Mengapa Hanya Yuni

1387 Words
Menyadari kalau apa yang terjadi bukan ilusi. Kenyataan kalau ketakutan itu tercipta dan terasa begitu nyata. Menghantui dan seperti ingin menampakkan. Pertanyaan hanya satu, bagi Yuni. Mengapa hanya dirinya yang dihantui. Mengapa tidak ada yang menakuti Imas, Varo atau bahkan Riyan. Yuni berusaha tegar, tetap berpegang teguh dan percaya jika Riyan akan membantunya. Karena bagaimanapun juga dia itu ketua tim bersih-bersih disini, dan Yuni hanya bisa yakin kalau semua akan kembali seperti semula. Berjalan masih menuju tempat Imas dan Varo berada. Yuni pikir hal positif. Agar dirinya tidak merasa sakit hati. Apapun nanti yang akan terjadi. Toh, ia sudah berniat baik untuk menjalin hubungan. Langkah kaki Yuni sudah sampai. Berhenti dengan jarak semeter saja dari tempat Imas. Mungkin memang meminta maaf dulu saja pada Imas. Dia perempuan paling penakut disini. Sudah pasti tak suka kalau dengar hal horor yang mengganggu pekerjaan, apalagi sampai mengganggu suasana hatinya yang ingin biasa-biasa saja. Meski sudah jadi rahasia umum kalau kampus ini memang sangat angker. Ragu hinggap lagi di hati Yuni. Kejujuran coba ia terapkan, tapi jujur itu membuat ia merasa sakit, kecewa, tidak suka dan juga sebal pada dua teman kerjanya. Yang membuatnya semakin sebal lagi, ia harus minta maaf untuk memperbaiki hubungan. 'Tapi, ya udahlah! Emang apa yang bisa aku lakukan lagi. Nggak disapa sama mereka juga malah bikin hariku suram. Lebih suram dari pada harus ketemu hantu,' batin Yuni. Yuni yang sudah mematri kedua kaki agar tetap tegak dan menghadap saja pada Imas. Ia menarik nafas dalam dan kembali mengumpulkan ketenangan. "Im-mas!" Panggil Yuni dengan nada berat. Ia menatap dengan hati yang separuh yakin dan sisanya tidak. Hatinya masih belum bisa menerima. Curang saja, karena ia sudah jujur tapi nyatanya tidak ada yang percaya. Imas menoleh ke sisi Yuni. Terkesan masih tidak ingin peduli pada teman kerjanya itu. “Iya ada apa?” tanyanya. Sambil mengulum senyum, Yuni ingin terlihat ia memang tulus melakukan apa yang akan terjadi setelah ini. “Ehm … soal yang tadi pagi pas kita ngobrol di depan ruang pak Haris. Aku minta maaf ya. Udah bikin kamu sama Varo jadi kesel. Kayaknya emang aku yang lagi oleng sampai ngira ada hantu disini.” Imas tidak langsung tersenyum. Ia meletakkan kain lap yang sedang dipegang. Berjalan makin dekat pada Yuni sambil memandanginya. “Iya, aku maafin kok. Aku nggak nyangka kalau kamu bakal minta maaf Yun! Aku juga minta maaf ya, kalau aku tadi kayaknya juga udah keterlaluan sama kamu.” Senyum Yuni makin melengkung, ia sangat senang dapat sambutan seperti ini dari Imas. Perempuan itu bahkan tanpa ragu memeluknya dan mendekap erat. Seperti merasa menyesal sekali sudah bertengkar dengan Yuni. Yuni pun merasa ada pelukan yang menyenangkan. Tak disangka saja kalau Imas akan semelow ini. Ia jadi sadar kalau mengalah sedikit saja bisa membuat keadaan jadi lebih sangat baik. Yuni bersyukur menuruti perkataan Riyan. Varo yang sejak tadi mengamati apa yang sedang terjadi, juga ikut bergerak mendekat pada Imas dan Yuni. Ia memilih untuk mengakhiri dulu pekerjaan yang sedang dilakukan. Melihat Yuni dan Imas berpelukan, ia pun ikut berbaur dengan dua perempuan tersebut. “Hey mau ngapain?” tanya Riyan yang memergoki Varo akan memeluk dua perempuan yang jelas bukan muhrim. Tentu saja akan jadi tontonan juga kalau sampai ada yang melihat selain mereka berempat kalau adegan seperti ini. Varo tersenyum nyengir. Ia tidak mengira akan dipergoki oleh Riyan. Ia pun mengusap tengkuknya untuk menetralkan perasaan. “Iya, aku cuma terbawa perasaan aja lihat mereka berdua saling berpelukan. Kan jadi pengen ikutan biar kelihatan akrab lagi juga sama Yuni.” Varo coba menjelaskan. Ia masih tersenyum kecil agar keadaan jadi kembali semringah dan ceria sambil menatap Riyan yang kaku melihat ke arahnya. “Bisa banget cari alasan, emangnya Yuni minta maaf juga sama kamu. Nggak ‘kan!” Riyan menatap malas. Ia ingat betul bagaimana Yuni bercerita tentang Varo saat, ia sedang ketakutan dan Varo dengan serta merta hanya menyalahkan Yuni dan lebih membela Imas. Seketika Varo memasang wajah kecut. Ia kemudian melihat Yuni melepas pelukan dengan Imas, dan berjalan mendekat ke arahnya. “Iya, sebenarnya aku juga mau minta maaf sama kamu kok Var! Aku juga ngerasa keterlaluan sampai berantem kita tadi,” ucap Yuni. “Iya aku juga minta maaf. Aku tadi juga darah tinggi pas bicara sama kamu.” Tersenyum Varo menatap Yuni. “Eh! Tapi kita nggak perlu pelukan kan. Cuma aku sama Imas aja yang saling berpelukan,” sahut Yuni. Riyan yang melihat tingkah ketiga temannya yang sudah kembali akur jadi ingin ikut bercanda. Ia kemudian berjalan mendekat pada Varo yang seperti ingin memeluk Yuni. “Ya udah aku aja yang peluk kamu. kayaknya kamu kasihan banget nggak ada yang meluk dari tadi,” ucap Riyan sambil memeluk Varo dengan sangat erat. Bahkan terkesan ingin memeluk sampai dia tak bisa bernafas. “Ampun Riyan! Kamu meluk atau pengen ngabisin aku. Aku nggak bisa nafas nih!” keluh Varo sambil berusaha melepas pelukan dari Riyan. .. Jam pulang telah tiba, saatnya Yuni membereskan segala peralatan yang ada. Ia terlihat masih merapikan tempat duduk di ujung perpustakaan. Ada hal aneh saat ia berada disitu. Rasanya seperti pernah duduk di kursi itu, tapi ia rasa itu hal yang tidak mungkin. Karena tak pernah juga datang kesini sebelum ini. “Yun! Ayo pulang semua peralatannya udah diberesin kan?” tanya Riyan yang menghampiri Yuni hingga ke bagian ujung ruang perpustakaan yang begitu besar itu. “Udah kok! Tadi aku nitip bawa sama Varo.” “Ya udah kalau gitu ayo pulang. Kita hampir lewat jam empat nih!” Riyan coba mengingatkan sambil melihat jam di pergelangan tangannya. “Iya!” jawab Yuni. Ia kemudian berusaha meninggalkan tempat itu. Tapi masih saja wajah yang sudah menatap pintu keluar perpustakaan, malah menoleh lagi ke belakang. ‘Kenapa rasanya kayak pernah kesini sih! Ada apa ini? Perasaan apa ini?’ batin yuni bertanya sambil masih menatap ke arah belakang. “Yun!” panggil Riyan. Ia tahu kalau Yuni masih menyempatkan diri untuk melihat ke sudut yang kursinya telah ia rapikan. “Ada apa? Apa ada yang tertinggal?” tanyanya. Yuni tidak langsung menjawab. Ia dalam sepersekian detik hening dan terlihat melamun. “Yun! Yuni! Ada apa sih Yun? kamu jangan melamun dong! Ini kan kita udah mau balik!” panggil Riyan lagi. “Ah!” sahut Yuni yang sadar kalau perasaannya mungkin bisa salah. “Iya, aku nggak mau melamun kok! Ayo kalau gitu, kita pulang sekarang,” jawab Yuni lekas dan langsung menatap lagi ke arah pintu yang akan dilewati untuk keluar dari perpustakaan. Tapi Riyan merasa kalau Yuni seperti sedang memikirkan sesuatu, dan ia tak mau Yuni terbebani sendiri karena hal itu. Lagipula ia sudah berjanji untuk membantu apapun yang jadi kendala Yuni selama kerja disini. Yuni yang kemudian berjalan lebih dahulu, sedangkan Riyan coba melihat ke belakang, sama seperti yang dilakukan Yuni tadi. Segera menarik lengan Yuni dan membuat gadi situ berhenti. “Ada apa lagi?” tanya Yuni. “Aku dari tadi merhatiin kamu. Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu sejak tadi melihat ke arah sana.” Riyan mengarahkan pandangannya ke titik dimana Yuni memang selalu memperhatikan titik salah satu tempat duduk perpustakaan itu. “Itu, soalnya …!” jawab Yuni agak ragu. Sungguh menurut dirinya sendiri saja, apa yang dialami dan dirasakan juga tidak mungkin bisa langsung dapat dipercaya kalau dikatakan. Ia kemudian menatap Riyan dengan serius. “Nggak papa kasih tau aku. Aku bakal percaya apapun itu.” Riyan mengeratkan pegangan tangannya di lengan Yuni, coba meyakinkan gadis itu kalau ia memang serius dan memang tidak akan membiarkan Yuni merasa sendiri. Yuni masih memperhatikan wajah Riyan yang memang jelas berusaha meyakinka dirinay agar mau bercerita. Ia kemudian mengarahkan lagi pandangannya ke titik yang sejak tadi membuat Yuni selalu kepikiran. Seakan dengan cukup menatapnya dan menggunakan ujung dagunya untuk menunjukkan tentang titik sudut perpustakaan yang dia maksud pada Riyan hanya dengan bahasa tubuh. ‘Iya, aku tahu dimana yang kamu maksud,’ batin Riyan. Karena ia melihat Yuni hanya menggunakan bahasa tubuh saja sejak tadi. Ia pun akhirnya, jadi melakukan hal yang sama. Ditunjukkan pada Yuni sebuah anggukan sebagai tanda dirinya sudah sedikit paham. Yuni lalu menarik tangan Riyan yang memegangi lengannya. Mengajak keluar dulu dari perpustakaan karena ini juga sudah cukup sore. Kemungkinan bahkan dua temannya Imas, dan juga Varo bisa jadi sudah pulang lebih dahulu. Rasanya sangat membuat Yuni takut juga kalau hanya berdua saja di tempat sebesar perpustakaan kampus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD