Okee ini udah di revisi yaa
***
Pada saat ini di luar pintu yang tertutup.
Lucas bersandar pada tembok seperti binatang yang menunggu momen yang pas untuk menyerang, bermain dengan kotak korek api di telapak tangannya dengan bosan, tatapannya dingin dan tidak bisa dijelaskan.
Tidak ada yang menyadari kedatangannya selain Jenny.
Itu juga setelah dia menyaksikan gelagat para mahluk halus yang lagi pada kumpul-kumpul sebelum waktunya gentayangan--- dilihat dari dandanannya yang super seram, tiba-tiba pada mental, lalu bubar tanpa sebab.
Berdiri di sebelahnya, Hara memasang wajah jelek, lebih jelek dari Lucas yang disebut neneknya dengan panggilan anak yang tidak berguna.
Membawa lembaran tagihan rumah sakit di tangannya, dia mengulurkan tangan mendorong pintu, tetapi Lucas segera menghentikannya dengan gelengan kepala.
"Bos, keluargamu itu, mereka sudah keterlaluan, oke. Mereka harus diberitahu, kalau uang tunjangan hidup yang masuk ke rekening nggak sedikitpun berkurang, bahkan satu perak! Dan tagihan rumah sakit sudah dibayar lunas tanpa menggunakan uang mereka!"
"Biarkan saja! Jangan beritahu."
"Tapi, Bos, mereka--"
Lidah Hara mengerem tepat waktu saat dia melihat wajah tanpa ekspresi di dekatnya, menarik lagi tangannya dia mundur dua langkah ke belakang.
"Baiklah, terserah apa katamu, Bos."
Hara memperhatikan Lucas, dan dia menghela napas dalam hatinya.
Lucas memiliki keputusannya sendiri dengan membiarkan keluarganya tidak tahu apa yang selama ini dia kerjakan, dan keputusan itu tetap sama dan tidak akan berubah, biarpun semua orang menganggap dirinya orang yang sia-sia, yang tidak akan menikmati hidup mewah dan makmur tanpa uluran tangan keluarga besarnya.
Sejauh ini meskipun dalam hatinya berontak tidak terima, Hara selalu mematuhinya. Namun untuk kali ini, dia sedikit enggan.
Lucas baru saja menikah dan menurut -feeling-nya, Jenny itu berbeda dengan anak perempuan keluarga lain yang sangat hidup saat tahu mau dijodohkan dengan satu dari dua anak Widjaja, tapi mendadak mati saat tahu calonnya itu Lucas.
Untuk Jenny, biarpun dia menikah karena permainan dua keluarga, faktanya sampai saat ini, wanita itu masih bertahan dan tidak membuat keributan seperti saudaranya.
Ada wanita seperti itu, tidak seharusnya dia diam saja saat mendengar tuan mudanya dihina dina, bukan?
Setelah segala omong kosong yang dikatakan oleh Su mi di dalam yang paling membuat Hara takut adalah, Jenny terpengaruh dan endingnya, tuan muda yang malang ini kembali ditinggalkan.
Di sini, desahan Hara dapat ditiup menjadi balon yang sangat besar.
Dari dalam, suara renyah gadis itu terdengar lagi.
"Sekarang kami sudah menikah, mau dia diberi berkah nasib baik atau dikutuk dengan nasib buruk, sebagai istri, sudah menjadi kewajibanku harus selalu mendampingi suami."
Semua orang nampak kaget, dan mengira mereka salah dengar. Kecuali Zalorra yang menyembunyikan seulas senyum sarkastik.
Oke, jadi gadis bodoh ini punya ide sendiri. Tetap tinggal di sisi Lucas, mungkinkah dia mengharapkan posisi nyonya muda Widjaja yang dihormati?
Buat Zalorra itu bukan masalah besar. Selama itu hanya posisi nomor dua dikeluarga, karena posisi utama akan selalu menjadi miliknya.
Lain lagi dengan Su mi, dia sedikit tidak puas dengan hasil ini.
Keuntungan yang sudah melambai-lambai di depan hidungnya, dengan cepat berubah menjadi kerugian karena ulah gadis bau yang tiba-tiba saja muncul.
"Jenny kamu harus memikirkannya sebelum mengambil keputusan.” Su mi membungkuk, dengan sungguh-sungguh membujuk, “diskusi dulu dengan keluargamu, haruskah tinggal atau pergi. Karena kalau kamu memaksa tetap tinggal, yang jadi taruhan di sini adalah nyawamu, hidupmu sendiri."
Ngibul! Jenny mencibir.
Justru karena nggak mau mati, makanya dia nggak mau pergi dari Lucas.
Setidaknya tunggu sampai tiga puluh delapan hari lah, kalau dia berhasil mendapatkan air kehidupan milik pria itu, dan sudah mantap berwujud manusia, mungkin bisa dinegosiasikan.
Lagipula, dengan tanduk ini, dia bisa pergi kemana?
"Aku sudah bilang ke saudaraku sebelumnya, dan sekarang aku ulangi lagi depan kalian, apapun yang terjadi, aku nggak akan pergi, dan tetap berada di sisi Lucas. Paham ya semua?"
Tanpa suara, Su mi mengalihkan pandangannya kepada nenek Lora dan Vania, meminta dukungan kepada mereka yang berkuasa.
Nenek Lora menangkap maksud pandangannya, sebagai tetua keluarga, dialah orang terakhir yang harus mengambil keputusan.
Membasahi tenggorokannya, dia melihat Jenny yang balas menatapnya dengan matanya yang jernih dan berani.
"Karena ini menyangkut hidup cucuku, kamu harus mendengarkan dan patuh dengan keputusanku."
Jenny langsung memasang sikap tegak dan memasang telinga sebagai pendengar yang baik.
"Oke, aku dengar."
Dia mengangguk dan meminta nenek Lora melanjutkan.
"Pernikahan ini memang sudah salah sejak awal. Perjanjiannya, anak atau cucu yang menjadi pewaris utama yang dijodohkan, berarti Zicco dan Zalorra, tetapi malah berubah jadi kamu dan Lucas."
Jeuni yang tidak mengerti asal muasalnya kenapa Jenny yang asli dan Lucas bisa menikah, mengangguk-angguk kecil saat dia mendengarkan.
"Bagaimanapun juga, janji itu sudah gugur begitu kalian menikah. Kamu sudah boleh meninggalkan suamimu sekarang. Masalah perceraian, biar keluarga kami yang mengurusnya, tentu akan ada kompensasi yang cukup untukmu hidup tanpa perlu khawatir kekurangan uang."
Lucas menyipitkan matanya yang dingin dan gelap.
Apakah orang-orang ini benar-benar berpikir dia memiliki kesabaran tanpa batas?
Beraninya mereka ikut campur dan mengatur bagaimana dia hidup, dan dengan siapa dia harus menikah!
Di antara orang-orang di sini, Su mi lah yang paling senang dengan hasil akhir.
Lembaran-lembaran uang dan keuntungan yang bisa membuat hidup keluarganya nyaman kembali terbang mengelilingi kepalanya seperti lingkaran halo.
Jenny melipat kedua tangannya depan d**a saat dia menatap kosong orang-orang yang memilik berbagai macam ekspresi di depannya.
Memutar matanya ke atas dengan ekspresi mengejek, dia berkata, "ya, ya terserah nenek aja, pokoknya aku nggak akan pergi, kecuali Lucas sendiri yang membatalkan pernikahan."
"Jenny!" Zalorra memberinya tatapan sewot.
Brak!!
Nenek Lora yang marah memukul meja dengan tongkat di tangannya. "Beraninya kamu!"
"Nek,"
"Bu, jangan emosi. Ingat tekanan darahmu." Vania dengan sabar menenangkan, lalu memelototi Jenny, "Jenny! Patuhi perintah nenek, jangan membantahnya. Ini semua demi Lucas!"
"Mau apa kalian semua ke sini?" Muncul suara yang dalam dan agak kesal saat drama itu berlangsung.
Semua kompak menoleh dan melihat Lucas berjalan melewati pintu.
Dia tinggi dan tampan, namun matanya yang gelap tidak berdasar. Kesuraman di wajahnya membuatnya tampak semakin tidak menyenangkan.
Jenny menegakkan punggungnya dan melambaikan tangannya, memanggil Lucas dengan suara riang.
"Sayang, kamu udah lama di sana? Sini, sini, liat deh siapa yang dateng. Katanya mereka keluargamu.'
Su mi, Vania dan nenek Lora melihat kedatangannya dengan mata melebar sedemikian rupa. Sampai-sampai Jenny takut mata itu lepas dari ro
Sementara, Zicco dan Zalorra sama-sama memiliki ekspresi aneh pada wajah mereka.
Lucas mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, tanpa dasi, beberapa kancing di kemeja tidak dikancingkan, dan lengan bajunya setengah gulung.
Kecuali arloji di pergelangan tangan kirinya, dan masker yang menutupi sebagian wajahnyam tidak ada hiasan lain di sekujur tubuhnya.
Menarik lepas maskernya, dia memberi keluarganya tatapan yang dibarengi dengan serpihan es.
"Bukankah tadi Hara sudah memberitahu, nggak ada satupun dari kalian yang diizinkan datang ke sini?" Dia mengerutkan kening, tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya.
Ekspresi marah yang terlihat di wajahnya sudah cukup mengintimidasi siapapun.
Jenny memperhatikan bahwa wanita tua itu dan menantunya sangat gugup cemas. Mata yang tadi memelototinya, secara mendadak kehilangan kekuatannya.
"Kenapa masih pada nekat?" Lucas memasang sikap yang mengancam, "nggak takut mati, atau sudah bosan hidup, makanya nekat mendatangi orang yang dikutuk dengan nasib sial?"
"Bang, jangan keterlaluan!" Zicco mengambil satu langkah ke depan dan memblokir pandangan dingin Lucas ke nenek dan ibunya, "Nenek sudah tua, kesehatannya lagi nggak bagus, tapi dia bela-belain datang ke sini untuk menjenguk istrimu."
****
****