Percayalah Kembali

1012 Words
Hanya waktu yang akan bisa menjawab apa yang jadi kebimbangan Yuni. Ia merasa ragu dan masih ragu. Menyimpulkan segala masalah menurut sudut pandangnya, bukan hal mudah. "Kamu masih diam Yun. Aku minta maaf kalau kamu kecewa sama aku, karena kemarin pas di perpustakaan aku malah acuh sama kamu. Aku nggak bermaksud jauhin kamu." Riyan sedikit menegaskan nada bicaranya. Tapi, tetap lembut dan tidak membuat terkejut. Ia hanya ingin meyakinkan Yuni agar kembali lagi seperti dulu. Yuni tersenyum. Dirinya hanya memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan. Sungguh ini bukan urusan yang mudah. "Aku, aku cuma ragu sama pikiranku sendiri!" ucap Yuni. "Emang apa yang kamu pikirkan sekarang?" "Aku rasa aku udah ngerti siapa yang melenyapkan nyawanya Mikha." Riyan mencoba menatap lebih serius lagi pada Yuni. "Siapa?" "Aku akan jawab. Tapi, please kamu jangan berpikir kalau aku cuma ngarang. Tapi, aku enggak punya bukti dan belum punya bukti kalau pelakunya memang orang itu." "Nggak papa Yun. Kasih tahu aku siapa pelakunya. Aku akan coba percaya dan bantu kamu cari bukti. Kalau memang telah punya orang itu." Yuni menghela nafas panjang. "Pelakunya, menurutku itu …." "Siapa?" Semakin penasaran saja Riyan. Yuni mulai menyiapkan dirinya takut saja kalau Riyan ternyata tidak percaya. "Menurutku pelakunya Pak Haris!" "A-apa! Pak Haris. Mana mungkin?" "Aku juga nggak yakin. Aku lihat banyak orang yang bisa jadi pelakunya. Setiap dosen dan petugas perpustakaan juga bis jadi tersangka. Tapi, hatiku bilang itu pak Haris dan pak Haris. Tapi aku nggak ada bukti sama sekali bahkan nihil. Aku bingung Riyan. Aku nggak mau diganggu sama arwahnya Mikha terus. Apa mungkin dia bakal gentayangan di sekelilingku melulu. Aku … aku bingung harus gimana." Yuni seperti sudah kebingungan sekali. "Aku paham, aku sendiri malah nggak bisa menyimpulkan siapa pelakunya. Udah kamu jangan ngerasa sendiri ya. Aku akan coba bantu sebisa mungkin." Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan. Tak baik terlalu lama beristirahat meski sebenarnya masih ada waktu. Entah mengapa, sampai detik ini rasanya amish sama seperti ada yang mengawasi gerak-gerik mereka. Riyan kini sedang sendiri di salah satu halaman taman perpustakaan. Ada sampah buku dan beberapa koran lama. Ia berhenti sejenak dan memandangi tumpukan itu. "Apa semua ini dibuang?" tanya Riyan tapi memang tak ada yang menjawab. Nyatanya, dirinya sedang sendirian. Tiba-tiba Bima menghampiri. Ia baru saja dari perpustakaan dan melihat ada Riyan. Ia pun mendekatinya dan mengajak berbicara. "Sibuk banget ya?" tanya Bima. "Eh Bim! Iya, sibuk banget!" "Mana Yuni?" Tanya Bima lagi. "Mungkin di kelas. Ada yang udah kosong tadi dan aku suruh bersihkan dulu. Tapi, kasihan sendirian!" "Iya, sebenarnya kenapa sih. Kok Varo sama Imas kayak musuhin si Yuni." Riyan menghela nafas. "Itu panjang ceritanya." "Kasihan ya Yuni. Coba aja aku bisa bantu dia menyelesaikan masalahnya dengan arwah gentayangan itu." Riyan mendengarkan sambil bekerja. "Iya! Tapi, makin kesini makin tidak masuk akal. Apa mungkin arwah itu beneran ada dan memang disini pernah terjadi hal yang begitu. Tapi, kenapa kok nggak ada jejaknya sama sekali. Bahkan saat Yuni pengen kasih tau surat kabar lama yang pernah dibaca di ruang dekan. Nyatanya pas difoto, fotonya nggak ada, hilang gitu aja.' Bima sontak menatap aneh pada Riyan. "Kok kamu bicara kayak gitu. Apa jangan-jangan kamu nggak percaya sama sekali sama Yuni." "Nggak kayak gitu. Aku cuma cari bukti aja biar Yuni nggak merasa tersudutkan. Tapi, apa? Buat diri kita sendiri aja dia nggak bisa menunjukkan." "Bilang aja kalau kamu pada akhirnya nggak percaya kan sama dia." Bima menatap tajam pada Riyan. Ada sedikit emosi terasa dari cara bicaranya. "Maksud kamu apa. Sebelum kamu, cuma aku yang bisa percaya sama dia. Nggak ada satupun penghuni kampus ini yang care dan peduli sama Yuni." "Tapi pada akhirnya kamu malah meragukan Yuni." Rasanya Riyan jadi gemas sendiri. "Aku nggak ragu Bima sakti galaksi." Sontak Riyan mengatakan hal yang bisa menunjukkan kesal dan emosinya sekarang. "Jadi, gini. Aku cuma nggak tau lagi mau cari bukti gimana caranya. Sedangkan bukti buat kita berdua aja, enggak ada. Kan selama ini cuma insting dan feelingnya Yuni yang jadi pedoman kita buat mengerti situasi yang terjadi. Kamu paham nggak sih apa yang aku maksud? Kamu mahasiswa kan, masak iya enggak paham?" Sudah mulai makin meninggi amarah dari seorang Riyan. "Iya, aku emang mahasiswa dan aku menyimpulkan dari apa yang kamu katakan. Kalau kamu itu intinya udah nggak percaya lagi sama Yuni." "Aku itu cuma pengen Yuni kasih bukti yang bisa kita tunjukin ke orang-orang. Buat ngejelasin, sama Varo dan Imas kalau di sini pernah ada kejadian yang mengerikan. Melakukan itu aja susah." Mendengar itu, Bima jadi diam. "Coba aja kalau surat kabar lama yang pernah dibaca Yuni di ruangannya pak Haris itu masih ada. Ya minimal buat kita itu ada bukti," ucap Riyan lagi. "Hah! Aku juga udah nggak ngerti, mau bantu Yuni dengan cara apa," imbuh Bima yang ikut mengeluh. Riyan segera memutar tubuhnya. Menatap tumpukan sampah yang mungkin akan ia bawa ke ke pengepul barang-barang bekas. Lumayan untuk harga buku dan surat kabar lama yang bisa dijual. "Ya udah ya aku mau lanjut kerja dulu. Nih banyak banget bukunya ya harus aku buang!" Ucap Riyan. Ia pun mengambil tumpukan buku terlebih dahulu untuk dibawa. Lalu tiba-tiba di siang hari yang cerah itu, datang semilir angin yang berhembus cukup kuat. Membuat tumpukan surat kabar lama dan majalah yang masih ada di tempat sampah sedikit berhamburan. Bima melihat itu dan merasa iba kalau sampai tumpukan kertas itu berterbangan dan membuat halaman perpustakaan jadi kotor. Ia pun segera mencegahnya agar tidak berserakan. Saat itulah, dirinya menemukan sebuah koran yang kertasnya sangat usang dan membuat ia menaruh perhatian yang sangat. Bima pun mulai membaca dengan perlahan. Mendeteksi kapan koran itu diterbitkan. Hingga beberapa detik berlalu, sepasang matanya menatap apa yang sedang dibaca dengan sangat tidak percaya. "Apa, apa yang dimaksud Yuni ini?" Bima seketika membeku, lidahnya keluh dan hatinya ragu. Akan tetapi ia mencoba untuk memperhatikan sekali lagi, mencermati apa yang dibaca dengan begitu teliti. Surat kabar lama yang sama dengan yang Yuji baca. Bima sontak mengambilnya untuk diberikan pada Riyan. Namun tiba-tiba kedua kakinya seperti menempel Kuta di lantai batako halaman perpus. 'Apa yang terjadi, kenapa aku tiba-tiba nggak bisa jalan?' batin Bima bertanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD