Menganggap Mimpi Buruk Yang Tidak Berguna

1171 Words
Riyan ternyata cukup mempengaruhi pikiran Yuni. Ia sejak bertemu pria itu, sampai masuk ke dalam kamar. Hingga lelah mendorong diri langsung ke tempat tidur. Yang dia ingat hanya Riyan. Wajah dan perawakan yang sepertinya cukup terawat. Agak sedikit menggelitik hati Yuni. "Jadi pengen mimpiin dia! Capek banget lagi!" gumam Yuni yang sudah ada di atas tempat tidurnya. Tanpa melakukan kegiatan apapun lagi, tubuhnya yang begitu lelah. Langsung dijatuhkan begitu saja di atas tempat tidur. Mengatur kepala di atas bantal. Rasanya begitu nyaman. "Ngantuk banget rasanya, baru kali ini keluar sampai malam begini," batin Yuni. Tanpa sadar kedua mata yang sudah begitu berat jadi semakin terasa berat. Perlahan sepasang mata itu mulai terpejam, dan kesadaran sudah akan menghilang. Tanpa ada yang tahu, ada hawa dingin yang menindih tubuh Yuni. Semakin lama, gadis itu semakin menjauh dari dunia nyata. Pelan, namun pasti alam bawah sadar menguasai keberadaan Yuni. Ia tak bisa lagi bangun. Kakinya dibiarkan sedikit menjuntai. Sungguh bukan seperti ini harusnya yang dilakukan Yuni. Ia lupa pesan ibu kosnya untuk membersihkan diri usai pergi dari luar. Mungkin mimpi buruk akan terulang setelah ini. .. Seperti berada dalam gedung yang pernah didatangi. Terlihat ramai dan banyak orang-orang mengenakan seragam yang begitu Yuni kenal. Ia merasa sedang berjalan dalam gedung itu. Dilihat dari sisinya yang ada, dirinya ingat itu adalah gedung perpustakaan tempatnya bekerja. Tapi, pemandangannya begitu lain. Sekelumit perkataan yang jadi kebisingan di ruangan itu terdengar asing dan tidak Yuni pahami. Wajah yang tampak juga membuat ia berpikir banyak hal. Tidak ada wajah yang dikenal, tidak ada yang ia pernah temui. Yuni berjalan menelusuri perpustakaan itu dengan bingung. Tapi seolah keberadaannya tidak ada yang peduli. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu. Ia memegangi sendiri wajah dan pipinya. Rasanya nyata. 'Mana anak-anak? Kenapa aku selalu sendiri sih!' batin Yuni. Ia mengira dirinya sedang akan bekerja. Namun, saat diteliti sambil masih mencermati sekeliling. Yuni semakin merasa aneh. Rak perpustakaan terlihat begitu bersih tak ada debu. Tumpukan buku begitu banyak yang berlubang, yang artinya mungkin buku-buku yang biasanya penuh sekali itu, bisa jadi ada yang menggunakan untuk dipinjam. 'Aneh!' batun Yuni. Semakin berdebar saja hati Yuni. Jantung mulai berdetak cepat tak bisa dikontrol agar dirinya merasa tidak takut tiba-tiba. Sadar sesuatu, ini seperti perpustakaan tempat dirinya bekerja. Namun, ada hal lain. Wajah-wajah yang ada tidak dikenal sedikitpun. 'Kok! Aku busa ada disini. Kok aku sendiri. Mana yang lain, Riyan, Varo, Imas! Kalian dimana?' Segera saja Yuni pergi dari sana. Ia berjalan ke arah dimana dirinya tahu disitu ada pintu perpustakaan. 'Lebih baik aku segera pergi dari sini!' ucap Yuni dalam hati. Mulai melangkah kaki Yuni menuju pintu luar. Ada jalan yang rasanya akan membuat ia bebas. Namun, ia menabrak seseorang, yang tidak sadar kalau dirinya ditabrak oleh Yuni. Tidak paham juga bagaimana Yuni bisa merasa tertabrak orang tersebut, saat berjalan terburu-buru dan mungkin tak fokus karena ia hanya ingin lari dan pergi. 'Siapa sih?' Yuni langsung memperhatikan orang yang ditabraknya. Melihat dari bawah, hingga sampai di bagian wajah, dimana ada wajah yang membingungkan pikiran Yuni. Seperti pernah melihat, dan masih berjuang untuk coba mengingat. 'Siapa ya? Aku yakin jika, yakin banget kalau aku kenal, dan nggak asing.' Yuni melihat pin nama yang ada di seragam sosok yang ditabrak barusan. Pin itu tertulis Haydar C. Sebuah nama yang tidak dikenal Yuni sama sekali. Tapi, wajahnya seperti kenal dan pernah bertemu. Hingga ingatan itu akhirnya ditemukan. 'Pak Haris, mungkin nggak ini Pak Haris. Tapi, kok pakai seragam kuliah. Hah! Sebenarnya aku ada dimana sih. Harusnya kan kalau ini pak Haris beliau bukannya pakai seragam kuliah, tapi pakai baju buat jadi dekan. Ini malah, pakai bawa tas kayak beneran anak sekolah lagi.’ Yuni pun jadi penasaran, ia masih sibuk berdiskusi dengan dirinya sendiri. Ia tahu kalau Pak Haris yang ada di hadapannya saat ini juga tidak peduli dengan keberadaan dirinya. Karena itu, lebih baik ia melihat dulu, agar tidak penasaran. Meski kakinya menyuruh lari dan pergi. Tapi penasaran mengalahkan dan membuat dirinya masih bertahan untuk cari tahu. Sosok yang diketahui itu adalah Pak Haris, ternyata sedang bersama seorang temannya. Berbicara santai ala anak kuliah. Tak lama kemudian, ia meminjam buku, dan kagetnya, Yuni melihat tahun yang ditulis di kartu peminjam perpustakaan. "I-ituu, yang bener aja, ini mataku nggak salah lihat. Apa aku yang salah baca. Atau si tukang perpusnya ini yang salah tulis.” Yuni mengerjapkan mata melihat dengan penuh keraguan dan rasa bingung. Ia perhatikan dan coba baca dengan benar, Saat itu juga, hati yang sudah tak enak benar-benar menangkap sinyal aneh dari semua yang terjadi saat ini. ‘Ini pasti bukan dunia nyata. Ini pasti aku lagi mimpi. Tahun itu, bukan tahun yang sekarang. Itu kan 25 tahun yang lalu. Ah! Yang bener aja.’ Lagi-lagi Yuni hanya bisa bicara dengan hati sendiri. Ia pun segea saja berjalan keluar dari perpustakaan dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Kalau ini bukan alamnya, harusnya ia segera mencari cara untuk pergi. Tempat yang menyeramkan meski tak ada hantu berkeliaran. ‘Aku harus pergi dari sini. Kenapa aku nggak lihat siapa-siapa yang aku kenal.’ Yuni melempar ke segala penjuru. hingga muncul sosok mahasiswi cantik sekali, dengan rambut tergerai sebahu terlihat hitam legam, dan tampak berkilauan diterpa sinar matahari siang. Karena sangat berkilaunya, Yuni merasa matanya harus menyipit, tanpa bisa melihat lebih lama lagi sosok mahasiswi tersebut. Ia tak bisa memperhatikan bagaimana cantiknya perempuan itu. Makin lama, semakin terlihat samar, dan Yuni sampai tak bisa membuka matanya sedikitpun karena menghalau sinar yang menyilaukan itu untuk masuk menyakiti sepasang netranya. Hingga pada akhirnya, Yuni membuka mata lagi. Memastikan apa masih bisa melihat atau tidak. Ternyata saat kedua matanya sudah berhasil dibuka, dirinya sudah berada di atas tempat tidurnya sendiri. “Lha! Aku kok ada disini. Yang bener aja. Tadi kan aku ada di perpustakaan kampus!” Makin bingung saja rasanya dan tentu, bergegas Yuni memastikan dan mencari tahu kalau ini adalah hari yang benar dimana dirinya harus berada. Langsung mencari ponsel yang biasa digunakan, lalu mengecek hari, tanggal dan tahun. Ya, ini adalah zona waktu yang tepat. Akan tetapi, karena masih diliputi rasa was-was. Yuni masih ingin memastikan kalau memang ini adalah dunianya. Ia pun keluar dan melihat ke arah sisi manapun yang ada bisa dilihat dari arah teras kamarnya. Semua masih sama, dan terdengar hiruk pikuk keramaian orang-orang yang masih sibuk di hari yang mulai mendekati fajar ini. “Syukurlah, aku sudah kembali. Tapi, rasanya mimpi itu aneh banget. Kenapa aku jadi merinding gini. Kenapa juga aku mimpi Pak Haris, terus namanya juga kenapa Haydar?" tak ada jawaban apa-apa yang muncul dari hatinya. Yang ada hanya semakin bingung, dan merasa ketakutan kemabli merasuk. Buru-buru saja Yuni melupakan hal itu. Yang penting, dirinya sudah kembali ke dunia nyata. Batu saat itu, Yuni lalu sadar, kalau dirinya tadi tertidur langsung usai keluar dengan Riyan. “Pantesan aja aku mimpi aneh, mungkin karena aku nggak ngebersihin diri dulu abis dari luar. Main langsung tidur aja. Hantunya jadi nempel semua gangguin tidur orang.” Yuni pun berjalan masuk lagi ke dalam kamar dan mulai membersihkan diri dulu. Mungkin dirinya akan melanjutkan tidur lagi sebentar setelah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD