Semenjak perbincangan siang tadi. Yuni rasanya semakin tidak tenang. Ia merasa memang ada yang lain. Ada yang berbeda. Namun, apa itu. Ia sendiri juga belum tahu. Sampai detik ini, ia masih mencari jawabannya secara rasional.
“Ahh, tumben bu kos ada di depan. Biasanya jam segini sibuk manasin makanan di dapur!” batin Yuni sesampainya di tempat kosn.
Dibuka perlahan pintu pagar besi berwarna hijau. Ia segera melangkah masuk dan duduk di sofa panjang untuk melepas sepatu kerjanya. ‘Ahhhh, hari ini benar-benar melelahkan.’
Bu Slamet menyadari kedatangan Yuni. Ia pun mendekati gadis yang sedang melepas lelah tersebut.
“Kamu akhir-akhir ini kelihatan capek banget ya nduk?” tanya Bu Slamet.
“Iya Bu!” jawab Yuni singkat.
“Kalau gitu cepetan mandi. Kamu jangan suka mengulur waktu buat bersihkan diri dari kotoran yang berasal dari luar. Apalagi abis dari kampus itu.”
Selama sepersekian detik, Yuni terdiam sesaat. Ia sebenarnya selalu mendengar apa saja nasehat dan saran dari bu kosnya tersebut. Namun, entah mengapa, beberapa hari belakangan bu slamet begitu sering mengingatkan agar dirinya selalu membersihkan diri sebelum tidur atau sepulang kerja seperti sekarang. Ia ingin bertanya. Sayangnya, lamunan barusan membuat Bu Slamet sudah lebih dulu pergi meninggalkan dirinya masuk ke dalam rumah.
“Iya, lebih baik aku emang harus segera mandi. Mungkin capeknya juga cepet ilang. Tapi, kenapa rasanya tiba-tiba merinding sih!"
..
Malam datang dengan cara yang sudah diatur oleh Tuhan. Yuni tak bisa berhenti memikirkan apa yang sudah dialaminya di ruang rektor. Apalagi semenjak teman kerjanya satu per satu bercerita tentang apa yang dirasakan akhir-akhir ini.
“Masak sih Pak Haris diam-diam mengawasi cleaning service yang lagi kerja. Rasanya nggak masuk akal banget. Tapi, emang nggak ada penjelasan selain itu. Atau, memang bukan pak Haris. Tapi ….” Yuni tidak melanjutkan kata-katanya. Lalu tiba-tiba sebuah ketukan dari pintu menghentikan lamunannya.
“Yuniiiii!” panggil seseorang dari luar pintu.
“Iya, bentar!”
Yuni membuka pintunya. Didapati teman satu kosnya. “Ada apa?”
“Ada yang cariin. Dia lagi di bawah, di teras.”
“Siapa?”
“Nggak tahu. Ohhh, tadi bilang namanya Riyan.”
Sontak saja Yuni terkejut. Untuk apa Riyan datang ke kosnya. Apalagi, selama ini dirinya juga hanya sekedar mengenal sebagai teman kerja.
“Ya udah, aku rapikan rambut dulu. Abis itu aku turun ke bawah.”
“Dia teman kamu atau pacar?” Tiba-tiba muncul pertanyaan konyol dari teman kos Yuni.
“Hah, dia cuma teman. Kamu suka ya?”
“Enggak sih, tapi anaknya cakep banget.” Temannya itu kemudian berlalu pergi setelah memuji Riyan. Yuni pun hanya menggeleng kepalanya merasa heran.
..
Sudah berkali-kali, Riyan melihat jam di pergelangan tangannya. Lima menit menunggu Yuni, rasanya sudah hampir setahun. Ia jelas merasa menjadi pusat perhatian. Entah apa kesalahannya. Ia berharap Yuni segera datang dan menemuinya.
Selangkah demi selangkah akhirnya Yuni menemui Riyan. Dengan penampilan rumah yang ala kadarnya. Rambut diikat seperti biasa. “Hay!” sapa Yuni.
Riyan sedikit terkejut, tapi ia senang Yuni sudah datang.
“Udah nunggu lama?” tanya Yuni.
“Lumayan!”
“Iyakah, perasaan tadi, aku cepet banget turunnya. Tapi kok lama ya.” Yuni kemudian memperhatikan penmpilan Riyan. ‘Ya ampun! Ini anak kalau nggak pakai seragam cleaning service ganteng abis pake banget. Jadi malu sama dandananku yang ala kadarnya. Berbeda 360 derajat,’ batin Yuni.
“Aku pengen bicara sebentar soal yang terjadi di tempat kita kerja. Tapi nggak di sini. Kita keluar yuk!” ajak Riyan.
“Hah keluar!” seketika Yuni mendadak bingung. ‘Hey, lihat aku berantakan banget malah ngajak keluar,’ batin Yuni.
“Ayo! Aku nggak nyaman ada di sinni.” Riyan menarik tangan Yuni tanpa permisi.
Sampai di sebuah motor sporti, kembali Yuni hanya bisa bingung tanpa bisa bertanya. Riyan lalau memberi helm untuknya.
“Pakai!” pinta Riyan.
“I … iya!”
Sudah beberapa menit berlalu, motor milik Riyan melaju di hari yang sebenarnya sudah hampir malam. Meski begitu, jalanan masih cukup ramai. Hingga tiba di sebuah kafe anak muda yang cukup ramai.
‘Tempat yang cocok,’ batin Riyan dan menyuruh Yuni untuk ikut bersamanya masuk ke sana.
Sebuah meja yang tak jauh dari pintu masuk dipilih Riyan untuk duduk bersama dengan Yuni. Memesan sebuah minuman dan makan yang tidak terlalu berat di perut.
