangan Bu Dewi. Begitu pun aku dan Aji. Lantas kami pulang bersama. "Pulang bareng Aku aja Lis, biar kamu gak di jahatin Wandi lagi.." Ajak Aji. *** Pagi ini aku dan Aji kembali berangkat bersama, hingga bertemu dengan tiga sahabat ku di teras masjid, depan gerbang sekolah. "Aku masuk dulu ya Lis, kalo si Wandi nakalin kamu lagi, bilang aku nanti.. Biar aku pukul anak nakal itu.." Ujar Aji, melepas ku bersama tiga sahabat ku. Empat gadis kecil asyik bercengkrama di teras masjid. Hingga... "Baju kamu bagus kainnya Fajar.., lembut.." Tuti meraba kain rok Fajar bergantian dengan Sarah. Dan tibalah giliran tangan- tangan mungil itu memindai kain rok seragam ku. "Loh, punya kamu ko beda Lis..., Kasar kaya gordeng.." Ujar Tuti. Sarkas. "Jangan- jangan sama lagi kaya yang makenya 'kasar'.. Kata mama aku, ga boleh main sama anak yang kasar.." Sahut Fajar. Menimpali. "Yuk ah temen- temen., jangan maen sama anak yang kasar kita..." Ajak Tuti. Beranjak di ikuti Fajar. Sementara Sarah menatap ku nanar, hingga akhirnya di tarik kedua gadis kecil yang telah lebih dulu beranjak. "Maafin aku ya Lis..." Bisik Sarah nampak bersalah, namun tak berdaya. Sraak... Perih tetiba serasa menghujam jantungku. Baru kali ini perihnya terasa begitu nyata. Kabut bening mulai kuasai kedua mataku, hingga meluruh tatkala mataku berkedip... Dering Bel buyarkan rasa perihku, gontai ku seret langkah menuju kelas. Bahkan aku lalai dengan aktivitas sebelum kelas dimulai. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD