SA. 1. Dipaksa Menikah
“Sienna, kamu harus menikah!”
Kalimat itu meluncur dari bibir Bekti Wibowo dengan sedikit hentakan. Ayahnya menatap dengan tajam, seolah dirinya telah berbuat sesuatu yang salah.
Sienna yang duduk di kursi seberang terdiam. Ia tahu sejak Henna membawa kabar lamaran dari pacarnya, cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Namun, mendengar langsung dari mulut ayahnya tetap saja membuat dadanya sesak.
“Ayah serius?” tanyanya.
“Ya!” Bekti mengangguk keras. “Adikmu sudah dilamar Cakra. Nggak pantas kalau Henna mendahului kakaknya. Apa kata orang nanti kalau anak sulung keluarga Wibowo malah tidak laku? Ayah tidak mau kamu mendapat cap sebagai perawan tua.”
“Kak, aku juga nggak mau pernikahanku ditunda!” ucap Henna yang duduk di samping ayahnya menimpali dengan nada kesal. “Keluarganya Mas Cakra sudah siap semua, mereka menunggu tanggal pernikahan. Tapi gara-gara kakak belum menikah, aku jadi terhalang. Kakak sadar nggak, aku juga ingin punya hidup sendiri?”
“Henna! Kenapa bicara seperti itu!” bentak Sienna tidak terima jika Henna ikutan menyalahkannya.
“Kakak terlalu sibuk kerja, nggak pernah mikirin soal pasangan. Sekarang hasilnya? Aku jadi kena getahnya. Kalau sampai aku disebut gatal pengen nikah duluan, semua orang bakal nuduh aku, padahal salahnya kakak,” balas Henna tak takut sama sekali.
“Ayah sudah bicara dengan kenalan Ayah. Ada pria yang bisa jadi suamimu. Nggak ada alasan lagi. Minggu depan kamu dengan pria itu akan menikah. Jika kamu menolak, anggap saja kamu bukan anak Ayah lagi,” ucap Bekti menusuk langsung ke jantung Sienna.
Sienna tertegun. Kata-kata itu bagai palu godam yang menghantam kepalanya. Nafasnya tercekat. Antara sakit hati, marah, dan pasrah bercampur jadi satu.
“Bagaimana Ayah bisa langsung memutuskan seperti itu! Aku juga punya kehidupan aku sendiri, aku begini juga bukan tanpa alasan! Ayah tahu itu, Henna juga tahu!” ucap Sienna meninggikan suaranya. Air matanya mengalir dengan deras. Merasa jika hidupnya tidak begitu penting bagi keluarganya. Bahkan setelah peristiwa yang menimpanya lima tahun yang lalu.
“Itu sudah masa lalu, Sienna! Bagaimana bisa kamu nggak bisa melupakan hal itu? Sudah lima tahun sejak itu terjadi, seharusnya kamu nggak berlarut dalam masalah kecil seperti itu!” balas Bekti dengan penuh emosi.
Sienna menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa sang Ayah bicara seperti itu. Seharusnya dia yang paling tahu betapa besarnya kejadian yang menimpanya dahulu. Namun, percuma jika Sienna membahasnya saat ini. Karena bagi Bekti, Sienna hanyalah aib keluarga yang harus ditutup rapat-rapat. Dan Hennalah yang menjadi kebanggaannya saat ini.
***
Esok harinya, Sienna bersama Bekti melangkah masuk ke sebuah rumah besar dengan arsitektur modern yang megah. Hatinya diliputi keresahan.
“Dengar, hari ini kamu akan bertemu calon suamimu, jangan tunjukkan ketidaksukaan, jangan tunjukkan wajah masam!” Ucap Bekti sebelum mereka benar-benar memasuki rumah mewah itu.
“Senyumlah!” bisiknya lagi dan Sienna pun memaksakan senyumnya.
Di ruang tamu yang luas, ia melihat seorang pria muda duduk di kursi roda otomatis, dengan wajah dingin dan tatapan tajam. Rambutnya berantakan, dagunya ditumbuhi sedikit jenggot tipis, dan aura angkuhnya terasa begitu kuat meski ia tampak terkurung di tubuh yang tak lagi sempurna.
“Bekti, selamat datang,” sapa Pandu Ravindra. Atasan Bekti di perusahaan, keduanya bersepakat untuk menikahkan kedua anak mereka karena kondisi masing-masing anak.
“Presdir, maafkan atas kelancangan saya mendatangi rumah Anda,” ucap Bekti penuh dengan hormat.
“Nggak sama sekali, saya justru sangat bersyukur karena kamu dan anakmu mau datang ke sini,” balas Pandu ramah. Ia melirik ke arah Sienna yang hanya tersenyum kecil di belakang Ayahnya.
“Jadi ini putrimu?” tanya Pandu menyelidik.
“Ah, benar Presdir. Perkenalkan dia Sienna Wibowo. Meski usianya sudah terlalu tua untuk menikah, tapi dia punya karir yang lumayan bagus,” jawab Bekti memperkenalkan Sienna.
“Selamat siang, Saya Sienna,” sapa Sienna dengan sopan. Namun, mata Sienna terjatuh pada sosok pria muda di belakang Pandu.
“Kenalkan, dia Arden Saka Ravindra, anak saya,” ucap Pandu menunjuk Arden yang hanya menatap sekilas lalu memalingkan wajahnya.
Sienna terkejut karena pria yang akan dinikahnnya kini duduk di kursi roda. Namun, Sienna mencoba untuk menyembunyikan keterkejutannya itu.
“Arden memang masih terlalu muda, dia masih kuliah tapi harus berhenti sementara karena kecelakaan yang menimpanya. Saya harap kamu nggak terlalu terkejut, Sienna?” lanjut Pandu penuh penekanan. Seakan ingin Sienna bersikap senatural mungkin hingga tidak membuat Arden tersinggung.
Namun, Sienna hanya terdiam menatap Arden dengan perasaan yang campur aduk. Haruskah dia menikahi pria cacat seperti itu? Hanya demi memenuhi keinginan sang Ayah?
“Presdir, sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua untuk saling mengenal dengan lebih santai. Sepertinya mereka masih sangat canggung,” ucap Bekti memecah keheningan.
“Ah kamu benar, baiklah. Bagaimana kita bicarakan pernikahan mereka di ruang kerjaku?” tawar Pandu dan membawa Bekti pergi dari sana.
Kini hanya ada Sienna dan Pandu di ruangan itu. Keduanya sama sekali tidak tertarik untuk saling bicara hanya terdiam terpaku di tempat masing-masing.
Tak lama seorang pelayan datang untuk memberikan minuman dan cemilan pada Sienna.
“Silahkan dinikmati,” ucap pelayan itu, lalu pamit pergi.
Sienna pun hanya bisa mengangguk dan dengan kikuk berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan tegang. Sienna menatap cangkir teh di atas meja dengan uap yang masih panas. Ia perlahan mengambil cangkir teh itu, menghirupnya dan hendak menyesapnya sebelum akhirnya Arden berbicara mengejutkan.
“Jadi kamu, perempuan yang katanya akan jadi istriku?” tanya Arden tajam, penuh ejekan.
Sienna hampir tersedak mendengar suara Arden lalu segera menaruh kembali cangkir tehnya.
“Ha?” balas Sienna bingung.
Arden menatap Sienna dari atas ke bawah. Ia lalu menekan tombol kursi roda dan membuatnya bergerak sendiri mendekati Sienna.
“Hm. Nggak terlalu buruk … tapi juga bukan seleraku.”
Sienna mengerutkan kening, ucapan Arden begitu menusuk.
“Aku juga nggak tertarik padamu, jadi jangan terlalu percaya diri!” balas Sienna sama tajamnya.
Arden terkekeh mendengar keberanian Sienna yang membalas ucapannya.
“Jangan terlalu percaya diri?” ulang Arden.
“Baiklah, aku tahu dengan hanya sekali lihat, kita berdua sama-sama nggak menginginkan pernikahan ini,” ucap Arden lebih santai. Ia mengeluarkan sebuah map yang berada di belakang tubuhnya lalu melemparnya ke atas meja dengan keras.
“Tapi, aku juga tahu kita sama-sama nggak bisa menolak pernikahan ini. Aku akan kehilangan warisanku, dan kamu ... apa yang ayahmu katakan untuk memaksaku menikahiku?” tanya Arden kembali menjauh dari Sienna.
“Itu—”
“Ah! Aku nggak peduli,” sela Arden tanpa memberikan kesempatan Sienna untuk menjawab.
Sienna mengepalkan tangannya dengan penuh emosi. “Sebenarnya apa maumu?” tanya Sienna akhirnya. Matanya menajam dengan menahan kesal.
“Tanda-tangani kontrak pernikahan itu, setelah enam bulan ... kita akan bercerai!”