Karena bosan Chang memilih mencari Genji untuk mengajaknya berburu di hutan sekalian melepas stres.
Bruk...
"Ah, sakit." gadis itu menggumam sambil memegang keningnya yang terasa sakit karena menabrak d**a bidang milik Chang.
Chang hanya bergeming di tempat sambil menunduk menatap gadis di depannya karena tinggi mereka berbeda. Fang-yin mendongak untuk menatap orang yang di tabraknya.
Fang-yin mengedipkan matanya beberapa kali lalu mundur dua langkah dan membungkuk. "Maaf pangeran, saya tidak sengaja. Saya tadi di minta yang mulia kaisar untuk mencari anda, beliau menunggu anda di aula istana. Saya permisi pangeran dan maaf sudah menabrak anda." Fang-yin berbicara sambil menunduk, ia tidak berani menatap Chang. Setelah membungkuk sebentar cepat-cepat gadis itu lari terbirit-b***t meninggalkan Chang.
Chang hanya diam di tempat lalu tersenyum samar. Yah, gadis tadi ekspresinya sangat lucu. Kemudian Chang berjalan dengan santai ke aula istana.
*****
"Astaga, kenapa hari ini sangat panas?" Jianheeng mengeluh untuk yang sekian kalinya. Hari ini sangat panas dan ia sangat ingin berenang, tapi sayangnya di sini tidak ada kolam renang untuk ia berenang.
Jianheeng terus berjalan dan berhenti di sebuah danau mini. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu hendak melompat ke dalam, tapi niatnya harus batal.
"Permaisuri?" suara lembut tersebut membuat Jianheeng kelabakan. Buru-buru ia berbalik dan melihat Jia Li menatapnya dengan heran.
"Oh, shit." tanpa sadar ia menggumam dengan cukup keras. Jianheeng beringsut dari tepi danau.
"Permaisuri, apa yang anda lakukan di sini?" Jia Li bertanya, ia terlihat keheranan.
"Ah, hari ini sedang panas selir, jadi aku memilih untuk berenang." Jianheeng tersenyum kaku.
"Saya hampir lupa, anda di tunggu di aula istana Permaisuri. Sebaiknya kita cepat takut yang lain menunggu."Jia Li menasihati.
"Kau benar selir ayo kita pergi." Jia Li mengangguk setuju lalu mereka berjalan beriringan.
*****
Chang baru saja sampai di aula istana. Di sana sudah ada kaisar Zhang, Genji, dan Fengying. Kecuali ibu suri yang sedang ada di kamarnya. Chang menggeram kesal, wanita ular itu duduk di tempat ibundanya dan ayahnya hanya diam saja.
"Ada apa ayahanda memanggil Chang kemari?"Chang tidak mau lebih lama lagi ada di sini.
"Kau sebaiknya duduk dulu Chang. Kita tunggu ibundamu dan Selir Jia Li." Kaisar menunjuk kursi milik Chang.
"Langsung saja ke intinya ayahanda. Chang ingin segera pergi dari sini." Chang dengan blak-blakan menyuarakan isi hatinya.
Kaisar Zhang terlihat kaget dengan ucapan putranya tapi kaisar tetap diam, putranya mungkin sedang banyak pikiran dan besok adalah hari pernikahannya.
"Ayahnda mendapatkan informasi dari warga desa bahwa belakangan ini ada yang selalu menyerang desa Asora. Ayahanda ingin kau menyeledikinya." kaisar Zhang memberi tahu apa yang ingin di sampaikannya.
"Apa Chang akan pergi dengan para pra-" sebelum Chang menyelesaikan ucapannya Fengying memotongnya terlebih dahulu.
"Tidak pangeran, anda akan pergi sendiri untuk menyedikinya." pernyataan Fengying membuat Chang kesal. Kaisar Zhang baru saja ingin membuka suaranya tapi bibirnya terkatup lagi.
Brak...
Pintu aula istana di buka secara kasar oleh Jianheeng. Matanya metap tajam ke arah kaisar dan Fengying. Bibirnya tersenyum tapi itu adalah senyum dingin. "Bisa anda ulang ucapan anda selir?" Jianheeng melangkah dengan anggun ke dalam. Jia Li hanya menutup mulutnya rapat-rapat ia takut salah bicara.
"Saya bilang jika pangeran akan pergi sendiri untuk menyelidiki kasus tersebut."Fengying mengulang tanpa dosa.
"Tapi selir, itu sangat berbahaya jika putra mahkota pergi sendiri." Jia Li membuka suaranya.
"Yang mulia saya akan mengizinkan Chang pergi asal ada beberapa prajurit bersamanya." entah efek dari suhu yang panas Jianheeng tanpa malu langsung duduk di pangkuan kaisar. Masa bodo dengan semua orang yang ada di sana.
"Bagai mana menurut anda yang mulia? Chang masih kecil dan butuh pengamanan. Lagi pula sebentar lagi ia akan menikah." Jianheeng mengalungkan tangannya di leher kaisar Zhang dan tersenyum sangat manis.
Jantung kaisar serasa sedang maraton ribuan kilometer. Senyum Jianheeng sangat manis dan menawan. "Ehem, kurasa permaisuri ada benarnya, dua prajurit saja, apa kau keberatan permaisuri?Genji juga akan ikut." Kaisar berdeham pelan untuk menetralisirkan rasa gugupnya.
"Tidak, lima prajurit! " Jianheeng membantah tapi dengan suara manja.
"Tiga." kaisar menambahkan satu prajurit.
"Yang mulia kenapa anda pelit sekali? Padahal itu kepada putra anda. Di istana ini ada beratus-ratus juta prajurit dan anda hanya mengirim tiga orang?" nada bicara Jianheeng membuat kaisar Zhang merasa tersindir.
"Baiklah baiklah lima prajurit." percuma berdebat dengan istrinya yang sekarang sudah mulai pintar bicara.
Cup...
Jianheeng mengcup sekilas pipi kaisar lalu tanpa dosa ia bangkit dari duduknya. Efek yang di timbulkan sungguh luar biasa bagi kaisar, jantungnya sekarang serasa ingin meledak.
"Maaf selir, tapi itu tempat duduk untuk 'permaisuri'." Jianheeng sengaja menekan kata permaisuri. Fengying beringsut dari tempat duduknya sedikit sebal.
"Emm... Ibunda, berarti pernikahan Chang akan di undur? Karena penyelidikan membutuhkan waktu." Chang bertanya.
"Oh, tentu saja. Kurasa pernikahan ini akan di undur beberapa hari bukan begitu permaisuri?" Fengying menatap Jianheeng dengan sinis.
Jianheeng hanya diam sambil berpikir, ia harus mempertimbangkan segalanya agar tidak terjadi kesalahan. "Yang mualia bagai mana menurut anda?" Jianheeng malah bertanya kepada kaisar.
"Mungkin selir ada benarnya permaisuri. Kita akan mengundur beberapa hari, aku sendiri yang akan bicara dengan keluarga Fang-yin." Jianheeng hanya mengangguk setuju, lagi pula Chang adalah seorang pangeran dan ia juga memiliki tanggung jawab.
"Baiklah yang mulia jika anda berkata begitu." Jianheeng mengangguk setuju.
"Pertemuan kita bubarkan. Kalian bisa kembali melakukan aktivitas kalian." setelah mengucapkan itu yang lain bangun dari duduknya dan undur diri pamit.
"Yang mulia." Jianheeng memanggil kaisar Zhang.
"Ya, ada apa permaisuri? Kenapa kau tidak ikut keluar?" kaisar berpindah tempat duduk menjadi di sebalah Jianheeng.
"Yang mulia, saya ingin pergi mengunjungi istana Sora. Saya sangat rindu dengan kakak saya yang mulia." Jianheeng mengeluarkan jurus pup eyes yang membuat kaisar tidak tega menolak.
Istana Sora adalah salah satu istana yang ada di bawah pimpinan Kaisar Zhang. Istana tersebut di pimpin seorang Raja dan bukan kaisar, karena kedudukan Kaisar di atas Raja.
"Jangan memohon sperti itu. Kita akan mengunjungi istana Sora sekalian kita melihat keadaan beberapa desa yang akan kita lewati." kaisara mengusap kepala Jianheeng dengan sayang.
"Jika anda ikut bagaimana dengan tugas di istana? Apa anda akan memilih ibu suri untuk memimpin istana?" demi apapun harus ibu suri yang memimpin istana, ia tidak mau jika Fengying yang memimpin istana ini.
"Tentu saja permaisuri. Ibunda yang akan memimpin istana ini, memangnya ada apa? Apa kau tidak suka jika Selir Fengying yang memimpin istana?" pertanyaan tersebut tepat sekali mengenai sasaran.
"Bukan seperti itu yang mulia, saya hanya khawatir jika selir kerepotan mengurus istana karena selama ini selalu saya dan ibu suri yang memimpin." Jianheeng mencoba bersikap biasa dan terlihat sedikit kasihan.
Kaisar Zhang hanya mengangguk pelan. "Permaisuri sebaiknya kita segera bicara dengan orang tua Fang-Yin." kaisar Zhang berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan kepada Jianheeng. Jianheeng menyambutnya tanpa banyak tanya.