Entah kerasukan setan atau iblis apa, Fengying merajuk kepada kaisar agar pernikahan putra mahkota di batalkan.
"Mengertilah selir, ini tidak bisa di batalkan. Semua persiapan sudah di urus oleh permaisuri, jika kita membatalkannya maka mereka pikir kita hanya mempermainkan mereka." kaisar mencoba membujuk untuk yang ke sekian kalinya.
"Kaisar, anda hanya perlu mengundur waktu pernikahannya saja. Saya sudah mempunyai calon yang cocok untuk pangeran." Fengying kukuh dengan pendiriannya.
"Tidak bisa! Permaisuri akan marah jika itu terjadi, lagi pula permaisuri sudah sangat cocok dengan Fang-yin." kaisar mencoba menyibukkan dirinya dengan lembaran kertas di tangannya.
"Yang mulia, kenapa anda jadi seperti ini? Biasanya anda selalu mengabulkan apa yang saya inginkan! Kita bisa bicara dengan permaisuri." suara Fengying sudah meninggi satu oktaf.
"Hah... Selir, Chang dan permaisuri yang memutuskan semuanya. Selain itu permaisuri memiliki hak penuh atas diri Chang karena ia ibunya." kali ini kaisar tidak akan mengabulkan permintaan Fengying.
Ia sudah cukup membuat Jianheeng sakit hati, kaisar tidak ingin menyakiti Jianheeng lagi. Selama ini ia selalu memihak dan mengabulkan segala keinginan Fengying. Ia akan mencoba bersikap adil kepada istri-istrinya.
"Baiklah jika itu keputusan anda, saya permisi kaisar." Fengying membungkuk sebentar lalu pergi dari ruangan kaisar.
Ia menghentak-hentakan kakinya sebal. Kaisar Zhang sudah berubah dan tidak lagi mengabulkan segala keinginannya. Ia tidak mau tahu, pernikahan ini harus di batalkan apapun yang terjadi, Chang harus menikah dengan gadis pilihannya.
"Selamat siang permaisuri." Fengying membungkuk kepada Jianheeng.
"Siang selir." raut wajah Jianheeng berubah drastis menjadi datar. Jianheeng sedang tidak ingin bertemu dengan wanita iblis ini. Ia membalas ucapan Fangying hanya sekedar formalitas saja.
"Permaisuri, sebaiknya anda menjaga putra anda baik-baik mulai sekarang. Permainanku akan segera di mulai, saya permisi permaisuri." Jianheeng membeku di tempat matanya terbelalak.
Ia sangat tidak sudi putra kesayangannya terluka ataupun di sentuh wanita iblis seperti Fengying. "Kau sudah salah bermain-main denganku, genderang perang sudah di tabuh. Kita lihat siapa yang akan menang, aku sama sekali tidak sudi putraku di sentuh olehmu."
Jianheeng berjalan pergi sambil menyusun rencana di kepala cantiknya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada putra kesayangannya, tidak ia sama sekali tidak sudi. "Cih najis." Jianheeng langsung masuk setelah dua kasim membukakan pintu untuknya.
Dia menghampiri kaisar Zhang yang terlihat sangat sibuk. "Yang Mulia apakah saya menggangu?"
Kaisar Zhang mendongak dan tersenyum. "Tentu saja tidak. kemarilah."
Jianheeng segera mendekat, dia duduk di samping kaisar. "Yang Mulia saya akan membantu anda membereskan semua ini."
"Baiklah tapi jika kau lelah jangan memaksakan diri dan duduksaja disini menemaniku." Kaisar Zhang mengelus kepala Jianheeng. Sangat jelas perbedaan antara Jianheeng dan Fengyin.
*****
Chang mengambil satu anak panah lagi dan bersiap menembakannya. "Kak." Chang mendelik kesal kepada adik kesayangannya.
"Ada apa Genji?" ia berbalik sehingga mereka bisa bertatapan.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti sedang kesal? Apa ini karena masalah tadi pagi?" Chang sama sekali tidak menjawab ucapan Genji.
Genji menarik Chang untuk duduk dulu. "Kak, ibunda permaisuri pasti ingin yang terbaik untuk kakak."
"Aku tahu itu, aku tidak ingin ibunda bersedih karenaku. Selama ini ibunda tidak pernah sesenang ini, aku sudah cukup bahagia melihat ibunda bahagia. Jika pernikahanku membuat ibunda aku akan melakukannya." Chang terlihat sangat murung dan sedih.
Ia tahu jika ibundanya selalu bersedih karena ayahnya, ia tidak ingin menambah kesedihan ibundanya. Selama delapan belas tahun ini hanya ibundanya yang memperhatikannya, ayahnya hanya sibuk dengan selir ularnya.
"Kau tidak perlu bersedih kak, ibunda selalu ingin yang terbaik untuk kakak. Ibunda tidak mungkin menjerumuskan putranya sendiri kedalam masalah. Seorang yang ibu pasti ingin anaknya bahagia." Genji menampar punggung Chang dengan keras hingga terdengar bunyi 'buk'.
"Aku tahu itu." Chang meringis pelan, tamparan di punggunya cukup keras.
"Oh, aku hampir lupa. Kakak di minta ibunda permaisuri untuk menemani Fang-yin jalan-jalan. Alasannya agar kalian lebih dekat satu sama lain. Aku permisi dulu kak, selamat bersenang-senang." setelah itu Genji langsung lari meninggalkan Chang.
Dengan malas pemuda itu bangkit dari duduk nyamannya. Yah, tidak ada salahnya untuk mencoba lebih dekat dengan gadis imut yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Bila di lihat cdngan baik Fang-yin gadis yang cantik, sifatnya pun mirip dengan ibundanya. Lemah lembut, baik, imut, pemalu, mungkin ia akan bisa dekat dengannya.
Ia hanya tinggal jalani saja, apa susahnya?
*****
Seorang wanita menghampiri sekelompok orang dengan badan yang kekar dan atletis. "Aku ingin kalian melakukan suatu hal."
Sekitar dua puluh pria di sana mengeluarkan senjata mereka siap siaga. "Wah wah tenang, ambil ini." wanita itu melempar dua kantung ke tanah.
"Emas Batang itu akan aku tambah jika kalian berhasil melakukan apa yang aku minta." salah seorang pria maju dan tersenyum kepada wanita di depannya.
"Apa yang kau inginkan? Kami akan melakukan apapun asal kau membayar kami."
"Tenang saja tugas ini cukup mudah untuk kalian. Aku akan tambah tiga kali lipat jika kalian berhasil. Bagai mana? Apa kalian setuju?"
"Baiklah, kita bekerja sama. Jadi apa yang harus kami lakukan?" pria tersebut terlihat senag dengan tawaran tersebut.
"Jika kalian gagal junjunganku akan marah besar. Kalian hanya perlu melakukan...."wanita tersebut menjelaskan rencananya.
"Siapa namamu?" pria tersebut bertanya.
"An, namaku An."