MG part 1: Dunia mahluk halus.

1149 Words
Gedung perkantoran yang terletak di tengah-tengah antara Jakarta Timur dan Bekasi terlihat gelap setelah jam kerja selesai. Hujan deras yang turun dari siang tadi, menyisakan rintik-rintik kecil yang membawa hawa dingin. Di lantai dasar gedung, hanya lampu di meja resepsionis yang masih menyala, ruangan kantor lain gelap gulita. Tetapi itu tidak membuat Pak Dahlan, satpam yang kebagian jaga malam takut, pria paruh baya itu duduk di meja resepsionis, sambil asyik mengikuti lagu dari ponsel model lama miliknya. ~Jurus apa yang kan ku berikan~ ~Jarang goyang... jarang goyang~ Karena cuma hapal bagian reff-nya, hanya di situlah, dia ikutan bernyanyi dengan suaranya yang khas bapak-bapak dan cukup meresahkan telinga orang-orang yang mendengarnya. Termasuk telinga wanita muda berwajah putih yang duduk dimeja yang sama dengannya. Sama seperti wanita di meja resepsionis, orang-orang menunggu di lobi, juga melihat Pak Dahlan dengan tatapan mau mencengkik. Plug! "Aduh...duh...mataku-mataku!!" Jeritan itu menyayat telinga pendengarnya.  Rupanya bibi tua petugas bersih-bersih melotot terlalu lebar sampai bola matanya jatuh, dan menggelinding dekat tanaman beringin yang dibonsai. Dengan tangan meraba-raba dia mencari bola matanya.  Hantu yang lain melayang, mereka membantu bibu menggeser pot beringin yang berat. Kesibukan mereka  membuat daun yang sejak tadi anteng bergoyang.  Melihat daun yang tiba-tiba bergoyang, padahal nggak ada angin, Pak Dahlan langsung diam. Itu membuat mahluk tak kasat mata di sekitarnya senang. Mereka melanjutkan diskusi lagi tanpa terganggu. Di luar, Seorang wanita berpakaian serba merah, muncul entah darimana. Kedatangannya yang tiba-tiba, membuat penghuni gedung berlarian ke tempat kerja masing-masing. Jarang-jarang lho, jin dengan level tinggi seperti dia datang memeriksa kinerja anak buahnya. Siapa bilang jin, hantu, mereka nggak punya pekerjaan? Tentu saja mereka punya. Nakut-nakutin manusia itu butuh modal lho. Kalau nggak kerja, darimana mereka dapat uang untuk beli parfum yang harganya mahal? Parfum itu salah satu syarat wajib yang harus mereka pakai untuk menaikkan level. Yang paling banyak dipakai dan paling murah itu aroma amis dan bangkai. Biasanya yang pakai itu, jin dan hantu kemarin sore, yang kalau nakut-nakutin suka main keroyokan dan dibaru dibacain doa sedikit, langsung bubar. Lain dengan jin yang pakai parfum beraroma bunga, kentang bakar, singkong bakar. Itu sudah golongan yang paling elit deh. Seperti wanita merah ini, dari jauh aroma kembang tujuh rupa, varian parfum yang paling mahal dan langka sudah semerbak. Meskipun dia tidak berniat menakuti manusia, tapi wanginya bisa sampai ke indra penciuman manusia yang penakut. Lihat saja Jupri, satpam yang kebagian keliling memeriksa keamanan, tiba-tiba mengigil saat mencium aroma wangi yang samar. Semua ayat yang dia hapal dia baca, dan bukannya hilang, baunya malah semakin semerbak. Wanita merah yang berdiri di dekatnya menunggu dia mau baca doa apalagi. Mulutnya yang berwarna merah darah tersenyum lebar, mulai dari ujung telinga kiri sampai telinga kanan. Tiba-tiba mulutnya menjadi normal lagi, dan dia buru-buru melayang pergi saat Pak Jufri membaca, Allahuma lakasumtu disambung dengan Allahuma baariklana, begitu selesa dengan sangat khusyuk seolah-olah di depannya ada makanan yang sangat lezat. Gila memang manusia jaman sekarang, nggak cukup makan duit haram, setan pun juga mau dimakan!  Melayang seperti angin ke depan pintu, Jin merah itu berhenti. Menatap ke seonggok bungkusan seperti guling yang tengah mengobrol dengan dua genderuwo penjaga pintu. Melihat siapa yang datang, dua genderuwo yang masih muda itu balik ke pos nya masing-masing, di sisi kiri dan kanan pintu geser. "Ini?" "Lapor, Nyonya merah. Ini Poci, pocong cekci, gentayangan sejak lima puluh tahun yang lalu, sekarang mau melamar kerja di sini." Nyonya merah hanya melihat sekilas, mengibaskan rambutnya yang panjang, berkata. "Hantu bungkus, nggak punya tangan, nggak ada kaki. Punya pengalaman apa?" "Ngeludahin makanan biar enak, Nyah." "b***k manusia?" Poci mengangguk malu, menjadi b***k manusia adalah pekerjaan yang paling memalukan untuk bangsa jin. Aib lah pokoknya.  "Kenapa berhenti? Perjanjian habis?" Poci mengerut-ngerutkan hidungnya yang gatal, tapi dia tidak bisa menggaruknya. Tangannya, bund. Masih terikat kencang.  Setelah gatalnya hilang, dia segera menjawab pertanyaan nyonya merah. "Perjanjian masih lama, tapi dukun perantara mati tiba-tiba, dan jiwa-jiwa yang ditawan oleh dukun itu dibebaskan oleh seorang Kyai, Nyah." Kenapa nggak nyari perantara lain? katanya enak ikut manusia?" "Nggak, Nyah. Enak apanya? Tenggorokan saya kering ngeludahin makanan terus, mana cuma dikasih teh sama kopi pait mulu." Nyonya merah mengangguk-angguk paham, "Yaah, begitulah manusia serakah. Kelakuannya lebih dakjal dari pada dakjal. Kadang saya suka bertanya-tanya, berapaa sih harga gula? Masa tiap minta bantuan, sajennya itu-itu mulu. Kopi pait, teh pait, air putih. Sama apa itu? Rokok kretek, ya ampun, nggak suka saya. Baunya nggak enak. Papinya anak-anak suka saya marahin kalau terima job dari mereka. Nggak sesuai sajen sama permintaanya!"  Curhatan nyonya merah, membuat hujan yang tadi berhenti turun lagi, Poci yang tidak mau kebasahan pindah tempat dengan cara melompat, melihat itu, Nyonya merah mengerutkan dahinya. "Kamu belum saya terima lho. Kok udah seneng, main lompat-lompat aja." Poci terdiam, tidak harus bersikap bagaimana. Kalau tidak melompat, jadi dia harus giman dong, masa terbang?  "Bawa lamaranmu besok, jam dua belas malam, ketemu HRD. Kebetulan, kami baru mau buka kelas lompat untuk suster ngesot dan wewe gombel. Siapa tau kamu lolos jadi instruktur." Bukan main senangnya Ocong. Dia mau mengulurkan tangan, mengajak salaman, tapi batal setelah sadar kedua tangannta terikat kuat. Setelah berkata begitu, Nyonya merah segera melayang masuk. Dengan sigap, kedua genderuwo yang bekerja sebagai penjaga pintu menggeser pintu kaca sampai terbuka lebar. Keruan saja itu membuat Pak Dahlan, satpam kantor yang dapat tugas jaga malam terkejut. Dia mengucek-ngucek kedua matanya. Meskipun kejadian ini sering terjadi, pintu yang tiba-tiba terbuka malam-malam, tetap saja dia masih sering kaget. Sambil menenangkan jantungnya, pria paruh baya itu melirik jam di ponselnya, dan mengeluh dalam hati. "Ya Allah, ini setan iseng banget sih, baru jam sembilan udah pada keluar aja. Besok pagi aja ngapa." Wajahnya saat ini, sama pucatnya dengan wanita yang sejak tadi duduk di sebelahnya. Saking kagetnya melihat bos besar, hantu kecil itu menyenggol ponsel milik Pak Dahlan sampai jatuh. keruan saja ketakutan pria itu semakin berlipat. Kumisnya yang tebal bergerak-gerak saat mulutnya komat-kamit baca doa. "Jangan ganggu, Mbah. Jangan ganggu, cucu di sini cuma cari makan." Tentu saja doa itu bikin hantu wanita sebelahnya jadi kesal. Saking kesalnya, dia mengembuskan hawa dingin. Dan melepas kepalanya, melemparnya sampai mengenai punggung pria itu. Perbuatannya itu membuat bulu kuduk Pak Dahlan berdiri. Untungnya, dia nggak lihat kepala itu menggelinding sambil ngomel. "Isshh! Dasar aki-aki, makanya kalau dateng ke dukun, sekali-sekali minta dibukain mata batin, jangan nomor togel mulu yang diminta, dasar oon! Hantu masih muda belia gini dipanggil mbah. Tuaan juga situ!" Belum terlalu lama hantu resepsionis itu berbuat jahil, karena tiba-tiba, dia melihat jin merah yang levelnya paling tinggi itu mendekat. Kepala itu langsung melayang menempel dengan asal-asalan di leher. "Hei, Suketi! Kenapa mereka nggak kelas, dan malah kumpul di sini? Nggak ada instruktur?" Sambil membetulkan letak kepalanya yang salah posisi, dia menjawab, "Masih ada yang kerja, Nyah, di lantai lima." "Lagi?" Suketi mengangguk, sekalian memeriksa apalah kepala dan Lehernya menempel dengan sempurna. "Usir mereka kalau belum pulang dalam satu jam!" Wajah Suketi yang pucat jadi transparan. "Tapi, Nyah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD