Inisial MA

1224 Words
Riyan akhirnya menemui Yuni dan Bima. Ia terlihat memasang wajah pucat. Berusaha bersikap biasa-biasa saja. Namun, saat dirinya sudah duduk bertiga dengan dua teman yang sudah menunggu sejak tadi. Ia malah tak kalah kaget melihat mereka, dan sadar wajah temannya itu juga sedang tidak baik. “Kalian kenapa?” tanya Riyan bingung. Ia memperhatikan secara bergantian atau per satu wajah temannya. Yuni hanya tersenyum kecil. "Nggak tahu nih! Kita tiba-tiba aja merinding sendiri pas ngobrolin penampakan mahasiswi yang pernah aku jumpai," jelas Bima. "Eh, tapi barusan aku kayak nabrak sesuatu lho. Whusss gitu aja, cepet banget terus ilang. Kayak angin kenceng gitu."Riyan menjelaskan. "Apaan sih kalian. Masak iya siang-siang gini ada …," ucap Yuni yang ingat kalau ia pun selalu merasa merinding ataupun takut justru juga saat siang hari, saat kampus ini begitu ramai . Yuni pun terpaksa menunduk dan menghela nafas. "Ya mungkin aja kan," sahut Riyan. "Tapi ya mungkin yang aku rasain tadi juga kebetulan. Eh, gimana ayahnya Si Bima bisa kasih info nggak?" "Nggak?" Jawab Bima. "Eh, kita udahan aja deh bahas ini, aku beneran ketakutan. Kita balik sekarang yuk Riyan!" Ajak Yuni. "Tapi, kamu belum cerita lagi Yun," sela Bima. Sepertinya ia masih penasaran dengan hal apa saja yang dialami Yuni. "Nanti ajalah Bim. Aku rasa apa yang kamu lihat dan yang aku lihat itu sama. Udah ya, aku balik dulu. Ayo Riyan!" Ajak Yuni sekali lagi. .. Berada di dalam kamar kos sendiri, dengan kamar yang ia buat ramai. Sengaja Yuni menyalakan musik untuk menyingkirkan sepi di dalam kamarnya. Perempuan itu, masih bingung harus melakukan apa lagi. Ia sungguh ingin cari tahu. Sementara untuk saat ini, ia belum bisa memutuskan akibat dan sebab semua ini terjadi menimpa dirinya. "Bima lihat, dia hilang tiba-tiba, di perpustakaan. Kalau aku ngerasa aneh banget malahan kalau lagi di perpustakaan. Terus apalagi ya. Oh, pak Haris. Kenapa hatiku bilang kalau ini semua berkaitan dengan Pak Haris ya!" Yuni masih berpikir dan terus berpikir. Bagaimana bisa ia menerima segala apa yang terjadi dan seperti memang ingin ada yang disampaikan. Tapi, apa. Mengingat lagi hal yang ada di surat kabar lama yang ditemukan di ruang kerja Pak Haris. Mungkin kalau besok ada kesempatan, ia akan mengambil dan menunjukkan pada Riyan. "Aku juga pernah nemu kartu tanda pengenal mahasiswa, dan namanya. Ya ampun, namanya Mikha. Aku ingat itu dan tanggalnya sama persis dengan tanggal lahirku. Ini nggak mungkin. Kok bisa." Yuni yang sedang berjalan mondar-mandir mendadak merasa lemas. Kedua kakinya seperti sulit berdiri tegak. Ia berusaha menjangkau tempat tidur,dan menenangkan hatinya. "Ada apa sama dia, ada apa sama mahasiswi bernama Mikha itu. Ahhh!!! Apa dia sengaja nakutin aku karena tanggal lahir kita yang sama. Gimana bisa seenaknya gitu. Siapa juga yang mau kembaran tanggal lahir sama dia." Yuni menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berbaring dan menerawang langit-langit kamar. Kemudian meletakkan tangan kanannya di atas kening. "Apa aku biarin aja ya. Tapi, kenapa dia ngasih tau aku, kalau dia itu masuk berita gara-gara ...," ucap Yuni yang rasanya sulit untuk dilanjutkan sendiri. "Ah! Hidupnya memilukan. Kasihan. Tapi, kan juga bukan salahku. Hahhhhhh …!" Mengeluh lagi Yuni. Ia tak bisa mengingat terus akan hal itu. Kampus Keperawatan Memikirkan hal yang membuat takut. Jujur saja, akhir-akhir ini Yuni justru tidak merasakan hal itu. Sejak datang pagi ini ke kampus keperawatan untuk bekerja. Ia sudah janji pada dirinya sendiri untuk mengecek lagi tumpukan surat kabar di tumpukan berkas lama. Yuni nekat melakukan itu lagi, meski kadang agak takut untuk berlama-lama berada di dalam ruang kerja Pak Haris. Karena, meski Yuni yakin dirinya sedang sendirian saja. Akan tetapi, selalu ada bagian kecil hatinya yang bilang hal sebaliknya. Mengatakan kalau dirinya tidak sendiri alias ada yang menemani, dan yang menemani tentu saja sesuatu yang tidak tampak, tapi ada. Juga tentu bisa dirasakan. Masih mencari berulang kali, hingga lelah. Yuni ternyata tidak menemukan itu. "Hey, aku cuma mau baca surat kabar yang kemarin. Gimana bisa udah nggak ada. Kan aku balikin disini." Yuni menghela nafas. Ia saking pusingnya, sampai-sampai harus mengacak rambut miliknya sendiri. Kesal sudah hatinya. "Okey, kayaknya emang nggak ada itu koran." Yuni melihat tumpukan dokumen yang sudah dibongkar, dan rasanya harus cepat-cepat dikembalikan ke tempat asal. Ia pun buru-buru membereskannya. Saat itu, terdengar suara pintu dibuka, pertanda ada orang yang masuk. Yuni berjingkat kaget dengan sendirinya dan sontak menoleh. "Ah! Ternyata kamu Riyan. Ih! Bikin kaget aja. Kenapa nggak salam dulu sih." Yuni menyambut kedatangan Riyan dengan kesal. "Pak Haris udah datang. Gimana udah ketemu belum koran lamanya?" tanya Riyan. Yuni menggeleng-gelengkan kepala. "Ya udah, kita keluar aja! Ntar malah ketahuan kalau kita cari-cari sesuatu," ucap Riyan. Yuni dengan lesu dan lemas akhirnya menyerah. Ia pun ikut saja dengan langkah kaki Riyan untuk keluar dari ruangan tersebut. Sampai di luar gedung perkantoran kampus keperawatan. Terlihat sekali wajah Yuni masam dan tidak bersemangat. Ia merasa apa yang diinginkan tidak bisa terlaksana. Padahal dirinya yakin, pasti akan ada sesuatu yang bisa lagi ditemukan dan jadi informasi yang bisa saling dikaitkan kalau koran lama itu ketemu. Sayangnya, benda itu tidak ada. Yuni duduk bersama dengan Riyan di salah satu bangku di lorong kampus, ada taman yang membuat suasana jadi sejuk. "Kok bisa nggak ada sih. Padahal jelas banget aku kemarin nemuin itu koran ada di tumpukan berkas itu. Hahh … jadi capek sendiri," keluh Yuni. Ia lalu menatap Riyan. "Kamu ingat nggak, nama korannya. Apa kita bisa cari di internet ya?" Riyan coba berinisiatif. "Aku nggak ingat." "Haduh Yunnnn, terus gimana dong." "Makan ajalah, aku laper. Beneran laper aku Riyan. Kepalaku pusing lagi. Kepikiran dari tadi malam. Tau nggak kamu, perasaanku itu bilang apa atas semua yang terjadi ini?" "Perasaan kamu pasti bilang, kalau harusnya kamu pacaran sama aku!" Celetuk Riyan seenaknya. "Riyannnnnn!!! Ih lagi serius juga." "Iyaya. Emang perasaan kamu bilang apa?" Yuni lalu menatap Riyan. "Perasaan aku bilang kalau mungkin ada yang salah sama berita yang aku baca kemarin. Aku masih ingat kalau ending berita itu, bilang kasus akhirnya ditutup." "Ditutup gitu aja?" tanya Riyan. Yuni menggeleng. "Kata koran itu, pelakunya ternyata ngabisin nyawanya sendiri." Riyan mulai antusias. "Terus kamu ingat nggak siapa nama pelakunya?" Mendengar pertanyaan itu, Yuni sontak melongo. Ia mengerjapkan mata, barangkali ia bisa ingat. "Kalau itu kayaknya nggak ingat deh Riyan." "Ya, malah nggak ingat." Yuni hanya tersenyum. "Ya kan memoriku bisa penuh." "Makanya ganti memori baru." "Riyan, aku ini manusia, bukan ponsel." "Iya kalau kamu ponsel, aku bakal bawa kamu kemana-mana," jawab Riyan merasa lucu sambil tersenyum lagi. "Hembb … bisa banget. Eh, Imas dan Varo mana?" "Nggak tahu. Mereka bilang mereka mau ke asrama mahasiswa. Eh, kita kesana aja yuk kalau gitu!" "Ayo!" Asrama mahasiswa adalah sebuah bangunan yang tidak kalah tua dengan bangunan perpustakaan. Memiliki aksen klasik pada setiap kayu yang membingkai lekak lekuk sisi bangunan itu. Yuni melihat bagian depan asrama dengan terpanah. Sepasang matanya seperti tidak boleh berkedip melihat semua itu. "Asrama ini. Kenapa lagi-lagi aku ngerasain pernah ada di tempat ini?" Yuni hanya bisa bicara dengan hatinya. Ia masih terpaku di teras depan asrama. Sedangkan Riyan baru sadar kalau Yuni tidak ada di belakang dirinya. Ia sudah masuk ke bagian dalam asrama dan berjalan kaki seorang diri. "Mana lagi si Imas dan Varo. Apa aku telpon aja ya! Kamu bawa hape nggak Yun?" tanya Riyan. Tapi, tidak didengar suara teman kerjanya itu. "Yun! Yuni!" Memanggil lagi nama itu. Tapi, hasilnya nihil. Baru setelah itu Riyan menoleh ke belakang. "Lho, mana Yuni?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD