Kaisar Zhang dan Jianheeng sedang duduk berhadapan dengan orang tua Fang-yin.
Mereka duduk di halaman belakang yang terdapat gazebo besar. "Begini Raja Hong, kami akan mengundur acara pernikahan Chang dan Fang-yin."
"Memangnya apa yang terjadi yang mulia? Kenapa pernikahan mereka harus di undur?" Ratu Lian bertanya.
"Begini Ratu Lian, Chang akan pergi untuk menyelidiki sebuah kasus dalam beberapa hari kedepan. Saya harap anda akan mengerti, Chang juga memiliki tanggung jawab." Jianheeng menjelaskan dengan perlahan. Ia meminta para dayang untuk menuangkan teh ke gelasnya, tenggorokannya terasa kering.
"Kami mengerti yang mulia, menjadi seorang pangeran butuh tanggung jawab yang besar." Raja Hong mengangguk mengerti.
"Permaisuri bagai mana dengan baju pengantin mereka? Saya memiliki beberapa baju yang bagus." Ratu Lian bertanya dengan antusias dan mata berbinar senang.
"Saya pun memiliki baju yang Bagus untuk mereka. Bagai mana jika kita lihat ke kediamanku? Nanti kita bisa memilih baju mana yang cocok." Jianheeng menjawab tidak kalah antusias. Dua pria di sana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istri mereka.
Kaisar Zhang tersenyum tipis dengan tingkah Jianheeng yang sangat imut menurutnya. "Yang mulia, Raja Hong kami permisi." mereka membungkuk lalu berjalan keluar dari gazebo. Para dayang mengikuti junjungan mereka dari belakang.
"Mereka sangat antusias sekali, saya senang permaisuri dan istri saya bisa seakrab itu." kaisar Zhang menanggapi dengan senyum tipis, mereka melanjutkan berbincang-bincang tentang bisnis.
~~~~~
"Pangeran, apa yang sedang anda baca?" Fang-Yin duduk di depan Chang yang sedang membaca seuhah gulungan.
"Sejarah dinasti Qin." Chang sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari gulungan yang ia baca.
"Maksud anda kaisar pertama?" Fang-ying terlihat sangat semangat.
"Ya benar. Pada 221 SM, kaisar Qin kaisar pertama memulai pembangunan tembok besar, struktur terbesar yang pernah di bangun, panjangnya lebih dari empat ribu mil. Tidak hanya itu saat mati ia juga mengubur dirinya dan seluruh anggota istana: gubernur, koki, tentara, musisi, b***k yang ribuan jumlahnya, semua itu untuk menjaganya dan mengurus kerajaannya di akhirat." Chang menjelaskan sambil menggulung gulungan yang ia baca.
"Lalu bagai mana dinasti itu runtuh?" celetuk Fang-yin.
"Dinasti Qin runtuh karena lemah dalam hal militer sehingga dinasti tersebut tidak bertahan lama. Walau begitu dinasti Qin sangat berpengaruh besar dalam peradaban ini. Meski terjadi keahkiran yang cepat, dinasti ini telah membawa pengaruh besar untuk dinasti-dinasti berikutnya, dan nama China diyakini diambil dari dinasti ini. Ying Zheng kemudian mendapat gelar Shi Huangdi yang artinya kaisar pertama." Fang-yin terlihat kagum dengan wawasan calon suaminya.
"Setelah Qin ada dinasti Han, mereka menciptakan kertas, kompas, dan seismograf. Yang lebih penting bagi kita mereka membuka rute perdagangan global pertama yang masih berlangsung hingga sekarang. Kita mengirim guci, kertas, sutra dan masih banyak lagi barang yang kita kirim ke seluruh kerajaan di dunia dan Porseln putih yang paling banyak di incar karena keindahannya." Chang beranjak dari duduknya dan mengembalikan gulungan tersebut ketempatnya.
"Nah, jadi ada apa kau kemari?" Chang kembali duduk dan langsung bertanya.
"Em...begini pangeran, saya mendapat kabar jika pernikahan kita di undur." Fang-yin menundukan kepalanya.
"Benar, aku harus pergi menyelidiki sebuah kasusu besok." Chang kembali bersikap acuh.
"Semoga berhasil pangeran. Saya permisi." Fang-yin bangun dari duduknya dan tidak sengaja menginjak hanfu yang di pakainya. Ia jatuh menimpa Chang yang hendak ikut berdiri.
Bibir mereka tidak sengaja menempel yang membuat mereka diam tanpa bergerak sama sekali. Kaisar Zhang dan Raja Hong yang kebetulan lewat membeku di tempat.
Jianheeng dan Ratu Lina yang juga tidak jauh dari tempat kejadian hanya diam dengan mulut sedikit terbuka. Jianheeng tidak masalah dengn adegn di depannya malah ia sangat senang.
"Ma...maaf. Saya ti...dak....sengaja." mata Fang-yin sudah berair dan beberapa dekit kemudian ia menangis kencang sekali hingga membuat keempat orang dewasa terperanjat kaget dan langsung mendekat.
"Astaga Chang, apa yang kau lakukan? Lihat Fang-yin jadi menangis. Apa sebegitu tidak sabarnya kau ingin menikah hingga melalukan hal itu?" Jianheeng buru-buru duduk di sebelah Fang-yin dan memeluknya.
"Chang tidak melakukan apapun ibunda. Itu tadi hanya kecelakaan." ia gelagapan karena di pandang oleh semua orang.
"Hiks... Itu benar, sa...ya tadi hiks tidak se...sengaja me...hiks nginjak pakaian saya hiks. La...lalu saya jatuh dan hiks menimpa pangeran hiks lalu bi... Hiks bi.... Hiks bibir ka...ka...ka... Hua..." Fang-yin tidak melanjutkan kata-katanya lagi ia malah menangis semakin keras dari sebelumnya.
Chang menjadi salah tingkah dan pipinya bersemu merah membuat kaisar Zhang geleng-geleng kepala tidak percaya dengan apa yang ia lihat, sungguh hal yang sangat langka.
Kaisar harus menggigit bibir agar tawanya tidak keluar, pemandangan di depannya sungguh lucu. Hanya karena bibir mereka tidak sengaja bertemu membuat gadis imut itu menangis keras.
"Sudah, berhenti menangis sayang. Bukankah itu tidak sengaja? Jadi kau tidak perlu menangis seperti ini." Ratu Lian ikut menenagkan putrinya.
Fang-yin sama sekali tidak berhenti menangis, Chang langsung menarik Fang-yin dalam pelukannya agar berhenti menangis.
"Berhentilah menangis, jika tidak aku sendiri yang akan membungkam bibirmu! Anggap saja yang tadi tidak pernah terjadi." Chang berbisik di telinga Fang-yin hingga membuat gadis itu diam tidak mengeluarkan suara.
"Aku akan blak-blakan saja. Aku tidak suka gadis cengeng sepertimu, sama sekali bukan tipeku." tubuh Fang-yin menjadi kaku, ia ingin menangis kembali tapi ia tahan.
Jianheeng mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ia bisa mendengar ucapan Chang tadi karena jarak mereka sangat dekat dari pada yang lain. Walau begitu ia yakin jika putranya memiliki alasan sendiri untuk bicara begitu.
"Ehm, sudah cukup untuk acara romantis kalian. Sekarang waktunya pergi ke ruang makan." Jianheeng berdeham sebentar dan merubah ekspresi wajahnya supaya tidak terlihat mencurigakan.
Chang melepas pelukannya dan berjalan paling belakang. "Chang, setelah ini ibunda ingin berbicara denganmu." Jianheeng berbisik agar tidak ada yang mendengar.
"Baik ibunda."Chanh hanya mengiyakan lalu berjalan mendahului ibunya.
"Hah, sabar. Chang masih kecil, ia masih labil." Jianheeng mengelus dadanya. "Orang sabar di sayang dewa." ia berjalan menyusul yang lain.
~~~~~
"Nah, Chang apa maksud dari perkataanmu itu kepada Fang-yin." Jianheeng berdiri di depan Chang dan menunggu penjelasan dari putranya.
"Maksud ibunda yang mana? Apa saat aku mengatakan ia gadis yang cengeng?" Chang seperti tidak berdosa sama sekali dengan apa yang di lakukannya.
"Dengar Chang, ibunda tidak suka melihat atau mendengarmu bicara seperti itu kepada seorang wanita kau mengerti Chang?" Jianheeng menasihati putranya dengan lembut, karena seorang anak selalu ingin di manjakan dan di mengerti.
Sebagai orang tua kita juga harus mendengar dan mengerti apa yang di inginkan anak, kita juga harus mendukung apa yang ingin di lakukannya jika itu baik.
"Chang hanya tidak suka melihat seorang wanita menangis, karena ibunda sangat sering menangis karena perbuatan ayahanda. Maka dari itu Chang berkata begitu agat Fang-yin menjadi gadis yanh tangguh. Chang minta maaf jika perbuatan Chang salah ibunda, Chang tidak bermaksud melakukannya." Chang membungkuk untuk meminta maaf.
"Bangunlah Chang, ibunda tidak marah. Kau hanya melakukan apa yang menurutmu benar, tapi sebaiknya jangan seperti itu karena hati wanita sangatlah lembut."Jiangeeng duduk di depan putranya lalu mengelus kepalanya sebentar.
"Chang tahu itu ibunda. Kalau begitu Chang permisi, masih ada yang harus Chang urus." Chang membantingnya bubuk lalu pergi dari harem bulan.
"Hah, ibunda hanya ingin yang terbaik untukmu. Ibunda juga ingin kau menjadi kaisar baik dan adil suatu hari nanti.'' Jianheeng keluar dari istana bulan, ia akan menemani kaisar mengerjakan tugas istana.