Atitah POV
Aku Atitah, seorang remaja desa yang tak pernah menikmati masa remajanya.
Bapak kandung ku ternyata seorang perantau yang masih bergelar suami orang, saat menikah dengan emak ku, yang saat itu menyandang status 'janda satu anak'.
Atas anjuran Uwa Sofyan, akhirnya emak menikah dengan Bapak ku, Sulaiman. Karena Bapak ku adalah sahabat seperjuangan Uwa. Yang dirasakannya memiliki kepribadian yang baik.
Bapak ku pun sangat menyayangi putri tirinya, dan... Semua berjalan baik- baik saja. Hingga Emak dikaruniai dua putri lagi bersama Bapak ku, kakak ku dan aku.
Mujur tak dapat diraih, Malang tak dapat ditolak. Pada akhirnya rumah tangga Emak dan Bapak ku kembali Karam. Emak begitu terluka saat tahu kenyataan dirinya sebagai istri muda.
Emak enggan menjadi bagian dari drama poligami, meskipun itu tak di larang dalam agama.
Jadilah kami korban dari perceraian mereka. Emak kini harus menghidupi tiga orang anak. Tanpa pendamping, tanpa peran seorang suami.
Sementara Bapak kembali ke kehidupan awalnya, kehidupan sebelum mengenal Emak.
Aku dan kedua kakak ku pun dipaksa keadaan untuk menjadi lebih tangguh. Berdaya juang tinggi untuk terus kuat menyambung dan mempertahankan hidup.
Kami terbiasa bangun di pagi buta, menumbuk padi menjadi bulir beras. Menanaknya menjadi nasi, lantas menyiapkan lauk sederhana sebagai teman makan kami. Begitulah rutinitas kami sebelum berangkat sekolah.
Sepulang sekolah, kami pun berbagi tugas, aku menangkap ikan di kali dan apapun yang sekiranya bisa digunakan untuk lauk makan, pengganjal perut nanti.
Tak hanya ikan kecil yang ku dapat, terkadang kangkung sawah, selada air, eceng dan lainnya pun turut memenuhi wadah yang ku bawa.
Kakak ku Teh Ida, dia mencari rumput untuk makan ternak milik tetangga yang kami pelihara. Sementara Emak tengah menjadi buruh tani di sawah atau ladang para tetangga kami.
Ah ya... Kakak pertama ku, dari pernikahan pertama Emak, Teh Meri. Ia sudah pergi ke kota. Ikut bersama Uwa Sofyan.
Uwa Sofyan mengelola sebuah pondok pesantren, dan karena itu Uwa mengajaknya untuk menimba ilmu di pondoknya selepas Teh Meri lulus sekolah dasar. Setidaknya itu lebih baik. Karena sungguh Emak tak sanggup membiayai Teh Meri untuk melanjutkan sekolahnya.
Bagi kami, dapat memenuhi kebutuhan diri dari rasa lapar setiap harinya pun. Sudah lebih dari cukup untuk buat kami mengucap beribu syukur kepada-Nya.
Beberapa tahun setelah Emak dan Bapak ku berpisah, kini Teh ida kembali di boyong Uwa Sofyan selepas lulus SD. Dan Emak kembali menikah dengan orang satu kampung kami. Saga namanya.
Kabarnya dia seorang bujang. Ya... Dia belum beristri. Lagi- lagi... Pada mulanya semua berjalan lancar dan baik- baik saja.
Namun setelah menikah beberapa waktu dan memiliki anak, ternyata suami Emak yang sekarang ringan tangan.
Tak jarang ia menyiksaku jika tak menuruti perintahnya, atau bahkan terlambat melakukan sesuatu yang diperintahkannya.
Padahal sungguh seharian aku sangat lelah dengan segala aktifitas, sembari mengasuh adik baruku. Karena Emak masih tetap harus ke sawah dan ladang untuk menyambung hidup kami. Selagi suami barunya yang katanya penjual es di Jakarta itu pergi merantau.
Kehidupan kami kali ini masih tak kalah pedihnya. Namun aku bisa sedikit bernafas lega, saat tiba- tiba bapak ku datang menjenguk diam- diam. Dan Bapak membawa ku pergi dari desa itu.
Bapak membawa ku ke rumah istri tuanya. Alhamdulillah... Di luar dugaan ku, ibu tiriku menerima ku dengan baik.
Namun kebahagiaan ku tak berlangsung lama, karena Saga, bapak tiri ku menculik ku dari perlindungan bapak kandung ku. Tentu atas permintaan Emak.
Berkali- kali aku terombang- ambing jadi bahan rebutan kedua orang tua ku. Di samping hari- hari keras yang sudah akrab ku lalui, hingga akhirnya aku lulus SD.
Aku dan Teh Ida sepakat untuk mengadu nasib di Jakarta, menjadi buruh pabrik, di usia yang masih begitu belia, namun karena tubuh yang bongsor dan kematangan berfikir ku, maka itu tak jadi kendala. Mereka percaya bahwa aku sudah cukup umur untuk bekerja.
Bertahun- tahun kami bekerja.Tak ada kendala yang berarti dalam pekerjaan ku. Hingga aku bisa mengirim uang untuk Emak di kampung, membeli barang keperluan ku dan beberapa perhiasan sebagai tabungan. Meski akhirnya perhiasan itu raip di tangan Saga, dengan alasan meminjamnya sebagai modal usaha.
Nyatanya Saga menikah lagi di tempat perantauan dan pada akhirnya kabar itu sampai di telinga Emak.
Kini..., jadilah Emak pun turut menjejak kota Metropolitan ini. Meski tak menyurutkan ulah Saga.
Hingga suatu hari, saat tiba giliran Saga bermalam di tempat Emak. Kejadian naas hampir menimpaku. Saga hampir saja merenggut kehormatan ku. Beruntung Teh Ida datang tepat waktu dan menghajar pria bej*t itu. Hingga Emak yang baru saja pulang dari warung terkaget- kaget melihat apa yang terjadi. Sungguh aku syok dengan apa yang hampir menimpaku.
Minggu berlalu, Emak pada akhirnya tak sanggup memendam semua beban pikirannya sendiri. Hingga ia ceritakan semua yang menjadi bebannya pada Uwa Sofyan. Dan aku pun dibawa Uwa kepondoknya, sebagai gantinya... Uwa menyuruh Kang Bramantio untuk mendampingi Emak menggantikan peranku.
Tanpa sepengetahuan ku, ternyata para tetua itu tengah mengatur perjodohanku dengan Kang Bram.
Memang meski kami tidak tumbuh bersama, dan hanya bertemu sesekali saja, aku tahu kang Bram itu lelaki yang baik.
Usiaku beberapa tahun di bawah Kang Bram. Tepatnya dia seusia Teh Ida. Sewaktu kang Bram di lahirkan, Ema pun tengah menggendong teh Ida bayi, maka dari itu Emak membantu menyusui kang Bram, karena Uwa Imas harus di rawat sebab sakit. Begitulah cerita yang ku dengar dari Uwa Imas, istri Uwa Sofyan.
Hingga suatu hari Emak dan kang Bram tiba- tiba datang ke pondok. Begitu pun Bapak ku yang juga turut hadir. Dan... terkuaklah rencana perjodohan kami.
Tanpa kata kami menyikapi perjodoh itu, yang berarti sepenuhnya menyerahkan segala urusannya di tangan para tetua.
Ternyata, selepas pertemuan keluarga itu kang Bram lekas undur diri. Entah kemana tujuannya. Aku tak tahu..
Hingga beberapa hari berikutnya aku baru tahu jika kepergian Kang Bram tempo hari adalah untuk menemui kekasihnya, guna menyudahi hubungan mereka. Begitu papar Yuli, adik kang Bram, yang sempat di datangi mantan kekasih kakaknya itu.
Singkat cerita akhirnya kami menikah, semuanya berjalan dengan baik, dan kami di anugerahi dua putri. Meski tak aku pungkiri bahwa rasanya aku lebih menyayangi Sasa ketimbang Lisa. Entah mengapa...
Hingga kalimat dari Mang Ali mengguncang biduk rumah tangga kami yang damai.
"Bu... Bu... Ibu... Sasa tape... Puyang yu.." putri ku Sasa bergelayut manja di tanganku. Menyadarkan ku dari lamunan.
"O ya... Emm Ayo... Teteh.., Sasa... Kita pulang.." Ajak ku pada dua gadis kecil ku. Karena memang sinar matahari pun sudah mulai menyibak kegelapan pagi.
Tanpa sadar ternyata cukup lama kami berjalan keluar dari kamar kontrakan. Selepas shalat subuh hingga kini, gelap yang di sisakan malam pun telah benar- benar sirna.
'Semoga kegelapan dalam kehidupan rumah tangga kami pun segera sirna dengan lahirnya fajar yang baru kelak' lirih batin ku sembari mengulus perut yang masik nampak rata.
Begitu besar harapan kami terhadap janin yang kini tumbuh dalam rahim ku ini. Semoga ia adalah seorang putra yang akan menyelamatkan kehidupan rumah tangga kami. Aamiin Ya Allah Ya Rabb...
Bersambung...