Dan kebetulan, selain para jin yang sedang belajar, hanya ada tiga manusia di lantai lima.
Semakin malam, suasana semakin sepi dan mencekam, tetapi tiga orang itu masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Para jin dan jiwa-jiwa yang bergentayangan mulai iseng, mengatur strategi menakut-nakuti.
Baru juga ketawa ngikik setinggi dua oktaf, mereka semua disembur dengan percikan dan sabetan do'a yang menyakitkan.
Mereka semua salah pilih lawan.
Orang yang dikira karyawan biasa dan gampang diisengin itu ternyata, Pak Kyai, Pak Ustadz dan guru ngaji yang hapalan suratnya bukan kaleng-kaleng.
Triple kill.
Sekali sembur, hilang semua mahluk halus yang ada disana. Kalaupun ada yang bertahan, dijamin mereka tidak berani menganggu sampai efek do'anya melemah.
Mengingat adegan mengerikan dari ritual membuang energi negatif dari para jin itu, ingatan menyakitkan membanjiri dirinya, dia menjadi pucat dan berkeringat dingin.
Namun, Jeuni segera memikirkan hal lain. Meskipun dia berhasil lolos, apa anggota tubuhnya masih utuh?
Dia segera menyingkirkan selimut dan memeriksa tubuhnya.
Syukurlah, tangan dan kakinya masih ada. Tapi tunggu, kenapa kakinya terbungkus kain putih? Dengan cemas, Jeuni berpikir, apa dia sudah berubah menjadi pocong sekarang? Atau jadi mbak Kun?
Ah, mana mungkin.
Rasanya sakit saat Jeuni mencoba memindahkan kakinya, tapi setidaknya dia masih bisa merasakan sakitnya.
Namun, lebih menakutkan baginya, kenapa kakinya jadi lebih kecil? Tangannya, tangannya juga jadi lebih ramping.
Dia mengerutkan alisnya, melihat ke jari-jarinya, dan tiba-tiba menggigil.
Kemana kuku-kuku panjangnya? kuku-kuku yang panjangnya lebih dari lima senti dan dirajah dengan indah itu, sekarang terpangkas dengan rapi.
Lalu rambutnya, tangan Jeuni yang gemetar menyantuh area kepala yang sudah berubah menjadi sebahu. Kemana rambut sepinggang yang biasa ia kepang mirip ekor kuda?
Lalu, tanduknya?
Jeuni semakin panik. Tidak mungkin, tanduk adalah salah satu kekuatan utama dari Jin perempuan. Kalau itu hilang...
Jeuni merasa pasti dia mengalami mimpi buruk yang sangat nyata. Benar-benar nyata.
Sambil mengisap udara, dia memejamkan mata dan dengan susah payah membaca mantra untuk dirinya sendiri, ini cuma mimpi, cuma mimpi. Cuma mimpi...
Setelah merasa dirinya tenang, dia kembali membuka kedua kelopak matanya.
Semua masih sama, kulit berwarna s**u yang mulus, kaki dan tangan yang ramping dengan kuku terpangkas rapi.
Do'a apa yang diamalkan oleh pemuka agama itu? Kenapa tubuh Jin-nya berubah jadi begini?
Bayangan buruk wujudnya yang tidak bisa kembali seperti semula, membuatnya hampir menangis.
Nyonya merah!
Jeuni teringat kepada Jin pemilik sekolah.
Benar, Nyonya merah pasti tahu jawabannya. Dia harus segera pergi ke kerajaan Jin dekat rel kereta.
Dengan segera, Jeuni menyingkirkan membuang selimut yang menutupi tubuhnya.
Pada saat itu, pintu kamar terbuka. Tiga orang gadis muda masuk, satu orang yang memakai pakaian sederharna berwarna putih, segera mendekat.
"Ya ampun, ibu. Jangan berdiri dulu, kakimu masih belum sembuh."
Setelah mendengar larangan ini, Jeuni segera membuka mulutnya, "Siapa yang butuh kaki kalau aku bisa melayang?"
"t***l! Sejak kapan manusia bisa melayang?"
Jeuni perlahan mengalihakan tatapan ke arah wanita muda yang berkata seperti itu, mengucapkan satu pertanyaan sekaligus, "Apa yang barusan kamu bilang?"
"Maksudmu... t***l? Maaf aku nggak bermaksud untuk---"
"Bukan,bukan, bukan yang itu." Dengan cepat Jeuni memotong ucapan Zalorra, "Setelah kata-kata itu."
Zalorra dan perawat saling bertukar pandang.
"Sejak kapan manusia...melayang?" Suara yang ragu-ragu datang dari mulut Zalorra.
Jeuni memandang ketiganya dalam waktu yang cukup lama.
"Siapa manusia yang kalian maksud itu?"
"Ya kamu, siapa lagi yang kakinya sakit di sini?" Zalorra menjawab pertanyaan Jeuni.
"Aku? Manusia, hihihi" Tawa Jeuni meluncur dari mulutnya yang terbuka, dia mengibaskan rambut sebahunya ke belakang. "Jangan bercanda ya!"
"Kalau bukan manusia, memangnya apa? Setan!"
"Jin, dong. Masa setan, ngomong-ngomong, siapa kalian? Penghuni baru ya, kok aku nggak pernah lihat."
Ekspresi kedua gadis di ruangan itu menjadi khawatir.
"Sus, katanya cuma kakinya yang parah. Kok jadi begini sih, yakin kepalanya nggak apa-apa?"
Suster yang memakai seragam perawat hanya bisa diam saat mendengar pertanyaan Zalorra, dalam diamnya, dia mencerna.
Rumah sakit tempatnya bekerja memang terkenal angker, kata paranormal di Mister Tukul jalan-jalan, ada kerajaan Jin dekat pintu belakang. Melihat ketidaknormalan pasien, jangan-jangan dia kerasukan salah satu penghuninya.
Perawat itu bergidik ngeri, tetapi lebih ngeri lagi si Jeuni saat dia tidak sengaja melihat bayangan wajahnya di jendela kaca.
"Ahhhhh!!!! Siapa, siapa dia?"
Dengan gemetar, perlahan dia mencondongkan badannya lebih dekat ke jendela dan, pada saat berikutnya, Jeuni menegang.
Wajah dalam bayangan cermin itu benar-benar imut menggemaskan, mata bulatnya dinaungi oleh bulu mata yang panjang, pipinya sedikit chubby dengan hidung mungil dan mulut seperti ceri kecil.
Kecantikan seperti ini, jelas merupakan ciri khas dari seorang manusia.
Dan sekarang, kecantikan seperti ini, tiba-tiba menjadi miliknya.
Jantung Jeuni seperti perlahan meluncur dari tempatnya.
Melihat ekspresi Jeuni yang seperti kehilangan nyawa dan mata yang tidak bersemangat dengan kedua tangan yang terus meraba-raba wajahnya, Zalorra tidak tahan untuk bertanya.
"Jenny, ada apa? Jangan khawatir wajahmu aman, nggak terluka sedikitpun."
"Siapa. Aku... kamu, kamu memanggilku apa?"
Ekspresi Zalorra semakin khawatir, "Kamu...adalah Jenny, Jenny Amoedya Widjaja. Kamu tertabrak mobil seminggu yang lalu, patah kaki kiri, dan nggak sadar selama seminggu. Tapi jangan takut, nggak ada luka dalam."
"Namaku ... namaku adalah... Jenny?" Ekspresi dan wajah Jeuni terlihat agak samar.
Kenapa, kenapa bisa dirinya masih hidup dan berubah menjadi Jenny?
Zalorra kembali melempar pandangannya kepada perawat. Meskipun agak aneh dengan sikap Jenny, dia mengangkat suara.
"Suamimu sudah tau penyebab kecelakaan kemarin. Aku kesini untuk memperingatkanmu."
Tentang memperingatkan, tentu saja Zalorra bohong. Dia ke sini mau melihat bagaimana Jenny dimarahi oleh Lucas.
Menurut kabar, pria itu sangat menakutkan. Tidak ada ampun untuk kesalahan kecil, apalagi ini, Jenny kecelakaan saat mengejar mantan pacarnya.
Namun, reaksi wanita itu membuatnya terkejut.
"Suami apa? Orang benang merah di kelingkingku putus semua kok. Nih, liat sendiri."
Menampik tangan kiri Jenny, Zalorra berkata sedikit kesal.
"Kamu udah nikah, masa kamu nggak ingat?"
Cewek t***l ini, berani main-main dia sekarang!
Mendengar kata 'suamimu', Jeuni tidak bisa untuk tidak gemetar. Matanya beralih ke menatap jari kelingking kirinya lalu menggoyang-goyangkannya.
Tidak ada benang merah.
Bagaimana bisa ada suami?
Perawat dengan jelas mulai merasa ada sesuatu yang mencurigakan. "Tenang, tenang dulu, Bu. Oke, ibu ingat tanggal berapa ulang tahun ibu?"
Jeuni menggeleng, mana ada mahluk halus yang merayakan ulang tahun. "Nggak."
"Tapi kamu masih inget sama aku kan, Jen?"
Dengan usaha keras, Jeuni menahan diri untuk berteriak 'NGGAK!' kepada Zalorra, dan tersenyum yang kelihatan lebih jelek daripada menangis.
"Kayaknya... aku, aku nggak ingat apa-apa."
Perawat itu tampak terkejut sebelum berhasil pulih dan dengan cepat berkata, "Jangan khawatir, aku akan memanggil dokter lebih dulu."
Kenapa dokter?
Yang dia butuhkan itu, paranormal, anak indigo atau apalah yang paham dengan dunia gaib. Jeuni dengan sedih mengeluh.
Dengan segera Zalorra menarik tangan perawat, membawanya keluar dari kamar mewah tersebut supaya secepatnya memanggil dokter.
Melihat kedua gadis itu berjalan cepat menuju pintu, Jeuni diam-diam memeluk selimut. Perubahannya ini sungguh mengejutkan, dan dia butuh waktu untuk berpikir ...
"Ada apa, ada yang salah?"
Suara laki-laki yang dalam tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.
Jeuni mengangkat kepala dan melebarkan matanya saat itu, tangannya yang memegang selimut tiba-tiba bergetar.
Dia... dia?