Merasa jantung ingin lepas, hati makin berdebar tak karuan lagi bagaimana rasanya. Bulu kuduk yang tak bisa lagi dikendalikan berdiri membuat merinding seketika, terjadi di seluruh sekujur tubuh seorang Yuni. Ia menatap semua yang terjadi dengan tidak berkedip sama sekali. Ingin memastikan kursi itu tidak memiliki tali pengikat yang tidak kasat mata. Tapi, kalau dipikir lebih baik lagi. Mungkin seharusnya dirinya lari. Pergi dari ruangan itu, karena pekerjaan beres-beres juga telah usai.
Yuni bergegas, ia tidak mau buang waktu percuma untuk hanya menjadi penonton segala kehororan ruang kerja pak Haris. Sungguh di luar dugaan di saat modern seperti ini, ada kejadian yang mengganggu hati dan rasa.
'Lebih baik memang aku pergi aja dari sini,' batin Yuni. Ia pun segera saja keluar dengan berbagai macam pikiran yang tidak karuan.
Kakinya berjalan dengan langkah sulit m seperti sudah berusaha menuju pintu raou pintu seperti menjauh. Yuni mulai takut situasi akan makin sulit dan membuat ia hanya berjalan tanpa kejelasan dimana pintu yang ingin dilewati.
"Kok nggak sampai-sampai Ssih!" Yuni seperti sudah tak bisa berjalan. Ia hanya bisa melihat lubang pintu yang seperti tak bisa tersentuh.
"Padahal kan bukan ini yang aku mau terjadi."
Awalnya hanya ingin menganggap semua yang telah terjadi itu hanya sekedar ilusi, mungkin ingin memahami kalau memang ada misteri yang sedang ada dan menjadi bahan pertanyaan yang selalu membuat Yuni penasaran. Tapi, saat ini, pintu itu seperti menjauh dan semakin menjauh. Yuni tak bisa menyentuh apalagi untuk sampai di titik itu.
"Please, aku mohon! Lepaskan aku dari sini. Jangan buat aku bingung dengan yang terjadi barusan. Andai aku bisa lihat kamu, mungkin kita bisa bicara baik-baik, dan aku janji aku nggak akan ganggu kamu lagi," ungkap Yuni di tengah ketersesatan dan kebingungan. Ia berusaha melakukan hal yang mungkin bisa membantu dirinya keluar dari sini. Tempat ini.
"Please pintu, mendekatlah padaku!"
Hingga kaki akhirnya sampai di daun pintu yang rasanya sejak tadi sudah sangat dekat tapi tidak kunjung bisa diraih. Yuni merasa lega. Tangannya mampu menyentuh kenop pintu dan memutarnya.
"Berhasil, aku akhirnya keluar dari sini!" Yuni tersenyum semangat merasa senang. Ia seperti baru keluar dari gua yang hanya membuat dirinya tersesat dan tak paham arah sama sekali m ia tak mau mengulang kejadian seperti ini.
"Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah! Ya Allah, terimakasih aku udah dikasih kesempatan buat balik lagi ke sini." Yuni melihat sekeliling dan memastikan kalau tempatnya ini benar-benar tempat yang dituju dan diinginkan. Ia sontak merasa lega. Nafasnya yang baru saja diajak berlari rasanya sedikit mereda untuk tidak bernafas dengan tersengal-sengal. Minimal oksigen yang dihirup menunjukkan kalau semua mungkin jadi lebih baik dan dirinya ternyata selamat, entah dari apapun itu tadi.
Varo dan Imas muncul melihat Yuni sudah ada di depan pintu. Mereka berdua merasa Yuni seperti sedang ada dalam masalah.
"Yun! Kamu kenapa?" tanya Varo.
Yuni belum bisa bicara. Ia masih berusaha menormalkan diri dan perasaan saat ini.
"Yun! Ada apa sih? Kamu sakit. Kalau belum selesai bersihkan ruang pak Haris biar aku sama Varo yang bantuin. Kamu kenapa?"
"Aku tadi kayak ketemu hantu Varo, Imas! Tau nggak sih. Kursi kerja pak Haris bisa gerak sendiri. Tiba-tiba menggeser dari posisi normal. Kayak ada yang duduk disitu terus diubah-ubah." Yuni coba menjelaskan dengan acak apa yang dilihat. Tapi, cukup bisa dipahami Varo. Namun, Imas yang memang penakut menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Kamu ngomong apa sih. Aku sama Varo niat baik buat bantuin kamu. Kok malah kamu takuti. Jangan ngaco. Lagian ini kan masih pagi. Mana ada hal yang begitu." Imas dengan lirikan tajam dan tidak suka. Malah kesal dan ingin menjauh saja.
Varo merasa suasana jadi tidak bersahabat. Padahal kemarin-kemarin, ia juga telah memberitahukan pada Yuni untuk tidak membahas apa pun yang bisa membuat Imas takut, karena Imas memang sejak dulu tidak berani dengan hal-hal seram apalagi yang da kaitannya dengan hantu dan tempat mereka bekerja saat ini.
"Yun! Kok kamu sepagi ini bicara kayak begitu sih. Kamu belum sarapan ya?" Varo yang memang lebih dekat dan kenal dulu dengan Imas. Lebih mementingkan Imas dan memihaknya. Ia pun ikut memojokkan Yuni dengan pikiran yang membuat takut dan tentunya tidak masuk akal terjadi.
"Tapi Varo. Kamu tahukan kalau kita setiap kerja itu kayak ada yang ngawasi. Nah! Aku tadi juga ngerasa itu. Ngerasa begitu. Kayak ada yang ngawasi. Terus buat buang ketakutan itu, aku milih nyanyi. Dan mereka ada yang ikut nyanyi."
Varo menggelengkan kepala. Menolak semua teori yang dikatakan Yuni barusan. "Aku nggak percaya, sama sekali nggak percaya. Udah deh jangan bikin kami, khususnya Iams takut. Kamu mau dia sakit lagi." Varo membentak sedikit, dan Yuni merasa syok juga terkejut.
"Apa! Aku nggak salah denger. Lagipula buat aku bohong. Kamu pikir aku juga nggak takut." Yuni coba mengatakan kenyataan yang ada. Tapi, sayang lawan bicaranya adalah orang yang salah.
"Udah deh! Aku jadi nyesel tawarin bantuan buat kamu tadi." Imas menunjukkan kalau dirinya tidak suka, dan segera membuat langkah kakinya untuk menjauh dan pergi meninggalkan Yuni.
Varo yang melihat Imas pergi, dan Yuni ternyata hanya diam saja merasa jadi kesal. Ia lalu menatap serius pada Yuni yang notabenenya adalah anak baru tapi sok buat cerita yang tidak ada bukti bahan kalau sampai didengar orang pun akan sangat sulit dipercaya.
"Kamu harusnya nggak usah cerita begitu. Aku emang pernah bilang kalau setiap kita kerja. Rasanya emang kayak ada yang ngawasi. Tapi, bukti apapun tentang hal itu nggak ada sama sekali. Harusnya kamu bisa mikir sendiri kalau ucapanku bisa jadi nggak bener. Bukan malah bikin asumsi dan opini sendiri."
"Ya ampun Varo!!! Aku nggak bikin opini. Aku cuma cerita apa yang aku alami barusan, pagi ini di ruang kerja Pak Haris," ucap Yuni dengan begitu emosi. "Ya, udah! Kalau kamu nggak percaya. Nggak papa. Aku juga nggak akan maksa kamu kok. Awas aja, kalau hantu itu bakal nakuti kamu. Kamu akan alami sendiri baru tahu rasa."
Varo tetap menunjukkan rasa yang malah semakin tidak suka. "Aku nggak takut sama sekali. lagian aku yakin hal begituan udah nggak ada. Satu lagi, ini itu siang lho Yun. Bukan malam yang gelap dan menyeramkan. Kalau kondisinya aja udah begitu, gimana aku bisa percaya?"
"Terserah, kamu. Aku cuma cerita dan nggak maksa kamu percaya."