MG 4: Aku, Manusia?

1057 Words
Selamat Tahun baru... Semoga tahun baru ini, Eike rajin update yaa.. Ini update My Genie dulu yg idenya masih anget.  GhamaSutra nunggu kontrak, belum jadi2.  **** Buat yang bingung, Berbarengan dengan Zalorra, Jenny juga menoleh dan melihat orang yang sudah berdiri dekat mereka.  Gaun putih yang ia kenakan jatuh dengan sempurna, rambut turun ke bahunya dengan jepit rambut berlian. Seperti Zalorra, seluruh tubuh gadis itu terlihat modis dan sangat mahal.  "Bukan, bukan begitu, Rhein. Jenny cuma bercanda tadi." Suara rapuh itu kembali terdengar sebelum dia sempat menjawab.  "Kualifikasi apa yang kamu punya sampai mau menuntut keluarga Widjaja kami?"  Hubungan Rheina dengan keluarga Widjaja ditarik dari garis keturunan ibunya yang merupakan anak dari sepupu perempuan Riyadi Widjaja, kakek Lucas.  Meskipun hanya cabang kecil. Menjadi bagian dari keluarga terkaya di Indonesia, selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Rheina.  Rheina, yang telah dibesarkan dilingkungan kelas atas sepanjang hidupnya, hanya memandang rendah gadis yang diurus oleh keluarganya karena belas kasihan.  Tangan Jenny dikepal dan dikendurkan, dilonggarkan dan dipegang lagi.  Setelah beberapa saat, dia menjawab dengan suara yang lebih mirip bisikan, "Kami hanya tidak saling mencintai."  "Lalu siapa yang kamu cintai? Moreno?" Rheina merangkul lengan Moreno, bertanya dengan centil, "Hon, Jenny masih cinta tuh sama kamu. Kamu gimana?"  "Rheina, jangan konyol. Dia sudah menikah, kalaupun bercerai. Siapa yang mau sama seorang janda?"  Wajah kecil Jenny pias. Dia menunduk, menjadikan rambut panjangnya sebagai tirai untuk menutupi perasaan malu.  "Ahahaha," Rheina tidak bisa menahan tawa, matanya penuh ejekan, "Dengar sendirikan? Kamu masih single aja dibuang, apalagi janda. Mendingan janda bolong, harganya masih mahal. Lah kamu?"  Bahkan telinga Jenny sudah merah sekarang. Dia dengan diam-diam mencengkeram ujung bajunya.  "Rhein, keterlaluan banget sih kamu ngomongnya."  Meskipun menegur, tetapi nada bicara dan tatapan Zalorra tidak bisa bohong. Dia menikmati pertunjukan ini.  Tanpa ada yang memperhatikan, Jenny mengangkat gelas berisi cola di depannya, membawanya ke mulut. Namun, tiba-tiba.  Byur!  Segelas besar cola dingin menyiram wajah sampai d**a Rheina.  "Apa-apaan!"  "Ka-kamu!"  "Hei!"  "Jenny!"  Berbarengan dengan seruan kaget orang-orang yang duduk di meja yang sama, Jenny melompat pergi.  Keributan dimeja mereka dengan cepat menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.  "Biar aku yang mengurusnya." Zalorra dengan cepat mengejarnya ke luar.  "Lepas. Biar aku pulang!"  "Jen..." Zalorra dengan cepat berkata, tapi dengan cepat tersedak oleh bentakan keras dari Jenny.  Menurunkan kepalanya, dia menutupi wajahnya dengan menyedihkan.  "Aku tau kamu nggak terima pernikahan ini. Lucas punya sifat yang sangat buruk, kamu bahkan dipermalukan. Itu semua karena aku... salahku...andai kemarin tubuhku sehat, kamu nggak perlu menggantikanku, aku yang akah menikah dengan Lucas. Kamu nggak akan dihina seperti ini, tapi kemarin aku..."  Ketika dia berbicara, bahu Zalorra bergetar. Air matanya turun, melewati sela-sela jari.  Zalorra punya penyakit asma parah. Menangis seperti itu, akan membuat napasnya sesak dan tersengal.  Melihatnya seperti itu, Jenny menjadi tidak tega. Wajahnya yang cantik penuh dengan kekhawatiran dan sakit hati.  "Lupakan. Itu semua bukan salahmu."  Melihat Jenny mulai khawatir kepadanya, Zalorra dengan cepat meletakkan satu tangan di dadanya. Dan wakahnya yang elegan dipenuhi dengan rasa sakit.  "Tentu saja itu salahku. Jen, jangan kamu kira aku nggak merasa bersalah. Aku akan cari cara supaya pernikahan ini bisa dibatalkan, tapi kamu harus sabar. Nggak mudah ngomong sama kedua pihak orang tua. Kamu ngerti kan?"  Jenny menggigit bibirnya, "Aku nggak yakin bisa."  "Jenny, kamu jangan berpikiran pesimis. Dengar, serahkan semua ke aku. Oke? Sekarang ayo kita balik lagi ke dalam. Kamu harus minta maaf sama Rheina, atau dia akan mempersulitmu di keluarga Widjaja."  Jenny mundur selangkah dan dengan halus menarik lengannya keluar dari tangan Zalorra.  "Sudah sore. Aku harus pulang."  Jenny segera melewatinya dan pergi meninggalkannya.  Wajah Zalorra tiba-tiba membeku. Dia tidak mengira Jenny akan menolak permintaannya.  Sedikit perasaan kesal melintas melewati bibirnya yang berwarna merah.  Dia hanya melihat punggung Jenny yang menjauh dan mengumpat dalam hati karena harus meminta maaf kepada gadis sombong atas perbuatannya.  Napas Zalorra menjadi berat.  Jenny bergegas meninggalkan restauran pizza dengan pandangan yang dilapisi air mata.  Siapa yang tahan melihat orang yang dicintainya bermesraan dengan gadis lain?  Di pinggir jalan dekat tempatnya berdiri, sebuah mobil berhenti. Rheina masuk meninggalkan Moreno di belakangnya.  Jenny yang sedang menunggu taksi tiba-tiba melihat Moreno berlari ke persimpangan jalan tempat mobil itu menghilang.  "Moreno, tunggu!"  Dengan berlari, Jenny bergegas menghampiri Moreno yang sudah menyebrang jalan.  Lampu hijau menyala, dan sebuah mobil dari sisi lain melesat menghindari lampu merah menuju ke arahnya.  Klakson berbunyi dengan sangat nyaring, membuatnya kaget setengah mati.  Jenny yang berada di tengah-tengah jalan tidak bisa bergerak dan  tanpa sadar malah menutup matanya.  "Awas!!"  "t***l!" Panggilan dan u*****n yang tergesa-gesa bergema di sore hari  yang padat.  Dengan 'ledakan' mobil itu terbanting dan terbang ke keluar dan membuat dua belokan di aspal sampai menabrak trotoar.  Jejak darah terlihat bersamaan dengan tubuh yang terkapar di aspal.  "Jenny!!!!" **** "Hmmm..."  Jeuni memutar lehernya yang sakit dan sedikit menggerakkan tangannya yang terasa kaku.  Susah payah dia berusaha membuka kelopak matanya. Namun kelopak matanya terasa sangat berat, benar-benar berat.  Kalau di dunia manusia ada istilah, susah bangun subuh karena matanya dikencingi oleh setan.  Di dunia mahluk halus juga ada. Jin susah bangun Maghrib karena matanya ketempelan ingusnya burung cowok yang muntah sembarangan.  Butuh tekad bulat untuk membuang efek malasnya dan ia akhirnya bisa membuka matanya setelah berusaha keras.  Setelah cahaya dari lampu yang putih di atas mengenai matanya, wajahnya yang biasa saja menjadi kaku.  Dia masih hidup.  Dirinya masih hidup.  Segera, Jeuni merasan gembira karena berhasil melarikan diri dari gerbang neraka.  Jeuni masih ingat dengan jelas.  Jin-jin pelajar yang statusnya masih masa percobaan, iseng mau menakuti-nakuti tiga orang yang mereka kira karyawan baru di lantai lima.  Awalnya, Jeuni tidak mau ikut-ikutan pergaulan bebas seperti itu.  Tetapi, cicit Raja Jin penguasa pohon jengkol dekat sungai di kampung belakang, bawa parfum bunga tujuh rupa dengan extrak telur angsa yang direndam selama empat puluh hari dalam air seni perjaka, sebagai hadiah.  Varian terbaru parfum keluaran terbaru ini menimbulkan sensasi bau busuk yang dipadukan dengan aroma samar bunga melati yang membuat manusia lari terbirit-b***t dalam satu kali semprot.  Kecuali Jin bodoh, tidak ada yang menolak parfum yang masih langka dan belum beredar di pasar-pasar para setan yang buka semaunya di area pendakian.  Tanpa berpikir dua kali, Jeuni ikut mendaftar. Yaah, anggap saja sedang uji nyali.  Kebetulan hari itu malam Jum'at, cuacanya hujan dan muram di malam hari. Tidak ada bintang di langit malam, dan yang bisa dilihat hanyalah langit gelap dan awan kelabu.  Suasana yang paling disukai para mahluk halus.  ****** Bersambung.... ****************************************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD