Sebuah koran lama yang sangat usang dan mungkin tulisannya sudah hampir kabur. Tapi, masih bisa dibaca dan tereja dengan baik. Baru saja diberikan oleh Riyan pada Varo. Ia harap setelah ini temannya itu akan terbuka hatinya dan sadar kalau selama ini pendapatnya tentang Yuni sudah sangat salah.
“Aku harap kalian berdua bisa baca ini dengan baik, dan merubah cara berpikir kalian pada Yuni. Asal kalian tahu, nggak ada orang di dunia ini yang mau dianggap sebagai pembohong. Termasuk Yuni,” ucap Riyan dengan tegas dan lantang.
Varo masih tidak terima kalau Riyan tetap saja membela gadis kampung itu. Ya, meski ia sempat berteman dengan Yuni dan berpikir Yuni anak yang baik. Tap, cara Yuni yang dianggap salah dalam bekerja dan hanya terlihat seperti sedang mencari perhatian saja, sungguh membuat Varo merasa tidak suka.
Dengan sangat terpaksa Varo akhirnya menerima surat kabar lama itu. Ia menerima dengan rasa tidak ikhlas. Disentuh lembaran kertas korannya begitu lusuh. Akan tetapi, Varo harus tetap menerima dan mau membacanya.
Perlahan mulai dilihat dan dijelajahi lembaran yang sudah dibuka oleh Riyan. Tepat di lembaran yang memang Riyan menemukan berita tentang kampus ini beberapa tahun lalu. Varo coba meneliti halaman tersebut.
Sekilas melirik pada temannya, Imas. Varo lalu melihat lagi ke arah halaman surat kabar. Mendeteksi bagian mana yang harus ia baca dan ada hubungannya dengan Yuni. Memperhatikan dulu bulan dan tahun penerbitan surat kabar itu, sungguh sangat mengejutkan. Koran ini adalah benar-benar koran lama. Ia merasa semakin malas untuk mencari tahu. Ingin tertawa mengecoh, apa gunanya koran terbitan lama ini ditunjukkan pada dirinya dan juga Imas.
“Apa baca koran lama ini nggak akan buang-buang waktu. Apa nggak sebaiknya aku kerja aja,” ucap Varo.
Riyan menatap tajam. “Udah baca aja dulu! Aku nggak akan mungkin menyuruh kalian berdua melakukan perbuatan yang sia-sia!!”
Varo masih dengan tatapan mata yang malasnya hanya bisa menyimpan rasa kesal. Cukup penasaran, mengapa sampai Riyan memberikan koran tersebut dan ngotot untuk memerintahkan agar mau membaca.
“Lebih baik kamu baca aja halaman yang udah aku buka itu, ada di judul paling bawah,” ucap Riyan menjelaskan. Ia yakin kalau Varo meragukan Yuni. Begitulah sosok Varo yang memang tidak mudah percaya pada orang lain, apalagi kalau ia merasa pernah dibohongi.
Varo hanya bisa menghela nafas. Ia lalu menuruti apa yang dikatakan Riyan dan langsung melihat ke judul paling bawah koran itu. Saat itu, alis kanan Varo berkerut. Ia menangkap judul yang amat begitu mengejutkan. Rasanya, Varo sampai berpikir. Mungkinkah dirinya salah dalam membaca. Karena itu, Ia pun membaca judul itu sekali lagi. Ternyata memang itu judulnya, sebuah kasus yang terjadi di sebuah kampus.
“Apa mungkin kampus yang dimaksud,’ batin Varo bertanya. Tapi, kalau ini ia mulai terhanyut dalam bacaan koran itu.
Sedikit tidak tenang, ada bagian hati Varo bilang, mungkin kampus ini tempat kejadian perkara yang ada di dalam koran itu. Ia pun coba melanjutkan untuk membaca lagi. Ingin tahu lagi dan lagi tentang apa yang terjadi dan disampaikan di koran tersebut. rasa penasaran mulia menumpuk, mendorong Varo agar tetap fokus dan teliti agar tidak ada yang terlewatkan olehnya.
“Jadi, mungkin berita ini …,” ucap Varo sesaat setelah beberapa kalimat dalam berita itu telah dibaca. Ia berusaha tetap fokus. Masih ada beberapa paragraf yang menarik perhatiannya untuk ditelusuri kata per katanya.
Hingga detik yang berjalan, dan semakin banyak waktu yang Varo gunakan untuk membaca koran tadi. Ekspresi wajahnya mulai berubah jadi pucat pasi. Sepasang matanya menatap koran itu tanpa henti dan makin mendelik seakan tak percaya dengan apa yang sedang dibaca.
“Berita ini, masak sih. Rasanya aku nggak percaya. Tapi, ini beneran terjadi disini! Terus kenapa kampus ini masih tetap ada dan berdiri sampai sekarang?’ ucap Varo yang mulai merasakan rasa lemas di setiap persendiannya. Ia coba mengumpulkan tenaga. Tapi, terlalu lemas dan kaget. Hingga ia terpaksa mencari tempat untuk duduk. Sebelum ia jatuh ke lantai dan itu pasti sakit.
Imas mulai cemas melihat perubahan yang terjadi pada Varo. Dirinya sampai harus spontanitas memegangi tubuh Varo yang tampaknya agak sempoyongan. Membantunya duduk dengan baik dan benar.
“Kamu kenapa Varo?” tanya Imas merasa was-was.
Ditatap Imas dengan mata yang berkedip-kedip cepat. Varo mulai merasakan sensasi pusing di kepalanya. Ia kemudian mencoba memejamkan mata, mungkin pusingnya akan berkurang, meski sedikit.
“Varo? Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi begini?” tanya Imas lagi. Ia lalu melihat ke arah koran yang sedang dipegang oleh Varo. “Emangnya apa yang udah kamu baca. Kok kayak syok banget?” Masih memandang penasaran bercampur cemas pada Varo.
Varo hanya diam, dan berusaha mencari ketenangan. Ia kemudian memberikan koran tadi pada Imas. Memberi kode agar membaca sendiri apa yang tertulis di sana.
Imas menerimanya, langsung disambar koran itu dan menatap halaman yang sudah sejak tadi, cukup menarik perhatian. Ia bisa melihat bagaimana Varo membacanya dengan begitu fokus, seakan itu kabar yang sangat penting dan jangan sampai terlewat.
Sedangkan Varo menatap ke arah Riyan yang masih berdiri menatap juga ke arahnya. Terlihat Riyan tidak kaget dengan apa yang terjadi pada Varo.
“Kamu dapat ini dari mana Riyan?” tanya Varo.
“Aku dapat itu dari sampah perpustakaan. Tadi aku disuruh buang buku-buku dan majalah lama. Nggak nyangka di antara tumpukan itu ada surat kabar yang isinya berita tentang kampus ini, dan pas banget seperti apa yang diceritakan Yuni selama beberapa hari ini. Yang waktu kalian nggak percaya dan mengira kalau Yuni hanya berbohong. Sekarang koran itu udah aku kasih tau kalian. Aku harap kalian bisa percaya dan nggak mikir kalau Yuni cuma berbohong, buat cari perhatian biar bisa kerja enak disini,” jelas Riyan. Ia merasa lega sekali bisa mengatakan itu.
Sementara itu, Imas masih diam saja. Ia terlihat serius saat membaca surat kabar lama. Matanya juga tampak tak berkedip sama sekali. Tak berselang lama, justru Iams menekuk koran tadi. ia masih memandang dengan tatapan mata kosong.
“Jadi, kampus ini beneran ada ....,” ucap Imas yang rasanya agak ngeri untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Ia kemudian melihat ke arah Riyan. “Terus Yuni, dia sekarang ada dimana?” tanya Imas.
“Dia lagi bersihin aula kayaknya,” jawab Riyan.
“Kayaknya kita harus minta maaf sama Yuni!” ucap Varo. Kali ini Varo menunduk.
“Iya! Aku setuju. Kita juga bisa bilang ke Yuni kalau kita juga udah baca surat kabar yang isinya kejadian mengerikan di kampus ini.” Imas kemudian mencari koran lama tadi, ia merasa koran itu ada di pangkuannya barusan. Tapi, saat akan diambil lagi, ternyata sudah tidak ada.
“Lho! korannya mana?” tanya Imas. Ia lalu melihat ke segala sisi tapi tidak ditemukan koran itu. “Apa kamu ambil ya Riyan?” tanya Imas pada Riyan yang masih berdiri di hadapannya.
Riyan menatap tidak terima. "Enggak! Ngapain aku ambil, lha aku malah mau tunjukin ke kalian dan pengen kalian bisa baca koran itu sepuasnya,” jelas Riyan.
"Terus! Korannya mana?" Tanya Imas.