Mimpi Sekilas Yang Terulang

1244 Words
Seperti kapal selam yang bisa mengapung dan tenggelam. Kadang hilang dan kadang muncul. Seperti itulah pikiran Yuni saat ini, untuk mengumpulkan memori yang memang bukan memori miliknya. “Yun! Gimana?” tanya Riyan. Yuni menggeleng. “Tiba-tiba ada sesuatu yang muncul. Tapi, dengan cepat aku udah lupa. Cuma sekilas Riyan, dan apa yang aku alami dan aku lihat malah nggak ingat sama sekali.” Riyan bergegas pindah kursi. Mengambil posisi untuk duduk tepat di samping Yuni dan menenangkan gadis itu. “Ya udah nggak papa, kamu nggak usah maksa.” Asrama semakin sore, semakin ramai didatangi para mahasiswa yang tinggal di situ. Yuni dan yang lainnya masih sibuk menyelesaikan pekerjaan. “Udah mau jam empat, apa kita nggak siap-siap untuk plang?” tanya VAro. Imas dan Yuni begitu fokus bekerja. Hingga tak mendengar apa yang barusan dikatakan Varo. Hanya Ryan yang menoleh dan menatap Varo untuk membalas omongannya. “Iya, lebih baik kamu beresin alat aja. Bagian ini biar aku sama anak-anak yang lanjutin sampe pulang!” “Siap kalau begitu,” jawab Varo. Ia kemudian berlalu membawa alat-alat yang sudah tak digunakan, lalu pergi mengecek ke kampus dulu. Apa mungkin masih ada yang berserakan atau tidak. Semenatara itu, Imas menatapa jam di pergelangan tangannya. “Wah! Cepet banget, nggak terasa. Ternyata udah waktunya pulang,” ucapnya. “Yang bener?” Yuni tidak yakin. Tampaknya mereka berdua terlalu fokus sampai tidak sadar, kalau waktu untuk pulang sudah tiba. Riyan lalu menaghaka mereka berdua untuk pulang. seteah memebereskan asemuanya, mereka bertiga berjalan bersama menuju pintu keluar dan menunggu di tepi jalan dekat kampus. “Apa Varo udah pulang ya?” “Kayaknya belum!” “Jadi kita tunggu aja dulu.” Sejenak mereka pun menunggu kedatangan Varo. Tanpa sadar Yuni malah mengantuk dan merasa ingin tidur di sebuah bangku panjang yang memang kadang dipakai para mahasiswa untuk bersantai-santai. Yuni mulai berat merasakan sepasang matanya agar tetap terjaga. Ia telah sedikit agak mengantuk, mungkin lelah dan juga angin yang tertiup dari rimbunan pepohonan rindang lingkungan asrama membuat Yuni semakin dikuasai kantuk yang sangat. Ia mulai kehilangan sedikit kesadaran, tapi samar-samar masih terdengar obrolan kedua temannya. “Hoahhh …!” Yuni menguap dan mulai terpejam. Perlahan hatinya mulai berada di bawah alam sadar. Ia mulai membiarkan dirinya terseret ke alam mimpi, meski waktu itu tidak memungkinkan. Tapi, kenyataannya Yuni cukup lelap dalam sekejap. .. Sebuah ruangan yang sangat gelap, mungkin ada sedikit cahaya. Cahaya dari sinar yang berhasil menembus celah atap. Ada yang tidak rapat hingga bisa menampakan sedikit cahaya, dan tak ada yang tahu itu cahaya apa, lampu atau mungkinkah cahaya yang lain. Saat itu, terdengar ada sebuah derap langkah. Menggema memenuhi membuat bising di dalam ruangan tanpa cahaya tersebut. Si pemilik derap langkah itu juga terdengar seperti bernafas dengan tersengal-sengal. Sepertinya bajunya juga terlihat agak compang-camping tapi tidak jelas juga. Ia masih berlari entah lari dari apa. Rambutnya dibiarkan tergerai acak begitu saja tak peduli kadang menutupi cara pandangnya. “Tolong, aku mohon! Lepaskan aku.” Ada suara yang terdengar. Tampaknya berasal dari si pemilik derap langkah yang ternyata adalah seorang perempuan. Perempuan itu terjatuh lalu dengan cepat berusaha untuk berdiri. Ia melempar pandangan ke segala penjuru. Akan tetapi, tak ada arah yang bisa dipilih. Ia membeku lagi, bingung mau lari kemana. Hanya ada sebuah buku yang masih coba dipertahankan untuk dipegang dan dibawa. Sementara itu dari sisi belakangnya, ternyata ada bayangan yang semakin lama semakin mendekat. Terdengar juga langkah kaki yang seperti sudah lelah, namun tetap memaksa. Bersamaan dengan itu, ada juga suara seperti orang menahan sesuatu , sesuatu yang sulit dijelaskan. Entah apa. “Datang padaku Sayang! Jangan pergi atau kabur lagi. Kita akan bersenang-senang Cantikku!” ucap si pemilik bayangan yang semakin dekat dengan perempuan yang lari tadi. Ia berhasil menyentuh perempuan yang nafasnya bahkan terdengar mengenaskan. “Lepasin aku! Bukan kamu yang aku tunggu, bukaannnnnn!” Perempuan itu berteriak, tapi suaranya hanya sebatas seperti suara angin yang tidak keras sama sekali. Tampaknya sudah tidak ada tenaga. Lemas dan pasrah. Lalu tampak ada benda tipis yang mengkilat terkena sinar, sedang dipegang pria yang menyeramkan itu. Mengkilat hingga membuat mata terasa silau. Yuni pun akhirnya terbangun. “Hah!” Kaget Yuni yang spontan membuka mata dan langsung memeriksa sekeliling. Ternyata apa yang dilihat dan dirasa sangat menakutkan tadi hanyalah sebatas mimpi. Ia pun mengelap wajahnya dengan kasar dan menunduk. Meneliti lagi tempatnya berada. Ternyata ia masih berada di tempat yang sama seperti tadi. ‘Mimpi apa aku barusan, kenapa seram sekali. Kenapa juga aku merasa mimpi itu terjadi begitu nyata, dan sangat seram. Aku sampai takut.’ batin Yuni. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk dirinya sendiri. Diingat lagi mimpi itu, ia baru sadar pernah memimpikan hal yang seperti demikian. Tapi, sudah cukup lama dan ia kira hanya sekedar bunga tidur. Kalau itu memang hanya bunga tidur biasa, mengapa harus berulang. Mengapa singkat dan terjadi saat dirinya berada di dekat asrama. Ada apa dengan asrama ini, hati Yuni malah ngeri mengingat mimpi barusan. Ia semakin takut dan jelas terlihat di wajahnya ada rasa itu yang semakin menjadi. Baru sesaat kemudian Riyan yang ada di dekat situ, menyadari kalau telah terjadi sesuatu. “Yun! Ada apa?” tanyanya. Yuni hanya menggeleng saja. Sedangkan kedua tangan masih sibuk memeluk erat tubuhnya sendiri. “Kamu kedinginan?” Riyan masih coba menanyakan keadaan Yuni. Hanya gelengan yang Yuni lakukan. Riyan malah bingung menatap hal itu. “Terus kenapa? Kenapa kamu peluk diri kamu sendiri kayak ketakutan.” “Aku yakin, ada sesuatu di kampus dan asrama ini, sesuatu yang disembunyikan. Riyan, disini pasti pernah terjadi kejadian seram, aku lihat di mimpiku dan berulang kali aku mimpi yang sama. Riyan gimana dong? Aku beneran takut banget." Kebetulan Varo sudah datang dan mendekat ke arah Imas yang kebetulan tidak jauh dra Yuni. Ia melihat teman kerjanya itu kumat lagi dengan mengatakan sesuatu yang tidak jelas, membuat orang takut dan panik, khususnya lahir untuk Imas. “Kamu mulai cerita bohong lagi Yun!” ucap Imas. “Kenapa sih, selalu aja suka mengatakan sesuatu yang bikin orang takut.” “Enggak Imas! Aku nggak bermaksud gitu. Aku sendiri juga takut,” jelas Yuni, terlihat wajahnya memang dipenuhi kecemasan. Hanya saja, kedua temannya Imas dan Varo tak menangkap sinyal itu. “Kalau kamu takut, jangan katakan lagi sesuatu yang bikin kita berpikir kamu bohong dan hanya ingin membuat suasana kampus ini makin terlihat seram. Kamu mau bikin kita semua nggak betah buat kerja disini!” ucap Varo, nada bicaranya sungguh tidak disukai Yuni. “Kamu dengerin baik-baik. Aku nggak punya pikiran kayak gitu. Awas aja kalian kalau suatu saat nanti giliran kalian yang ditakuti dan berada dalam kondisi yang aku rasakan saat ini.” Yuni coba membela dirinya lagi. Ia sangat tidak suka dituduh berbohong. Lalu mengancam, mendoakan agar mereka merasakan hal yang sedang ia rasakan, ketakutan tanpa jawaban. “Jangan mengatakan sesuatu yang mustahil, itu nggak mungkin terjadi.” Imas menatap kesal. Sayangnya, dirinya betul-betul tidak menyukai kalau Yuni mengatakan hal seram. Yuni ingin membalas lagi. Tapi, Riyan segera memeluknya dari belakang, memeluk kedua bahunya menahan diri Yuni agar tidak jadi meluapkan amarah. Sudah cukup seharian ini tenaga mereka berempat habis untuk bekerja. Lalu sekarang malah dihabiskan hanya untuk meluapkan amarah, sungguh buang-buang tenaga. “Udah Yun! Kita pulang aja dulu yuk, aku anterin kamu dulu kalau begitu. Ayo ikut aku!” Riyan segera membawa Yuni. Hanya ini yang bisa dilakukan untuk melerai mereka bertiga agar tidak ribut dan malah memunculkan kembali suasana yang keruh, yang pernah terjadi beberapa saat lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD