Okee, ini udah di edit yaaaa....
Maaf kalau bikin kesel yg baca awokwokwok
******
Wajah tampan Lucas berkedut, dia menyipitkan mata kemudian bibir tipisnya terbuka, mengeluarkan suara dalam yang sinis.
"Sudah lihat 'kan? Di luar bayangan kalian, Jenny baik-baik saja, masih hidup, dan sehat. Kalau nggak ada yang lain, silakan pergi dari sini. Jangan membuat udara yang sudah kotor semakin tercemar!"
"Lucas! Begitu caramu ngomong sama nenekmu?" Setelah membentaknya, Vania langsung menyesal dan memarahi mulutnya sendiri.
"Kalian lupa? Aku bukan lagi cucunya sejak dua puluh tahun yang lalu!"
Wajah nenek Lora semakin keriput mendengarnya. Dengan susah payah dia berdiri, mendekati Lucas yang langsung menghindarinya seperti kotoran.
Semua orang sedikit tertegun.
Jenny, di sisi lain, menyaksikan semua dari tempat tidurnya.
Bahunya naik turun dan ujung bibirnya melengkung keatas.
Dia senang dengan adanya keributan.
Manusia yang akur dan hidup rukun berdampingan saja dia hasut dengan mengembuskan rasa iri, dengki, julid, dan curiga. Biar mereka pada ribut.
Apalagi ini, yang sudah ribut. Kalau bisa jangan deh pada damai.
Wajib dikipasi terus bara apinya biar semakin panas. Ho ho ho ho.
Dengan begitu saja, dia mengulurkan tangan, memeluk lengan Lucas dengan posesif dan langsung ia sesali satu detik berikutnya.
Astaga, aku ngapain sih? Gumamnya, saat merasakan lengan dalam pelukannya menjadi kaku dan telapak tangan yang tergantung di bawahnya mengepal.
Dia mendongak, saat melihat keatas, pandangannya bertemu dengan netra hitam yang memberi isyarat siap melemparnya keluar jendela, kalau dia tidak segera melepaskan pelukannya.
Jenny mengabaikan peringatan terselubung Lucas, memasang wajah tidak tahu malu dan malah menempelkan kepalanya ke lengan kekar itu.
"Sayang, kamu tadi denger nggak? Kata onty Su Mi, kutukanmu bisa hilang kalau kamu menikahi keponakannya."
Lucas yang sudah tidak tahan dengan belitan tangan yang melingkari lengannya menjawab dengan suara yang terdengar kasar dan dingin.
"Lalu?!"
"Mari kita bercerai, jadi kamu bisa segera menikah dengan keponakan onty Su mi."
Enam orang lainnya yang berada dalam ruangan itu tercengang. Mereka tidak bisa percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
Apa artinya ini?!! Kenapa arah angin tiba-tiba berubah?
Tetapi dalam hati masing-masing, terutama Su Mi dan nenek Lora, tersimpan kegembiraan sendiri.
Lucas menarik tangan kirinya dari pelukan Jenny. Gulungan lengan kemeja yang tadinya rapi, sekarang berantakan dan kusut.
Menggunakan telunjuknya, dia mendorong kepala yang sejak tadi menempel di sana dengan marah.
Senyum sarkastik terlihat di bibirnya saat dia memberi wanita muda itu tatapan dingin.
Ternyata gadis ini sama saja dengan yang lain, yang mengatakan mencintainya, tetapi langsung melarikan diri begitu ada kesempatan.
Dia sudah melihat hal ini terlalu sering.
Hawa dingin muncul di belakang leher Jenny.
Dia menelan ludah saat dalam hati bertanya-tanya, mungkinkah pria ini titisan raja neraka yang dibuang ke dunia?
Caranya menatap dan mengintimidasi benar-benar mengerikan.
Entah berapa lama suasana aneh ini berlangsung, mata Lucas membeku menjadi es jatuh di tubuh Jenny yang berkata.
"Jangan marah, oke? Ini demi kebaikanmu."
Lucas yang mendengarnya hanya tertawa kecil.
Wanita ini benar-benar persis keluarganya.
Mereka semua tidak sabar untuk menjauhinya dengan alasan klasik, 'semua demi kebaikanmu'.
Padahal dalam kenyataannya, mereka takut kalau berdekatan terlalu lama dengan dirinya, akan membawa mereka kepada nasib buruk.
Benar, dia adalah orang yang dikutuk sebagai pembawa sial, dewa wabah yang ingin dihindari semua orang dengan berbagai cara.
Dan wanita ini sudah menemukan caranya.
Semua yang dia katakan sebelum ini. Bahwa dia tidak mau pergi dan tetap berada di sisinya. Itu semua bohong.
Bibirnya yang tipis tertutup rapat, alisnya berkerut menahan perasaan marah dan kesal yang begitu saja datang.
Lucas menyipitkan matanya dan berkata tanpa ragu-ragu.
"Jangan bercerai. Aku lebih suka begini."
Ada keheningan aneh di udara begitu kata-kata itu berakhir.
Masih dengan senyum sinis di bibirnya, Lucas menunggu ekspresi pucat dan ketakutan pada wajah Jenny yang terpaksa menghabiskan seumur hidup dengannya.
Karena dia sudah berani berbohong. Maka biarkan saja dia menerima akibat dari kebohongannya.
Di luar dugaan, wanita muda malah tertawa, ehehehehe dengan ekspresi menyebalkan.
Matanya melengkung seperti bulan sabit terbalik saat dia memberi senyuman yang disertai ejekan, "Tuh, dengar sendiri 'kan? Aku sudah minta cerai duluan, tapi suamiku lho yang nggak mau."
Dagu kecilnya terangkat bangga dengan tangan mengibas rambutnya, setiap kata yang dia ucapkan, jelas dan penuh dengan aroma kemenangan.
Bibir pria itu terkatup.
Sial!
Perempuan ini ... dia sudah menjebaknya! ! !
Jenny tersenyum, mendongak dan menatap Lucas, "Aku jamin, kamu nggak bakalan nyesel milih aku. Yang jelas dulu aja deh, secara visual aku cantik. Iya, nggak? Keponakan Onty Su Mi, siapa yang tau?"
Wajah Su Mi merah dan putih.
Dia mengambil ponsel dari dalam tas manik-manik buatan tangan. Dengan emosi dia menggulir layar mencari-cari selama beberapa detik, lalu mengangkat ponsel, menunjukkan layarnya dari jauh.
"Kamu lihat ini, lihat! Keponakanku juga cantik!"
Melihat itu, Jenny hanya mengibaskan tangan dengan ekspresi mencibir.
Mau bohong lagi nih orang! Sorry ya, nggak berhasil!
Dia gitu lho, sudah khatam dengan kelakuan manusia kalau yang edit foto, suka kebangetan.
Makanya banyak banget tuh, kasus pelet yang gagal kirim.
Karena Jenny cuma diam, Su Mi pikir dia kagum dengan bangganya, dia menunjukkan ponsel berlayar lebar itu ke nenek Lora, Vania dan juga Zalorra.
"Lihat-lihat. Cantikkan? Selain cantik, pembawa keberuntungan lagi. Cocok banget untuk cucumu."
Lucas hanya memberikan ekspresi kosong pada hal yang menurutnya tidak penting ini.
Dalam pikirannya adalah, dia harus secepatnya mengusir pengganggu-pengganggu ini, lalu menyelesaikan urusannya dengan Jenny.
Pada saat itu, suara Jenny yang penuh dengan aroma yang berbau celaan kembali terdengar.
"Huh! Kalau foto sih mana bisa dipercaya? Kebanyakan filter makanya cantik. Coba kalau nggak pake filter, palingan mukanya jebag, lebar, kayak baskom pesugihan!"
Su Mi mengertakkan gigi, hampir menelannya dengan matanya, tapi perasaan kesalnya diwakili oleh nenek Lora yang berteriak dengan keras.
"Kamu diam!!!"
Jenny langsung diam, menyusut, menyembunyikan diri di belakang punggung Lucas, menggigil seperti kelinci yang ketakutan, "Sayang, nenekmu kenapa sih? Kok kayaknya nggak suka sama aku?"
Lucas mengerutkan alisnya.
Kemana perginya sikap melawan seperti kucing yang ekornya terinjak tadi?
"Kalian tetap bercerai Jangan ada yang membantah!" Nenek Lora memandang Su Mi dan berkata, "bawa keponakanmu ke rumah besok!"
"Nek, jangan gegabah. Pikirin juga perasaan abang."
Nenek Lora mengabaikan bujukan Zicco.
Bagi wanita tua itu, cucu seperti Lucas tidak punya hak untuk menolak. Dia cuma momok menakutkan yang merugikan nama besar keluarga.
Lagipula apa gunanya menolak?
Seharusnya dia berterima kasih, karena sudah dicarikan pasangan yang bisa membuang aura sialnya.
Dengan gerakan halus, Vania mendekati mertuanya, "Bu, lihat anak itu. Bagaimana kalau dia menolak?"
"Jangan khawatir," Nenek Lora menepuk-nepuk punggung tangannya, "dia nggak akan menolak."
Karena masih tergantung dengan keluarga, suka atau tidak, Lucas pasti akan patuh dan menuruti ucapannya.
Meskipun demikian, apa yang wanita tua itu dapatkan adalah ucapan kejam dan tidak menyenangkan.
"Berhenti mengurusi hidupku. Terhitung mulai hari ini, aku bukan lagi bagian dari keluarga terhormat kalian!"
"Jaga mulutmu! Jangan ngomong sembarangan!" Hardik neneknya.
Lucas menyipitkan mata, "aku tetap memakai nama Widjaja hanya untuk menghormati kakek dan ayahku. Tapi semua yang berhubungan dengan Widjaja, nggak ada hubungannya denganku lagi!"
*****