Sebuah kasus lama terjadi beberapa tahun silam di kampus keperawatan. Bima membaca dengan baik dengan hati berdebar isi koran lama tersebut, sepasang matanya seperti sulit berkedip dan terdorong untuk terus membacanya dengan baik. Rasanya sulit untuk percaya.
Seperti inikah keadaan kampus yang sedang ia sangat percaya sebagai tempat untuk menuntut ilmu untuk saat ini. Ia tidak menyangka ada kabar demikian sadis yang terjadi di masa lalu. Matanya tak berkedip membaca huruf demi huruf yang membentuk banyak kalimat panjang.
Diingat waktu yang tercatat di sana.
Kejadian mengerikan tersebut terjadi saat dirinya masih kecil, dan ia tahu ayahnya sudah bekerja disini saat itu.
“Kalau begitu kenapa ayah nggak kasih tau aku kalau pernah ada kejadian seperti ini, kenapa Ayah terkesan menyembunyikannya. Aku yakin ayah sengaja,’ batin Bima. Ia terlihat agak frustasi, rasanya tak mungkin kalau ini terjadi tanpa usut tuntas dari polisi.
Hingga sampai Bima yang masih begitu syok dengan koran yang saat ini sedang dipegang. Ia masih sibuk membacanya.
Hingga akhirnya Riyan kembali ke depan perpustakaan untuk melanjutkan pekerjaan, masih ada beberapa kertas majalah dan surat kabar yang belum ia pindahkan. Ia terkejut saat melihat masih ada Bima disitu. Sedang berdiri kaku sambil memegang koran yang sepertinya diambil dari tumpukan surat kabar yang akan dibuangnya.
“Kamu lagi apa? Betah banget disini, berdiri lagi. Kenapa?? Kamu masih pengen ngobrol sama aku ya?” tanya Riyan yang memang sedang ingin bercanda.
Bima melirik pada Riyan. “Apa koran ini yang dimaksud oleh Yuni?" ditunjukkan koran lama yang jelas warna kertasnya saja sungguh pudar dan tidak seperti koran masa kini. "Coba lihat ini." Bima memberikan koran yang tengah dipegangnya pada Riyan. Tapi, Rutan justru hanya menatap aneh campur heran. "Kenapa malah diam aja. Bukannya ini yang jadi permasalahan kita tadi?"
"Maksud kamu apa sih?" tanya Riyan yang masih keheranan.
"Banyak omong. Udah baca ini." Bima menarik tangan Riyan dan menyerahkan koran lama yang dipegangnya. "Baca dan hayati!"
Riyan melihatnya dan mulai mengeja apa yang tertulis di surat kabar lama itu. Sedetik, dan beberapa detik berlalu. Ia tampak semakin fokus dan memusatkan pikirannya. "I-ini berita dari kampus ini?"
"Iya! Mungkin itu yang diceritakan sama Yuni. Hampir aja kita nggak percaya kan sama dia." Bima masih melihat Riyan membacanya.
"Aku harus kasih tau ini sama Varo dan Imas. Mereka kudu tau biar nggak mikir kalau Yuni itu pembohong." Riyan segera lari mencari keberadaan kedua teman kerjanya.
"Riyan, tapi Riyan tunggu dulu. Apa nggak sebaiknya kita tanya Yuni?" Namun Riyan sudah keburu pergi. Bima hanya bisa melihatnya menghilang dan pergi begitu saja.
Sementara itu, Riyan segera menyusul Varo yang ia tahu sedang membersihkan gudang dosen. Ia lekas menyusul ke sana karena ada Imas juga menurutnya.
"Dengan ini mereka bakal percaya sama Yuni." Riyan bicara sendiri sambil memegang koran lama tadi. Namun saat kakinya berjalan mulai menapak ke lantai gudang yang dibersihkan oleh Varo. Riyan malah mendengar obrolan mereka berdua yang sangat mengejutkan, antara Varo dan Imas.
"Aku cuma nggak suka aja cara Yuni cari perhatian Riyan. Dia itu, nggak pantas kalau pacaran sama Riyan. Mungkin nggak sih kalau Yuni pakai sesuatu buat memikat hatinya Riyan. Kok bisa Riyan suka banget sama dia," ucap Imas.
"Nggak ngerti, tapi bisa aja sih yang aku bicarakan itu. Lihat Saja sekarang, Riyan dekat dan nempel terus sama Yuni. Dari cara bicaranya aja Riyan itu kayak terhipnotis sama Yuni. Ini nggak baik buat kita," tambah Riyan.
Riyan yang mendengar itu mengepalkan jari jemarinya. Ia menahan emosi agar tidak meluap. Menarik nafas dalam dan berpikir bagaimana bisa kedua temannya berpikir semacam itu. Sungguh kolot, di saat seperti ini, era yang demikian. Malah ada pola pikir yang tidak sesuai zaman. Pantas mereka berdua selalu saja seakan cari masalah dengan Yuni. Bahkan sampai detik ini, Riyan juga tahu kalau mereka berdua belum akur dengan Yuni. Padahal Yuni sudah bilang untuk minta maaf.
"Tapi, ya, hal kayak begitu nggak akan bertahan lama. Aku yakin, hubungan Yuni sama Riyan itu akan berakhir." Imas berbicara lagi.
"Iya, mungkin. Riyan nggak pantas dapat Yuni. Yuni itu orangnya juga agak kekatrok-an. Ya, maklum lah, dia kan dari desa. Hahhh … kasihan ya Riyan. Aku harap dia cepat sadar, jangan mau dikibulin sama Yuni yang bikin cerita sok horor itu. Mana ada yang percaya ama hal begituan. Secara ini kan milenial. Yuni … Yuni! Dia mau cari enaknya sendiri."
"Iya! Syukur, aku nggak terpengaruh sama dia. Aku juga kan penakut, tapi ya masuk akal dikitlah."
"Brakkk!" Riyan memukul daun pintu kayu dengan cukup keras dan sontak membuat imas dan Varo terkejut. Pria itu sudah dipenuhi emosi. Sepasang matanya menatap Imas dan Varo seperti tak ada ampun. Bahkan kalau mungkin mereka berdua bilang maaf sekalipun sekarang ini. Riyan tidak akan memberikan maaf itu. Seenaknya menilai orang tanpa pikir panjang. Membuat Riyan sakit hati paling dalam. Apalagi, dirinya kalau boleh jujur juga memang punya rasa lebih untuk Yuni
"Riyan!" ucap Imas dan Varo bersamaan. Mereka tidak tahu kalau ada Riyan yang datang. Sepasang mata mereka berdua masing-masing menatap tanpa berkedip pada Riyan yang wajahnya sudah berubah penuh dengan amarah.
"Kalian berdua tega banget ya, menilai hubungan orang dengan seenaknya sendiri." Riyan berjalan semakin masuk, menatap kedua temannya yang sudah ia anggap adakah orang baik yang tulus dan bisa berpikir secara objektif. Barangkali kan sekarang ini, memang sulit cari teman seperti itu, apalagi menganggap mereka juga selalu bisa memahami dan mengerti bagaimana kondisi teman.
"Riyan, kita cuma bilang sesuatu yang sejujurnya. Kita nggak ada niat menjelekkan Yuni." Varo memandang cemas pada Riyan yang makin lama makin dekat jarak dengan dirinya. Sudah cukup keras terdengar suara detak jantung miliknya sendiri. Ia merasa takut tiba-tiba. Melebihi takut saat Yuni mengatakan hal-hal yang seram. Begitu juga yang dirasa oleh Imas saat itu.
"Kalau pikir, Yuni itu melakukan apa. Apa kelihatan kalau dia gadis yang kayak gitu. Dia itu dari awal udah coba ngejelasin sama kalian berdua tentang apa yang dialami akhir-akhir ini. Tapi, kalian nggak ada yang percaya. Malah kalian bikin cerita fiktif versi kalian sendiri. Tega banget kalian berdua." Riyan hampir meledak emosinya.
"Riyan! Penjelasan dari Yuni itu nggak ada yang masuk akal. Kamu tau kan kalau Yuni itu bahkan bicaranya ngawur, sengaja dia kayak gitu. Biar Imas takut dan nggak masuk lagi kalau dia udah sering nggak masuk. Jelas para dosen akan nyari dan bisa memecat Imas kalau keseringan nggak masuk." Varo tak peduli hatinya yang berdecak takut melihat cara pandang Riyan. Ia hanya ingin menyampaikan kebenaran versinya sendiri. Ia tak mau disalahkan begitu saja dan dianggap mengatakan kebohongan.
"Jadi, diantara kalian berdua nggak ada yang ngaku salah. Jadi kalian masih mikir kalau Yuni itu cuma cari perhatian sama aku, karena aku ini pacarnya. Dan kebetulan lagi aku ini ketua tim disini. Kalian mikir biar Yuni bisa kerja seenak jidatnya dan jadi karyawan yang paling berkuasa. Wahhh, pemikiran yang bagus. Tapi itu juga nggak ada bukti. Sama kayak kalian mikir omongannya Yuni tentang sesuatu yang aneh, yang menurut Yuni pernah terjadi disini. Itu juga nggak ada bukti kan. Makanya kalian nggak percaya."
Imas coba menatap penuh keberanian pada Riyan. Karena bagian kalimat yang bilang tidak ada bukti pada omongan Yuni itu memang benar. "Makanya kami juga sulit percaya dengan apa yang dibicarakan Yuni. Kamu sudah tahu hal itu. Terus kenapa kamu malah marah sama kita. Kita nggak salah."
"Kalian salah. Apa yang kalian omongin tentang Yuni tadi itu nggak bener. Nggak ada yang bener. Asal kalian tau, antara aku sama Yuni itu nggak ada hubungan spesial. Semua terjadi begitu saja saat aku sama Yuni terjebak hampir ketahuan sama pak Haris masuk ke ruangannya tanpa izin. Makanya aku bikin cerita seolah kami berdua sedang pacaran," jelas Riyan.
"Jadi kamu sama Yuni nggak ada hubungan apa-apa?" tanya Imas.
Riyan mengangguk. "Gimana apa kalian puas?"
"Terus kenapa kmu nggak bilang dan menjelaskan sama kita?" tanya Varo.
"Soalnya aku emang maunya bisa pacaran sama Yuni. Justru disini, aku yang suka beneran sama dia. Dan kalian malah makin membingungkan suasana. Belum lagi hal aneh yang terjadi sama Yuni. Aku nggak bisa bikin dia makin bingung dan tetekan dengan perasaanku. Ditambah lagi kalian yang …." Riyan coba menjelaskan tapi rasanya percuma. Ia pun coba memberikan saja koran la yang sejak tadi ia bawa. "Udahlah, coba aja buat baca ini. Aku harap kalian sedikit berubah pikiran. Aku sendiri juga nggak mau kalau harus meluap emosi sama kalian. Satu lagi, jangan ada yang kasih tau Yuni tentang perasaanku. Jangan!" ucap Riyan sambil melihat terus ke arah Imas dan Varo secara bergantian.