Rasanya tak ingin bernafas, tapi oksigen dibutuhkan saat seperti ini. Masih dengan tatapan mata yang memperhatikan sekeliling. Ia tahu ada yang akan terjadi. Tapi, apa. Hanya menangkap sosok barisan warga kampus.
"Yun, kamu kenapa?" Tanya Bima. Ia bisa melihat kalau ekspresi gadis itu tegang dan telah berubah lain. Mengerutkan alis dan terus saja menatap Yuni yang tidak mengatakan apapun. Bima jadi ikutan bingung.
"Yun! Kamu kenapa sih? Hey, kalau ada masalah kan kamu bisa kasih tau aku." Bima semakin cemas. Ia akhirnya menggerakkan bahu Yuni agar temannya itu tersadar.
"Hah!" Gelagapan Yuni menyadarkan dirinya. Ia segera menatap Bima. Dalam hal ini ia belum bisa bercerita langsung pada Bima. Entah kenapa masih begitu ragu. Ia tahu dan sadar mungkin saja pemikiran dirinya saat ini bisa saja salah. Melihat deretan dosen dan ada pak Haris. Mata Yuni membulat dan merasa hatinya berdebar hebat. Darahnya berdesir merasa ada ketakutan yang semakin menjadi.
"Aku nggak papa," jawab Yuni. Ia merasa aroma harum yang menusuk indra penciuman mulai memudar seiring, sepasang matanya yang melihat Pak Haris makin lama semakin menghilang.
"Kamu yakin nggak papa?" Tanya Bima. Ia melihat temannya itu masih seperti diliputi kecemasan. Rasanya ikut was-was saja.
Yuni masih menggelengkan kepala. Ia belum mau cerita hal ini. Karena ada hubungannya menuduh pak Dekan. Ya, saat ini Yuni hanya merasa Pak Haris lah, si penghilang nyawa Mikha. Tapi, ia belum punya bukti. Ia tidak mau dulu ada urusan dengan orang penting semacam Pak Haris. Apalagi melihatnya saja, orang sudah tahu kalau pak Haris orangnya mungkin sedikit berbahaya.
Yuni coba membuat wajahnya normal lagi. "Iya, aku nggak papa kok. Kamu tenang aja. Cuma emang perut ini agak laper. Jadi agak nggak fokus," jelas Yuni sambil senyum sendiri.
Bima manggut-manggut. Ia tidak sadar kalau pak Haris lewat dan Yuni seketika mengalami perubahan sikap.
"Ya udah kalau kamu lapar. Kita makan aja dulu," ajak Bima tanpa ragu.
Tentu saja Yuni langsung menolak tegas permintaan Bima. "Nggak perlu Bim! Aku malah nggak enak sama yang lain. Lagian ini udah jam masuk kerja. Bentar lagi juga Riyan bakal datang."
"Tapi Yun, aku lihat wajah kamu pucat banget." Bima masih mencoba untuk membujuk.
Yuni tetap menggelengkan kepala. "Nggak perlu, nanti habis ini. Aku bakal langsung makan kok sama Riyan."
"Ya udah kalau gitu. Aku cuma takut kamu tiba-tiba melamun dan enggak sadar," jawab Bima.
Yuni tersenyum. "Iya, aku bakal nggak papa kok, kamu tenang aja."
Yuni pun segera berlalu menuju ke bangunan tua yang ditempati oleh para dosen untuk dijadikan kantor mereka. Ia harus segera memulai pekerjaan. Apalagi melihat Varo yang sudah bersiap dengan berbagai alat yang selalu mereka gunakan.
Menghela nafas lagi, Yuni pun mengambil alat miliknya di gudang. Tidak jauh sebenarnya. Ia pun tidak butuh waktu lama. Lalu saat tiba di depan ruang pak Haris. Ia sempat merasa diperhatikan Varo.
'Ayolah, aku cuma pengen kerja dengan baik. Tapi ini apa gangguan ada dimana-mana. Nggak yang nyata, nggak yang kasat mata. Rasanya semua jadi pengganggu,' keluh Yuni di dalam hati. Ia pun melanjutkan langkah saja untuk masuk ke dalam ruangan pak Haris. Karena, ruangan itu adalah ruangan pertama yang harus dibersihkan setiap hari.
Saat membuka pintu ternyata ruangan itu tidak kosong. Ada pak Haris yang berada di sana sedang duduk di mejanya.
Yuni berusaha untuk bersikap manis dan sopan. "Pagi pak Haris, permisi saya mau membersihkan ruangannya."
Pak Haris yang sibuk dengan berkas yang ada di atas meja, hanya menatap Juni sekilas. "Oh iya, silahkan bersihkan dulu. Saya harus mengerjakan beberapa hal di sini, saya nggak papa, kamu lanjutin aja kerjaan kamu."
Yuni melihat ekspresi pria itu. Rasanya wajahnya itu tidak terlalu menakutkan, bahkan terkesan bersahabat dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Hanya saja, memang kadang kala terdapat dimana ada situasi sulit, yang bagi Yuni juga tidak mudah untuk dijelaskan. Yuni pun berusaha fokus saja untuk menyelesaikan pekerjaan.
'Ya semoga tidak terjadi sesuatu. Aku rasa nggak akan ada masalah kalau aku kerjanya bener. Lagian yang ada sekarang kan benar-benar pak Harus. Bukan makhluk astral. Atau aroma wangi-wangian yang menusuk lagi itu juga nggak ada kan.' batin Yuni berbicara. Ia juga sempat-sempatnya mengenduskan hidung, yang mungkin saja mencium suatu aroma. Tapi, nihil tidak tercium apa-apa.
'Tapi, tunggu dulu. Kok nggak ada bau itu ya. Apa jangan-jangan bukan pak Haris pelakunya. Kenapa aku tadi malah curiganya sama pak Haris. Kalau diingat, pak Haris kan datang nggak sendirian tadi." Mulai lagi batin Yuni berbicara sendiri. Ia pun segera memfokuskan diri untuk bekerja dan bekerja. Bagaimanapun juga ada pak Haris yang mungkin mengawasinya.
**
Waktu istirahat telah tiba, Yuni sedang berdua dengan Riyan di salah satu sudut kampus untuk berbicara serius tentang apa yang dialami Yuni pagi ini.
"Jadi menurut kamu siapa?" Tanya Riyan memulai pembicaraan. Ia sudah tahu kalau ini sedang kepikiran akan hal tersebut. Tidak bisa dipungkiri kalau semalaman juga, ia terlalu memikirkan banyak hal tentang Yuni.
Yuni mengangkat kedua bahunya. Jujur, dirinya takut kalau mau menuduh pak Haris sebagai pelaku yang melenyapkan nyawa Mikha. Ia tidak mau berasumsi yang malah membuat dia terlihat tidak memikirkan apa yang telah diperbuat. Akan tetapi, instingnya mengatakan kalau pelakunya adalah pak Haris.
Riyan melihat kecemasan di wajah Yuni saat itu. "Bilang aja apa yang ingin kamu katakan Yun. Aku nggak akan nyalahin kamu kok. Aku akan coba ngerti kondisi kamu. Gimana pun juga apa yang kamu lihat dan apa yang kamu rasakan, itu semua juga pasti disebabkan oleh arwahnya Mikha."
Yuni .menatap ke arah Riyan. "Jadi kamu mikir kayak gitu?"
Raut wajah Yuni semakin membuat Riyan resah. Ia pun menganggukkan kepala. "Kenapa sih? Apa kamu takut sama aku. Atau jangan-jangan kamu berpikiran buruk ya sama aku. Maafin aku kalau kemarin aku bener-bener bikin salah Yun, aku nggak bermaksud kayak gitu." Riyan teringat lagi hal yang dilakukannya kemarin pada Yuni saat di perpustakaan. Ia yang tanpa sengaja mengajukan dan tidak peduli pada Yuni. Harusnya saat itu ia memang tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Varo.
Yuni masih saja diam. Keraguan itu nyatanya tidak semudah itu tersingkir dari pikirannya. "Sampai saat ini aku nggak punya bukti tentang kasus yang dialami Mikha. Bahkan itu kejadiannya terjadi di masa lalu. Apa aku nggak kelihatan seperti orang yang nggak bisa mikir?"