Riyan Percaya

1110 Words
Yuni merasa perutnya sudah perlu diisi lagi. Ia kira perutnya menggila karena mengalami situasi yang menyusahkan sekaligus menakutkan. Ada-ada saja hal yang harus dialaminya memang. Setelah berjalan begitu saja meninggalkan Varo. Yuni memutuskan untuk mencari saja Riyan. Mungkin bercerita sedikit pada pria itu akan lebih memperbaiki moodnya yang sedang kacau. "Apa kamu bilang. Yun yang bener aja kamu?" tanya Riyan yang baru saja emmdndeu penuturan dari Yuni. Ia sontak melotot menatap ke arah Yuni dengan wajah yang masih ragu dan tidak percaya. "Ini itu hari juga masih pagi, bukan malam hari, tengah malam atau pas magrib. Jadi, gimana bisa ada hantu jam segini?" Yuni menarik nafas kesal. Dirinya saja sudah bercerita dengan susah-susah dari awal sampai akhir secara runtut dan urut. Akan tetapi, ternyata Riyan tidak mau langsung percaya. "Kamu kira aku juga nggak mikir begitu. Kamu kira aku bikin cerita bohong. Coba kamu pikir aja deh Riyan. Buat apa aku cerita hal yang kayak gini kalau emang nggak terjadi." Kali ini Yuni membela dirinya dengan kepala dingin. Ia tidak mau ada amarah hingga membuat Riyan salah sangka lebih parah. Ia hanya berharap yang bisa melihat jujuran itu dari wajahnya yang tulus. Yang selama ini memang selalu bekerja keras dan sungguh-sungguh. "Oke aku percaya sama kamu. Tapi, lebih baik, jangan ada yang tahu tentang ini dulu. Bahkan Varo aja nggak percaya Yun. Apalagi penghuni kampus yang lain. Bisa dianggap kurang waras kamu," ucap Riyan memberi nasehat. Yuni pun mengangguk. Ia rasa, Riyan sudah mulai percaya. "Terus, setelah ini. Aku harus gimana? Apa aku tetap bersihin ruangannya psk Haris. Kalau aku boleh jujur, aslinya aku masih takut." "Masalahnya, pak Haris sendiri yang minta kamu buat membersihkan ruangannya. Jadi, mana mungkin aku bisa nolak," sahut Riyan. Kali ini, dirinya memasang wajah simpati pada Yuni. Yuni menelan saling. Ia pasti gundah gulana kalau besok harus membersihkan ruangan pak Haris lagi. "Kamu tenang aja. Biar besok kalau aku sempat, aku akan temani kamu buat membersihkan rumahnya pak Haris. Aku janji!" "Beneran?" "Iya!" Yuni akhirnya bisa sedikit tersenyum. Ia merasa lega, karena masih ada Riyan yang peduli, mau mendengarkan ceritanya dan yang pasti percaya padanya. Tidak seperti kedua teman Yuni yang lain, yang malah menaikkan nada bicara tanpa peduli sedikitpun dengan perasaannya. Acara siang hari ini setelah makan siang di kantin. Yuni dan lainnya pun segera menuju ke perpustakaan kampus. Para cleaning service itu, masih harus membersihkan setiap sudut perpustakaan yang penuh dengan debu karena tidak terpakai. Juga buku-buku tebal di rak perpustakaan yang sangat jarang dibaca. Mungkin karena sudah zaman milenial, makanya benda-benda itu seperti tak dibutuhkan lagi hingga membuat semua buku itu, hanya bisa tersusun di raknya dengan rapi, sampai tebal debu yang menempel. Riyan yang kebetulan berjalan paling belakang mulai mempercepat langkah untuk memberitahu Yuni sesuatu. Iya segera menghampiri gadis itu yang sedang membawa timba dan juga kain lap basah juga kering. Ini merasa ada yang menepuk bahunya. Ia pun menoleh. "Eh, Riyan!" Segera mengajak Juni menghentikan langkah dan mengatakan sesuatu dengan lirih tepat ditelinga Yuni. "Lebih baik kamu minta maaf aja perkara tadi pagi sama baru dan juga ikhlas aku rasanya nggak enak kalau suasananya jadi kayak bersahabat antara kamu dan mereka berdua." Yuni segera menatap Riyan dengan kesal. "Yang aku bilang tadi itu beneran, nggak bohong. Kalau mereka nggak percaya, ya udah. Ngapain aku harus minta maaf?" Riyan menghela nafas. "Aku nggak suka ya kalian bertiga nggak tegur sapa. Dari tadi aku tuh merhatiin tingkah kalian bertiga. Kelihatan banget kalau nggak akur. Kita ini kerja satu tim, kalau misalnya harus saling musuhan. Jelas pekerjaan kita nggak akan selesai." Yuni memutar bola matanya menahan marah yang masih ingin ia tunjukkan lewat kata-kata. Ia berusaha diam, seiring sepasang matanya yang menatap Riyan. Rasanya tidak tega juga kalau Riyan dapat masalah pekerjaan karena egonya. Sedikit coba menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan-lahan agar lebih tenang dan mau mengalah. "Ya udah, aku akan minta maaf sama mereka." Agak sedikit tidak ikhlas kedengarannya ucapan Yuni barusan. Ia amish mencermati Riyan. Yang tentunya juga melihat serius ke arahnya. Kali ini Riyan tersenyum, cukup tampan. Tapi, bagi Yuni bukan waktunya untuk menikmati itu. Ada gak yang masih jadi hal yang mengganjal di hati. "Makasih ya. Aku akan bantuin kamu kok. Tenang aja. Sampai kapanpun, aku akan selalu percaya apa yang kamu katakan. Aku janji. Nanti kalau ada waktu dan kesempatan. Kita berdua bisa coba cari tahu, tentang hal-hal aneh yang terjadi sama kamu. Aku nggak akan biarin kamu ketakutan. Nggak tahu kenapa, rasanya apa yang kamu alami saat ini. Instingku bilang, pasti ada alasannya. Aku mohon pengertiannya ya Yun! Gimanapun juga aku punya tanggung jawab sama kamu, Varo dan Imas. Juga semua hasil pekerjaan disini,” ucap Riyan dengan penuh wibawa. Ya, bagaimanapun juga, ia memiliki kewajiban jadi pemimpin disini. Mengatur jalannya semua pekerjaan agar bisa berjalan dengan baik. Tentu, ia juga tak bisa membiarkan ketiga rekan kerjanya saling bermusuhan dan membuat kacau pekerjaan. Yuni pun akhirnya mengangguk. Ia harus paham juga tentang posisi Riyan yang dipercaya untuk meng-handle semua pekerjaan sebagai ketua tim. Minimal Riyan masih ada untuk Yuni. Meski Yuni harus mengalah terlebih dahulu. Tapi, kalau dipikir, mungkin alangkah baiknya memang seperti itu. Segala sesuatu yang aneh dan gaib, ia juga awalnya tidak percaya dengan semua itu. Tidak ada kepercayaan sama sekali, sampai akhirnya hal yang paling menurutnya seram dan nyata itu terjadi dan ia yang kebetulan mengalami. Andai mungkin ia dapat dari orang lain, mungkin Yuni juga akan menyangkal ada semacam itu yang terjadi. “Jadi, kamu mau minta maaf?” tanya Riyan. Ia pastikan lagi kalau anggukan Yuni yang barusan itu artinya memang dirinya berkenan mau minta maaf. “Iya Riyan, aku mau kok minta maaf sama Varo dan Imas. Aku ngalah deh. Aku bilang aja ke mereka mungkin aku yang salah denger dan salah lihat.” Riyan kembali tersenyum, ia lega kalau sudah bisa kondusif lagi keadaannya. “IYa, pokoknya aku kan bantuin kamu cari tahu. kenapa selama ini, selama kita kerja disini. Akhir-akhir ini, banyak kejadian horor yang menimpa kamu.” “Iya harus itu, kalau nggak. Bisa kabur aku dari sini. Nggak akan mau lagi kerja disini.” Yuni tersenyum dan senang juga rasanya kalau sudah bisa akur nantinya. “Kalau gitu mana, aku bantuin bawa.” Riyan mengambil timba berisi air yang dibawa Yuni. “Kamu pasti berat kan bawa ini!” “Ya berat emang. Dari tadi aku bawa itu terus sambil bicara sama kamu.” “Kalau gitu kita susul Varo dan Imas.” Riyan mulai berjalan. Tapi, Yuni seakan terpaku saja di tempatnya. “Ayo Yun!” ajaknya sambil menoleh ke arah Yuni. “Eh iya!” “Jangan melamun kenapa, nanti kesambet lagi lho!” “Iyaya, aku lupa. Makasih udah dibawakan itu timba.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD