Memori Tentang Asrama

1110 Words
Riyan merasa mendadak cemas. Bagaimana bisa se-siang dan seterang ini. Yuni malah membuat dirinya yang seorang laki-laki, malah ketakutan tiba-tiba. Ia bergegas memutar langkah dan kembali menyusuri langkah kaki yang sudah diambil untuk mencari Yuni. “Yun!” kembali Riyan menyebut nama tersebut. Ia harap mendengar seseorang menjawab panggilan itu. Padahal belum lama ia masih melihat Yuni ada di belakang dirinya. Mungkinkah teman kerjanya itu pergi ke kamar mandi. Riyan berusaha berpikir baik, namun tetap saja masih merasa cemas. Hingga akhirnya kaki Riyan yang berjalan cepat sampai di titik depan pintu masuk asrama. Ia bisa melihat Yuni berdiri tegap, mematung dan wajahnya datar. Segera didekati gadis itu yang ternyata pandangan matanya kosong sekali. Tak sampai hati, Riyan pun langsung saja memeluk Yuni. “Yun! Kamu kenapa?” tanya Riyan sambil melepas tubuh Yuni yang saat itu dipeluk erat karena saking cemasnya. Tidak ada jawaban, Yuni masih kosong pandangannya. Segera digoyangkan kedua bahunya dengan keras. “Yun! Cepat sadar, kamu nggak lagi sakit kan!” Cukup keras hentakan tangan Riyan ke bahu Yuni. “Hah!” Yuni mulai sadar dan ia melihat ada Riyan di hadapannya. Menyaksikan kedua bahunya dipegang kuat. Yuni pun jadi bingung. “Ada apa Riyan?” “Hah! Apa! Kamu malah tanya ada apa sama aku? Kudunya itu aku yang tanya begitu sama kamu. Ada apa sama kamu barusan. Apa yang sudah terjadi sampai kamu kelihatan melongo di depan pintu masuk asrama, pandangan mata juga kelihatan kosong. Apa yang sedang kamu lihat dan pikirkan?” tanya Aldi, ia bahkan bicara panjang lebar pada Yuni. Padahal jelas wajah gadis itu masih kebingungan. “Aku nggak tau, aku nggak ingat,” jawab Yuni. Ia sedikit memejamkan mata untuk mengingat apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tadi ia sedang berjalan bersama Riyan untuk ke asrama menemui Imas dan Varo. Lalu tiba-tiba, ia seperti tidak sadar. Tapi, yang jadi pertanyaannya sekarang. Apa yang membuat ia sampai tidak sadar. “Ya udah nggak papa, jangan dipaksa buat ingat-ingat yang paling penting kamu udah sadar. Ya udah, kita cari Imas dan Varo yuk. Kita kerja aja dulu.” Riyan mengajak Yuni berjalan lagi. Tapi, kali ini ia pastikan gadis itu selalu ada di sampingnya. “Kamu jangan melamun ya Yun! Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu lagi!” “Emang aku tadi kenapa sih Yan?” Yuni ternyata belum berhasil untuk mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya barusan. Riyan menghela nafas panjang. Ia kemudian menatap Yuni. “Nanti aja ceritanya. aku nggak mau kamu malah makin kepikiran.” Ternyata Imas dan Varo sedang membersihkan gudang dapur. Disana cukup ramai, karena koki asrama dan pekerja asrama lainnya juga sedang berkumpul disitu. Riyan dan Yuni datang dan langsung disambut meriah oleh mereka. “Wah! Jadi ini ya yang namanya Yuni. Anaknya cantik juga ya. Pantesan Riyan kesengsem.” Seorang dari pekerja asrama itu berkomentar dengan kedatangan Yuni dan Riyan. “Apaan sih Pak? Kita ini cuma teman kerja!” balas Riyan. “Lha kita udah denger kok dari dekan yang sekarang, kalau ada cleaning service yang pacaran. Itu kamu sama Yuni kan!” “Ya udah deh nggak papa, abis beresin ini, khusus buat kalian berdua aku kasi makanan asrama yang enak banget dengan cuma-cuma, alias gratis,” ucap seorang lagi yang memang sudah kenal Riyan. “Beneran, kalau itu sih aku mau!” sahut Riyan. Ia seketika semangat lagi dan sejenak berpikir kalau ini cukup menghibur. Minimal, Yuni bisa tidak memikirkan hal buruk lagi yang hanya akan membuat dirinya seperti kehilangan kesadaran. “Iya kan Yun?” tanya Riyan pada Yuni bermaksud untuk mengajak gadis itu berbicara. “Ah, iya, tapi!” ucap Yuni yang langsung disela oleh Varo. “Wah! Kok cuma Yuni dan Riyan, aku juga mau dong makan gratisnya,” ucap Varo. Ia mulai merayu agar dapat jatah juga. “bersihkan dulu semuanya. Kalau sudah selesai, baru ada makanan gratis.” “Ya, sama aja boong!” Sontak suasana yang ceria itu menjadi atmosfer yang menyenangkan bagi Yuni. Ia sudah sedikit lupa akan apa yang sudah terjadi pada dirinya barusan. Mulai tersenyum dan ikut bicara. Ia mulai kembali berbaur dengan keceriaan dan kembali seperti sedia kala. .. Benar-benar Yuni dan Riyan ternyata mendapatkan jatah makanan gratis dari petugas kantin asrama. Mereka berdua merasa senang sekali. “Yang kerja disini baik-baik banget ya Riyan, aku nggak nyangka beneran dapat makanan gratis,” ucap Yuni. Ia sedang menikmati makanannya dengan sangat semangat. Apalagi tenaganya juga sudah cukup terkuras setelah beres-beres banyak barang yang tidak diperlukan untuk dijual kepada tukang loak besok. Secara otomatis rasa lapar membuat nafsu makan menggelegar. “Mereka emang baik banget. Sejak aku ada disini, mereka udah memperlakukan aku kayak udah kenal lama, seperti keluarga mereka. Aku aja yang jarang banget datang kesini karena sibuk tugas di kampus. Jadi, nggak sempet kumpul-kumpul lagi kayak dulu,” Riyan coba memberitahu. “Eh! Tapi, mereka tau kita pacaran katanya dari dekan ya, itu artinya dari pak Haris. Pasti gara-gara waktu pagi itu. Aku minta maaf sama kamu ya Riyan. Gara-gara aku, mereka jadi mikir kalau kita pacaran.” Riyan tersenyum. Ia lalu menatap ada Yuni. “Nggak papa kok, malah kalau jadi kenyataan kau malah seneng. Itupun kalau kamu emang mau sama aku,” ucap Riyan. Ia kemudian melahap lagi satu sendok dari makanannya. “Gimana kamu mau nggak jadi pacarku beneran. Jujur, aku udah mulai tertarik dan suka saat pertama kali lihat kamu datang kesini,” sambung Riyan sekali lagi. Ia coba menjelaskan isi hatinya. Sayangnya, Yuni tidak segera bicara. Ia masih ada dihadapan Riyan. Tapi, ia tidak bergerak. “Gimana Yun? Kamu mau kan kalau kita pacaran beneran?” tanya Riyan dan setelah itu ia menatap ke arah Yuni yang ternyata kembali melamun. Yuni terlihat sedang memandang kosong ke arah makanannya. Tidak bergerak sama sekali tangannya untuk memasukkan suapan lagi ke dalam mulut. Sebuah ingatan tiba-tiba muncul. Perasaan yang sama saat dirinya berada di dalam perpustakaan, saat ini kembali dirasakan. Seperti kalau Yuni merasa pernah duduk di kursi yang saat ini sedang dipakai sekarang ini. “Yun! Kamu kok gini lagi. Yun!” panggil Riyan dengan lembut. Ia lalu melihat ke sekeliling kantin asrama, tempat ini saat ini, tampak sangat ramai. Aneh kalau Yuni masih saja mendapat gangguan. "Kamu kenapa lagi sih Yun! Yuni!" panggil Riyan sekali lagi. Baru setelah itu Yuni sadar ada yang memanggil. “Eh Riyan! Maaf aku tadi kayak …,” ucap Yuni tapi seketika pikirannya jadi bingung sendiri. Ia malah kembali diam lagi sambil menatap heran pada Riyan. “Kayak apa Yun?” Riyan malah penasaran dengan apa yang ingin Yuni katakan. Dirinya bahkan sudah lupa, kalau tadi sedang melangsungkan prosesi untuk menyatakan perasaan, atau lebih tepatnya menyatakan sebuah ajakan untuk pacaran betulan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD