Hanya berdua membuat Rianti merasa sedang berkencan. Dia tidak tidur di pundak Sava, karena dia terus berdegup kencang. Sempat melirik kanan kiri, ada pasangan orang yang sama dengannya. 'Mungkin sedang pacaran,' pikirnya. Membuat Rianti salah tingkah sendiri.
"Aku tadi emang menangis," ujar Sava memecahkan keheningan.
Rianti meliriknya. "Hmm?" tanyanya berdeham.
"Haha, jangan tertawa, ya!" pinta Sava sebelum cerita.
"Kamu udah ketawa duluan, tau!" sahut Rianti membuat Sava tertawa lagi.
"Waktu kamu nggak ada di rumah, aku merasa sunyi lagi. Aku meminta Rey menemaniku di sini, sampai sekarang," cerita Sava.
Rianti menatap Sava yang tidak mau menatapnya. 'Sava lagi berpikir kayaknya!' batin Rianti.
"Terus, kenapa nangis?" tanya Rianti.
Sava menunduk, mendongak lagi sambil mengerjap. Rianti bisa melihat sumber cahaya menjadi bercahaya. Dia menggenang mata udara. Rianti mengangkat sebuah pundak Sava dan menilik wajah Sava. "Hei, kenapa? Aku membuatmu nangis? Sava, jangan nangis! Aku jadi merasa terhormat!" ujar Rianti tidak enak.
Sava menggeleng dan tersenyum. "Bukan itu! Dengarkan dulu! Laki-laki yang hampir mati ini nggak nangis tanpa alasan, tau!" seru Sava tersenyum pada Rianti. Membuat Rianti tersentak. 'Bisa-bisanya ngomong gitu!' batin Rianti.
Sava menatap ke depan lagi. “Aku pikir kamu nggak suka sama aku. Karena, untuk apa bersama orang sepertiku, 'kan? Haha, aku kira kamu pergi. Selain itu, aku yang malang. Takut mati dan kalau mati ingin masuk surga. Aku bicara dengan Rey soal penyakitku. Aku mengeluh padanya, berharap kalau Rey orang tuaku. Aku bahkan mikir kalau aku dicampakkan, sama orang tua dan kamu juga. Itu ... Membuatku sakit, Rianti. Jujur aja, saat kamu membuatku tertawa, aku merasa hidup tanpa ingat mati. Kamu pergi , aku ingat takdirku yang memilukan ini. Salahkah kalau aku menangis? Apa salah, Rianti? " curhat Sava bertanya.
Air matanya menggenang di pelupuk mata. Rianti jadi berkaca-kaca.
"Kalau ada kesempatan aku ingin hidup sehat lagi. Nggak mau sakit sampai mati begini, tapi kalau takdir mau bilang apa? Aku harus menerimanya. Sang Kuasa pasti sedang menungguku, iya, 'kan?" tanya Sava.
Rianti menggeleng cepat. "Enggak, Sava! Kesempatan selalu ada dan takdir sudah ditentukan sama Tuhan!" jawab Rianti. Dia bingung ingin menjawab apa.
Sava menoleh. "Kamu jangan pergi tanpa bilang lagi, ya. Meski malu aku bilang begini, tapi ... Aku membutuhkanmu untuk semangat!" ujar Sava tersenyum sakit.
Rianti menggigit bibir bawahnya. Mengangguk tanpa suara membuat senyum Sava semakin lebar. 'Senyummu, sakit!' batin Rianti.
Tidak tahu salah dari mana, Rianti refleks menerapkan Sava dari samping. Membuat tubuh Sava kaku karena terkejut.
"Rianti? Kamu meluk aku?" panggil Sava bertanya.
Tidak ada jawaban. Namun ucapan Sava laporan terbelalak. 'Aku meluk Sava? Kok nyaman? Hehe, biarlah, udah halal. Aku jadi merasa simpati sama Sava, batin Rianti.
Dia tidak mau melepaskan pelukannya. Membuat Sava juga Sava perlahan melemaskan badannya dan mengelus lengan Rianti. Dia tertawa kecil.
"Apanya yang lucu?" tanya Rianti.
Sava masih tertawa, membuat Rianti meliriknya.
"Kamu itu gampang banget berubah mood, ya!" kata Rianti heran.
Sava menunduk menatapnya. "Habisnya, lucu!" ujar Sava di sisa tawanya.
Rianti semakin bingung. "Ha? Lucu?" tanyanya.
"Hmm, lihat sekeliling! Kita kayak mereka, tau! Kayak orang lagi pacaran malam-malam, ehm!" deham Sava di akhir ucapannya.
Rianti menganga. Sontak melepaskan pelukannya dan melototi Sava. "Enak aja pacaran! Kita nggak pacaran, ya!" sewot Rianti.
"Emangnya kenapa? Nggak apa-apa, kali!" kata Sava sambil merangkul pundak Rianti.
Rianti lebih kesal. "Ih, lepasin! Nggak usah sentuh aku! Pokoknya nggak pacaran!" seru Rianti sambil menurunkan tangan Sava dari pundaknya. Sava tersenyum miring menggoda. "Kamu tadi meluk aku, hayo!" goda Sava.
"Itu nggak sengaja!" elak Rianti.
"Hmm, bilang aja cari kesempatan dalam kesempitan! Gara-gara aku nangis, 'kan? Ngaku aja!" Sava semakin gencar menggoda Rianti. Suasana hatinya berubah seketika.
Rianti meletakkan di pinggang, membuat Sava semakin melebarkan senyum
"Enggak! Pokoknya enggak! Kamu, 'kan cengeng dan penakut! Jadi, aku cuma kasihan aja! Nggak usah ge'er, deh!" omel Rianti.
"Oh, ya? Tapi seneng meluk aku, 'kan? Pipimu merah, tuh! Dasar perempuan, haha!" goda Sava mencolek dagu Rianti. Membuat Rianti semakin menganga dan malu.
"Aaa, nggak usah sentuh aku!" pekik Rianti marah.
"Kalau nyium boleh?" tanya Sava tiba-tiba mendekatkan dirinya dengan cepat. Rianti sampai mendelik mundur.
"Apa cium-cium? Cium sendal, nih!" sewot Rianti ingin mengambil sendalnya. Sava menghela napas dan memundurkan wajahnya.
"Galak!" ejek Sava.
"Biarin!" sewot Rianti.
Membuat Sava terkekeh dan Rianti tetap cemberut. 'Sial! Aku jadi malu, 'kan!' batin Rianti.
"Oh, ya. Soal Ayahmu gimana? Nggak nyari lagi?" tanya Sava.
"Nyari, kok. Cuma belum saatnya aja!" jawab Rianti cuek. Sava gemas mencolek lengan Rianti sampai Rianti berdecak.
"Kamu belum cerita tentangmu dan keluargamu. Ceritakan!" pinta Sava.
Rianti seketika menoleh dan tersenyum. "Tidak ada yang manis, semua pahit. Kecuali saat Ibu masih ada. Lain kali aja, ya! Mending sekarang ayo pulang. Anginnya semakin dingin, ntar kamu batuk lagi." ucap Rianti sambil melihat sekeliling.
Lalu dia berpikir. 'Iya, ya. Sava nggak batuk sama sekali. Masa 'anginnya nggak berpengaruh? Paling enggak, ya, berasa dingin gitu. Mungkin, merasa sesak, gitu?' Pikir Rianti.
Sava mengangguk setuju. Mereka pulang dan berada di kamar masing-masing. Rianti tersenyum sendiri mengingat Sava yang menggodanya. Dia hanya senang, pipinya terasa panas. Sampai larut malam dia belum tidur. Lalu, teringat dengan buku rahasia Sava. Rianti langsung mengambilnya dari lemari. Membuka buku itu dan langsung tercengang. Tulisan tangan yang tidak rapi,
"Sava, selamatkan Papa dan Mama! Hati-hati dengan Rey! Kamu ditipu, nak!" gumam Rianti.
Rianti melot memahami artinya. Benar jika ada yang salah. Rianti membolak-balikkan lembaran buku itu, tidak ada tulisan lain. Membaca tulisan itu berkali-kali mencoba mengerti maksudnya. 'Apa maksudnya ini?' pikir Rianti.
Rianti menyimpulkan jika tulisan tangan yang berantakan karena di tulis dengan tergesa-gesa. Tidak mungkin orang tua selebar mertuanya ditulis seperti anak kecil.
'Buku ini sengaja diberikan buat Sava. Soal Paman Rey, benar dugaanku kalau dia patut dicurigai. Lalu, dimana mereka? Kenapa ingin diselamatkan? Apa mereka dalam bahaya? Terus apa yang ditipu? Sava ditipu soal apa? Ha! Jangan-jangan penyakit Sava itu memang bohong! Semuanya bohong kecuali ... Pernikahan ini! Astaga, aku sulit percaya! Aku harus cari bukti lebih banyak. Terima kasih mertuaku, kalian memberi satu kunci jawaban. Buku ini memang menyimpan rahasia yang besar. Sebaiknya, aku nggak ngasih tau Sava dulu! ' pikir Rianti.
Meskipun syok jika tuduhannya benar. Rianti tersenyum mendapatkan petunjuk petunjuk. "Langkah selanjutnya, ikuti kemanapun Paman Rey pergi!" gumam Rianti serius.
Rianti tidak puas terlebih dahulu sebelum tuntas. Pernikahan ini belum terjawab. Rianti memilih perumahan buku itu dan tidur. Menunggu besok, tepatnya mengguyur Paman Rey datang.
~~~
Pagi sekali Rianti mondar-mandir di depan pintu. Menunggu para pembantu datang. Saat semuanya sudah datang, hanya Paman Rey yang belum, Rianti menjadi tidak sabar. Dia bertanya pada Bibi juru masak yang melewatinya ingin pergi belanja.
"Bibi, kenapa Paman Rey belum datang?" tanya Rianti langsung.
"Nggak tau, Rianti. Mungkin sebentar lagi," jawab Bibi sambil senyum.
Rianti berdecak, membuat Bibi heran. Kenapa cari Paman Rey? Ikut Bibi, yuk, belanja! Sekalian biar kenal sama warga kompleks, "ajak Bibi.
Rianti berpikir, 'Iya juga. Nanti aku kembali pasti Paman Rey udah datang. '
"Iya, Bi. Yuk, belanja di mana? Masak apa hari ini?" tanya Rianti riang sambil menarik tangan sang Bibi. Bibi juru masak hanya tertawa dan menjawab semua ocehan Rianti. Keramahannya membuat semua pembantu Sava senang.
Mereka sampai di penjual sayur. Belum juga Rianti yang memilih sayuran, sudah ada yang menegurnya ramah. "Eh, Rianti. Ikut belanja?" tanya tetangga.
Rianti menoleh dan tersenyum. "Hehe, iya," jawab Rianti seadanya.
"Sava mana? Masih tidur, ya?" tanya tetangga itu lagi.
Belum sempat menjawab, sudah di sela tetangga lain, "Iya, dong. 'Kan pengantin baru." ucapnya sambil tertawa pelan.
Rianti menatap mereka semua tertawa termasuk Bibi juru masaknya. Rianti hanya meringis kaku. 'Haha, ocehan ibu-ibu, haha.' tawa Rianti dalam hati.
Menoleh menatap Bibi yang sibuk belanja. "Bibi, mereka kok kenal aku, ya? Aku nggak kenal mereka," bisik Rianti.
"Mereka, 'kan jadi pernikahan kamu. Waktu Tuan Sava ijab kabul. Kamu aja yang datangnya terlambat." jawab Bibi sibuk memasukkan sayuran ke dalam tas belanja.
Rianti meringis. “Oh, gitu, ya. Hehe,” cengir Rianti.
Selesai belanja, Rianti menarik tangan Bibi agar jalan lebih cepat. Sampai di rumah Rianti langsung mencari Paman Rey. Ternyata Paman Rey ada di taman belakang. Rianti menghampirinya.
"Hai, Paman. Ngapain?" sapa Rianti semangat.
Paman Rey menoleh dan tersenyum, "Hai, Rianti. Aku sedang mengatur sesuatu." jawabnya lalu kembali menatap handphone.
"Sesuatu apa? Kok, di handphone?" tanya Rianti.
"Meskipun aku asisten Tuan Sava, aku tetap bekerja untuk orang tuanya. Karena aku di sini, jadi lakukan pakai handphone." jawab Paman Rey tanpa menatap Rianti.
Rianti tidak berkedip menatap jemari Paman Rey yang bergerak lincah. "Aku bahkan tidak punya handphone," gumam Rianti tiba-tiba. Membuat kegiatan Paman Rey terhenti. Menatap Rianti dengan polosnya tersenyum. "Kau tidak punya handphone?" tanya Paman Rey.
Rianti menggeleng. "Aku ini bukan orang kaya seperti kalian. Tapi, tanpa handphone aku bisa melakukan semuanya, hehe."
"Kau mau punya handphone?" tanya Paman Rey lagi. Rianti menggeleng cepat. "Buat apa? Pasti harganya mahal," kata Rianti.
"Kau anak baik. Aku akan membelikanmu handphone. Anggap saja hadiah karena kau menikah dengan Tuan Sava." ucap Paman Rey dan berdiri.
"Tunggu, Paman! Jangan belikan nanti uangmu berkurang, eh. Maksudku, itu tidak perlu. Aku nggak mau punya handphone!" tolak Rianti mencegah Paman Rey.
Paman Rey tersenyum. "Tidak masalah. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali!" ujar Paman Rey dan pergi.
Rianti ingin mencegah lagi, tetapi Paman Rey sudah hilang dari pandangan. Senyum miring terbit. 'Satu hal yang nggak kumengerti, Paman. Kenapa kau masih bekerja di perusahaan orang tua Sava? Sava bilang, kemungkinan orang tuanya masih bekerja secara diam-diam. Ini membuatku bingung. Harusnya kalian nggak bisa kerja secara maksimal, 'kan?' batin Rianti.
Rianti mencari pencari Sava, sangat ingin bertanya lagi pada Sava, tentang hasil dia di perusahaan. Apakah bertemu orang atau petunjuk. Namun, Rianti sudah memutuskan untuk mengatasinya sendiri. Rianti memilih duduk kembali, sampai Paman Rey datang dan membawa sebuah kotak.
Memasang wajah polos, Rianti bertanya. "Apa itu, Paman?"
Paman Rey kembali bertanya. "Menurutmu?"
Rianti nyengir. "Paman, aku kira bercanda. Kenapa beli handphone sungguhan?"
Paman Rey menyerahkan kotak itu. "Ambillah! Zaman sekarang semua punya handphone. Kalau tidak berguna sekarang, suatu saat pasti berguna!" ujar Paman Rey.
Rianti menghela napas. "Terima kasih, Paman. Jadi merepotkan!" ujar Rianti menerima handphone itu merasa tidak enak.
Paman Rey tersenyum. "Hei, jangan merasa sungkan. Tersenyumlah!" pinta Paman Rey.
Rianti nyengir. "Hehe, Paman baik banget, sih! Silahkan lanjut kerja, Paman!" ucap Rianti mempersilahkan.
Paman Rey mengangguk dan mulai serius lagi. Rianti mencoba berkutat dengan handphone barunya. 'Iya, Paman. Enggak sekarang, suatu saat nanti akan berguna. Handphone darimu yang akan mengungkapmu!' batin Rianti.
Rianti sering melihat ponsel milik pesan di sekolah.
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Paman Rey tanpa menoleh. Membuat Rianti sedikit kaget. "Hmm? Aku tidak boleh di sini menemani, Paman?" tanya Rianti polos.
"Haha, tidak perlu. Kau main saja sama Tuan Sava. Kemaren suasana hatinya tidak bagus. Hibur dia, ya!" pinta Paman Rey menoleh sebentar.
Rianti mengangguk dan pergi. Dia tidak mencari Sava, melainkan sembunyi di balik pintu kamar yang terbuka. 'Aku tau. Paman. Kau mengusirku karena suatu hal. Aku sangat yakin!' batin Rianti.
Tidak lama kemudian, Paman Rey melewati lorong kamar. Rianti merekomendasikan mengikutinya dari belakang. Paman Rey keluar rumah, Rianti juga ikut dengan jarak cukup. Jalan kaki sampai di gerbang kompleks. Rianti sembunyi di balik pohon besar.
"Kenapa Paman berdiri di sana?"
Belum ada satu menit, seseorang menghampiri Paman Rey. Rianti tidak bisa mendengar kabar mereka, memilih sembunyi lebih dekat. Samar-samar baru bisa mendengar. Rianti menautkan alisnya. 'Kayaknya mereka ngomong serius, deh!' batin Rianti.
Rianti melihat Paman Rey tanpa tersenyum dan orang itu hanya mengangguk. Rianti ingat dengan handphonenya. 'Saatnya menggunakan benda pemberianmu, Paman!' batin Rianti sambil merekam Paman Rey dengan jarak yang diperbesar.
Saat Paman Rey selesai dan kembali ke rumah, Rianti juga ikut pulang. Tanpa sepengetahuan Paman Rey, Rianti sudah masuk ke kamar. Dia berpikir, 'Mereka tadi ngomongin perusahaan. Aku lihat videonya ntar aja. Mending sekarang nemuin Sava dulu. Syukurlah diberi handphone, hehe. Bisa berguna! ' batin Rianti tersenyum.
Menyembunyikan handphonenya dan masuk ke kamar Sava. Rianti tertegun karena Sava sedang duduk mengaji. Rianti sembunyi di balik pintu kamar Sava. Seketika tersenyum mendengar lantunan Al-Qur'an, yang Sava ucapkan. "Belum pernah dengar Sava mengaji. Merdu banget!" pekik Rianti pelan.
Tidak menyangkal jika dia terpesona. Senyumnya semakin lebar, tidak sadar kalau Sava sudah ada di depannya.
Tuk!
"Ah, sakit!" seru Rianti sambil mengelus jidatnya. "Kok, dijitak? Eh, ada Sava, hehe." lanjut Rianti sadar. Sava melipat di d**a. "Hmm, ngapain?" tanya Sava tanpa ekspresi.
"Hehe, ngintip kamu ngaji, eh!" jujur Rianti lalu menggigit lidahnya sendiri. Membuat Sava terkekeh. "Ayo masuk!" ajak Sava.
Rianti cemberut dan masuk, duduk di tepi ranjang. Melihat Sava yang melepaskan sarung dan pecinya, membuat Rianti salah tingkah sendiri. "Kenapa main di lepas gitu, sih?" tanya Rianti sambil memalingkan wajahnya.
Terserah aku, dong. Ngajinya, 'kan udah selesai." jawab Sava enteng tanpa menoleh.
"Ya, tapi nggak di depanku juga kali!" sewot Rianti.
Tiba-tiba Rianti merasakan kasurnya bergerak. Ternyata Sava duduk di sampingnya.
"Udah selesai," ujar Sava sambil bersandar kepala ranjang.
Rianti menoleh perlahan. Berdecak tidak suka. Membuat Sava heran. "Kenapa?" tanya Sava.
Rianti tidak menjawab, tapi melengos. Sava hanya diam. Kemudian Rianti teringat sesuatu, dia menoleh sambil melebarkan matanya. "Sava, kemaren dadamu sesak, nggak?'
Sava sempat mendelik lalu berpikir sambil memegangi d**a kirinya. "Enggak, tuh. Biasa aja," jawabnya.
Rianti mengangguk pelan. 'Aneh! Pokoknya aneh! ' pikir Rianti.
Terlintas ide di benak Rianti. “Sava, gimana kalau kita ke rumah sakit? Cek kondisimu,” usul Rianti.
"Buat apa? Jawaban dokter pasti, aku tinggal menghitung hari," ujar Sava tersenyum.
"Ah, gitu mulu. Pokoknya besok ayo ke rumah sakit. Emm, punya uang, nggak?" tanya Rianti setelah memutuskan.
"Kamu meledekku?" tanya Sava memicing.
"Ya, siapa tau." jawab Rianti sambil memutar bola matanya.
Sava kesal hanya berdecak. Rianti meringis. "Hehe, besok jangan kasih tau Paman Rey. Kita pergi sendiri aja," pinta Rianti.
"Kok, gitu?" Sava bingung.
"Nurut aja," kata Rianti.
Sava mendengus lalu mengangguk. Membuat Rianti tersenyum senang. 'Ya, Sava mau. Aku harap besok harus jelas, 'batin Rianti.
"Ehm, tolong ambilkan minum!" pinta Sava sambil menunjuk segelas air di meja.
Melihat Sava yang mengelus tenggorokannya membuat Rianti menjadi linglung.
"Rianti, air ... Ehm," Sava meminta lagi sambil berdeham. Suara serak Sava membuat Rianti mengerjap bodoh. Lalu, mengambil air di meja. Sava meminumnya sampai habis.
"Tenggorokanmu kering?" tanya Rianti bodoh.
"Gatal!" jawab Sava sengak. Membuat Rianti mendelik.
Sampai waktunya Sava meminum obat, Rianti membantunya. Dia heran kenapa Sava terus menatapnya. Meskipun Paman Rey juga ada di sana untuk memastikan Sava minum obat. Rianti melotot saat menerima gelas kosong dari Sava. "Nggak usah menatapku!" desis Rianti.
Sava jadi berdeham sadar. Rianti membawa gelas itu ke dapur. Tetapi Sava terus memperhatikan Rianti. Membuat Paman Rey bertanya. "Tuan, kenapa menatap Rianti seperti itu? Kau tertarik padanya?" bertanya dengan senyum kecil.
Sava langsung mengerjap dan menatap Paman Rey. "Apa? Tidak! Siapa yang memandang Rianti?" elak Sava.
"Aku tau dari matamu, Tuan. Kau mulai tertarik dengannya. Apa karena dia menemanimu?" tanya Paman Rey lagi.
"Bukan begitu, Rey. Kita berteman, itu saja. Dia baik, cantik, kadang lucu dan bodoh. Mendadak juga jadi pintar. Dia bahkan tidak tertarik dengan harta. Aku cium saja tidak mau, ck." decak Sava di akhir ucapannya sambil tersenyum. Tanpa sadar Sava menceritakan Rianti. Paman Rey tertawa kecil.
"Itu namanya tertarik, Tuan. Tertarik bisa jadi rasa suka," jelas Paman Rey.
"Huft, entahlah, Rey. Kalau aku suka padanya juga percuma. Iya, 'kan?" desah Sava bertanya. Paman Rey menunduk tidak bisa menjawab. Membuat Sava tersenyum miris.
Saat Rianti kembali, Paman Rey sudah tidak ada di kamar Sava. Dia bertanya pada Sava ke mana asistennya pergi, Sava hanya mengendikkan bahu. Membuatnya harus mencari Paman Rey. Sayangnya tidak bisa, karena sedang bersama Sava.