"Nggak ada tapi-tapian, kelas harus dimulai malam ini. Saya nggak mau ya, kelas kita kalah dari Academy Vampir, negeri tetangga."
Suketi mengangguk.
Gedung perkantoran ini kalau malam memang dipakai untuk tempat belajar bagi-bagi jin level rendahan, terutama jin perempuan.
Kurikulum yang wajib dipelajari adalah,
Cara merawat rambut panjang supaya tidak kusut setelah terbang dari satu pohon ke pohon yang lain.
Kelas merawat belatung biar gemuk dan lincah supaya tidak bikin malu sewaktu ditaruh di punggung yang bolong.
Dan belajar cara ketawa melengking tanpa tersedak yang sesuai dengan standar dan etiket yang berlaku.
Semua pelajaran itu sangat diperlukan untuk menaikkan level supaya menjadi jin penguasa suatu daerah, untuk jin pria.
Sedangkan untuk jin wanita, tentu saja supaya benang merah di kelingking kiri mereka, bisa tersambung dengan benang merah di jari kelingking kanan milik jin yang paling hebat.
Suketi melayang, mondar-mandir mencari hantu pelajar yang berani mengusili karyawan lantai lima sampai mereka memutuskan segera pulang.
Ada yang berani, tapi begitu melihat pimpinan perusahaan masih ada, tidak ada lagi yang mau maju, semua mundur alon-alon.
"Hei, bos di lantai lima auranya terlalu kuat, kami nggak sanggup dekat dia lama-lama."
Instruktur, yang juga jin paling kuat juga mengakui, dan dia juga setuju dengan kata-kata tadi.
"Jadi gimana? Jangan bikin nyonya merah marah."
Selama diskusi, jin-jin itu duduk di sana, depan pantry lantai lima. Hanya area itu yang aman buat mereka.
Waktu satu jam yang diberikan nyonya merah masih tersisa lima puluh menit, tapi belum ada yang berani.
Tanpa di duga, pintu dapur terbuka, Rahmat, office boy yang bertugas keluar membawa nampan yang penuh berisi makanan.
Melayang di belakangnya,
"Ahha! Si Jeuni!!!"
*****
Benarkah ada hantu di dunia?
"---Omong kosong! Mana ada hantu di dunia!"
Di lantai lima, karyawan The West Ventures, perusahaan investasi yang banyak membiayai perusahan-perusahaan rintisan, sedang lembur.
Entah apa pemantiknya, mood big bos sedang dalam keadaan buruk, sedikit kesalahan, alamat beban kerja semakin banyak.
Ini sudah hari kelima karyawan yang jumlahnya kurang dari lima puluh orang itu bekerja sampai larut malam.
Target, target dan target.
Dan ada peraturan yang tidak tertulis di sini. Kalau satu divisi kebagian lembur, bagian lain juga harus ikut lembur.
Bukan, bukan karena saking kompaknya. Tapi karena...
"Barusan aku denger ada yang ngomel depan pantry, pas aku cari, nggak ada orang dong."
Melihat Amrita yang berlari tergopoh-gopoh dari dapur dengan wajah sepucat kertas, tanpa dikomando, mereka menggeser kursinya, berkumpul.
"Ah, salah dengar tuh. Paling itu Rahmat yang lagi teleponan." Hara, sekretaris pribadi big bos yang kebetulan ada di sana menenangkan.
Rumor tentang lantai lima gedung ini yang berhantu semakin meresahkan. Itu yang membuat karyawan kompak lembur.
Mulai dari air di galon yang suka 'blubuk, blubuk', bunyi sendiri. Barang yang pagi-pagi pindah tempat, bau bangkai, suara orang ketawa dan sekarang orang marah-marah.
Kalau tidak segera dihentikan, bisa mempengaruhi kinerja karyawan.
Namun, kata-kata yang menenangkan itu, dengan segera disanggah oleh yang lain, "Bukan, bukan. Nggak mungkin itu Rahmat, dia lagi ambil pesanan makanan di bawah."
"Astaga? Jadi siapa dong?"
"Kalian ngerasa nggak sih, kayaknya dari tadi kita diperhatiin, tapi pas nengok nggak ada siapa-siapa?"
Karyawan wanita yang duduk dekat jendela, segera mematikan laptopnya beringsut lebih dekat dengan yang lain.
Tanpa ia sadari, dia membuat mahluk tak kasat mata yang menempel belakangnya-fokus menonton drama Korea yang barusan ia tonton-- menjadi kesal.
"Hei, hei! Kenapa dimatikan? Nyalain lagi nggak, nyalain lagi! Itu gimana nasib pangeran Wang Soo dan Hae Soo. Hei, hei, hei!!!"
Si Jeuni melayang mengitari wanita itu sambil terus berteriak.
Tentu saja dia tidak mendengar teriakan bernada protes itu dan malah semakin dekat dengan temannya karena tiba-tiba merasa merinding.
Sikapnya itu membuat Jeuni kesal.
Brak!!!
Sebelum melayang pergi, dia sempat-sempatnya memukul laptop sampai tertutup.
Dan itu tidak luput dari perhatin mahluk hidup yang ada di si sana.
"Astaga! Itu ketutup sendiri?"
Para wanita langsung beringsut lebih dekat satu dengan yang lain.
"Kayaknya iya."
"Duh, aku kok jadi merinding! Mana ini malam Jum'at."
Seperti di komando, mereka melihat kepada Hara.
Dengan segera, pria muda itu dikepung oleh perasaan tidak enak, "Big bos yang minta ini cepat selesai. Kerjakan saja, semakin cepat selesai, semakin cepat kalian semua pulang."
"Tapi ini sudah jam delapan, Har. Kami takut, tolong bilang ke presdir, bisa nggak di tunda sampai besok. Ya, ya?"
"Iya benar, kata warga sekitar sini, di sini angker. Banyak hantunya, malah ada yang pernah--"
Liona bahkan belum selesai bicara ketika suara pria yang dalam dan magnetis menariknya, memaksanya untuk diam.
Semua menoleh dan melihat Lucas, presdir perusahaan berdiri di pintu masuk.
Dia tinggi dan tampan, auranya yang menawan terlihat bagai pangeran berkuda putih yang keren.
Uang adalah satu-satunya baginya yang seorang presdir perusahaan investasi internasional.
Dia adalah tipe orang yang tidak memiliki perasaan, serta individu yang dingin.
Bila saja perangai dan sifatnya tidak buruk dan menakutkan, dia merupakan pria yang sempurna dengan wajah tampan dan agung.
"Pre-presdir." Para karyawan yang berkumpul langsung tergagap.
Pria itu berjalan selangkah demi selangkah, dan akhirnya berhenti setengah langkah lagi, matanya yang tampan menyipit berbahaya, dan suara mulutnya bahkan lebih dingin.
"Tidak ada hantu di dunia ini. Itu cuma imajinasi kalian." Lucas tidak menunggu karyawannya menjawab saat dia kembali berkata, "Hantu tidak nyata, tapi tagihan kartu kredit, cicilan kendaraan, rumah dan biaya hidup. Itu nyata, mana yang lebih menakutkan? Di kejar hantu atau debt collector?"
Semua AC di seluruh ruangan sepertinya rusak saat ini, dan suhu tiba-tiba turun ke titik beku.
Yaah, debt collector jauh lebih menakutkan dari hantu manapun.
Hantu, setan, jin dan dedemit marakayangan dibacain ayat kursi kabur. Kalau debt collector, bisa-bisa dilempar kursi kita kalau tidak bisa bayar.
Dengan begitu, perdebatan selesai, karyawan kembali bekerja tanpa mengeluh.
Selesainya masalah manusia, tentunya menimbulkan masalah untuk para jin.
Tapi tak satu pun dari mereka yang berani mendekati pintu ruangan itu. Mereka hanya memandang dengan gugup ke arah Lucas.
Auranya yang berwarna biru, membuat mereka kepanasan saat mendekat.
Sementara waktu yang diberikan nyonya merah semakin berkurang.
Sampai pintu dapur tiba-tiba menjeblak terbuka.
"Si Jeuni!!!"
Si Jeuni, yang mereka panggil terkejut. Berhenti melayang, dia urung mengikuti Rahmat yang membawa makan malam ke dalam.
"Tumben pada ngumpul. Pake manggil segala, ada apa nih?"
Dibilang begitu oleh Jeuni, Suketi dan yang lainnya jadi tidak enak hati.
Pastilah, kemarin-kemarin, mereka mana pernah menegur Jeuni, lihat bayangannya saja pada melipir.
Dalam level mereka, jin seperti Jeuni berada dalam level paling rendah, satu tingkat lebih rendah dari jin yang pernah jadi b***k manusia.
Sama-sama pernah jadi b***k manusia, hanya saja nasib Jeuni lebih na'as.