Sore itu, akhirnya Yuni pulang bersama dengan Riyan. Mereka berdua kembali berboncengan dengan motor sport milik Riyan yang selama ini selalu menemani kemanapun mereka pergi.
Selama perjalanan yang singkat itu, namun sengaja Riyan mengendarai motornya dengan perlahan. Ia sadar kalau Yuni sejak tadi hanya diam. Entah berapa banyak hal yang saat ini jadi beban bagi gadis itu. Yang pasti Ryan paham sekali, kalau Yuni, jangan sampai merasa sendiri.
Yuni pun hanya memandang ke sisi jalan yang sedang dilalui. Memperhatikan segalanya dengan bibir yang beku dan lidah yang keluh. Dalam hatinya, ia hanya berpikir, menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi menimpa dirinya.
Semua itu masih jadi misteri dan kebingungan. Hanya satu hal yang Yuni tahu dengan pasti. Kalau semua yang sedang terjadi, adalah kemungkinannya karena adanya tanggal lahir yang sama antara mahasiswi di kartu identitas itu dengan dirinya.
“Kalau itu adalah salah satu alasannya. Kenapa sesuatu yang kayak teror itu malah terjadinya terus menerus cuma sama aku, dan itu menakutkan. Asal kamu tau, kalau saja aku bisa memilih tanggal lahir yang lain, aku pasti melakukan itu,’ batin Yuni. Ia menolak segala hal aneh itu. Ia sedikitpun tak ingin memiliki alur kehidupan seperti ini, sampai dirinya harus bertengkar dengan teman kerjanya.
Yuni lalu melihat jalanan yang dilalui motor Riyan. Ada yang salah, ia masih diam dan ingin memastikan dulu. Ternyata memang ada yang salah.
Motor itu harusnya melaju lurus dan berbelok ke kanan. Akan tetapi, justru motor tersebut malah melaju lurus, tanpa berbelok lagi. Padahal harusnya berbelok, dan tinggal beberapa meter saja, motor akan sampai di depan kos tempat Yuni tinggal.
Yuni menatik baju yang sedang dipakai Riyan. Ia memanggil pria tersebut yang sedang fokus mengendarai motornya. “Riyan! Kita ini mau kemana? Harusnya kan belok kanan itu ke kosku.”
“Nggak kemana-mana, cuma cari angin aja, sekalian cari hiburan. Aku nggak mau kamu stres.” Riyan sedikit menggoda.
Yuni agak terpancing untuk bicara lagi. “Hery! Aku ini nggak stres, aku cuma ketakutan. Itupun nggak banyak kok! Cuma sedikit, iya sedikit ketakutan!” jawab Yuni.
“Iya! Udah terserah kamu. Ketakutan juga butuh hiburan kan! Biar nggak jadi akut nanti, bisa bahaya dong!”
“Terserah aja!” Yuni memutar bola matanya dan menurut saja mau diajak kemana oleh Riyan.
Riyan akhirnya menghentikan laju motornya di sebuah halaman parkir sebuah pasar yang enak namanya apa, Yuni pun tidak tahu. Terletak di tengah lapangan yang besar, sejenis seperti pasar malam. Ia tersenyum melihat segala keramaian tersebut. Sedetik terhibur dan makin lama makin terasa terhibur. Ia tersenyum lalu menatap ke arah Riyan yang sedang meletakkan helm di motornya.
“Apa ini? Pasar dadakan, luas banget kayaknya. Ada sepeda hias lagi.” Yuni melihat ada sepeda hias yang berjejer rapi, siap untuk disewa para pengunjung yang datang. Lampunya mulai menyala dan menarik, ditambah keadaan juga semakin sore dan agak menginjak gelap.
Riyan ikut tersenyum. Senang rasanya Yuni bisa bicara lagi seperti biasanya. “Iya, ini pasar sore. Tapi, biasanya kalau ada konser band besar, biasanya juga diadakan disini. Gimana? Rame ‘kan?”
“Iya, kalau gitu kita jalan kesana yuk! Kayaknya banyak banget yang jualan makanan ringan!”
Untuk sesaat itu, waktu yang berjalan hanya memberikan kebahagiaan untuk Yuni. Ia sudah lupa apa yang telah terjadi siang tadi. Pertengkaran dengan Imas dan Varo juga sudah ia lupakan.
“Yun!” panggil Riyan. Mereka berdua sedang berada di sebuah lesehan yang menyajikan makanan murah meriah khas bandung. Apalagi kalau bukan siomay bumbu kacang.
“Iya!”
“Ini makan dulu!” ucap Riyan sambil memberikan sepiring siomay yang menggugah selera.
“Wah! Enak nih!” sahut Yuni. “Makasih ya Riyan!’ ucap Yuni sambil menatap Riyan. Ah, saat seperti ini Riyan terlihat tampan sekali. Ia jadi malu sendiri, entah kenapa dan apa alasannya.
“Aku jadi nggak enak nih, sering banget dapat traktiran dari kamu,” ucap Yuni. Ia mulai melahap sesendok makanan yang ada.
“Nggak apa, asal kamu seneng.”
“Ya seneng banget lah Riyan. Kamu baik banget.”
“Tapi, gimana kamu sekarang. Suasana hati kamu udah mendingan belum, apa masih aja takut kayak tadi?”
Yuni menghela nafas panjang. Ia sadar keadaan yang dialaminya saat ini, memang sulit untuk dijelaskan.
“Kayaknya aku emnag udud berteman denagn seua hal aneh yang sering bangetterajdi. Aku harsu busa berdamai dan berjalan barengans ama mereka,” ucap Yuni.
Rasanya Riyan jadi aneh. Ia hampir saja tersedak saat meneguk es teh di gelasnya. “Maksud kamu Yun? Maaf, aku nggak paham sama sekali.”
“Kayaknya aku emang kudu pasrah aja kalau ada hal aneh lagi yang terjadi. Aku kayaknya nggak bisa lari dari semua ini.”
Pada kesempatan itu, Riyan coba memegang pundak Yuni, seperti sedang menyalurkan energi positif yang mungkin memang akan berguna sekali. “Ketakutan itu emang kudunya dihadapi, bukan malah ditinggal lari. Tapi, jangan sampai ketakutan itu malah melenyapkan kita. Asal kamu bisa mengerti itu, aku yakin kamu pasti bisa menemukan sesuatu.”
“Sesuatu?” ucap Yuni dengan nada bertanya.
“Iya sesuatu yang nggak lain adalah jawaban dari semua misteri ini.”
Yuni terdiam mendengar jawaban dari Riyan. Mungkin, apa saja yang bisa Yuni lakukan untuk memecahkan misteri, pasti akan ia lakukan. Sungguh, ia sendiri penasaran mengapa sampai dirinya menemukan surat kabar lama, dan identitas Mikha. Nama mahasiswi yang ada di kartu dan juga nama yang baru diingat Yuni juga kalau pernah membaca nama itu di salah satu buku di perpustakaan.
“Namanya cantik ya, Mikah Anjani,”ucap Riyan.
“Orangnya juga cantik, cantik banget malah,” tambah Yuni.
“Lho kok kamu bisa ngomong kayak gitu? Kamu pernah ketemu sama dia?” tanya Riyan lebih lanjut.
“Pernah, di ruangannya Pak Haris. Eh! Tunggu dulu. Apa jangan-jangan perempuan yang ada di dalam mimpi itu Mikha ya. Tapi, pria yang coba ngejar dia siapa?”
“Pria!”
“Iya, di dalam mimpi aku, ada perempuan yang dikejar-kejar sama pria yang kayaknya waktu itu bawa benda tajam. Ya Allah, mungkin nggak sih kalau berita itu nggak seharusnya ditutup. Makanya arwahnya Mikha nggak tenang.” Yuni mulai membuat garis merah dan kesimpulan sendiri.
“Duh! Kok malah jadi gini sih! Tai bisa juga sih Yun!”
Yuni dan Riyan sejenak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Yun! Kamu coba ingat, apa ada alg petunjuk yang bisa kita pakai untuk mencari tau, nama orang atau siapa yang mungkin aja ada kaitannya dengan berita yang kamu baca dan sudah menghilang itu,” ucap Riyan.
Mendengar itu, Yuni melahap saja makanannya lagi. “Hahhh! Petunjuk, kalau saja ada aku pasti udah kasih tau kamu Riyan!”
"Ya, makanya coba diingat. Apa perlu aku tambah sepiring siomay lagi?" tanya Riyan yang coba mencairkan suasana. Suasana yang rasanya memang sudah tegang sekali karena pembahasan ini.
"Dikira perutku, penampungan apa. Ini aja banyak banget."
"Ya kali."