Di salah satu ruangan yang dulunya ruang olahraga, kini telah diubah menjadi ruang terapi lengkap dengan peralatan modern, mulai dari alat bantu gerak, matras latihan, hingga beberapa mesin kecil untuk melatih otot kaki. “Kenapa alatnya berat banget begini?” seru Arden dengan wajah masam sambil menatap alat pengangkat kaki yang baru saja dipasang oleh Jordan, sang terapis utama. Dua asisten Jordan, Maya dan Theo, menyiapkan tali elastis dan bantalan kaki di sampingnya. Sienna yang duduk di kursi tak jauh dari situ hanya tersenyum sabar. “Itu belum apa-apa, baru pemanasan,” katanya lembut. Arden memutar mata. “Pemanasan apanya? Rasanya seperti lagi disiksa.” Jordan menatapnya tenang, seolah sudah terbiasa menghadapi pasien keras kepala seperti Arden. “Tuan Arden, saya paham ini tera

