Hari ini semua keluarga istana berkumpul di depan gerbang karena Chang dan Genji akan pergi menyelidiki kasus. Sedangkan kaisar Zhang dan Jianheeng akan pergi ke istana Sora.
"Jaga diri kalian baik-baik di sana ya. Nenek akan merindukan kalian." ibu suri Shi Huang memeluk cucu-cucunya.
Kami pasti baik-baik saja nenek."mereka menjawab dengan serempak. Ibu suri Shi Huang memeluk kedua cucunya sambil menciumi pipi mereka.
Setelah itu giliran Jianheeng yang memeluk keduanya. "Kalian hati-hati di sana, jaga diri kalian baik-baik, ibunda khawatir terjadi sesuatu pada kalian karena yang mulia hanya membari lima prajurit saja. Ayah kalian sangat pelit sekali!" sengaja Jianheeng mengeraskan suaranya agar terdengar oleh orang-orang. Genji dan Chang terkikik pelan lalu mengecup pipi Jianheeng.
"Ibunda tenang saja, kami akan baik-baik saja." Genji memeluk Jianheeng kembali lalu berjalan ke arah ibunya.
"Kami akan kembali secepat mungkin dan Chang juga akan menjaga Genji." Chang memeluk lagi ibunya lalau berjalan ke arah kudanya.
Setelah Chang dan Genji pergi giliran Jianheeng yang berpamitan dengan ibu suri. Jianheeng diam sebentar di hadapan Fangyin sambil menatapnya sinis lalu melenggang pergi menaiki tandu. Sementara kaisar Zhang lebih memilih menaiki kuda miliknya.
Ibu suri masuk ke dalam istana untuk mengurus pekerjaan putranya dan di susul Jia Li. Fangying masih Setia berdiri di sana, ia menatap tajam ke arah depan. "An, aku ingin kau mengumpulkan Putri dari beberapa kerajaan. Aku ada sebuah rencana."
"Baik, saya akan melaksanakannya." An mundur beberapa langkah karena Fangying akan kembali ke istana.
*****
Saat senja Chang dan Genji sudah sampai di desa Sora, mereka mengganti hanfu kerajaan yang mewah dengan hanfu biasa. Walaupun hanfu tersebut terlihat lebih mencolok dari yabg lain.
"Kita cari penginapan dulu, setelah itu kita akan mencari makan di kedai.'' Chang berbelok ke sebuah penginapan dan mereka di sambut dengan ramah di sana.
"Ada yang bisa saya bantu tuan." Genji mendengus sebal dengan wanita di hadapannya. Wanita tersebut genit dan mata duitan.
"Kami pesan dua kamar." Chang menanggapi dengan dingin. Sama sekali tidak tertarik dengan wanita di depannya.
"Lalu bagai mana dengan lima pria di belakang anda?" suara yang di buat manja tersebut membuat mereka berdua ingin muntah.
"Mereka orang bayaran kami, sekarang serahkan kunci kamarnya." Genji mengulurkan tangannya meminta kunci dari wanita itu.
Setelah mendapat apa yang mereka inginkan, mereka langsung melesat ke arah kamar. "Itulah sebabnya aku lebih suka di istana dari pada berada di desa dengan orang-orang seperti wanita tadi. Wanita centil seperti itu membuat ginjalku gatal." Genji komat-kamit sambil menggerutu kesal.
*****
Fangying mengamati beberapa Putri yang ada di depannya. Mereka semua cantik dan menarik, ia berjalan mondar-mandir di depan gadis-gadis itu. Meneliti mereka dari atas sampai bawah membuat beberapa gadis itu gugup.
Fangying berhenti di salah satu gadis yang menurutnya pas dengan kriterianya. "Nah, siapa namamu Putri." Putri tersebut terlihat anggun dan juga licik persis seperi dirinya.
"Nama saya Xia selir. Senang bertemu dengan anda langsung." ia menjawab dengan suara lembut dan manis seperti layaknya seorang Putri bangsawan.
"Senang bertemu denganmu juga Putri Xia, mari silahkan ikut saya." Fangying tersenyum senang dan sebelum pergi ia berhenti di depan dayang kepercayaannya. "Pulangkan para Putri yang lain dan satu lagi jangan sampai ibu suri tahu hal ini!" setelah itu Xia pergi ke kediaman Fangying.
"Putri Xia, saya ingin anda berada di sini dan bekerjasama dengan saya." Fangying membuka percakapan setelah bebarapa lama hening.
"Apa imbalannya? Saya akan bekerja sama dengan anda asal imbalannya setimpal. Bagai mana selir?'' untuk ukuran Putri yang sedang berbicara dengan seorang selir Agung itu sangat tidak sopan dan lancang sekali.
"Imbalannya tentu setimpal. Kau akan mendapatkan putra mahkota dan menjadi Ratu di kerajaan ini bagai mana? Apakah imbalannya cukup dan setimpal? Jika masih belum akanku tambahkan." tawaran Fangying sangat menggiurkan dan tanpa pikir panjang Xia langsung mengangguk semangat.
"Baiklah sekarang kita bekerja sama."
"Mulai sekarang kau akan tinggal di sini, aku sudah menyiapkan kediaman yang akan kau tempati." setelah itu Fangying melenggang pergi meninggalkan Xia di sana sendiri. Dayang-dayang pribadinya mengikuti dari belakang.
*****
Jianheeng dan Kaisar Zhang sudah sampai di istana Sora pada malam hari. Mereka di sambut dengan meriah oleh keluarga kerajaan. Saat sampai Jianheeng langsung memeluk kakaknya.
Sekarang mereka sedang makan bersama-sama.
Kaisar Zhang akan meminum lagi alkohol tapi niatnya harus di batalkan. "Yang mulia anda tidak boleh minum terlalu banyak itu tidak sehat. Selain itu anda akan mabuk.'' Jianheeng duduk di sebelah kaisar Zhang.
"Tidak apa permaisuri, lagi pula aku jarang minum." kaisar Zhang melanjutkan acara minumnya yang tertunda.
"Ayo kita berlomba minum, siapa yang terakhir jatuh atau pingsan ia pemenangnya." Qin kakak Jianheeng mengumumkan sesuatu yang gila membuat Jianheeng mendengus kesal.
Setelah beberapa jam berlalu pipi kaisar Zhang sudah memerah sedangkan Raja Qin sudah terkapar di lantai dan mendengkur keras sekali membuat sang istri menggusurnya ke dalam kamar.
"Yang mulia anda mabuk." Jianheeng memapah kaisar Zhang dengan susah payah karena berat tubuh mereka tidak seimbang.
"Aku baik-baik saja permaisuri. Tapi kenapa kau jadi ada lima?" kaisar Zhang sesegukan dan menyandar ke tubuh Jianheeng yang membuatnya lebih kesulitan.
"Baiklah-baiklah, sekarang anda harus segera istirahat yang mulia." Jianheeng menendang pintu di depannya hingga terbuka dengan paksa. Ia membaringkan kaisar Zhang di kasur dan mulai mengganti hanfu yang di pakainya.
"Astaga, sebenarnya anda minum berapa botol yang mulia?" Jianheeng pusing sekali karena bau alkohol. Ini semua salah kakaknya yang membuatnya kesusahan.
Awalnya mereka akan mengunjungi kakaknya dan memberi tahu bahwa Chang akan menikah tapi harus batal karena acara lomba yang di adakan kakaknya. Rencananya mereka akan pulang bersama kakaknya ke istana untuk menghadiri acara pernikahan Chang nanti.
Jianheeng tersentak dari lamunannya karena kaisar Zhang tiba-tiba menariknya mendekat membuat jarak mereka sangat tipis. "Yang mulia apa yang anda lakukan? Saya sedang mengganti baju anda." Jianheeng mencoba menjauh tapi tidak bisa.
"Biarkan seperti ini dulu permaisuri. Belakangan ini kau ada di fikiranku, akupun tidak tahu kenapa. Aku hanya ingin begini sebentar saja." Kaisar Zhang memeluk Jianheeng lebih erat dan Jianheeng pun hanya pasrah dan membiarkannya.