“Kamu kenapa Yun?” tanya Riyan.
“Kita ngapain ke sini?”
Mendengar pertanyaan barusan, Riyan tak langsung menjawabnya. Ia menyentuh minumannya yang baru saja datang.
“Sebenarnya aku cuma mau lanjutin obrolan kita tadi siang di kampus,” jawab Riyan. Ia masih fokus dengan minumannya.
“Bagian mana yang perlu dilanjutkan?
“Bagian yang seperti ada yang mengawasi.”
Mendengar itu, sontak Yuni berpikir sejenak. Beberapa detik barusan terasa cukup menyeramkan baginya untuk kembali harus mengingat hal tersebut. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun melihat Riyan begitu serius wajahnya untuk membicarakan hal ini, sontak membuat bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Beruntung Riyan mengajak di tempat yang ramai. Yuni pun berusaha mengatur suasana hatinya agar lebih stabil.
“Kenapa kita masih bahas itu sih!” yuni menunjukkan ketidaknyamanan jika harus membahas itu.
“Karena aku ngerasa ada yang nggak bener Yuni.” Riyan menekan nada bicaranya.
Yuni akhirnya menatap serius Royan. “Emang menurut kamu apa yang nggak bener?”
Riyan kembali mengaduk minumannya. Diperhatikan isi gelasnya yang berputar-putar, sama dengan pikirannya sekarang.
“Gini,” ucap Riyan mengawali ceritanya. “Awalnya aku pikir yang mengawasi adalah pak Haris. Namun, kalau diingat dan diteliti, Pak Haris orangnya sibuk banget. Nggak mungkin dia yang mengawasi. Selanjutnya mungkin memang Pak Haris, tapi bisa jadi dia memantua kita melalui cctv.”
“Terus? Ada nggak cctv yang mengawasi kita?” tanya Yuni tiba-tiba.
Riyan menggelengkan kepala. “Mungkin nggak sih kalau yang mengawasinya kita bukan dari kalangan kita.”
Kedua mayat Yuni dan Riyan saling bertemu. Seakan mereka berdua tahu apa yang sedang dibicarakan. Siapa yang bisa jadi dalang pembuat tidak nyaman di kampus.
Yuni sontak menggigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepala berkali-kali secara perlahan. Ia ingin Riyan sementara waktu berhenti berbicara tentang itu. Ini malam hari, waktu tepat untuk mereka yang dimaksud Yuni dan Riyan berkeliaran.
“Kalau gitu makan dulu yuk!” ajak Riyan, ia harap setelah makan suasana hati masing-masing lebih nyaman.
Ternyata Riyan memesan cukup banyak makanan. Yuni begitu senang dan berusaha menghabiskannya. Sesaat ia menikmati hal tersebut dan melupakan sejenak tujuan Riyan menemuinya malam ini.
“Kita balik yuk! Udah malam nih,” pinta Riyan sambil mengelap bekas makanan di bibirnya.
“Ah, aku kenyang banget. Makasih ya.”
“Sama-sama.”
Setelah itu, Yuni un oulang diantar oleh Riyan. Sampai di depan pagar kos yang ditempati Yuni. gadis itu menarik tangan Riyan yang sudah akan pergi meninggalkan dirinya.
“Ada apa?” tanya Riyan.
Yuni masih diam. Ia ragu untuk menceritakan perihal lenyapnya dompet milik Pak Haris yang tiba-tiba ada lagi di saku celana rektor baru tersebut. Digaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepersekian detik kemudian, ia juga ingat lagi tentang mimpi buruknya. Mimpi buruk yang rasanya seperti berada di kampus tempat dirinya bekerja itu.
“Yuniiii!” panggil Riyan. “Ada apa? Tiba-tiba wajah kamu pucat gitu?”
“Ahhh, ehmmm … aku bingung mau cerita yang mana,” sahut Yuni. Ia kemudian berdiri bersandar di pagar kosnya yang tertutup.
Riyan meletakkan salah satu tangannya di pagar, berdiri menatap Yuni yang menunduk. “Cerita satu-satu, aku mau dengerin kok.”
“Jadi, aku pernah mimpi buruk banget. Seolah aku jadi incaran seseorang untuk di,” ucap Yuni terhenti. Ia merasa takut sekaligus ngeri jika harus mengatakan kata itu. Dengan sangat terpaksa, Yuni pun hanya memberi kode pada Riyan. Tangannya bergerak seperti akan memotong leher.
“‘Kok bisa?”
“Dalam mimpi itu, jelas banget kalau aku terus dikejar-kejar. dan kayaknya tempat aku lari itu di kampus.”
“Kampus tempat kita kerja?” Tanya Riyan memastikan.
Yuni mengangguk, ia bahkan menelan saliva karena terlalu takut untuk bercerita. “Apa mungkin aku buat salah di tempat itu. Terus ada yang nggak terima, abis itu mereka gangguin aku sama kalian. Maksudnya, kamu sama Varo. Jadi, saat kita kerja seolah-olah ada yang mengawasi.” Yuni akhirnya menjelaskannya meski harus terbata-bata.
Riyan tersenyum. ia tidak mungkin ikut merasa takut. Bisa-bisa besok Yuni tidak masuk kerja.
“Aku juga mikir gitu. Tapi, bukan karena kesalahan kamu. Karena tempat kerja kita itu, kata mamaku memang agak horor,” jelas Riyan.
“Terus gimana dong?”
"Kamu takut?"
"Ya iyalah Riyan."
Sontak saja Riyan terkekeh. Ia suka kejujuran teman kerjanya tersebut. “Ya udah, kalau gitu kamu masuk dan istirahat. Besok lanjut lagi."
"Ogah lanjut lagi. Bikin takut aja," tolak temannya dengan halus.